Legenda Sang Dewi Bulan

Legenda Sang Dewi Bulan
13. Pengorbanan Dan Kepedihan Seorang Xing Shi


__ADS_3

"Oh... Benarkah?" Mendadak, pilar-pilar emas keunguan disekitar Naga ungu Surgawi melonjak hingga menembus atmosfer.


Secara perlahan, pilar-pilar itu juga mulai memadat hingga terlihat lima pilar giok berwarna ungu. Ukiran berbentuk Naga dan Phoenix pun juga tersemat di setiap pilar yang memberi kesan kuno dan purba.


Naga ungu Surgawi, Pria sepuh, dan para jenderal membelalakkan matanya terkejut. Badan mereka bergetar dengan alasan yang berbeda-beda.


"Nak Putri kecil... Apa... Kenapa kau melakukan ini.." Ujar Pria sepuh sedih. Matanya kini telah memerah dan berkaca-kaca, seolah kali ini Dia akan kehilangan orang terdekatnya kembali.


"KAU-! KAU!!! APA YANG INGIN KAU LAKUKAN?! BERHENTI! BERHENTI!!" Teriak Naga ungu Surgawi gelisah dan takut. Sekarang, Ia akhirnya ingat. Pantas saja Dia merasa familiar dengan pilar-pilar itu.


Bahkan, hewan itu tampak menggeliat sekaligus meronta-ronta. Dia tidak peduli lagi dengan luka tubuhnya. Yang Ia inginkan hanyalah melarikan diri, tapi tidak bisa dikarenakan pedang-pedang Xing Shi.


Wajah perempuan itu dingin, "Apa yang ingin kulakukan...? Yang ingin kulakukan.. adalah ini... " Balasnya pelan namun mampu didengar oleh semua penghuni Alam Surga termasuk pria sepuh, para jenderal, dan kakaknya.


Tepat disebelah jantung, Ia menyentuh dada kirinya. Secara perlahan, aliran emas dan ungu menyeruak dari tangan Xing Shi. Aliran itu seakan sedang menarik dua kekuatan besar sekaligus dari tempat yang gadis ini sentuh.


Sudut mulut Xing Shi mengalirkan darah segar. Tapi gadis ini hanya tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Beberapa detik berikutnya, kristal ungu dan kristal emas sedikit terlihat. Dua benda itu mengeluarkan energi dengan tekanan besar yang membuat semuanya ingin bertekuk lutut. Padahal, itu baru seperlimanya saja.


Sementara Xing Liang yang berada di sebelah pria sepuh bergetar hebat. Wajahnya memucat tatkala melihat tindakan apa yang dilakukan Xing Shi. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Sungguh, kenapa adiknya harus melakukan ini? Kenapa..?


“Shi… Shi’er.. Tidak..! Ja-jangan lakukan itu… Tidak.. Jangan..’’ Ujarnya dengan nada bergetar seraya menggelengkan kepalanya. Ia juga tampak berjalan menuju perisai emas dengan tubuh bergetar.


‘’SHI’ER! BERHENTI..! JA-JANGAN.. JANGAN LAKUKAN ITU..! TIDAK! BERHENTI.. SHI’ER! APA KAU MENDENGARKANKU..? JIKA.. JIKA KAU MELAKUKAN INI.. KA-KAU AKAN MATI…!! BERHENTI..! SHI’ER JANGAN LAKUKAN ITU.. KUMOHON..!! SHI’ER KUMOHON..!! KUMOHON SHI’ER!!” Teriak Xing Liang parau.


Pria tampan itu telah berlinang air mata. Cairan bening di pelupuknya benar-benar tidak bisa berhenti mengalir, penuh kesedihan. Dia memukul-mukul perisai emas dengan kasar. Tapi, tetap saja tidak berhasil keluar.


Xing Shi yang sedari awal melayang dengan memunggungi penghuni Alam Surga, tersenyum. Lalu, Ia berbalik tanpa menghiraukan Naga ungu Surgawi yang tengah menggeliat dan meneriakinya.


Sudut bibir gadis ini tertarik, memperlihatkan senyuman indah walaupun darah segar masih mengalir. Ia menatap penghuni Alam Surga termasuk kakaknya dengan hangat. Dia terkekeh kecil. Kakaknya ini sangatlah perhatian padanya. Tapi, mungkin Dia harus meminta maaf. Untuk sekali saja, biarkan Ia tidak mengindahkan ucapan kakaknya ini.


"Maafkan Aku Kakak.. Tapi.. Aku tidak bisa berhenti... Walaupun diriku mati, setidaknya.. Aku dapat memenuhi tanggung jawab sebagai anak Kaisar dan juga dewi Suci.." Ucapnya tersenyum.


"Mempertaruhkan nyawaku demi rakyat Alam Surga, akan membawa perdamaian.. Aku hanya tidak ingin, melihat satu dari kalian ada yang mati. Korban jiwa sudah terlalu banyak... Yang Aku inginkan hanyalah Kalian bahagia dan merasa aman...


... Jika tidak begitu.. untuk apa Aku menerobos keluar dari istana..? Kalian bahagia, Aku bahagia.. Kalian aman, Aku juga aman. Kewajiban adalah kewajiban.. Dan kalian adalah rakyatku.." Lanjutnya dengan senyum yang teramat indah bagi jutaan orang di sana.


Penghuni Alam Surga yang mendengarnya segera menangis. Mata mereka berkaca-kaca dan tampak merah. Bahkan, ada juga yang telah terisak sedih. Tuan putri kecil, demi mereka Ia rela mengorbankan nyawa.. Mengapa.. Mengapa begitu baik.. Pikir mereka sedih.


Xing Liang menutupi wajahnya, Ia menangis tersedu-sedu sampai terduduk di tanah gersang. "Shi.. Shi'er hiks apakah harus...? Kenapa.. Kenapa hiks.. tidak biarkan Kakak juga membantumu... Kenapa harus sendiri...?"


Xing Shi tersenyum, "Kakak... itu karena hanya aku yang bisa melakukannya. Dan lagi, Aku tidak ingin melihat Kakak terluka... Itu selalu membuatku merasa sedih.." Setelah mengatakan itu Ia melayang mundur. Sayapnya yang indah Ia kepak kan dengan lembut.


Sekarang, Perempuan itu berada setengah mil diatas Naga ungu Surgawi. Ia menutup matanya. Perempuan itu juga melafalkan suatu kalimat yang teramat panjang dan tidak bisa dimengerti. Seketika, di bawah Kakinya muncul lingkaran merah dengan tulisan-tulisan kuno.


"Akhirnya... Ini akan berakhir.." Gumamnya pelan. Lalu, gadis ini mengeluarkan dua kristal emas dan ungu dari sebelah jantungnya.


WOSHH....


Fluktuasi udara muncul disekitar Xing Shi. Tekanan yang dihasilkan dua kristal itu teramat tinggi, dan bahkan lebih besar daripada Naga ungu Surgawi.


Tangan gadis itu Ia rentangkan. Detik berikutnya, kristal emas terbagi menjadi enam bagian dan mulai melayang menuju lingkaran-lingkaran emas yang merupakan formasi titik.


Tidak hanya kristal emas, kristal ungu juga terbelah hingga menjadi 7 bentuk. Enam menuju penghuni Alam Surga, tepatnya di atas lingkaran emas yang merupakan array telerportasi Surgawi Kuno. Dan satu lagi di depan Xing Shi.


Naga ungu Surgawi yang telah melihat apa saja yang dilakukan Xing Shi tidak bisa tidak meraung marah.


"BOCAH!! DEWA INI TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN MU BILA KA-


"Berisik Hewan busuk." Sergah Xing Shi jengah. Tanpa menghiraukan Naga ungu Surgawi yang akan meledak lagi, gadis itu kemudian melafalkan suatu kalimat.


Seketika, kristal emas yang berada di atas formasi titik mengalirkan udara berwarna emas dan mulai menyelimuti penghuni Alam Surga secara perlahan. Detik selanjutnya, berbagai luka yang dialami oleh semua makhluk hilang dan sembuh termasuk luka internal.


"In-ini Bagaimana bisa terjadi..?"


"Luar biasa lu-luka ku sembuh. Putri kecil terimakasih..!" Ujar salah seorang dengan mata berkaca-kaca.


"Lukaku hilang.. "


Xing Shi yang mendengarnya tersenyum kembali, tapi tiba-tiba Ia memuntahkan seteguk darah segar. Wajahnya juga menjadi sangat pucat.


"Uhuk..!"


Makhluk-makhluk penghuni Alam surga yang tadinya merasa senang seketika kembali merasa sedih dan khawatir, termasuk Xing Liang.


"SHI'ER!"


"TUAN PUTRI KECIL!" Teriak mereka serempak.


Para penghuni Alam Surga tampak sedih. Walaupun mereka telah sembuh, bagaimana dengan penyelamat mereka? Mereka bukanlah orang-orang yang tidak tahu diri.. Tentu merasakan sakit di hati saat melihat putri kesayangan kaisar menjadi seperti ini.

__ADS_1


Perempuan itu hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum manis.


"Kalian tidak perlu khawatir ... Kakak, kau juga.. Lihatlah Kakak Wu sudah sembuh.." Ujarnya masih tersenyum, namun alisnya tertekuk sedih. Hari ini merupakan hari terakhir Xing Shi melihat para kakaknya. Meski Ia merasa sedih, hanya saja Ia jauh lebih senang bila menjadi seseorang yang berguna. Daripada menjadi pengecut yang selalu terkurung di Istana. Ini lebih baik.


"Tapi adik-!"


"Uhk.. Urk-" Xing Shi kembali memuntahkan seteguk darah segar. Ia menutup bibirnya, lalu Ia tatap tangannya yang penuh aliran merah. Perempuan itu hanya menghela napas pelan. Gadis ini tersenyum kecut. Lalu melirik orang-orang disana yang terlihat khawatir kepadanya. Bahkan, Ia juga melihat banyak anak-anak yang menangis.


Hatinya terasa hangat, mereka sangat peduli dengannya. Tapi, Ia pun juga sama...


"Yah... Waktunya kalian pergi dari tempat ini.." Ujarnya dengan senyum tulus. Kemudian, Ia merentangkan tangannya lagi.


"Array telerportasi Surgawi Kuno.. Aktif!" Seketika itu kristal ungu bergetar, dan secara perlahan melebur dan membentuk pola-pola yang rumit.


Darah segar Xing Shi mengalir kembali, bahkan saat ini wajahnya seperti mayat hidup yang cantik. Para penghuni Alam surga tidak bisa menahan tangis saat melihat apa yang dilakukan oleh Putri kecil mereka.


"Yang Mulia hiks... Hentikan jangan hiks.. Jangan seperti ini... Anda.. Anda hiks.."


"Putri Kecil hiks... Ja-Jangan sakiti diri lebih lanjut.. Rak-rakyat i-ini memohon hiks..."


"Putri Kecil... Putri kecil hiks.. Anda Akan tewas jika seperti ini terus... Putri..!"


"YANG MULIA PUTRI KECIL! TOLONG HENTIKAN..! BIARKAN SAJA KAMI TEWAS..! ANDA TIDAK PERLU SEPERTI INI..!" Teriak seluruh penghuni Alam Surga bertekuk lutut. Mereka benar-benar menangis. Aliran bening itu tidak bisa berhenti mengalir dari mata mereka. Perasaan yang teramat sedih benar-benar menyelimuti para penghuni Alam Surga.


"Yahang Mulia..! Hentikan.. Anda akan matihi.. ji-jika seperti ini terus..." Ujar salah seorang dengan nada bergetar dan Isak tangis.


Xing Shi hanya tersenyum. Alisnya sedikit tertekuk sedih. Matanya juga ikut memerah,


"Kalian ini... Tidak perlu seperti itu... Kalian tahu? Aku sangat senang bisa membantu rakyatku... Selama ini Aku tidak pernah melakukan apapun demi Alam Surga.. Jadi, setidaknya biarkan Aku... melakukan kewajiban, meski hanya sekali.." Senyumnya bermekaran cerah menatap orang-orang dibawahnya.


"YANG MULIA..!!" Teriak mereka menangis sejadi-jadinya sampai bersujud.


"Shi'er hiks tidak... Tidak... Jangan hiks.. Kakakmu ini tidak ingin melihatmu mati hiks... Tidak..!" Ujar Xing Liang ingin meraih adiknya namun tidak dapat tergapai. Tangannya juga terlihat bergetar, wajahnya sangat berantakan.


"K-kak... Ap-Apa yang dilakukan Shi Shi kecil... Kenapa... Kenapa Ia berlumuran darah... dan ken-kenapa kalian menangis..?" Ucap Xing Wu yang telah sadar. Wajahnya tidak lebih baik dari Xing Liang. Pria tampan yang menyadari adiknya telah sembuh segera memeluknya dengan erat, Ia juga menjelaskan segalanya dengan suara bergetar dan tidak bisa berhenti menangis


Mata perempuan itu kosong. Ia menggelengkan kepalanya enggan. Dengan badan ringkih, Ia mencoba berjalan mendekati Xing Shi tapi tidak berhasil karena terdapat perisai emas.


"Shi Shi kecil... Apa... Jangan lakukan itu.. Shi Shi kecil kakak, jangan lakukan itu... Bagaimana.. Bagaimana kamu setega ini...?"


Perempuan yang tengah mengendalikan array telerportasi Surgawi Kuno tersenyum sedih.


"Kakak Wu... Kamu telah bangun" Ucapnya tanpa menjawab.


Kemudian, array telerportasi Surgawi Kuno bersinar terang sampai melonjak tajam hingga menyentuh awan.


"YANG MULIA!! TIDAK YANG MULIA!!!!" Teriak semua orang masih bertekuk lutut dengan berderai air mata yang mengalir deras.


"SHI'ER.. JANGAN! SHI'ER! KUMOHON SHI'ER!!!" Teriak Xing Liang menangis seraya memukul-mukul perisai emas dengan tidak berdaya.


"SHI SHI KECIL!! KENAPA KAU SAMPAI BERBUAT SEPERTI INIHI..!! JANGAN KUMOHON..!! JANGANN!!!" Teriak Xing Wu parau hingga terduduk lemas.


Xing Shi menghela napas pelan. Matanya tampak berkaca-kaca, "Kakak.. Kau pernah berkata bahwa kita adalah keluarga... Dan sebagai saudara, hal wajar jika sampai mempertaruhkan nyawanya demi saudara lain... Hal yang sama juga aku lakukan saat ini" Ucapnya bergetar dengan air menetes dari mata indahnya.


Xing Wu menggelengkan kepalanya enggan. Ia benar-benar takut kehilangan saudaranya lagi. Dan dia sungguh menyesal pernah berkata seperti itu, yang mana menjadikan kata tersebut sebagai hal nyata.


Dengan bibir bergetar, Xing Shi mencoba tersenyum.


"Sampai jumpa... Aku menyayangi kalian.." Seketika, cahaya array telerportasi Surgawi Kuno menjadi lebih terang hingga menutupi seluruh penghuni Alam Surga.


"TIDAKKK!!!!"


"YANG MULIAA!!!"


"SHI'ER!!!"


"SHI SHI KECIL!! TIDAKK!!!"


Seketika, cahaya menghilang dan para penghuni Alam Surga, Xing Liang, dan Xing Wu tidak ada lagi di alam ini. Bersamaan dengan itu, kristal ungu di depan Xing Shi bersinar terang hingga Naga ungu Surgawi yang sedari tadi meraung marah dan gelisah berubah menjadi batu dengan rantai merah melilitnya.


"SUKU DEWA!! XING SHI!!! AKAN SELALU DEWA INGAT DENDAM INI SELAMANYA!!!"


Xing Shi tersenyum dengan darah selalu merembes dari bibirnya. Kemudian perempuan itu memejamkan matanya, seketika itu sayap ungunya menghilang. Rambut ungunya juga perlahan memutih.


Karena mengeluarkan inti kekuatan dan kehidupannya, gadis ini sekarang tinggal menunggu ajal untuk menjemput. Setelah itu, Ia terjatuh dari ribuan kaki.


Woshh...


Saat ini Ia sudah tidak lagi bertenaga, dengan masih terjatuh dari ketinggian udara, Ia tersenyum dan sedikit membuka matanya.

__ADS_1


"Roh inti dunia dewa... berhasil Aku segel... Kristal putih... itu juga tidak lagi... berfungsi... Ayahanda... Anakmu ini akhirnya bisa berguna.. Seperti yang pernah Ayahanda katakan 'Dunia.. adalah tanggung jawab, Surga.. adalah rumah.. Rakyat adalah keluarga..' Aku berhasil membawa mereka keluar dari sini.. aman untuk.. sementara..


... Kau juga pernah berkata 'Perbedaan tatanan sosial... dan status... tidak bisa menjadi garis pembatas.. kehidupan.. bantulah jika.. mampu.. dan buat mereka bahagia jika.. mampu' Apakah yang Aku lakukan.. sudah benar Ayahanda..?


... Apakah kau bangga.. dengan anakmu yang tidak berbakti.. ini..? tolong maafkan anakmu ini... karena tidak.. menghargai nyawa... Setidaknya satu nyawaku.. dapat menghidupkan... jutaan nyawa... Ayahanda..." Gumamnya lemah dengan sorot mata sedih. Lalu, Ia menutup matanya lagi.


Kematian.. Ia tidak takut..


Namun, tiba-tiba..


"Dasar bodoh" Ujar sosok yang telah menangkap Xing Shi dari ketinggian. Sosok itu tampak mendekap Xing Shi dan terduduk di atas tanah. Matanya yang lembut dan teduh menatap Xing Shi sedih.


Perempuan itu perlahan membuka matanya. Ia tersenyum lemah, "Long.. Wanshang.. Kenapa.. Kau.. terluka seperti.. ini.." Ia tampak menyentuh pipi mulus pria itu.


Mata Long Wanshang berkaca-kaca. Matanya memerah tatkala melihat Xing Shi yang hampir mati ini. Ia kemudian meraih tangan perempuan itu lalu menciumnya lembut.


Terdapat tetesan yang tidak bisa berhenti mengalir dari mata teduh pria tampan ini, "Xing Shi... Maafkan Aku.. lagi-lagi Aku terlambat.." Ujarnya lirih seraya memeluk perempuan itu dengan erat. Takut kehilangan.


Xing Shi tersenyum lembut, "Long Wanshang.. tidak apa.. bukan.. salahmu.." Pria itu menggelengkan kepalanya enggan.


Kemudian perempuan ini kembali berbicara, "Wanshang.. Apa kau tahu.. dari dulu, sejak kecil... Aku.. Aku sangat menyukaimu... Tapi.. kini kurasa.. kita-mmph!" Long Wanshang mencium bibir Xing Shi lembut. Matanya yang tertutup tidak bisa berhenti mengalirkan cairan bening. Hatinya teramat sakit bagaikan ditusuk oleh ribuan pedang.


Kemudian, Ia melepaskan tautannya. Pria ini lalu mengusap rambut putih Xing Shi dengan tatapan sendu.


"Aku.. juga mencintaimu Xing Shi.." Perempuan itu tersenyum. Sebelum kematian, mendengarkan perkataan seperti ini membuatnya merasa hangat tapi juga merasa sedih di waktu yang bersamaan. Bahkan lebih sedih ketika mendengar ucapan yang berlanjut dari mulut pria itu.


"Maka dari itu... Hiduplah.. Jangan mati, Aku tahu kamu... ingin membalaskan dendam atas kematian Kaisar dan saudaramu yang lain... bukan begitu..?"


Ucap Long Wanshang tersenyum lembut.


"Apa.. Apa.. Maksudmu?" Tanya Xing Shi bingung. Namun, Long Wanshang hanya memeluknya lagi dengan erat. Sangat erat. Tidak rela untuk melepaskan. Ia tampak tersenyum dengan berlinang air mata.


"Shi'er.. hiduplah.. Jangan membenci Ku. Di masa depan hiduplah bahagia... Walau itu tanpa diriku ini...


... ada alasan... mengapa Aku melakukan ini, dimasa depan... kau pasti akan mengerti..." Ucapnya yang membuat Xing Shi menangis. Lalu, gadis ini melihat tubuh Long Wanshang yang kian lama kian berubah menjadi butiran-butiran cahaya.


Xing Shi tampak meronta-ronta agar Long Wanshang berhenti memeluknya, "Wanshang.. Wanshang.. hiks Berhenti.. jika.. jika kau melakukan ini.. hiks kau yang akan mati hiks..." Ucapnya lirih dengan tersedu-sedu.


Bibir Long Wanshang bergetar, "Jangan menangis... Aku rela mengorbankan inti kehidupanku padamu Shi'er.. Aku harap.. kau tidak membenciku.." Lalu Ia menatap wajah cantik Xing Shi lekat-lekat. Pria ini tersenyum cerah dengan masih meneteskan air mata.


"Hiduplah.. Di masa depan, kau akan menemukan pria yang jauh lebih baik dan pantas dari pada Aku ini..." Xing Shi menggelengkan kepalanya enggan. Ia menangis keras. Ia tidak rela. Sangat tidak rela!


"Jangan... Jangan.. Kenapa harus hiks... Kenapa tidak biarkan Aku saja... Yang mati.. Jangan.. hiks jangan...!!"


"Shi'er.. Aku mencintaimu.. Sangat mencintaimu... Bahkan jika Aku mati, Aku akan selalu berada disisi mu...


... Mungkin ini egois, Aku hanya memiliki satu permintaan.." Dengan tangan yang hampir berubah menjadi seberkas cahaya Ia mengusap pipi Xing Shi yang menangis dengan penuh kasih sayang.


"Tolong... Jangan lupakan Aku jika kau telah bersama yang lain.. Hanya itu saja.. Karena.. kita... tidak akan bertemu... kembali... Shi'er..." Ucapnya lalu mencium bibir Xing Shi sebelum akhirnya berubah menjadi butiran-butiran cahaya yang mengitari tubuh Xing Shi.


"Tidak.. TIDAK!! WANSHANG..!!!" Teriak Xing Shi memilukan dengan Isak tangis.


"Wanshang.. hiks.. tidak.. tidak.. hiks" Gumamnya lirih yang secara perlahan berubah transparan. Xing Shi kemudian menatap butiran cahaya yang mengelilinginya dengan sendu. Penuh kesedihan.


"Wanshang... Aku juga mencintaimu hiks Aku juga sangat mencintaimu bahkan untuk selamanya-lamanya...."


Setelah itu, tubuhnya berubah menjadi sebuah teratai berwarna perak dengan butiran cahaya Long Wanshang mengelilinginya. Kemudian, butiran-butiran tersebut bergabung dengan teratai perak Xing Shi hingga bunga itu sendiri berubah warna menjadi emas.


Seketika, Alam surga menjadi sunyi. Aliran angin semilir juga meniup teratai emas hingga pergi entah kemana. Saat ini, Alam Surga hidup tanpa vitalitas dan penghuni...


Mungkin, kisah keberanian dan pengorbanan Xing Shi akan menjadi legenda yang selalu diingat oleh orang-orang dunia dewa dan bahkan tiga dunia sekalipun. Tapi mereka tidak akan pernah tahu, bahwa untuk melakukan itu semua Xing Shi harus mengorbankan orang yang dicintainya. Hingga kisah cinta mereka berakhir tragis, tanpa kisah manis.


...__🍁🍁🍁__...


...Sang Cahaya bintang.. Ia menyayat malam.....


...Hanya tahu, hidup adalah pelayaran dan cara adalah haluan.....


...Ombak mengisi tangis derita.. Sinar bulan berubah muram.....


...Tali merah terputus.. mautpun menghadang jalan.....


...______🍁🌌🍁______...


...[Bersambung... ]...


...……………………………………...


...Readers~ Jangan lupa like dan komennya, it's easy guys~...

__ADS_1


...See U~...


...-Marionatte Rose-...


__ADS_2