Legenda Telaga Alam Banyu Batuah

Legenda Telaga Alam Banyu Batuah
Lanjutan Bab sebelumnya


__ADS_3

“Kamu harus membawa seutas tali dari kayu bilaran(tumbuhan yang batangnya menjalar di permukaan tanah) yang tumbuh tidak jauh dari sekitar air terjun.” Kemudian, Biawak Putih menjelaskan lagi, “Wahai anak muda yang pemberani, tali itu nantinya akan kau gunakan untuk alat mendaki puncak Bukit Bajuin yang sangat curam. Akan tetapi, ingat! Untuk mengambil kayu bilaran ini bukan hal yang mudah karena ada penunggunya, yakni seekor ular tedung yang sangat berbisa. Kau juga terlebih dahulu harus menaklukkan ular tedung itu. Apakah kau berani, wahai anak muda?” tanya Biawak Putih lagi.“Apa pun rintangan yang menghadang perjalananku untuk mendapatkan air bertuah itu, akan kuhadapi. Ini tugas mulia yang menjadi kewajibanku untuk menolong sesama. Aku akan berusaha semampuku, wahai Biawak Putih, dalam menaklukkan ular besar itu,” kata Halaban kepada Biawak Putih.“Sungguh, kau pemuda yang gagah berani, wahai anak muda,” ucap Biawak Putih.“Tidak salah pilih orang kaya itu mengutus kau untuk mengambil air bertuah,” kata Biawak Putih dengan penuh kekaguman.Kemudian, Biawak Putih pun berkata, “Baiklah anak muda, silakan kauteruskan tugasmu. Jangan lupa kau meminta kepada Yang Mahakuasa untuk melindungi dan menjagamu dalam perjuanganmu ini!”Halaban pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Biawak Putih yang telah memberitahukan cara mengambil air bertuah dan menasihatinya.“Terima kasih, wahai Biawak Putih. Aku akan melanjutkan perjalananku.”Biawak Putih pun menyahut, “Selamat berjuang, wahai anak muda. Semoga kau bisa mengambil air bertuah itu!”Dengan keberanian yang dimilikinya, Halaban mendatangi dan mencari tumbuhan bilaran yang banyak menjalar di sekitar lereng Bukit Bajuin. Namun, baru saja ia mengulurkan tangannya untuk menarik batang tumbuhan bilaran itu, tiba-tiba ular tedung tersebut mendesis dan langsung menyerang Halaban.Kemudian, Halaban mundur beberapa langkah.Akan tetapi, ular besar ini menyerang dan membuka mulutnya. Lidah ular itu pun menjulur dan siap hendak menggigit dan memakan Halaban. Akan tetapi, Halaban dengan gerak cepat berusaha menghindari gigitan ular besar tersebut.Ular tedung itu sangat marah dan terus berusaha menyerang Halaban, tetapi Halaban tidak melayani serangan ular besar itu. Halaban menyadari bahwa dirinya juga bersalah karena telah membangunkan dan mengusik tempat tinggal ular besar itu.Ular besar yang sangat berbisa ini terus-menerus menyerang Halaban dengan ganasnya. Hingga Halaban terpaksa menghentikan serangan ular besar itu dengan sepotong ranting kayu dan menjepit kepalanya.Kemudian, ular tedung itu ditangkapnya untuk dilepaskan kembali ke dalam semak-semak yang tumbuh tinggi dan lebat di sekitar tempat tersebut.Halaban sengaja tidak ingin membunuh ular tedung itu karena ia merasa bersalah hingga membuat ular tedung terganggu dan marah. Namun, sungguh aneh ular tedung itu tiba-tiba saja lenyap dan tiada berbekas sedikit pun keberadaannya. Kekhawatiran Halaban yang telah mengganggu ketenangan ular tedung pun telah lenyap. Dia merasa sangat bersalah sudah mengusik ular tedung itu.Bahkan, dia takut ular tedung terluka parah yang bisa mengakibatkan kematian. Setelah dapat menaklukkan ular tersebut, Halaban mengambil seikat tali dari kayu bilaran. Setelah beristirahat sejenak, anak muda itu melanjutkan pendakiannya menuju bukit kedua yang cukup tinggi.Bukit kedua ini cukup tinggi juga sehingga Halaban harus menggunakan tali dari kayu bilaran untuk berpegangan. Untuk mendaki di bukit kedua ini, ia harus menggunakan tali dari kayu bilaran tadi. Setelah bukit kedua berhasil ditaklukkannya, ia pun menemukan hamparan batu-batu besar yang di atasnya mengalir air terjun yang tinggi dan begitu indah.Halaban pun beristirahat sejenak di atas sebuah batu yang besar untuk melepas lelah. Setelah cukup beristirahat, ia pun akan melanjutkan pendakian ke puncak bukit ketiga, yakni puncak tertinggi tempat air bertuah berada.


__ADS_2