
Beberapa hari berlalu setelah Latifah resmi menjadi pacar Mas Gilang. Perlahan-lahan, satu bandara mulai mengetahui bahwa mereka adalah pasangan kekasih. Banyak pria-pria yang kecewa pada Latifah, lantaran pesannya tak pernah digubris oleh gadis manis itu. Namun, siapa sangka ada yang terang-terangan tawar menawar dengannya. Siang itu seperti biasa Latifah sedang bekerja di ruangannya. Tak lama, adzan Zuhur berkumandang. Latifah ijin pamit pada seniornya untuk melaksanakan sholat Zuhur. Sebenarnya itu sudah jam istirahat, tapi entah mengapa seniornya seperti tak mengijinkannya pergi. Namun, Latifah tetap saja tak menggubrisnya. Dia lelah dikekang oleh wanita itu. Apapun yang dikerjakannya hampir tak ada yang benar dimata wanita yang suka cemberut itu. Dengan sigap Latifah keluar ruangan dan pergi menuju lantai atas. Disana terdapat musola kecil disamping ruang tunggu keberangkatan. Dia berjalan dengan cepat dan memasuki area musola. Melepaskan sepatunya dan mengambil air wudhu. Setelahnya Latifah mengikuti imam yang sudah memulai sholat terlebih dahulu. Begitu selesai sholat, dia merasa begitu tenang. Tapi jangan santai dulu, dia harus segera kembali karena ditakutkan kakak seniornya naik pitam. Dengan gerakan yang cepat dan tertata Latifah merapikan mukenanya. Tak lama, dia pun pergi memasang sepatunya kembali.
Begitu selesai, Latifah segera bergegas kembali ke lantai bawah. Dia menuruni tangga dengan cepat. Tapi tak sengaja dia menabrak seorang pria.
"Bruuukk"
"Aduh, ma,maaf ya." Ujar Latifah sambil memegangi bahunya yang tersenggol.
"Oh, iya gak apa-apa." Sahut pria berambut cepak, berperawakan kurus itu.
"Aku permisi ya kak." Ujar Latifah sambil berlalu. Pria itu hanya menatapnya saja.
Tak lama, Latifah kembali lagi ke ruangan kantornya.
"Aku udah selesai kak Risma." Kata Latifah seraya tersenyum pada seniornya yang ketus itu.
"Kamu itu ya, kalau kataku jangan sholat ya jangan!" Lagi-lagi Latifah dapat hadiah omelan dari seniornya.
"Cuman sebentar kak." Jawab Latifah hati-hati.
"Orang lagi sibuk kamu malah sholat! Sholat itu bisa nanti dikerjakan!" Ketus Risma sang senior.
"Ma, maaf kak." Hanya itu yang bisa dilakukan Latifah, meskipun ingin sekali dia membalas wanita perawan tua itu. Tapi, dia takut masalah bertambah rumit. Akhirnya dia pun berusaha menahan emosinya dan memendam semua perasaan kesal itu.
"Itu aja yang bisa kamu lakuin! Dasar gak becus banget!" Celutuk wanita perawan tua itu lagi dengan lantangnya.
Latifah kembali bekerja meskipun belum makan siang.
__ADS_1
***
"Mas lagi dimana?" Tanya Latifah ketika dia telah selesai bekerja dan akan pulang. Rupanya Mas Gilang menelepon pacarnya tersebut.
"Mas di kantor, hari ini Mas shift malam sayang." Jelas pria lembut itu.
"Oh, gitu ya. Aku mau pulang nih, ini masih di bandara sih. Bentar lagi sampai parkiran." Ujar Latifah dengan santai.
"Pengen deh, ketemu. Tapi, Mas lagi sibuk sayang, insyaallah besok kita makan bakso yuk?" Pinta Mas Gilang tanpa canggung.
"Mm, boleh Mas." Latifah tidak pernah membalas panggilan 'sayang' dari Mas Gilang ataupun memanggilnya dengan panggilan 'sayang'. Dia begitu gengsi dengan ucapan itu. Selama dia pacaran dengan pria, tak pernah sekalipun Latifah memanggil 'sayang'. Hanya pacarnya saja yang selalu memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.
"Oke deh, sampai jumpa besok ya sayang. Hati-hati dijalan ya." Tutur kata pria itu benar-benar lembut dan menenangkan hati. Bisa dipastikan pria ini tak gampang emosi. Benar-benar pria idaman kaum hawa, tapi entah mengapa Latifah tak benar-benar dalam menjalin hubungan itu. Padahal jelas terlihat Mas Gilang begitu sayang padanya.
"Iya, Mas." Ponsel dimatikan, Latifah tersenyum kecil. Dia menatap kembali layar ponsel, ada panggilan lain yang masuk. Tapi, kali ini panggilan itu dari pria bernama "Hasby". Dengan sigap Latifah merijek panggilan itu.
"Eh?" Bingung Latifah, apakah benar dia yang sedang disapa.
"Latifah, kan?" Tanya pria berperawakan kurus yang ditabraknya di tangga tadi siang. Sekilas wajahnya mirip sekali dengan oppa Korea. Kulitnya putih mulus, matanya agak sipit persis orang Korea. Rambut cepaknya dan senyum yang berlesung pipi itu membuat Latifah tercengang sesaat.
"MasyaAllah, gantengnya." Ujar Latifah didalam hati. Dia terpesona dengan ketampanan pria yang ada dihadapannya itu. Tapi tenang, Latifah mampu mengendalikan perasaannya agar tetap terlihat jaim.
"I,iya. Kamu siapa?" Tanya Latifah benar-benar bingung.
"Kenalin aku Erik. Dulu pernah hubungin kamu, tapi gak pernah dibalas." Senyum pria itu merekah.
"Oh, iya? Maaf aku gak tau sih." Sahut Latifah tersipu malu.
__ADS_1
"It's okay. Aku baru tau juga katanya kamu udah pacaran ya sama Mas Gilang?" Jelas pria tinggi itu.
"Mm, iya." Jawab Latifah ragu-ragu.
"Kamu ingatkan, kita pernah ketemu di ruang check-in dulu?" Tunjuk Erik mengingatkan.
"Oh, iya. Kamu yang duduk itu ya." Tebak Latifah.
"Iya, kan aku pernah bilang sama temanku yang cewek. Aku pengen kenalan sama kamu, tapi kamunya gak gubris." Jelas Erik terang-terangan.
"Oh, aku minta maaf." Latifah tertunduk malu.
"Gak apa-apa. Tapi, nanti kalau kamu udah putus sama Mas Gilang, hubungin aku ya." Jelas pria itu menjelaskan maksud tujuannya.
"Oh, oke." Sahut Latifah tertawa kecil.
"Oke, bye." Lambaian tangan pria itu mengakhiri pembicaraan. Latifah hanya tersenyum kecil seraya ikut melambaikan tangannya.
Begitu pria mirip oppa Korea itu berlalu, Latifah kembali berjalan menuju parkiran.
"Hubungin aku?" Cibir Latifah yang berusaha mengingat ucapan pria tampan tadi.
"Emang dikiranya aku barang yang bisa di oper kesana kemari?" Omel Latifah pada dirinya sendiri.
"Enak aja. Eh, tapi dia ganteng banget sih. Rupanya suka juga sama aku. Tapi, aku udah punya pacar sih. Haruskah aku putus dan pacarin oppa Korea?" Latifah memegang pipinya yang merona. Dia bangga sekali dapat menaklukkan hati pria-pria tampan. Tinggal tunjuk saja mau yang mana, maka tak lama pria itu akan menghubunginya. Seperti magic, ya seperti itulah Latifah ketika suka pada Mas Gilang saat pertama kali bertemu. Dia memandang pria pemilik senyum paling manis itu, didalam hatinya dia berkata "manis sekali pria itu". Dan tak lama, ternyata Mas Gilang pun berusaha mencari nomornya dan menghubunginya. Benar-benar seperti kontak batin, hoki banget. Seolah-olah pria itu bisa tau apa maksud tatapan mata gadis manis itu.
"Eh, gak boleh. Astaghfirullah Latifah, gak boleh gatel jadi cewek harus jaim." Ceramah Latifah pada dirinya sendiri. Begitu sampai diparkiran, dia pun segera menyalakan mesin motornya dan berlalu meninggalkan Bandara yang tak pernah sepi pengunjung itu.
__ADS_1