
“Kau juga terus menghindar seranganku. Mengapa kau tidak melawanku, wahai anak muda? Padahal, kau bisa saja dengan mudah menghabisiku,” kata bangkuiyang masih penasaran karena Halaban tidak melawan serangannya.“Tidak, bangkui, aku tidak akan menyakiti apalagi membunuh sesama makhluk ciptaan Tuhan dan aku selalu teringat pesan ayahku ketika akan berangkat pendakian ini.”“Ayahku berpesan agar aku selalu sabar dalam menghadapi segala rintangan dan mara bahaya dalam pendakian untuk mengambil air bertuah. Beliau juga berpesan agar aku jangan sekali-kali melawan apalagi membinasakan makhluk ciptaan-Nya. Sudah menjadi kewajibanku, wahai bangkui, untuk menaati pesan orang tua!”“Memang, kau tidak hanya pemberani dan sabar, tetapi juga seorang anak yang taat kepada orang tua.”“Nah, sekarang kau boleh melanjutkan perjalananmu dan kau tidak perlu mencemaskan lukaku karena sebentar saja luka ini akan sembuh!” ucap bangkui. “Terima kasih atas kebaikanmu! Sekali lagi aku minta maaf karena lenganmu yang luka,” kata Halaban.“Sebelum kaulanjutkan perjalananmu mengambil air bertuah, ada satu permintaanku, wahai anak muda,” kata bangkui.“Apakah itu, wahai kawan?” tanya Halaban kepada bangkui. “Aku ingin kau mencari beberapa keong emas yang terdapat di sekitar lereng bukit ini. Keong ini sebagai obat luka di lenganku ini.”“Apakah kau bersedia, wahai anak muda?” tanya bangkui. “Baiklah, aku pasti mencarikannya untukmu karena gara-gara aku lenganmu terluka,” ucap Halaban.“Jangan khawatir wahai anak muda, memang wajar jika lenganku ini luka. Ini akibat kesalahanku sendiri dan aku pantas menerimanya.”“Kau tidak perlu cemas setelah diobati dengan keong emas, luka ini pun akan berangsur sembuh!” kata bangkui.Ternyata, keong emas itu sangat sulit ditemukan.Setelah ke sana kemari berjalan mencari keong emas itu, akhirnya Halaban tiba di tepi sebuah telaga yang ada di bawah pancuran air terjun kedua. Ia pun mengumpulkan beberapa keong emas dan langsung menemui bangkui di tempat semula untuk menyerahkan keong emas tersebut.Setelah menyerahkan keong emas, Halaban pun melanjutkan pendakiannya ke puncak bukit tertinggi untuk mengambil air bertuah itu. Sambil mendaki, terdengar oleh Halaban suara bangkui yang berpesan kepadanya untuk berhati-hati dalam pendakian.Bangkui itu juga berpesan agar Halaban jangan sekalikali menoleh ke belakang dan memandang ke bawah bukit. Hal ini karena sudah menjadi pantangan yang harus ditaati.Dengan seluruh tenaga, Halaban berusaha mendaki puncak bukit dengan menggunakan tali dari kayu bilaranyang dibawanya. Pada saat pendakian itu, tiba-tiba terdengar dari tumpukan batu-batu besar suara yang menanyakan maksud dan tujuan anak muda sampai ke tempat itu.Halaban terkejut mendengar suara itu, tetapi orangnya tidak kelihatan. Memang, anak muda itu terkenal keberaniannya. Apalagi ayahnya adalah seorang tokoh suku Dayak Biaju yang sangat sakti.Suara seperti kakek-kakek itu pun memperingatkan agar Halaban jangan sembarangan mendaki puncak bukit itu, tanpa seizin penunggunya.“Anak muda, sebenarnya siapa kamu dan apa maksud kedatanganmu ke tempat kami tanpa meminta izin terlebih dahulu?”“Mohon maaf kakek atas kelancanganku memasuki puncak perbukitan ini,” ucap Halaban.“Wahai anak muda, ketahuilah olehmu tidak sembarang orang boleh mendaki puncak perbukitan ini, tanpa membawa syarat-syarat tertentu!” ucap suara menyeramkan itu.“Sekali lagi, mohon maaf ya, Kek. Aku diutus oleh ayahku untuk mengambil sumber mata air pertama yang memancar dari sela-sela bebatuan di atas puncak perbukitan ini,” jawab Halaban dengan sopan dan penuh rasa hormat.“Cucuku kau boleh saja mengambil air itu, tetapi sebelumnya kau harus memenuhi beberapa persyaratan yang harus kauserahkan.”“Apakah syarat-syarat itu, Kek, agar aku bisa mengambil air itu?” tanya Halaban dengan penuh semangat. “Semua yang kaubawa itu adalah syarat-syaratnya, wahai anak muda! Sekarang turuti perintahku, kau harus meletakkan tujuh kuntum bunga beraneka warna di atas batu besar ini! Sementara itu, ayam hitam kaulepaskan saja di hutan rimbun ini.”“Lalu, bagaimana dengan tiga buah bibit tanaman ini, Kek?” tanya Halaban.“Silakan bibit itu kautanamkan saja di dekat telaga yang ada di puncak perbukitan ini agar tumbuh subur bersama tanaman lainnya!” kata kakek itu. “Oh iya, siapa namamu, wahai anak muda yang pemberani?” tanya kakek itu.“Nama saya Halaban, Kek!” jawab anak muda itu dengan penuh hormat.“Baiklah, Halaban karena kau yang menanam bibit pohon ini, namailah pohon itu dengan namamu sendiri! Jadi, pohon ini bernama pohon halaban!”“Halaban, setelah kautanam bibit pohon itu, kaulihat ke bawah karena dari celah-celah batu besar akan keluar air yang selama ini kaucari!”Halaban pun menuruti perintah kakek tua itu dengan meletakkan tujuh kuntum bunga beraneka warna di atas batu besar. Kemudian, dia melepaskan ayam hitam yang dibawanya di hutan rimbun tersebut.Halaban juga tidak lupa menanam tiga buah bibit pohon yang dibawanya. Sesuai dengan perintah kakek itu, pohon yang ditanam itu dinamai pohon halaban.Setelah menceritakan maksud dan tujuannya datang ke puncak perbukitan kepada kakek itu, Halaban pun diperbolehkan mengambil air itu sesukanya.“Wahai anak muda, ketahuilah bahwa air itu sangat jernih dan sejuk. Air itu disebut air bertuah yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit.” Kemudian, suara kakek gaib itu menyuruh Halaban untuk membawa pulang air bertuah tersebut. Anak muda itu mengambil air secukupnya dengan menggunakan wadah yang dibawanya dari rumah.