
Sekitar 20 menit menempuh perjalanan, akhirnya Latifah dan Mas Gilang sampai di tempat tujuan. Ternyata, acaranya dilangsungkan di sebuah masjid di salah satu pusat kota. Betapa terkejutnya Latifah melihat banyaknya kerumunan orang yang hadir disana. Bisa dibilang acara itu cukup besar dan dihadiri sejumlah para ulama yang akan menjadi penceramahnya. Setelah memarkirkan sepeda motornya, Latifah hanya berdiri termangu. Jujur saja, itu adalah kali pertamanya pergi ke tempat seperti itu. Ada perasaan waswas dan canggung.
"Apa yang harus aku lakukan?" Ujar Latifah berkata didalam hatinya. Dia bingung tak tahu harus berbuat apa.
"Tifah, hey?" Suara Mas Gilang membuyarkan lamunannya.
"I,iya Mas?" Sahut Latifah malu. Ya, Latifah benar-benar wanita yang pemalu. Dia benar-benar tidak nyaman dengan situasi banyak orang seperti itu.
"Ayo, masuk! Nanti Mas naik ke atas panggung, jadi kamu bisa duduk lihatin Mas dari bawah ya!" Jelas pria itu seraya tersenyum manis.
"Oh, gitu Mas, oke." Jawab Latifah singkat.
"Mas tinggal ya, waktunya Mas tampil." Senyum pria itu seraya berlalu melambaikan tangannya pada wanita pujaan hatinya. Latifah hanya tersenyum tipis sambil menatap pria itu hilang dari keramaian.
Tak berselang lama, suara kendang ditepuk mulai terdengar. Perlahan-lahan para penceramah mulai naik ke atas panggung. Latifah duduk tepat di tengah-tengah penonton yang sedang menyaksikan. Dia berusaha mencari seseorang yang tak asing baginya. Seseorang yang saat ini selalu membuat jantungnya berdegup dengan kencang jika bertemu. Tanpa butuh waktu lama, Latifah mampu menemukan dimana lelaki pemilik senyum manis itu. Dia duduk diujung panggung dan tampak sedang memegang mikrofon. Ternyata, Mas Gilang berperan sebagai pengiring. Sesekali dia mengikuti apa yang dibacakan oleh vokalis utama. Latifah memperhatikan pria itu, ada perasaan aneh di dalam hatinya. Seperti perasaan tak nyaman, pria itu baik, tampan, pekerja keras, tapi, entah mengapa hati Latifah tak merasa nyaman. Hanya dia merasa sebatas suka pada pria itu, tapi pria itu tidak memberikan kenyamanan. Entahlah perasaan itu seperti minder. Dia merasa dirinya bukan siapa-siapa, mengapa harus mendapatkan pria seperti itu? Dia tak mengenal agama dengan faham. Dia hanya tahu dasar-dasarnya saja, lantas bagaimana kedepannya? Perasaan itu lebih menuju ke minder. Keluarganya pun hanya keluarga biasa yang tak begitu faham agama. Latifah berusaha mengalihkan pikirannya. Tapi, setidaknya dia bisa tenang sejenak mendengarkan lantunan sholawat yang sedang dibacakan.
Setelah tiga jam berlalu, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Latifah mulai mengantuk, dia ingin sekali tidur namun acara belum selesai. Belum lagi besok subuh dia harus berangkat bekerja.
"Terima kasih atas kehadirannya Bapak dan Ibu, semoga kehadiran kita diberkahi oleh Allah SWT. Baiklah, mari kita akhiri acara ini dengan mengucapkan hamdalah. Sampai jumpa dilain kesempatan lagi. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Salah satu host telah mengakhiri acara pada malam hari itu. Latifah lega sekali, dia pun segera keluar menuju parkiran. Sambil menunggu Mas Gilang, Latifah memperhatikan sekitar. Suasana ramai sekali, banyak orang berusaha keluar dari keramaian. Tak berselang lama, wajah yang tak asing itu muncul juga, seperti biasa pria itu selalu menebarkan senyumnya.
__ADS_1
"Yuk, kita kerumah aku dulu ya." Ajak pria berbaju jubah hitam itu.
"Mm, kerumah Mas?" Tanya Latifah lagi.
"Iya, kita makan dulu ya." Jelasnya.
"Oh, gak lama kan Mas? Aku kerja besok pagi." Ujar Latifah.
"Gak, sebentar kok ya." Pinta Mas Gilang.
"Oke." Sahut Latifah datar.
Sepeda motor pun dinyalakan, Latifah mengikuti Mas Gilang dari belakang. Mereka berjalan perlahan-lahan, ternyata rumah lelaki itu tak jauh dari masjid. Mereka masuk gang sedikit dan tak lama berhenti disebuah rumah yang memiliki pagar berwarna merah. Rumah yang besar dan mewah, hampir tak ada apa-apanya dengan rumah sewaan Latifah. Ya, orang tua Latifah belum memiliki rumah, mereka adalah pendatang yang sedang mencoba peruntungannya di kampung orang. Seketika Latifah merasa minder, dia merasa tak pantas dengan pria itu. Rasanya ingin sekali dia kembali pulang kerumahnya dan tak pernah pergi kesana.
"Iya Mas." Tangan Latifah dingin seketika, wajahnya pucat. Kali ini dia merasa benar-benar tak nyaman dengan semuanya.
"Kamu duduk aja, aku mau ngurusin Bapak kiai ya." Jelas Mas Gilang seraya berlalu meninggalkannya sendiri.
Latifah melihat sekitarnya, Ibu-ibu sibuk mengangkat piring-piring makanan untuk dihidangkan. Banyak sekali pria-pria yang berpakaian serba putih dan berjubah sama seperti Mas Gilang. Mereka duduk berbaris dihadapan makanan. Latifah bingung harus apa, dia hanya diam mematung. Hatinya berontak ingin pulang, tapi bagaimana caranya?
__ADS_1
Setelah Ibu-ibu selesai menyiapkan hidangan, pak kiai membacakan doa dan tak lama mereka mulai menyantap hidangan yang telah disajikan. Latifah pun ikut makan meski hanya sedikit karena dia merasa tak nyaman sama sekali. Setelah selesai makan-makan, Ibu-ibu kembali sibuk merapikan piring-piring yang ditinggalkan dilantai. Latifah mulai membantu meski tak banyak yang bisa dilakukannya. Perasaan malu benar-benar membuatnya merasa menjadi asing sendiri. Padahal itu hanya perasaannya saja. Itulah sulitnya menjadi orang yang tak mudah berbaur dengan orang lain, merasa canggung sendiri.
"Yuk, Mas antarkan pulang." Suara yang tak asing itu menghampiri Latifah yang tengah bingung sambil berdiri.
"I,iya Mas." Sahutnya tanpa ekspresi.
Mereka pun pergi menuju parkiran sepeda motor, dan tak lama sepeda pun melaju diiringi Latifah yang membuntuti dari belakang. Selama perjalanan, Mas Gilang hanya menatap Latifah sambil tersenyum-senyum kecil. Berkali-kali Mas Gilang memperhatikan Latifah dan tersenyum manis. Namun, Latifah pura-pura tak melihatnya dan hanya fokus pada rasa malu dan mindernya. Sebelum sampai dirumah, Mas Gilang menghentikan sepeda motor Latifah. Sontak saja Latifah berhenti tiba-tiba.
"Kenapa Mas?" Tanya Latifah heran. Kali ini pria itu menatap Latifah dengan serius.
"Mas mau tanya, jawab ya." Sahut pria tampan yang mudah senyum itu.
"Tanya apa?" Jawab Latifah bingung.
"Gini, Mas langsung poin aja ya. Kamu suka gak sama Mas?" Pertanyaan itu membuat Latifah terdiam seketika. Pipinya memerah, tapi untungnya malam hari jadi tak begitu terlihat jelas.
"Aku, malu mas." Jawab Latifah jujur.
"Jujur, Mas suka sama kamu mulai dari pertama kita ketemu. Mas mau kamu jadi pacar Mas. Apa kamu mau?" Pria itu benar-benar gentleman, dia berani mengungkapkan perasaannya dihadapan wanita pujaannya.
__ADS_1
"Mm, kasih waktu ya Mas." Ucap Latifah tak berani menatap pria itu, dia hanya tertunduk malu. Benar-benar pemalu.
"Oke, Mas tunggu ya." Ujar pria itu sumringah. Latifah hanya tersenyum malu. Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali, tak berselang lama sampailah keduanya didepan rumah Latifah. Mas Gilang pun akhirnya berpamitan dan Latifah hanya melihat punggungnya hingga hilang ditelan gelapnya malam.