Legenda Telaga Alam Banyu Batuah

Legenda Telaga Alam Banyu Batuah
Lanjutan Bab 9


__ADS_3

Tebasan parang bungkul Halaban ternyata mengenai pangkal lengan bangkui sehingga darah segar pun keluar dari luka bekas tebasan itu. Bangkui itu merasa bahwa anak muda yang diserangnya ini bukan sembarangan anak muda. Anak muda ini, seorang yang pemberani dan memiliki kesaktian yang tidak terkalahkan.Bangkui itu pun terdiam dan tidak berusaha menyerang lagi. Ketika melihat itu, timbul di hati Halaban perasaan menyesal karena telah melukai bangkuiitu. Akan tetapi, karena berusaha menyelamatkan diri, terpaksa ia melakukan itu. Halaban menjadi sangat iba melihat bangkui yang mundur perlahan dan tidak menghalangi lagi pendakiannya untuk mengambil air bertuah.Ketika Halaban ingin melanjutkan perjalanannya, anehnya tiba-tiba bangkui itu berbicara seperti manusia dan meminta maaf.“Anak muda yang sakti, aku minta maaf karena tadi telah menghalangi perjalananmu serta menyerangmu secara bertubi-tubi!” kata bangkui. Bangkui itu juga menanyakan maksud dan tujuan pendakian Halaban.“Anak muda, kalau boleh aku tahu, apa sebenarnya tujuan kau datang ke puncak Bukit Bajuin ini dengan mempertaruhkan nyawamu sendiri?” tanya bangkui.“Aku juga minta maaf ya kawan karena terpaksa melukaimu,” kata Halaban. Kemudian, Halaban menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke tempat itu.“Aku berasal dari perkampungan di sekitar kaki bukit ini. Aku disuruh ayahku untuk mengambil air yang berasal dari sumber mata air pertama puncak tertinggi bukit ini,” kata Halaban. Kemudian, Halaban menjelaskan lagi kepada bangkui itu.“Air itu digunakan untuk mengobati penyakit panas tinggi dan tenggorokan bengkak yang menyerang anak laki-laki. Parahnya penyakit tersebut mengakibatkan anak laki-laki itu tidak bisa bicara dan menjadi bisu.Konon, air itulah yang akan menyembuhkannya.”Setelah mendengar penjelasan Halaban, bangkui berucap, “Baiklah, anak muda, karena kau telah berhasil mengalahkanku, aku izinkan kau mendaki puncak bukit.Kau boleh mengambil dan membawa pulang air bertuah itu,” kata bangkui.“Aku kagum kepadamu, wahai anak muda! Kau telah berhasil mengalahkanku. Kau juga sangat pemberani dan yang tidak kalah membuat aku kagum kepada dirimu adalah kesabaranmu menghadapiku,” ucap bangkui.Masih dengan rasa kagumnya kepada Halaban, bangkuijuga berucap, “Ketika pertama kali aku menyerangmu, wahai anak muda, sebenarnya kau pasti sudah bisa mengalahkanku, tetapi kau tidak mau menyerangku.”“Kau pun meminta maaf kepadaku ketika lenganku terpaksa kaulukai untuk membela diri, tidak ada niatmu untuk menyakitiku. Sungguh hatimu sangat mulia anak muda! Beruntunglah orang tua yang memiliki anak sepertimu.”“Ingatlah, wahai anak muda, sebenarnya kami ini bukanlah satwa liar yang ingin bermusuhan dengan manusia dan berbuat jahat kepada binatang lain! Akan tetapi, memang, terkadang manusialah yang tidak mau bersahabat dengan kami! Tempat tinggal kami sering kali dirusak.”Halaban pun terdiam mendengarkan penjelasan bangkui dan bangkui bercerita lagi. “Anak muda yang pemberani, sebenarnya aku adalah pemimpin dari sekelompok binatang-binatang di sini.”“Kau harus mengetahui, wahai anak muda, selama ini tidak ada seorang pun yang berani dan mampu mengalahkanku! Semua yang tinggal di sini selalu patuh dan tunduk kepadaku.”“Aku sengaja menghalangi perjalananmu hanya untuk menguji keberanianmu. Akan tetapi, kau tidak saja pemberani, tetapi juga seorang pemuda yang penyabar. Kesabaranmu itu terbukti dengan kau yang tidak mau melayani seranganku.”“Kau memiliki hati yang mulia menolong sesama yang mengalami kesusahan dan semua itu memerlukan pengorbanan. Nyawa menjadi taruhannya,” ucap bangkui.


__ADS_2