
Anak laki-laki keluarga kaya itu terlahir sebagai anak yang normal dan sehat dan tidak memiliki kekurangan sedikit pun. Ketika usianya mulai bertambah, anak tersebut tidak menunjukkan kesulitan berbicara. Hingga ketika anak laki-laki itu menginjak usia lima tahun, dia mengalami panas tinggi. Tenggorakan anak laki-laki itu juga bengkak sehingga membuat dia tidak bisa berbicara lagi.Orang tua kaya itu sangat menyayangi anak lakilakinya tersebut. Apapun keinginan anak itu selalu dikabulkan. Saudara perempuannya juga sangat mencintainya karena dia satu-satunya saudara lakilaki di keluarga itu. Setiap hari mereka selalu bermain dan bercanda bersama. Hingga penyakit panas tinggi datang menyerang anak laki-laki itu. Hal ini membuat semua keluarga dirundung sedih, terutama orang tuanya yang selama ini selalu menjaga dan merawatnya dengan penuh kasih sayang.Sementara itu, pembicaraan masyarakat sekitar tempat tinggal saudagar kaya tersebut menganggap bahwa anak kecil itu terkena guna-guna dari orang yang merasa iri dengki kepada keluarga saudagar kaya tersebut. Padahal, saudagar kaya itu terkenal sebagai keluarga yang baik kepada semua orang.Keluarga saudagar kaya tersebut juga dikenal sebagai keluarga yang dermawan dan tidak sombong.Ketika di kampung ada kegiatan, mereka selalu ikut membantu tidak hanya menyumbangkan materi saja, tetapi juga tenaga.Alkisah, keluarga saudagar kaya ini telah berusaha mencari pengobatan ke sana kemari, baik tradisional seperti membuat racikan ramuan-ramuan yang berasal dari akar-akaran dan tumbuhan ataupun pengobatan melalui tabib.Keluarga saudagar kaya itu juga mendatangi para tabib ahli serta para orang pintar yang termasyhur dengan pengobatannya. Hal ini dilakukan demi kesembuhan anak kesayangannya tersebut. Orang kaya itu mendatangi kampung-kampung yang terdapat tabib terkenal. Kemudian, keluarga kaya itu juga mendatangi pelosok-pelosok kampung untuk mencari obat-obatan yang dapat menyembuhkan anak laki-lakinya. Akan tetapi, anak yang sakit tersebut tidak kunjung sembuh.Bahkan, sakit anak itu bertambah parah. Keadaan ini membuat keluarga kaya tersebut dirundung duka yang mendalam.Hingga pada suatu malam, sang ayah anak tersebut bermimpi ditemui oleh seorang kakek tua yang konon kabarnya merupakan penguasa di sekitar Pegunungan Meratus. Dalam mimpi sang ayah, kakek tersebut mengatakan kalau anak laki-laki yang sakit itu ingin sembuh, anak itu harus meminum air yang keluar langsung dari sumber mata air pertama yang berada di puncak Bukit Bajuin. Namun, untuk mengambil air telaga yang ada di puncak bukit itu tidaklah mudah karena puncak bukit konon dikuasai oleh kelompok orang halus yang menjaga air telaga itu sehingga untuk mengambil air telaga itu harus memenuhi beberapa persyaratan yang tidak mudah. Selain itu, keluarga saudagar kaya juga harus meminta izin terlebih dahulu kepada seorang tokoh sakti dari suku Biaju yang terdapat di sekitar lereng pegunungan itu.Waktu untuk mengambil air ini pun harus dilakukan tepat pada tengah hari saat matahari sedang panas terik. Untuk mengambil air telaga ini, hanya boleh dilakukan seorang diri serta diperlukan keberanian yang luar biasa karena banyak rintangan yang akan dihadapi pada saat pendakian ke lereng bukit menurut pesan kakek tersebut. Kemudian, mimpi tersebut disampaikan kepada seluruh anggota keluarga. Akhirnya, diputuskan untuk mengikuti pesan kakek tersebut karena tinggal itu satusatunya jalan terakhir yang belum dilakukan. Saudagar kaya kemudian mengutus seorang suruhan yang ada di kampung itu untuk menemui orang sakti dari suku Biaju yang tinggal di kaki Pegunungan Bajuin untuk meminta izin serta menanyakan persyaratan apa saja yang harus dipenuhi agar dapat mengambil air bertuah tersebut. Utusan saudagar kaya pun berangkat. Setelah sampai di kaki Pegunungan Bajuin, dia pun berhasil menemui orang sakti setelah sebelumnya bertanya ke sana kemari mencari keberadaan orang sakti dari suku Biaju tersebut. Kemudian, dia menceritakan bahwa dia diutus oleh orang kaya yang anak laki-lakinya terkena penyakit yang tiada kunjung sembuh. Menurut mimpi sang ayah yang ditemui seorang kakek, anaknya dapat disembuhkan bila meminum air yang keluar langsung dari sumber mata air pertama yang berada di puncak Bukit Bajuin. Setelah utusan saudagar kaya menceritakan dengan panjang lebar maksud kedatangannya itu, tokoh sakti dari suku Biaju itu pun mau memberikan izin mengambil air tersebut asal beberapa persyaratan yang dimintanya harus dipenuhi. Persyaratan tersebut, antara lain, harus disediakan 1 ekor ayam hitam, 7 kuntum bunga beraneka warna, serta 3 buah bibit tanaman pohon yang harus ditanam di puncak bukit.