
Beberapa hari berlalu, setelah pertemuan mereka pada malam hari itu. Latifah masih belum memberikan jawabannya pada Mas Gilang. Hampir setiap hari Mas Gilang menghubungi Latifah tanpa henti. Dia benar-benar ingin mendapatkan wanita pujaannya itu. Latifah tak pernah duluan menghubungi Mas Gilang, dia benar-benar gengsi dan jual mahal. Namun, Mas Gilang pantang menyerah. Hingga akhirnya hati Latifah pun luluh oleh perjuangannya demi mendapatkan cintanya.
"Assalamualaikum.." Isi pesan Mas Gilang pada malam hari, selepas Latifah pulang bekerja.
"Walaikum salam." Jawab Latifah yang masih mengenakan handuk diatas kepalanya. Dia baru saja selesai keramas setelah bekerja seharian.
"Lagi ngapain nih?" Basa-basi pria berkedok menunggu jawaban cinta itu.
"Habis pulang kerja Mas." Sahut Latifah datar.
"Mm, udah makan belum?" Pertanyaan yang hampir Latifah dapatkan setiap pria itu menghubunginya.
"Belum Mas, bentar lagi. Tadi juga udah makan soalnya pesawat ada yang delay, jadi dapat snack deh." Tutur Latifah sambil tertawa kecil.
"Mm, gitu ya. Ingat ya, jangan lupa makan, nanti kamu sakit. Kalau kamu sakit nanti Mas khawatir, hehehe." Tulis pria itu dengan penuh perhatian.
__ADS_1
"Iya Mas, tenang aja. Kalau Mas sendiri udah makan belum?" Tanya Latifah kembali.
"Udah kok, sayang. Eh, maksudnya bercanda ya, hehehe." Celutuk pria tampan itu dengan emot tersenyum. Latifah terdiam sejenak, dia sangat malu mendapatkan jawaban seperti itu.
"Hehehe, bisa aja Mas." Balas Latifah dengan emot tertawa.
"Oh, ya, lagi ngapain juga Mas?" Tanya Latifah berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Biasa.. Mas lagi kerja nih shift malam, kebetulan Mas Roni gak masuk karena lagi sakit. Jadi Mas yang gantiin, tadinya pengen ketemu kamu, tapi gak jadi deh." Jelas pria itu panjang lebar.
"Dalam minggu ini mungkin Mas gak ambil job sampingan, soalnya lagi sibuk banget di kantor. Paling juga latihan dirumah. Oh, ya kapan-kapan kerumah lagi yuk, biar ikutan latihan marawis." Ajakan pria itu sebenarnya positif sekali, tapi, sejujurnya Latifah sangat tidak nyaman dengan kerumunan banyak orang. Ya, seharusnya Latifah harus lebih bisa berbaur lagi dengan sekitar. Apalagi jika ingin berhubungan lebih serius, tentu pasti tidak hanya doi yang didekati. Keluarganya pun harus didekati juga, karena pasti akan hidup berdampingan dengan mereka.
"Insyaallah, Mas." Balas Latifah yang terdiam sejenak. Dia kembali membayangkan posisi tidak nyaman ketika berada dirumah Mas Gilang. Karena tidak ada satupun yang dikenalinya, kecuali Mas Gilang.
"Oh, ya. Mas pengen tau jawaban yang kemarin dong. Hehehe." Tulis pria tampan itu dengan jujur. Dia sedang berusaha mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Lama Latifah tak membalas pesan itu, rupanya dia tengah tersipu malu. Tak tahu harus membalas apa. Berkali-kali dia menulis dan menghapus pesan hingga merasa pesannya pas dan tak lebai. Untung saja dulu tidak ada WhatsApp, sehingga penerima tidak tahu apakah yang sedang dihubunginya sedang menulis atau tidak, sedang online atau offline. Benar-benar tidak ketahuan.
"Gimana jawabannya? Mas penasaran." Lagi pesan masuk, tapi Latifah masih belum selesai dengan kata-katanya.
"Oke Mas, aku jawab." Tulis Latifah sangat gugup. Disatu sisi dia ingin mendapatkan pria tersebut, tapi disatu sisi dia minder dengan keadaannya. Tapi, perasaan ingin memiliki itu lebih besar dari pada rasa mindernya.
"Jadi?" Tanya pria itu lagi tak sabaran. Latifah selalu lambat membalas pesan dari Mas Gilang. Tidak seperti Mas Gilang yang dengan sigap akan membalas pesan dari Latifah.
"Iya, Mas. Aku mau." Tulis Latifah setelah lama berpikir.
"Alhamdulillah, makasih ya. Mulai sekarang kita panggilannya apa? Mas panggil kamu 'sayang' ya." Ujar pria itu sangat antusias.
"Boleh, Mas." Jawab Latifah malu-malu.
"Mas sayang banget lho sama kamu, Latifah." Kata-kata itu seperti benar-benar tulus dari seorang pria. Apakah itu modus? Latifah tak tahu, dan dia pun tak peduli. Yang jelas sekarang dia adalah pacar seorang Mas Gilang yang tampan dan mapan pastinya.
__ADS_1
***