
Dari kejauhan, tampak sosok wanita sedang duduk dipinggir tempat tidur. Wanita itu mengenakan baju gamis dan kerudung yang serba hitam. Dia terus saja memandangi ponselnya tiada henti. Tatapan matanya kosong, diiringi bulir-bulir air mata yang jatuh membasahi pipinya. Entah, sudah berapa lama dia duduk termangu seperti itu.
"Tok..tok..tok.." terdengar suara pintu diketuk.
"Latifah, buka pintunya sayang, kakak khawatir." Seorang wanita berpakaian serba hitam, sedang berusaha membuka pintu kamar itu. Namun, tak ada respon apapun dari balik pintu.
"Latifah, kakak mohon kamu jangan begini, kakak tau perasaan kamu! Tapi tolong, jangan mengunci diri seharian begini." Wanita itu tampak cemas, dia berusaha membuka gagang pintu meskipun tak ada yang terjadi.
Dari balik pintu, wanita yang memegang ponsel itu menangis tersedu-sedu. Suaranya hampir tak terdengar, saking dalamnya emosi yang tersimpan didalam dadanya. Tiba-tiba saja, wanita itu melepaskan ponselnya dan merebahkan tubuh diatas kasur yang empuk. Mungkin dia lelah, setelah seharian berpikir keras dan terus menangis. Matanya terlihat sembab, dia tampak tak berdaya. Seketika, dia pun larut dalam kantuk yang tak mampu ditahannya.
***
Dua puluh tahun yang lalu,
Seorang wanita berpakaian rapi dan mengenakan hijab, sedang memainkan ponselnya diatas meja, dia memutar ponsel itu seperti gasing. Tak lama, ponsel itu berdering. Namun, dengan santainya dia membiarkan ponsel itu. Dia hanya memangku tangannya sambil menatap sekitar dengan malas.
"Ati.. besok malam jalan yuk?" Tampak sosok pria berbadan kekar dan berseragam Avsec sedang berusaha mendekatinya.
__ADS_1
"Kemana?" Tanya Latifah datar.
"Kemana saja yang kamu mau, kita belanja apa saja! Aku bayarin deh!" Pria berkumis tipis itu tersenyum sumringah.
"Makasih ya, tapi aku udah ada janji." Senyumnya tipis.
"Yah, sama siapa?" Tanya pria itu kecewa.
"Sama itu, yang kakak kenalin." Ujar Latifah tersipu malu.
"Ah, kok kamu sama dia? Kakak janji mau berubah, kalau kamu mau sama aku." Tampak guratan kekecewaan diwajahnya.
Tibalah dia diruang kerjanya, Latifah bekerja sebagai penjual tiket pesawat maskapai Nuri Air.
"Kamu ini kemana saja?" Bentak seorang wanita setengah baya.
"Aku habis makan siang kak." Sahut Latifah sedikit terkejut.
__ADS_1
"Harusnya kamu itu makan disini! Ini malah makan keluar!" Bentaknya tegas. Latifah hanya mengangguk saja karena dia hanyalah junior. Sebenarnya, wanita itu masih berusia tiga puluhan. Hanya saja, dia lebih sering cemberut sehingga membuat kerutan di wajahnya semakin jelas. Latifah pun awalnya menduga jika seniornya itu sudah berkeluarga, tetapi sebenarnya dia belum berkeluarga sama sekali. Meskipun demikian, hasil kerjanya begitu memuaskan.
"Cepat kerjain lagi tugasmu!" Perintah wanita itu ketus.
"Iya kak." Dengan segera Latifah duduk dan menyelesaikan tugasnya.
Beberapa jam berlalu, kini waktu menunjukkan pukul lima sore. Saatnya pulang, Latifah merapikan mejanya dan berpamitan pulang. Ketika hendak sampai di parkiran, sebuah pesan masuk di ponselnya.
"Yang.. kamu apa kabar?" Isi pesan dari ponsel Latifah, namun gadis itu tak menggubrisnya. Dia segera memasukkan ponsel itu kedalam tasnya dan menyalakan sepeda motor miliknya.
*
Keesokan harinya, hari itu waktunya Latifah libur. Dia senang sekali bisa uring-uringan didalam kamarnya. Biasanya Latifah harus bangun sebelum jam empat subuh, karena memang seperti itu jam kerjanya di bandara. Terkadang rasanya ingin sekali dia berhenti bekerja di bandara. Selain jam kerja yang full, seniornya yang keras kerap kali membuatnya bersedih. Tutur katanya seperti dialah orang yang paling benar, salah sedikit tak segan-segan beliau menghardiknya. Bukan hanya didepan, dibelakangnya pun seniornya sering kali membicarakan kesalahan yang dilakukan Latifah. Hanya, dia tak ingin ambil pusing. Dia berusaha untuk menguatkan dirinya karena gajinya yang lumayan untuk anak gadis seusianya. Ya, dia termasuk beruntung. Sehabis lulus Sekolah Menengah Atas, dia berusaha melamar pekerjaan sana sini, hingga akhirnya mendapat panggilan di salah satu maskapai. Dari sekian pelamar yang mencoba, dia dipilih tentu bukan karena alasan. Kecantikannya sangat berpengaruh, sehingga dia bisa mendapatkan pekerjaan tersebut.
Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi hari, Latifah masih memeluk gulingnya. Dia menatap keluar jendela kamarnya, indah sekali pagi itu. Rasanya, dia teringat pada seseorang yang selalu membuat dirinya merasa nyaman. Meskipun tanpa apapun yang dimilikinya dan tanpa apapun yang dikejarnya, seseorang itu tetap akan menerimanya apa adanya. Seseorang yang sangat mengerti keadaannya, mengerti hal yang tak di sukainya. Seketika hatinya terdorong untuk bertemu sosok pria itu, tapi gengsinya terlalu tinggi, membuatnya mengurungkan niatnya. Ya, Latifah sangat gengsian dan tidak ingin harga dirinya dimata laki-laki dianggap murahan. Jika dia menyukai seseorang, dia tidak akan terang-terangan mengumbarnya. Dia akan jual mahal pada laki-laki tersebut, apabila laki-laki itu tidak menyukainya, dia bisa dengan tenang membuang perasaannya tanpa ada yang tahu. Dia orang yang sangat tidak ingin dianggap murahan oleh laki-laki. Memang begitulah prinsipnya, dan mantan adalah mantan. Dan akan jadi orang asing meskipun dia masih ingin kembali. Tetapi demikian, ada satu mantan yang tak ingin dilupakannya. Andai saja dia tak masuk bandara, takkan mungkin cintanya berakhir. Karena mereka tak pernah benar-benar mengatakan perpisahan.
***
__ADS_1
Hai, teman-teman semuanya terimakasih sudah mampir kesini. Novel ini merupakan karya pertama saya, kisahnya diangkat berdasarkan kisah nyata. Adapun salah dan kurangnya dalam penyampaian saya mohon maaf. Saran dan support kalian sangat saya butuhkan. Sekali lagi saya berterima kasih sudah mampir kesini semoga segala urusan kita senantiasa dipermudah yang maha kuasa yaa. Amin.