Legenda Telaga Alam Banyu Batuah

Legenda Telaga Alam Banyu Batuah
PERJALANAN HALABANMENGAMBIL BANYU BATUAH


__ADS_3

Setelah semua persyaratan yang diajukan oleh tokoh sakti itu disetujui keluarga saudagar kaya itu, diutuslah seorang anak muda yang terkenal gagah berani dari kalangan masyarakat Dayak Biaju. Anak muda tersebut bernama Halaban yang tidak lain adalah anak sulung dari tokoh sakti suku Biaju. Anak muda itu juga akan diberi imbalan tertentu untuk melaksanakan tugasnya mengambil air bertuah yang memancar dari sumber air di puncak Pegunungan Bajuin.Pada hari yang telah ditentukan, tepat di tengah hari dan saat matahari sedang memancarkan panasnya, anak muda itu mulai mendaki puncak Bukit Bajuin untuk mengambil air yang dipercaya berkhasiat menyembuhkan penyakit anak saudagar kaya itu. Anak muda yang bernama Halaban itu tidak lupa melengkapi dirinya dengan sebilah senjata tradisional suku Biaju, yakni berupa parang bungkul (parang panjang) lengkap dengan sarungnya yang diikatkan dipinggang.Senjata tradisional suku Biaju ini mampu untuk melindungi Halaban dari berbagai macam gangguan binatang liar yang dapat membahayakan dirinya ketika mengambil air bertuah tersebut. Ia juga membawa butah (semacam bakul besar terbuat dari rotan dan biasanya digendong di pundak) yang isinya berupa semua persyaratan lainnya. Butah ini merupakan alat tradisional atau kerajinan tradisional Kalimantan Selatan yang masih digunakan sampai sekarang.Lereng Bukit Bajuin memiliki tiga tingkatan dan sumber mata air bertuah yang dicari berada di puncak tertinggi, pada puncak tingkatan ketiga.Dalam pendakiannya, anak muda ini banyak mengalami berbagai rintangan yang berat.Pada pendakian bukit pertama, di sekitar air terjun paling bawah ditemukan seekor biawak putih yang sangat besar oleh anak muda. Anehnya, biawak putih tersebut pandai berbicara seperti manusia. Biawak putih itu pun menanyakan kedatangan anak muda di tengah terik matahari yang sangat menyengat.“Hari siang yang panas terik ini, apakah yang hendak kaucari, anak muda?” Tiba-tiba biawak putih tersebut menyapa anak muda itu yang membuat Halaban tersentak kaget. Halaban tidak menyangka bahwa biawak putih itu bisa berbicara seperti manusia. Dalam keadaan kaget karena disapa dengan ramah oleh Biawak Putih dan ada sedikit rasa gugup, Halaban menjawab pertanyaan Biawak Putih.“Namaku Biawak Putih,” lanjut binatang itu. “Tolong jawab pertanyaanku tadi.”“Aku mendapat tugas berat yang harus aku selesaikan, Biawak Putih,” jawab Halaban. Biawak Putih pun bertanya lagi dengan suara seraknya.“Apakah tugas beratmu itu, wahai anak muda?”“Aku mendapat tugas mengambil air yang keluar dari sumber mata air pertama yang berada di puncak tertinggi Bukit Bajuin ini!”“Digunakan untuk apa air itu?” tanya Biawak Putih.“Air itu digunakan untuk pengobatan seorang anak laki-laki yang sedang sakit,” jawab Halaban.“Apakah sakit yang diderita anak laki-laki itu, wahai anak muda?” tanya Biawak Putih dengan penuh penasaran.“Anak laki-laki itu diserang panas tinggi berharihari dan tenggorokannya bengkak sehingga membuat dia tidak dapat lagi berbicara seperti sedia kala,” kata Halaban. “Baiklah, ternyata kau menjalankan tugas yang sangat mulia, wahai anak muda.”“Boleh saja, hai anak muda, kau mengambil air itu, tetapi ada syarat yang harus kaupenuhi!” kata Biawak Putih itu. “Apakah syarat yang harus aku penuhi, wahai Biawak Putih?” tanya Halaban.

__ADS_1


"Lanjut di bab selanjutnya ya biar episode nya ga cepet berakhir"

__ADS_1


x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x

__ADS_1


__ADS_2