Legenda Telaga Alam Banyu Batuah

Legenda Telaga Alam Banyu Batuah
Asal usul Kampung bajuin


__ADS_3

Kepala suku Biaju tersebut senantiasa melindungi penduduknya dari segala marabahaya, baik yang datang dari luar maupun ancaman-ancaman binatang buas pada saat itu. Dari nama suku Biaju itulah dijadikan nama kampung kecil tersebut, yakni Bajuin. Konon, nama inilah yang merupakan asal-usul adanya Kampung Bajuin sekarang.Di sekitar Pegunungan Bajuin juga terdapat tambang emas yang menjadi mata pencaharian penduduk sekitar dan pendatang. Pendulangan emas tersebut terdapat di daerah Tanjung, Danau Puyau, Apukan, Daladak, Danau Sawang, Danau Marliah, Sakatalu, Gunung Buluh Palimpau, Sakupang, Luluhan Jawa, Juba Lapar, Batu Benteng, dan Pantaian. Tambang-tambang emas ini dipercayai sebagai harta karun seorang laki-laki yang bernama Nuin.

__ADS_1


"NUIN DAN DATU PUJUNG"

__ADS_1


Dahulu kala, banyak pendatang dari Kalimantan Tengah. Salah seorang pendatang tersebut adalah lakilaki yang bernama Nuin. Pekerjaan Nuin adalah mencari emas dan dia juga mempunyai keterampilan membuat benda-benda perhiasan, seperti kalung, gelang, cincin, dan manik-manik.Pada waktu itu, perhiasan tersebut banyak digemari oleh penduduk tersebut. Nuin dikenal sebagai orang yang kaya raya karena memiliki banyak perhiasan dan juga memiliki perahu yang sangat besar dengan berbagai fasilitas di dalamnya yang bisa membawanya menyusuri sepanjang sungai.Pada suatu hari, Nuin kedatangan tamu yang berkeinginan mengadu nasib dengan mencari emas seperti Nuin. Nuin yang mengetahui niat baik pemuda tersebut menerima kedatangannya dengan tangan terbuka. Pemuda tersebut berwajah tampan dan mempunyai tubuh tinggi kekar. Nuin menerima tamu tersebut dengan ramah dan menyuruh untuk tinggal di rumahnya. Mereka pun akhirnya menjadi akrab. Bahkan, mereka seperti saudara kandung sendiri. Mereka selalu bersama-sama mencari emas dan berburu binatang untuk dimakan.Tamu Nuin tersebut bernama si Pujung. Dia adalah seorang pemuda tampan yang selalu ringan tangan dalam membantu Nuin bekerja. Nuin yang pekerjaannya membuat perhiasan selalu dibantu si Pujung, seperti membuat kalung, gelang, cincin, anting, serta manikmanik.Setiap hari si Pujung bangun pagi membersihkan rumah dan menyiapkan makan. Bahkan, terkadang dia bangun lebih awal dan tidur lebih larut daripada Nuin. Hal ini dilakukannya sebagai bentuk terima kasih kepada Nuin karena telah memperbolehkannya tinggal di rumah Nuin.Persahabatan keduanya membuat penduduk kampung merasa senang karena mereka terkenal baik kepada semua orang. Apalagi Nuin yang dikenal kaya raya selalu membantu penduduk dan bersikap dermawan kepada semua orang tanpa pilih kasih.Siapa pun yang datang ke rumah Nuin untuk meminta pertolongan, Nuin selalu membantu kesulitan penduduk kampung tersebut. Kebaikannya itulah yang membuat Nuin disayang oleh penduduk. Nuin memiliki sebuah perahu besar yang selalu digunakannya untuk bersantai dengan tamunya, si Pujung. Pada suatu hari, mereka pergi berdua menggunakan perahu tersebut untuk mencari tempat memancing. Setelah menemukan tempat yang dianggap banyak ikannya, Nuin menambatkan perahunya. Si Pujung pun membantu Nuin dan menyiapkan keperluan memancing.“Semoga hari ini kita dapat ikan yang banyak ya, Nuin!”“Iya, Pujung. Kau memancing di sebelah sana dan aku di bawah pohon itu!”“Baik, kawan,” jawab si Pujung.Setelah seharian memancing dan memperoleh ikan yang banyak, mereka pulang untuk beristirahat.“Banyak juga ikan yang kita dapat,” kata Nuin kepada si Pujung.“Iya, kawan. Ikan-ikan ini tahan untuk lauk kita berhari-hari,” jawab si Pujung. “Kalau begitu kita pulang saja karena hari juga mulai senja!” ucap Nuin kepada si Pujung.Mereka pun pulang menyusuri sepanjang sungai menuju tempat tinggal Nuin. Sepanjang jalan mereka berdua bercengkerama. Persahabatan keduanya yang begitu akrab ini disaksikan oleh burung-burung dan kera yang sedang bertengger di dahan pohon di pinggir sungai yang mereka lewati.Hingga pada suatu hari terjadi perselisihan di antara keduanya. Entah apa yang menyebabkan kedua sahabat tersebut bertikai hingga terjadi perkelahian. Mereka sudah lupa dengan persahabatan yang selama ini terjalin. Suka duka yang mereka lalui berdua pun seakan tak mampu lagi menahan perselisihan di antara keduanya. Akhirnya, persahabatan tersebut berakhir dengan sebuah perselisihan yang mengakibatkan pertarungan sengit.Dari pertarungan itu baru diketahui bahwa ternyata kedua sahabat tersebut sama-sama memiliki ilmu kesaktian yang begitu kuat dan tiada tanding. Nuin pun tampaknya bukanlah orang sembarangan. Hal ini dapat dibuktikan dengan awal perjalanannya menuju Bajuin yang penuh rintangan. Tentunya dia pun dibekali ilmu yang tidak sembarangan. Begitu juga dengan si Pujung yang mempunyai tujuan utama datang ke Bajuin untuk mencari emas juga dibekali ilmu kesaktian. Akan tetapi, setelah pertarungan yang begitu lama, akhirnya Nuin merasa pertarungan ini sia-sia. Dia pun tersadar bahwa lama-lama pertarungan ini akan membawa pada kematian dan dia tidak ingin hal ini terjadi, apalagi terhadap sahabatnya yang telah dia anggap seperti saudara sendiri.Akhirnya, Nuin pun menghindar bersama perahunya menuju Pegunungan Pantaian. Konon, banyak tempat terjadinya pertarungan antara keduanya, seperti perairan Bajuin, Batu Bacancang, Batu Cirit, Batu Benteng, Batu Penginangan, Batu Bokor, Batu Pahampangan, Batu Sawar, Gunung Gapit Condong, dan Gunung Sakupang.

__ADS_1


__ADS_2