
Namun, tiba-tiba muncul seekor bangkui (sejenis monyet) berwarna cokelat tua kemerah-merahan dan memiliki tubuh yang sangat besar. Halaban merasa kaget karena tidak menyangka akan diadang oleh seekor bangkui besar. Bangkui jantan ini merupakan pemimpin dari kelompoknya.Bangkui itu menatap liar kepada Halaban dan ingin menyerangnya. Binatang itu merasa terusik dengan kedatangan Halaban di tempatnya. Bangkui tersebut tidak suka Halaban datang ke tempat itu untuk mengambil air bertuah dari sumber mata air langsung di puncak Bukit Bajuin.Dari tatapannya, bangkui itu sangat ganas dan sudah siap-siap menyerang Halaban. Akan tetapi, anak muda yang terkenal pemberani karena mewarisi ayahnya yang juga seorang pemberani serta sakti mandraguna itu tidak takut menghadapi bangkui jantan itu.Halaban berusaha mundur ketika bangkui dengan gerak cepat mendekatinya. Ia tidak ingin melawan serangan bangkui itu karena ia selalu teringat pesan ayahnya ketika akan memulai pendakian untuk mengambil air bertuah.Kalau ia mau melawan serangan bangkui itu, bisa saja ia melakukannya. Akan tetapi, Halaban sengaja tidak melakukannya. Ia terus-menerus menghindari serangan bangkui ganas tersebut. Ia selalu teringat pesan ayahnya ketika akan melalui pendakian ini. “Anakku Halaban, ingatlah selalu pesan ayah, apapun yang kau temui pada saat pendakian nanti, kau harus tabah menerimanya!” “Kau harus sabar dalam menghadapi hambatan dan rintangan selama pendakian.”“Ingat, Anakku! Kau juga tidak boleh sedikit pun menyakiti siapa saja!” pesan ayah Halaban.“Meskipun akan mengancam nyawamu sendiri, Nak!”“Kau hanya boleh melakukan perlawanan untuk membela dirimu sendiri dan jangan sekali-kali kau sampai membinasakannya!”“Pesan ayahmu lagi , Nak, apa pun yang diperintahkan seseorang nanti, kau harus siap melakukannya.” “Dan ingat anakku, bila diminta, semua persyaratan yang kaubawa itu harus segera kauserahkan.” Halaban adalah seorang anak yang sangat taat kepada orang tuanya sehingga ia dengan sabar menghadapi bangkui itu. Ketika melihat Halaban yang hanya berdiam diri, bangkui pun bertambah marah dan makin bertubi-tubi menyerang Halaban. Namun, dengan sabar dan tenang anak muda itu terus berusaha menghindari serangan bangkui yang ganas itu.Melihat Halaban yang berdiam diri dan terus menghindari serangan, bangkui itu bertambah marah dan semakin gencar memberikan serangan kepada Halaban. Namun dengan sabar, tenang, dan tabah Halaban tetap mengelak. Bangkui itu semakin beringas dan menampakkan taringnya siap untuk menyerang Halaban lagi.Halaban tetap tidak mau melayani serangan bangkuiyang bertubi-tubi itu. Dengan penuh kesabaran, dia terus membiarkan bangkui menyerangnya. Bangkuiitu pun mulai kelelahan. Bangkui itu terdiam sejenak sambil kepalanya yang menunduk ke bawah. Ternyata, bangkui itu mengumpulkan segala kekuatannya. Dengan tatapan tajam dan kedua tangannya yang dikepalkan, bangkui maju selangkah demi selangkah bersiap-siap melakukan serangan lagi kepada Halaban. Bangkui pun bersiap-siap melakukan serangan dengan kedua tangan dan kakinya yang kokoh itu. Binatang itu pun terus mengamuk menyerang Halaban tanpa ampun. Bangkui itu ingin meremuk-remuk dan mencengkeram tubuh Halaban dengan gigi taringnya yang panjang dan tajam.Anak muda itu tetap menghindar dari serangan bangkui. Hingga pada suatu ketika, tanpa disadari Halaban sudah berada mendekati tepi jurang yang dalam. Untungnya tubuh anak muda itu tersandar pada sebuah batu besar. Akhirnya, karena makin terdesak, Halaban berusaha menyelamatkan diri.Halaban terpaksa melumpuhkan bangkui dengan senjata parang bungkul yang dari tadi dibawanya. Parang bungkul itu dihunuskannya dan ditebaskannya ke arah tubuh bangkui. Hal ini dilakukannya sematamata untuk menyelamatkan diri. Dia tidak berniat untuk mencelakai binatang itu.