
Shangguan Yun bangkit, tampak dahinya berkerut sedih, "Pergilah ... Disini tidak aman, kalau benar kedua patung itu adalah pintu portal, Yue Yue dapat pergi dari sini ... Setidaknya ..."
Pria ini tersenyum dan mulai merapikan beberapa surai rambut adiknya yang berantakan, "Setidaknya ... Yue Yue akan aman."
Gadis mungil itu memasang wajah tidak terima, Ia mengusap matanya yang berair dengan kasar, "Tidak mau! Yue Yue tidak ingin pergi jika itu tanpa tanpa kakak!"
"Yue Yue! Segera pergi sekarang juga!" Tegas pria tersebut.
"Kakak Yun, Aku tidak mau!"
"Yue Yue! Dengarkan kakak! Pergilah dari sini!"
"Tidak mau!"
"Shangguan Yue!" Suara pria itu sedikit meninggi.
"Yue Yue bilang tidak ya tidak!"
KWAK!
BOOOMMMM!
"Sialan!" Umpat pria ini seraya menghalau burung gagak yang sekiranya berjumlah puluhan. Berwarna hitam seperti bayangan, dan mengeluarkan aura kegelapan yang mencekam.
Ia telah memperkirakan bahwa orang-orang tersebut merupakan Kultivator hitam. Tapi, Ia tidak menyangka bahwa sebagian besar dari mereka merupakan pengguna elemen kegelapan yang tentu sulit dihadapi. Terutama untuk dirinya, seorang pengguna elemen air.
Dengan masih mengendalikan pedang, Shangguan Yun segera berseru gelisah, "Yue Yue, cepat pergi dari sini!"
Gadis mungil itu hanya menggelengkan kepalanya enggan, seolah tidak setuju dengan perintah sang kakak. Detik berikutnya, matanya yang sembab berubah menjadi tajam.
"Sudah Aku bilang, Aku tidak mau! Jika Aku pergi, itu harus bersama kakak!" Ucapnya tegas dengan tangan terkepal. Mana mungkin gadis kecil ini mau, apalagi sendirian. Lalu, bagaimana dengan kakaknya? Dia tidak ingin menjadi seorang penghianat yang hanya berlari seperti pengecut.
Mendengar itu, Shangguan Yun menatap sosok kecil dibelakangnya dengan wajah tertekan.
"Yue Yue, Hah ... Kumohon, pergilah ... Nanti kakak akan menyusul," Kata pria itu tersenyum, namun penuh kepalsuan.
Shangguan Yue kian mengepalkan tangannya lebih erat, "Tidak! Kakak tidak dapat menipuku!"
Segera setelah itu, gadis cantik ini mengeluarkan sebilah pedang dengan ukuran yang cukup proporsional bila Ia gunakan dari cincin ruangnya.
Shangguan Yun tersentak kaget, "Yue Yue! Apa yang ingin Kau lakukan?!"
Menatap tanpa ada keraguan, "Menyerang bersama!" Jawabnya bertekad.
Shangguan Yun mengernyit, tentu Ia tidak bisa membiarkan adiknya bertarung. Bagaimana jika ada yang terluka? Pria ini sangat tidak tega untuk membawa Shangguan Yue masuk ke dalam lingkaran bertarung.
Tidak bisa, tidak bisa. Ia bukanlah seorang peramal, pria ini tidak dapat memprediksi hal-hal yang terjadi kedepannya. Bagaimana jika itu adalah hal buruk? Apa mungkin Ia bisa menghentikannya?
Menghela napas berat, Pria ini kemudian mencengkram erat lengan sang adik.
"Tidak boleh!"
Mengernyit tidak suka, "Kakak...! Lepaskan!"
"Kakak hanya akan lepaskan, jika Yue Yue segera pergi dari tempat ini!" Ucap pria itu serius.
Keduanya terus berdebat tanpa henti. Tapi, kakak beradik ini tidak menyadari bahwa sosok-sosok berjubah hitam itu masih memperhatikan mereka dari kejauhan. Terlihat, salah seorang pria tampan menyeringai. Walaupun tertutupi oleh topeng, itu hanya sebagiannya saja. Tentu, wajahnya yang lain masih bisa dilihat.
Tiba-tiba pria itu menghilang. Tanpa ada yang menyadari, bayangan tubuh Shangguan Yun dan Shangguan Yue sedikit berubah. Awalnya nampak biasa saja, tapi secara perlahan, bayangan hitam itu bergerak.
Hingga detik kemudian, sebuah sulur hitam mencambuk di antara cengkraman tangan Shangguan Yun.
Dengan spontan, pria itu mengelak dan meloncat ke belakang. Begitu pula dengan Shangguan Yue. Mereka berdua kini telah berada di sisi yang berbeda. Akhirnya, hal yang ditakutkan oleh Shangguan Yun terjadi.
Pria itu tampak meringis kesakitan, sebelumnya, Ia tidak sengaja terkena sulur hitam itu. Walau hanya sedikit, namun efeknya tidak dapat di remehkan. Tiba-tiba telapak tangannya mulai menghitam dan secara perlahan mengelupas.
"Arkh! ARKH!!" Shangguan Yun terduduk, mengerang sakit penuh derita.
__ADS_1
"Serangan apa itu tadi? Kenapa ... kenapa sangat menyakitkan?" gumamnya menahan rasa perih yang teramat dalam.
"KAKAK!" Jerit Shangguan Yue cemas.
Matanya berkilat marah. Perempuan ini lalu menatap sang pelaku dengan kebencian, bahkan bilah pedangnya juga Ia ulurkan seperti sedang menunjuk.
Shangguan Yue menghunuskan pedangnya didepan dada pria itu, "Apa Kau ingin mati?!!" Pekiknya geram.
Sedangkan sosok itu hanya terkekeh geli, Ia mengangkat kedua tangannya sembari menggidikkan bahu, "Ingin mati? Aku? Pfft-! konyol!"
Pria itu lalu menyeringai kembali, Ia berjalan tiga langkah hingga pedang milik Shangguan Yue sudah menempel tepat di dada bidangnya. Ia tersenyum, "Bagaimana? Apa Kau ingin membunuhku?" Tanya pria itu dengan mata jahat.
Pedang berwarna perak milik Shangguan Yue sedikit berdengung tatkala masih melayang di udara. Ujungnya yang menempel di dada pria itu mengeluarkan semacam fluktuasi kecil.
Sedangkan, gadis mungil yang seakan sedang dipojokkan itu hanya menggertakkan giginya kesal. Ia tidak menjawab pertanyaan orang tersebut, karena baginya ini sangatlah menyebalkan.
Pria tersebut memiringkan kepalanya, "Heh ... Tidak menjawab? Bagaimana jika seperti ini?"
Mendadak sulur-sulur hitam kembali menerjang Shangguan Yun hingga pria itu sendiri selalu berteriak penuh kesengsaraan.
"Arkh!!"
"Sakit! Arkh!!!"
Mata Shangguan Yue memerah, "Hen... HENTIKAN PRIA JAHAT!!!" Pekiknya yang kemudian mendorong lebih maju bilah pedangnya.
"Hiya!!"
SRING..!
Sosok itu tersenyum puas, "Ya, bunuh lah Aku ... Bunuh lah! Tapi, Itupun jika Kau bisa bocah cantik!" Matanya sekilas berkedip dingin.
Mendadak pedang perak tersebut berhenti dan secara sengaja atau tidak sengaja energi spiritual yang diberi oleh Shangguan Yue terputus, yang mengakibatkan pedang itu terpental beberapa meter ke depan.
SRING..!
Pipi Shangguan Yue tersayat tatkala benda itu melaju terbang hingga berakhir menancap di atas tanah. Gadis mungil ini memegangi pipinya, "Darah...?"
Setelah itu, di belakangnya muncul sosok-sosok berjubah hitam yang lain.
"Gigolo, bukankah sudah cukup untukmu bermain?" Tanya salah seorang wanita sedikit tidak suka karena terlalu banyak membuang waktu.
"Huh! Berhentilah memanggilku dengan sebutan gigolo! Lagipula, Aku hanya ingin mengetes kekuatan mereka.." Ia berhenti sejenak, tatapan mata orang itu lalu berubah seperti orang sombong di atas orang sombong.
"Ck! Ck! Ini terlalu lemah! Bahkan sangat lemah! Aku bingung kenapa Tuan Besar memerintahkan banyak orang kuat hanya demi kedua orang ini. Sungguh aneh!" Lanjutnya jengkel.
"Itu tidaklah penting!" Sarkas dingin seorang pria berjubah besar dengan alis berkedut.
Pria itu- Yang disebut sebagai gigolo hanya bisa berdecih pelan. Yang lain juga sama, hanya bisa menghirup udara dingin dan mulai mencibir secara diam-diam. Orang itu memang menyebalkan, pikir mereka tidak suka.
"Dua tetes telah didapat, sekarang kita hanya perlu mengambil barang 'itu' darinya" Ujar orang tersebut lagi dengan dingin.
"Orang ini, Kenapa suka sekali memerintah!" Gumam sosok tampan.
"Yang kuatlah yang berkuasa!" Balas pria itu dingin dan dingin hingga memaksa para sosok berjubah lainnya untuk bungkam.
Melihat bahwa kumpulan berjubah hitam berjalan menuju kakaknya, Shangguan Yue dengan segera berlari.
"Apa yang ingin kalian lakukan?!" pekik gadis mungil ini seraya merentangkan kedua tangannya saat setelah berada di depan kakaknya yang masih dalam posisi kesakitan.
"Bocah!! Minggir!!"
"Tidak! Jangan harap kalian dapat menyakiti kakak Yun lagi!"
"Huh! Gadis naif!"
Pria berjubah besar itu dengan kasarnya menyerang Shangguan Yue. Tiba-tiba gelombang udara berwarna hitam pekat melanda gadis mungil itu.
__ADS_1
WOSH...!
"Uhuk-! Uhuk-!" Perempuan ini terhempas ke belakang dan mulai berbatuk darah. Ia memegangi dadanya merasa sesak.
"Kalian!" Shangguan Yue merasa geram.
Kumpulan berjubah hitam tersebut hanya tersenyum sinis dan beberapa dari mereka juga terlihat terkekeh jijik, "Gadis kecil, jadilah baik! Jika, Kau bersikap baik... Kakak ini berjanji akan selalu menjaga dirimu selamanya~" Ujar sosok tampan tersebut merasa tergoda dengan kecantikan Shangguan Yue yang langka.
Ia menjilati bibirnya dengan mata menyipit. Telah membayangkan bagaimana fisik gadis mungil didepannya setelah dewasa nanti. Bukankah akan luar biasa bila Ia memilikinya? Pikir pria itu dengan imajinasi yang bebas.
"JANGAN MENATAP ADIKKU SEPERTI ITU SIALAN!!" Geram Shangguan Yun penuh emosi hingga dadanya ikut naik turun. Tentu, Ia tidak terima bila ada orang yang berniat buruk kepada adik kesayangannya. Apalagi itu pria, Dia ingin sekali mencabik-cabik tubuh orang yang berkata barusan. Tidak tahu malu! Pikirnya marah.
"Oh! Oh! Sang kakak marah~" Cibir pria itu seraya mencengkram erat bahu Shangguan Yun.
"Ahk!"
"Menurut lah jika Kau tidak ingin mati" Ujar pria tampan tersebut dengan nada rendah yang begitu dingin. Matanya yang datar menatap mata penuh permusuhan Shangguan Yun.
Dia menggertakkan rahangnya, "Apa Kau pikir Aku percaya!"
Tersenyum cerah, "Tidak," Balasnya.
Segera Ia mengangkat tangan Shangguan Yun dan mulai mengalirkan 10 tetes darah di atas permukaan cincin Phoenix biru. Tampak Shangguan Yun meronta ingin dilepaskan, tapi pria tampan tersebut hanya tersenyum dan menahan tangan kakak Shangguan Yue agar berhenti bergerak.
WUNG...!
Cincin Phoenix biru berdengung. Detik berikutnya, benda ini mengeluarkan cahaya hijau zamrud disertai oleh tekanan aura yang begitu mendominasi.
Ia menyeringai, "Selesai!" ujarnya yang lalu melepas cincin itu dari jari Shangguan Yun. Pria ini bersenandung ringan sebelum melemparkan cincin Phoenix biru ke arah sosok berjubah besar.
"Jangan bertindak gegabah!" Pria tersebut menekuk wajahnya seolah tidak menyukai sifat sosok pria tampan itu. Kemudian, Ia menyimpan cincin Phoenix biru ke cincin ruang agar terhindar dari beberapa bahaya.
"Ya Ya Ya terserah!"
"Hahaha Akhirnya telah selesai! Aku tidak sabar untuk kelanjutannya!"
"Apa maksudmu?!"
"Cih, Dasar bodoh! ingat misi Tuan Besar yang ke-dua!"
"Oh, maksudmu adalah menyingkirkan beberapa tikus?"
Mereka kemudian menatap Shangguan Yue dan Shangguan Yun seolah telah mendapatkan mangsa besar akibat terlalu lapar. Sudut mulut semua orang itu tertarik, memperlihatkan senyuman bagaikan iblis. Bahkan jauh lebih mengerikan dari itu.
"A ... Apa kenapa kalian menatap kami seperti itu?!" Tanya Shangguan Yue seraya berjalan mundur mendekati sang kakak.
Shangguan Yun mendecak kan lidahnya. Pria ini bangkit lalu menggandeng tangan Shangguan Yue.
"Yue Yue, kita perlu pergi!"
"Ha-?!"
"Mereka ... mereka akan membunuh kita" Ucap pria itu dengan suara rendah namun terdapat nada cemas di tiap katanya.
..._____________...
...π[Bersambung... ]π...
...β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦...
...Maybe, Saya perlu merevisi bab iniπ...
...β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦...
...Guys! Jangan lupa like dan komennya~...
...It's easy~...
__ADS_1
...See U~...
...-Marionatte Rose-...