Lembaran Kenangan

Lembaran Kenangan
Mas Gilang


__ADS_3

Ponsel Latifah bergetar, kali ini dia mematikan nada dering. Mungkin dia bosan menerima panggilan dari seorang pria yang tak diinginkannya. Pria yang selalu berusaha menghubungi Latifah, namun tak pernah digubrisnya. Latifah melirik layar ponselnya, dahinya berkerut.


"Nomor tak dikenal." Tulisan di ponsel itu. Sejenak Latifah terdiam, seperti sedang berpikir. Dan tanpa pikir panjang Latifah mengangkat panggilan itu.


Dia sengaja tak bersuara, berusaha memastikan siapa suara dari balik ponsel itu.


"Assalamualaikum," terdengar suara seorang pria. Suaranya lembut sekali, dari suaranya menandakan dia tipe pria yang romantis.


"Wa, walaikum salam." Sahut Latifah gugup.


"Apa ini Latifah?" Tanya pria itu dengan lembut.


"I,iya. Maaf, ini siapa ya?" Sebenarnya Latifah tahu siapa pemilik suara itu. Seseorang yang saat ini sedang menjalin kedekatan dengan dirinya. Hanya saja dia berpura-pura tidak tahu, jaga image itu sangatlah penting bagi Latifah. Biar dirinya dianggap mahal oleh pria yang sedang mendekatinya. Karena bagi Latifah, laki-laki sangat tertarik pada wanita yang susah didapatkan. Dan jika pria itu benar-benar menginginkannya, pasti dia akan berusaha mendapatkan bagaimanapun caranya.


"Lho, gak ingat ya? Kita ketemu di parkiran pesawat." Dari Tutur katanya yang tenang, menandakan pria itu dewasa.


"Mas Gilang?" Tanya Latifah memastikan.


"Nah, itu tau." Latifah hanya tertawa kecil.


"Sekarang lagi ngapain nih?" Tanya pria itu dengan ramah.


"Mm.. lagi santai aja mas, habis beres-beres nih." Sahut Latifah girang. Dia tak menyangka, pria yang disukainya pertama kali saat bekerja di bandara, benar-benar menghubunginya.


"Oh, gitu. Gimana, jadikan nanti malam?" Tanya pria bersuara lembut itu.


"Eh, nanti malam ya mas, hampir lupa. Hehehe," Pipi Latifah memerah, dia sangat bahagia sekali.


"Iya, jadi apa gak?" Tanya pria itu lagi.


"I,iya insyaallah jadi mas!" Sahut Latifah terbata-bata.


"Oke, mas jemput ya habis Maghrib."


"Oh, oke mas." Jawab Latifah malu-malu.


"Sampai ketemu nanti ya," ucap pria itu.

__ADS_1


"Iya mas." Sahut Latifah datar, berusaha menutupi kebahagiaannya, ingat jaim ya!


"Assalamualaikum, Latifah." Pemilik suara lembut itu perlahan mulai mengakhiri pembicaraan.


"Walaikum salam." Sahut Latifah berusaha tenang, mengendalikan diri.


Begitu ponsel dimatikan, Latifah segera membuang ponselnya ke tempat tidur. Dia memegangi pipinya yang memerah. Perasaannya begitu bahagia, karena cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Dengan segera Latifah menghampiri lemari dan mencari baju yang akan dikenakannya. Begitu antusiasnya dia, hingga sibuk memilih pakaian.


Ketika sedang sibuk memilih pakaian, ponselnya bergetar kembali, namun Latifah tak mendengarnya. Dia sibuk dengan khayalan-khayalan yang akan terjadi antara dirinya dan mas Gilang nanti malam. Ponselnya masih terus menyala, terpampang di layar ponsel itu "Hasby sedang memanggil".


***


Malam pun tiba, Latifah sudah bersiap menggunakan baju gaun terusan berwarna maroon. Dia mengenakan hijab segiempat berwarna hitam menutup dada. Begitu menawan dan kelihatan dewasa, dandanannya serasi dengan pakaian yang dikenakan. Riasan yang tipis tidak terlalu mencolok, dia menggunakan warna-warna natural. Berkali-kali dia memandang cermin, memastikan semua benar-benar sempurna.


"Mau kemana kok cantik banget?" Seorang wanita paruh baya menghampirinya. Wanita itu mengenakan baju daster panjang berbalut penutup kepala ala Ibu-ibu.


"Oh, iya Ma, Latifah mau keluar ya sama teman. Boleh?" Ternyata Latifah belum memberitahu Ibunya, dia terlalu fokus pada khayalannya hingga membuatnya lupa.


"Siapa? Cowok apa cewek?" Tanya Ibunya dengan kening berkerut.


"Cowok Ma, lagi dekat sama Tifah." Jawab Latifah jujur.


"Apa, Ma? Tapi orangnya lagi dijalan mau kesini!" Seru Latifah dengan perasaan kecewa.


"Kalau kamu mau tetap pergi, bawa sepeda motor sendiri! Kalau gak Mama gak ijinkan!" Sahut wanita paruh baya itu sambil berlalu meninggalkan Latifah yang masih duduk di depan meja riasnya.


Selang lima belas menit berlalu, terdengar suara deru mesin motor. Latifah bergegas melihat keluar jendela, alangkah gugupnya dia, Mas Gilang sudah berada didepan rumahnya. Perasaannya cemas bercampur gugup. Keringat dingin seketika menguasai tubuhnya.


"Tok.. tok.. tok.." terdengar suara pintu diketuk. Latifah masih mematung didalam kamarnya.


"Assalamualaikum.." Suara yang tak asing ditelinga Latifah.


"Walaikum salam." Dari balik kamarnya, Latifah mendengar Ibunya menyahut salam dan membukakan pintu.


"Eh, temannya Latifah ya?" Seru wanita paruh baya itu.


"Iya Bu." Mas Gilang mengulurkan tangannya, menyalami Ibu Latifah. Wanita paruh baya itu terlihat senang karena pria itu begitu santun. Mas Gilang mengenakan pakaian jubah berwarna hitam layaknya orang yang akan pergi pengajian. Dari pandangan pertama, Ibu Latifah sudah sangat tertarik dengan pria itu. Dia yakin pria itu bukanlah pria nakal.

__ADS_1


"Silakan masuk, duduk dulu nak!" Begitu antusiasnya Ibu Latifah menyambut kedatangan pria itu.


"Terima kasih Bu." Senyum ramah pria berwajah bulat itu begitu memikat hati. Dia tidak begitu tinggi, tubuhnya sedikit berisi dan memiliki kulit berwarna putih. Dari caranya yang tenang dan santun, bisa dipastikan pria ini memiliki pengalaman banyak dalam urusan berkomunikasi.


"Mau minum dulu nak?" Tanya Ibu Latifah basa-basi.


"Oh, gak usah Bu, makasih." Jika tersenyum matanya terlihat sipit, lesung pipinya pun tampak jelas.


"Sambil nunggu Latifah, oh iya, anak mau kemana ini?" Tanya wanita paruh baya itu tersenyum tipis.


"Makasih Bu, saya kebetulan anggota marawis. Jadi sekalian mau ajak Latifah lihat kegiatan saya, gak apa-apa Bu?" Jelasnya santun.


"Oh, bagus itu. Tapi, maaf nak, Latifah suruh naik sepeda motor sendiri saja ya! Ibu gak mau ada fitnah!" Jelas Ibunya Latifah.


"Oh, iya gak apa-apa Bu." Ujar pria itu sembari tersenyum kecil.


"Kalau Ibu boleh tau, anak namanya siapa dan kerjanya apa?" Tanya wanita paruh baya itu dengan hati-hati.


"Oh, iya, maaf Bu hampir lupa. Nama saya Gilang, saya bekerja di bandara bagian kantor maskapai Elang. Dan marawis ini hanya bagian dari kerja sampingan saya Bu." Jelas pria tampan itu dengan tenang.


"MasyaAllah, pekerja keras ya kamu, nak!" Tampak Ibu Latifah begitu tertarik dengan pria yang sedang duduk dihadapannya itu.


"Alhamdulillah, Bu. Meskipun capek, saya tetap ikut marawis. Gak jarang saya tidur cuman lima jam sehari demi pekerjaan." Senyum khasnya mampu menyihir wanita yang ada disekitarnya. Tak heran, jika Latifah benar-benar jatuh hati pada pria itu.


"Mas Gilang, maaf nunggu lama ya." Latifah berdiri disamping Ibunya, dengan pakaian dan dandanan yang begitu memikat hati, membuat Gilang tak berhenti memandangnya sejenak.


"Oh, iya gak apa-apa. Ayo, kita berangkat! Acaranya dimulai setengah jam lagi." Ujar pria itu seraya berdiri.


"Bu, pamit ya." Ujar Gilang sambil menyalami kembali wanita paruh baya itu.


"Iya, hati-hati ya nak. Ibu titip Latifah ya!" Pesan Ibu Latifah.


"Baik Bu." Sahut Gilang seraya tersenyum tipis.


"Ma, berangkat dulu." Ucap Latifah pada Ibunya sambil ikut menyalami tangannya.


"Iya, hati-hati ya nak." Sahut wanita paruh baya itu seraya tersenyum.

__ADS_1


Dan tak lama, mereka mulai menaiki sepeda motor masing-masing. Latifah mulai menghidupkan mesin sepeda motornya dan mengikuti pria itu perlahan dari belakang.


__ADS_2