
Waktu menunjukkan pukul empat subuh dini hari. Latifah baru saja terbangun dari tidurnya. Badannya pegal dan lelah sekali, rasanya ingin sekali dia berhenti bekerja di bandara yang benar-benar menyita waktu, hati dan juga pikirannya. Dengan rasa malasnya, Latifah tetap berangkat bekerja. Setengah jam telah berlalu, belum lagi jalan menuju ke bandara memakan waktu sekitar dua puluh menit. Itu pun harus ngebut, Latifah seperti tak bersemangat sekali hari itu. Di masjid sudah terdengar suara lantunan ayat suci Alquran. Tanda sebentar lagi akan memasuki waktu sholat subuh. Biasanya Latifah sudah berada di bandara sebelum pukul empat dini hari. Tapi hari itu dia benar-benar telat. Pasrah dengan keadaan Latifah menjalankan sepeda motornya. Suasana masih terlihat gelap, hanya sorot cahaya lampu dijalan yang menemani langkahnya.
"Matilah aku! Pasti dimarahin habis-habisan." Tebak Latifah seperti tahu apa yang akan terjadi nanti.
Semakin takut dia semakin ditambahnya kecepatan sepeda motornya. Untung saja tak begitu banyak kendaraan yang melintas, sehingga dia dapat melaju hingga kecepatan diatas seratus.
Ya, seperti itulah rutinitas harian Latifah. Andaikan dia kos disekitar bandara, takkan mungkin dia terlambat. Atau dia bisa pergi sejam lebih cepat dari jadwal yang ditentukan. Tapi, apalah daya, dia begitu lelah dengan aktifitasnya. Belum lagi celotehan senior yang menyakitkan hati. Apalagi pesawat delay, bisa dipastikan dia akan ikut pulang terlambat juga.
Tak lama sampailah dia di lingkungan bandara, tampak banyak karyawan yang sudah datang terlebih dahulu. Begitu sampai di parkiran, dia segera melepaskan helmnya. Setengah berlari Latifah pergi menuju kantor maskapai Nuri Air. Prasangka buruk mulai menghantui pikirannya, takut kalau dapat siraman rohani di pagi hari.
"Jam berapa ini?" Sarapan pagi hari yang dapat menghilangkan rasa lapar lebih lama.
"Maaf kak Risma, aku capek banget hari ini. Kemarinkan delay, pulang jadi terlambat." Jelas Latifah dengan perasaan cemas.
"Emang kamu pikir, tempat kerja ini bisa telat?" Bentaknya tegas tak memberi ampun atas kesalahan kecil yang diperbuat juniornya.
"Maaf kak." Entah keberapa kali ucapan itu keluar dari mulutnya.
"Gak bisa dipakai orang seperti kamu! Gak cocok kamu kerja di bandara." Timpal wanita perawan tua itu dengan sadisnya. Latifah hanya tertunduk lesu menghadapi wanita itu. Dia sudah lelah dengan semua omelan yang didapatnya setiap hari. Ya, setiap hari, belum lagi pekerjaan yang menumpuk.
__ADS_1
"Nanti jam 9 kamu pergi ke kantor utama! Ada yang mau dibicarakan Pak Ali." Ujar wanita yang terlihat seperti wanita paruh baya itu.
"Iya kak." Sahut Latifah lesu. Dia pasrah atas apa yang akan terjadi nanti. Pak Ali adalah manajer di maskapai Nuri Air. Beliaulah yang merekrut karyawan baru dan menghentikannya. Bisa jadi dia akan diberhentikan akibat aduan wanita tua tak punya hati itu. Yang hobinya suka marah-marah.
Seperti biasa Latifah mengerjakan tugasnya, begitu jam 9 dia pun pamit untuk menemui pak Ali.
Kantor utama maskapai Nuri Air itu berada di luar bandara dipinggir jalan raya. Butuh waktu satu jam untuk dapat kesana. Tak ingat lagi dengan rasa laparnya, Latifah hanya fokus pada pak Ali. Setelah perjalanan yang melelahkan tibalah dia dikantor utama maskapai Nuri Air. Karyawan disana kebanyakan wanita, karena tugas mereka sebagai customer service maskapai Nuri Air. Tampak mereka tengah sibuk mengangkat telepon yang terus berbunyi.
"Latifah?" Tanya salah satu karyawan disana.
"Iya, mbak." Sahut Latifah gugup.
"Baik." Jawab Latifah singkat. Dia pun segera masuk kedalam ruangan yang dimaksud.
Disana telah duduk seorang pria berkumis lebat dan sedikit berjanggut. Tidak begitu berisi, tapi dari tampangnya beliau seperti sudah berumur diatas kepala tiga.
"Latifah?" Tanya pak Ali dengan ramah. Wajahnya sangar tapi beliau begitu ramah dan mudah senyum.
"Iya pak." Sahut Latifah seraya mendekati meja pak Ali.
__ADS_1
"Silakan duduk." Tunjuk pak Ali pada kursi yang ada dihadapannya. Dengan sigap Latifah menuruti ucapan pak Ali.
"Begini Latifah, saya akan langsung menjelaskan kenapa kamu saya panggil kemari." Jelas pak Ali sambil menyatukan jari jemarinya. Latifah yang tahu maksud tujuan pak Ali sudah pasrah dengan semuanya, dia sudah lelah.
"Kata orang-orang di lapangan, kinerjamu tidak bagus. Kamu tidak dapat berbaur dengan senior, kamu terlambat dalam beberapa hari ini." Jelas beliau Latifah hanya mengangguk saja.
"Mohon maaf, kalau kamu seperti ini saya tidak dapat mempertahankan kamu. Saya butuh orang yang bisa bekerja sama dengan tim. Jadi, dengan sangat sedih saya akan memutuskan kontrak kerja dengan kamu." Ucap pak Ali perlahan-lahan. Beliau orang baik yang tak ingin salah dalam mengucapkan kata-kata. Berkali-kali pak Ali mengucapkan permintaan maafnya. Latifah mengerti maksud pak Ali, agar dirinya tak tersinggung.
"Maaf pak, jujur saja saya lelah. Tapi sangat menyenangkan dapat pengalaman baru. Senior saya tidaklah baik pak, saya tidak diajarkan caranya check-in tapi saya disuruh check-in. Dan saya mempelajarinya secara otodidak. Ketika mereka tak dapat menghandle penumpang karena banyaknya yang mengantri, saya dipanggil untuk mengerjakan tugas mereka di ruang check-in. Tentulah saya kebingungan, tapi saya mencoba meskipun saya tidak tahu harus apa." Jelas Latifah mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini dipendamnya. Pak Ali hanya mengkerutkan keningnya mendengarkan penjelasan Latifah.
"Dan pak, penumpang yang kelebihan bagasi itu dimintai uangnya. Dan uang itu dibagikan rata saya diberi dua puluh ribu setiap kelebihan bagasi dari penumpang. Apa itu boleh dilakukan?" Tanya Latifah dengan berani.
"Jadi, mereka mengambil uang kelebihan bagasi? Tidak dimasukkan kedalam catatan?" Tanya pak Ali serius.
"Iya pak, tapi tolong jangan bilang Bapak tahu dari saya. Saya tidak mau ada masalah lagi. Saya tidak apa-apa keluar dari pekerjaan ini. Tapi, saya mohon jangan beritahu saya yang telah menjelaskan semuanya ke Bapak." Tutur Latifah secara gamblang.
"Harusnya kamu yang saya pertahankan, apa kamu masih mau bekerja di bandara? Saya akan mempertahankan kamu." Ujar pak Ali meyakinkan. Latifah hanya tersenyum saja, sebenarnya dia sudah sangat lelah dan tak ingin masuk lagi kedalam sangkar burung itu. Belum lagi tekanan demi tekanan yang diterimanya. Selama ini dia diam bukan berarti tak mampu melawan, hanya lebih berusaha menjadi waras dari pada yang suka menuntut. Dimana banyak orang-orang yang tak sesuai dengan perkiraannya. Cantik tapi ketus, baik tapi ada maksudnya. Sepertinya hal itu dimana pun berada tetap akan selalu ditemui orang-orang yang suka caper atau orang yang tak sesuai dengan keinginan kita. Tinggal bagaimana kita bisa menghadapi dan menyikapi mereka agar tak semakin pecah suasananya.
"Terima kasih sebelumnya Pak. Tapi saya memilih untuk resign saja, mungkin ada rejeki saya di tempat yang lain Pak." Ucap Latifah dengan yakin. Pak Ali tampak mengkerutkan keningnya, beliau menghela nafas.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih atas partisipasi kamu selama ini ya Latifah." Pak Ali menyodorkan tangannya yang disambut oleh Latifah. Mereka pun bersalaman setelahnya Pak Ali mengulurkan amplop gaji terakhir Latifah yang belum sampai sebulan bekerja itu. Hanya empat belas hari, sehingga amplopnya pun tipis. Latifah menerimanya dan kembali mengucapkan terima kasih. Dia pun ijin pamit dari hadapan pak Ali. Dan selesailah perjalanan karirnya di bandara. Hanya bertahan dua bulan empat belas hari. Dengan hati yang berusaha dikuatkan, Latifah mengumpulkan tenaganya agar tak jatuh dalam kesedihan yang mendalam.