
Sudah sebulan lamanya, semenjak Latifah resign dari Maskapai Nuri Air. Dia sudah berusaha melamar pekerjaan kesana kemari, tak peduli pekerjaan itu ada kaitannya atau tidak dengan pengalamannya, dia tak pandang bulu dalam urusan itu. Baginya, yang terpenting adalah bekerja yang halal dan tak tertekan seperti dulu lagi. Kebahagiaan dan kewarasannya kini lebih diutamakan Latifah. Jika hati dan pikiran bahagia pasti jiwa pun ikut sehat. Tak peduli gajinya sama seperti dulu atau tidak, yang penting kini adalah dirinya. Semenjak resign, Latifah tak pernah memberi tahu pada Mas Gilang. Begitupun sebaliknya, Mas Gilang tak pernah menanyakan perihal urusan pekerjaan Latifah. Mereka sama-sama tak mengurusi urusan pribadi satu sama lainnya. Aneh tapi itu benar adanya.
Latifah sebenarnya malu sekali untuk memberi tahu Mas Gilang, toh Mas Gilang lambat laun pasti sadar, bahwa Latifah tak pernah terlihat lagi di bandara. Tapi, Mas Gilang tak pernah menanyakan hal itu langsung pada Latifah, sehingga Latifah lebih memilih bungkam.
Pagi itu Latifah tengah sibuk berdandan rapi, kebetulan kemarin Latifah mendapatkan panggilan kerja di salah satu CV. Namun, jarak antara rumah Latifah ke CV itu memakan waktu 1 jam lamanya. Awalnya Latifah ragu, apakah dia harus menerima atau menolak? Namun, demi menghibur diri, Latifah tetap pergi untuk interview hari itu.
Dengan mengenakan baju atasan blazer putih dipadukan dengan celana kain berwarna hitam. Latifah mengenakan hijab rapi berwarna hitam juga. Terlihat begitu formal, ditambah dandanan yang tipis natural. Membuat penampilan gadis manis itu kian mempesona.
Setelah berpamitan pada Ibunya, Latifah segera berangkat perlahan menuju tempat tujuan.
***
Selang 1 jam lamanya di perjalanan, akhirnya Latifah sampai di lokasi yang dimaksud. CV dua lantai itu tampak sederhana, berbeda jauh dengan kantor maskapai Nuri Air. Dari luar, banyak sekali karyawan CV yang memadati area parkir. Latifah berjalan perlahan memasuki lobby CV tersebut.
"Kamu mau interview?" Tiba-tiba seorang pria yang tak begitu tinggi mendekatinya dan menyapa. Wajahnya begitu tampan dan senyumnya bersahabat.
"Iya, kak." Sahut Latifah seraya tersenyum tipis.
"Oh, iya. Silakan ke ruangan paling ujung ya, disana Pak Budi sudah menunggu." Jelas pria tampan itu.
"Makasih, kak." Ujar Latifah seraya bergegas ke ruangan yang dimaksud. Pria itu hanya tersenyum kecil.
"Tok.. Tok.. Tok.." Latifah mengetuk pintu yang tertutup itu.
"Masuk!" Sahut suara dari balik pintu.
Begitu pintu dibuka, tampak sesosok pria berjanggut lebat serta memakai peci tengah duduk di ruang kerjanya.
"Silakan duduk!" Tunjuk pak Budi pada kursi yang ada dihadapannya.
__ADS_1
Sambil tersenyum tipis Latifah segera duduk di kursi yang dimaksud.
"Kamu Latifah?" Tanya pak Budi memastikan, sambil menatap berkas lamaran kerja milik Latifah.
"Iya, Pak. Maaf, saya terlambat, dijalan macet Pak." Ungkap Latifah sedikit parno.
"Oke, gak masalah. Hari ini boleh saja kamu telat, tapi kalau kamu diterima, usahakan on time ya!" Jelas Pak Budi ramah.
"Baik, Pak." Sahut Latifah sambil menggenggam tangannya.
"Saya lihat dari pengalaman kamu pernah bekerja di bandara ya?" Tanya Pak Budi sambil menatap berkas milik Latifah.
"Iya, Pak." Sahut Latifah datar.
"Oke, kamu saya terima. Mulai hari ini sudah bisa ikut kerja ke lapangan ya!" Dengan gampangnya Pak Budi menerima Latifah tanpa banyak pertanyaan tambahan.
"Iya, kerjanya gampang kok. Kamu tinggal jelaskan tentang produk yang kamu bawa, nanti kamu akan dibantu senior kamu Mas Ali." Jelas Pak Budi sambil sesekali menatap Latifah, namun, beliau lebih banyak melihat berkas Latifah. Atau beliau sedang menundukkan pandangannya?
"Baik, Pak." Jawab Latifah, sebenarnya dia sudah merasa pekerjaan itu tak akan cocok dengannya. Apakah itu akan seperti yang di bayangkannya? Kita lihat saja.
"Oh, iya. Rumah kamu kan jauh dari kantor, kalau kamu mau tinggal di mess, silakan! Mess ada di lantai dua, disini ada 30 karyawan yang menginap. Rumah mereka jauh-jauh semua. Lebih baik kamu tinggal di mess untuk meminimalisir biaya pengeluaran, juga agar kamu tidak begitu lelah dijalan. Tapi, disini ada aturannya!" Kening Latifah berkerut.
"Apa aturannya Pak?" Tanya Latifah spontan.
"Harus mengerjakan sholat 5 waktu, sholat sunnah Dhuha wajib dikerjakan disini! Kamar pria dan wanita terpisah, pria dibawah dan wanita di atas." Jelas Pak Budi dengan logat Jawa yang medhok.
"Oh, gitu ya Pak!" Sebenarnya Latifah tak suka tinggal di mess begitu, belum lagi kerjanya di lapangan. Dia agak lemas mengetahui semua penjelasan Pak Budi. Bukan berarti tak suka dengan aturan yang ditetapkan oleh Pak Budi. Tapi, lebih tepatnya tidak suka dengan pekerjaannya.
"Kalau tidak ada lagi, silakan temuin Mas Ali ya!" Dari cara berbicaranya, tampak jelas Pak Budi orang yang mampu berbaur dengan mudah dengan karyawannya.
__ADS_1
Latifah mengangguk sambil ijin pamit keluar dari ruangan Pak Budi.
***
Begitu sampai di lobby, Latifah bertemu lagi dengan pria yang menegurnya tadi.
"Sudah?" Suara itu begitu memikat hati, pembawaannya yang tenang dan ramah dijamin mampu membuat wanita terkesan.
"Eh, iya sudah, kak." Sahut Latifah malu-malu.
"Tadi katanya Pak Budi gimana?" Tanya pria berperawakan kurus itu memastikan lagi.
"Disuruh cari Mas Ali, saya disuruh ke lapangan hari ini." Wajah polos dan datar itu mampu menarik pria dengan mudahnya untuk ingin lebih mengenali.
"Kenalkan, saya Mas Ali!" Pria berambut lurus dengan belahan ke kiri itu tampak tersenyum ramah, memikat hati. Dia menatap Latifah dalam sekali.
"Latifah, kak." Sahut Latifah gugup.
"Yuk, sebentar lagi udah mau berangkat. Kita mulai kerjanya jam 9 sampai jam 4 sore." Sebenarnya pikiran Latifah masih penuh dengan teka-teki perihal pekerjaan seperti apakah yang dimaksud? Apakah seperti yang dipikirkannya? Mengapa harus ke lapangan? Semua pertanyaan itu bercampur aduk dalam pikirannya.
Tanpa banyak bertanya, Latifah segera mengikuti Ali yang membawanya menuju parkiran.
"Gak usah bawa motor, ikut sama aku aja!" Celutuk Ali sambil mengenakan helmnya.
"Hari ini aku, kamu, sama temanku Febri dan rekannya Siska akan ke jembatan Barito. Sedangkan yang lainnya akan berpencar." Sahut Ali menjelaskan. Dari caranya berbicara dapat dipastikan dia mampu berkomunikasi dengan baik dan memiliki pengalaman komunikasi yang banyak.
Latifah hanya mengangguk sambil mengikuti aba-aba dari kak Ali.
Begitu mesin sepeda motor dihidupkan, Latifah segera menduduki motor milik kak Ali. Jujur saja, Latifah sangat canggung. Karena dia tak pernah naik motor berdua dengan pria. Namun, ada satu pria yang pernah berboncengan berdua bersamanya, yaitu Hasby.
__ADS_1