
POV Hasby
Seorang pria berpakaian seragam safety berwarna orange, tampak sedang duduk sambil memperhatikan sekitar. Tidak ada rumah-rumah warga, yang ada hanyalah gundukan bukit pasir dan batu bara. Dia memantau keadaan sekelilingnya yang dipenuhi truk-truk besar pengangkut batu bara. Truk-truk itu berlalu lalang tepat dimuka pos yang sedang didiaminya.
"Kreezzzz.. kreezzz.." suara handy talky atau yang biasa disingkat HT itu berbunyi.
"Monitor.. monitor.. Mas Hasby, di pos tiga." Suara parau terdengar dari balik HT itu. Dengan sigapnya pria berseragam safety itu mengangkat HT tersebut.
"Siap Pak, saya Hasby." Sahut pria bertubuh tinggi itu. Tampak dia mengenakan helm safety berwarna kuning.
"Mas, sudah dicatat truk yang lewat barusan?" Tanya pria pemilik suara parau dari balik HT itu.
"Sudah Pak, semua yang lewat sudah saya catat." Jelas pria yang memiliki rahang tegas itu.
"Oke, bagus lanjutkan ya. Sebentar lagi nasi katering makan siang menuju kesana." Ucap pria dibalik HT itu.
"Baik, Pak." Sahutnya tegas.
"Oke, sip." Begitu pembicaraan itu berakhir, suara kresek dari HT itu pun perlahan mulai menghilang.
Tak berselang lama, truk-truk muatan batu bara pun sejenak mulai hilang dari pantauannya. Matahari telah naik, tandanya waktu istirahat para karyawan tambang batu bara. Tak ada siapapun disana selain ia seorang diri, ditemani hembusan angin yang membisu.
__ADS_1
"Ting..tingg.."
Suara nada dering telepon genggam miliknya telah memecahkan suasana hening disekitar. Bergegas pria tak berkumis itu melirik ponselnya. Raut wajahnya yang semula antusias, dengan cepatnya berubah lesu.
"Ya dek, ada apa?" Sahut pria yang memiliki nama panjang Muhammad Hasby, di tanda pengenal yang dikalungkannya di leher.
"Kakak, apa kabar?" Ujar seseorang yang menghubunginya dibalik ponsel tersebut. Suara dari seorang wanita.
"Alhamdulillah baik, kamu apa kabar dek? Lama gak ada kabar." Basa-basi Hasby pada wanita itu.
"Sehat kakak, oh iya, Mira galau nih kakak susah banget balas pesan Mira. Jangan sombong gitu dong kak!" Jelas wanita yang merupakan adik kelasnya ketika duduk di bangku sekolah menengah atas dulu.
"Kakak sibuk banyak kerjaan Mir. Ini juga lagi kerja, kebetulan lagi istirahat." Sahut lelaki berkulit kuning Langsat itu.
"Kata siapa dek?" Tanya Hasby dengan raut wajah serius, serta kening yang dikerutkan.
"Kata mantan kakak, itu yang dulu yang kakak putusin aku karena dia. Aku lupa namanya!" Ujar wanita itu berusaha kembali mengingatkan kisah masa lalu.
"Latifah?" Tanya Hasby memastikan.
"Iya! Dia pacar kakak yang bikin kakak sulit move on itu kan! Udahlah kak, ngapain nungguin orang yang kayak gitu! Aku jelas-jelas cinta sama kakak, buktinya aku selalu berusaha menghubungi kakak. Sayang banget sama kakak, gak bisa aku lupain kakak." Rayu wanita itu sambil mulai terdengar isakan tangisnya. Benar-benar sampai menangis, artinya apakah sebegitu cintanya dia sampai-sampai berani menjatuhkan harga dirinya? Hanya demi mendapatkan kembali cinta pujaan hatinya!
__ADS_1
"Dek Mira, kita udah putus dua tahun lalu! Kamu masih saja menunggu kakak, tapi, maaf kakak beneran gak ada perasaan apa-apa lagi ke kamu. Cuman sebatas teman gak lebih." Jelas pria gagah itu.
"Tapi kak, aku sayang banget sama kakak, tolong kak pertimbangkan lagi!" Ujar wanita itu seperti merengek-rengek.
"Maafin kakak Mira, kalau kita berjodoh kita akan ketemu lagi. Tapi kalau tidak, insyaallah ada yang lebih baik dari pada kakak." Tak ada jawaban dari balik ponsel, yang terdengar hanyalah isakan tangis yang kian menjadi-jadi. Tega tidak tega Hasby harus bertindak tegas demi meluruskan semuanya. Tak lama ponsel pun dimatikan oleh wanita itu. Di satu sisi Hasby merasa bersalah atas ucapannya pada Mira. Tapi, di satu sisi dia tidak ingin memberikan harapan palsu atau berpura-pura menjalin asmara tanpa adanya rasa cinta. Benar-benar hambar, tidak seperti wanita, biar dia tidak suka tapi perlahan-lahan pasti bisa menerima pria yang benar-benar berusaha mendapatkannya. Karena wanita akan luluh setelah melihat perjuangan pria yang mencintainya. Lain halnya dengan pria, perasaan antara wanita dan pria itu tak bisa disamakan!
Entah mengapa, Hasby begitu sulit melupakan Latifah, padahal mereka hanya menjalin hubungan selama sembilan bulan lamanya. Dan selama itu pun Latifah seperti biasa, selalu bersikap jaim meskipun dia telah menjadi pacar Hasby. Tapi, anehnya hati Hasby dengan mantap ingin menjadikannya istri. Dia bertekad, begitu lulus sekolah menengah atas, ia akan mencari pekerjaan. Gaji yang diterimanya akan ditabung demi untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hatinya. Kebetulan dia diterima di salah satu perusahaan tambang batu bara, gajinya pun lumayan besar untuk anak yang baru lulus sekolah. Sangat cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup dan juga menabung. Sayang, Latifah ternyata tak serius. Meskipun begitu, dia masih berusaha menghubungi Latifah walaupun hasilnya nihil. Sulit baginya untuk move on, karena Latifah pun tak menjelaskan perpisahan dengan jelas. Tak ada perkelahian, seingatnya terakhir kali ketika dia menghubungi Latifah, wanita manis itu hanya membahas masalah jarak. Latifah meminta Hasby untuk meninggalkannya, karena jarak diantara keduanya yang cukup jauh melewati 4 kota, dianggap Latifah sebagai penghalang. Ya, Latifah tak bisa pacaran jarak jauh, atau itu hanyalah alasannya untuk berpisah? Namun, Hasby tak menggubrisnya dan masih menganggap Latifah kekasih hatinya. Tak berselang beberapa hari setelah mengucapkan itu, Latifah tak pernah membalas pesannya lagi. Bahkan Latifah sampai menghapus Facebooknya agar tak bisa dihubungi Hasby lagi. Latifah juga memblokir Hasby dari kontak teleponnya. Sehingga Hasby harus terus mengganti nomor telepon beberapa kali demi dapat menghubungi Latifah. Anehnya, dia tak tertarik pada Mira yang jelas lebih cantik parasnya, wanita itu tidak begitu tinggi, hanya bodynya sedikit berisi dan berkulit putih. Sebenarnya wanita itu idaman para pria, benar-benar memikat hati. Mira juga begitu menyayangi Hasby. Meskipun begitu, dimata Hasby, Mira terlalu berambisi untuk mendapatkannya, dia tak begitu suka wanita yang gampang didapatkan dan terang terangan memperlihatkan rasa suka. Itulah mengapa dia tak bisa move on dari Latifah, karena untuk mendapatkan Latifah benar-benar membutuhkan perjuangan yang lama, tak segampang mendapatkan Mira yang cantik dan lemah lembut. Begitulah pria, semakin sulit wanita didapatkan, lebih tertantang dia untuk berjuang. Tak peduli cantik sekalipun tak menjamin alasan pria untuk bertahan. Rasa nyaman memang segala-galanya dalam menjalani suatu hubungan. Hasby merasa sangat nyaman ketika bersama Latifah, meskipun Latifah sering acuh tak acuh. Hasby dulunya adalah mantan playboy, ketika sekolah dia selalu bergonta-ganti pasangan. Tapi, dia tak pernah melakukan hal yang berlebihan selain jalan bersama ataupun makan berdua. Dari yang tampangnya biasa saja, sampai yang cantik sekalipun pernah dipacarinya. Namun, dari sekian wanita itu, hanya Latifah yang mampu membuatnya berhenti menjadi playboy. Dan untuk pertama kalinya dia setia pada satu wanita yaitu, Latifah. Saat itu, Latifah menjadi anak baru di sekolahnya ketika semester satu kelas 3 sekolah menengah atas. Awalnya dia diberi tahu kawannya bahwa ada murid baru berparas manis yang masuk ke sekolah mereka. Mulanya Hasby tak peduli, tapi begitu tak sengaja bertemu Latifah ketika pulang sekolah, saat di parkiran sepeda motor, dia berpapasan dengan Latifah. Hasby tak berhenti menatap wanita yang malu-malu dihadapannya. Wanita itu menundukkan pandangannya, tersenyum dan segera berlalu dari hadapannya. Benih-benih cinta mulai dirasakannya, beberapa bulan Hasby berusaha mendekati Latifah, hingga akhirnya perjuangannya berhasil tepat sebelum ujian akhir nasional. Hasby benar-benar berubah setelah bersama Latifah, dia tak lagi berpaling ke yang lain, meskipun wanita itu lebih cantik dari pacarnya. Namun, sayang, siapa yang akan menyangka apa yang akan terjadi padanya di kemudian hari? Rencana tinggallah rencana, janji tinggallah janji, semua Tuhanlah yang menentukan!
***
Tak lama kemudian, terdengar suara deru mesin mobil. Tampak sebuah mobil LV berwarna putih mulai mendekati pos. Turunlah seorang pria mengenakan seragam orange lengkap dengan sepatu dan helm safety. Dia menyuguhkan kotak makan siang pada Hasby yang tengah duduk dan tak menghiraukannya.
"Woi! Jangan melamun Mas!" Tegur pria yang mendekati Hasby, ia tersenyum seraya menampakkan susunan giginya yang rapi dan masih ada behelnya.
"Sepi bos!" Sahut Hasby seraya tertawa kecil.
"Udah, makan-makan! Biar bisa merem sebentar sebelum jam 2 Mas." Ujar pria itu sambil meletakkan kotak makan siang itu.
"Oke bos! Siap, hehehe." Ucap Hasby tertawa lagi.
"Tinggal ya!" Sahut pria tadi seraya meninggalkan pos dan mobil pun kembali melaju hingga hilang dari pandangannya.
__ADS_1
@_________@