
"Cinta itu seperti lentera yang menyinari serta mampu memberi kehangatan. Jangan katakan cinta jika masih ada ego yang mengalahkan perasaan kita. Karena cinta yang sesungguhnya tak kan mampu terkikis oleh apapun jua."
Rania tersenyum manis selesai mematut dirinya di depan cermin. Tampaknya usia tak pernah membuatnya menua. Paras cantiknya terawat sempurna, sehigga ia lebih tampak bagai peri kecil nan jelita dari pada gadis yang berusia dua puluh lima tahun.
Selesai dengan urusan mempercantik diri ia mengambil sebuah buku diary yang tergeletak di atas meja riasnya. Di halaman terakhir buku tersebut berbunyi:
Dear Diary: Tadi malam aku telah bertunangan dengan sesosok pria yang selama ini aku impikan sepanjang hidupku. Cinta pertamaku yang sangat tampan. Satu bulan lagi kami akan menikah. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kami.
Kebahagiaan Rania melambung tak terkira sebagaimana para gadis lainnya menjelang pernikahan. Ia dan kekasihnya—Alvino Akbar telah menjalin asmara sedari duduk di bangku SMA. Kurang lebih mereka telah menjalin hubungan selama sepuluh tahun. Ya, benar. Sepuluh tahun yang bertaburan bunga. Seolah Tuhan benar-benar menjadikan mereka mahluk istimewa sehingga, selalu dinaungi kebahagiaan yang tak terkira.
“Kau bahkan bisa memandangnya sepanjang hari selama sepuluh tahun ini. Tapi, lihatkan, kau bahkan masih melihat foto si Alvino itu. Seolah memandangnya secara langsung tak membuatmu puas.” Rania tersenyum. Ia mengenali pemilik suara tersebut.
“Tidak semua wanita kan seberuntung aku. Alvino terlalu sempurna untuk sesosok manusia. Mugkin ia adalah dewa.” Rania terkikik sendiri dengan pendapatnya.
Memang benar yang dikatakan Rania. Ia bahkan tak melebih-lebihkan sosok Alvino. Paras Alvino memang sesempurna para dewa. Tampan luar biasa dengan bola mata coklat yang mampu menghipnotis setiap wanita dalam sekali tatap. Senyuman khasnya begitu memabukkan, seolah mampu membuat setiap wanita bertekuk lutut. Bahkan, para bidadari akan terkesima takjub dengan garis wajah Alvino: Mata, hidung, dagu, rahang, rambut, warna kulit, bahkan bentuk tubuhnya adalah gambaran kesempurnaan ketampanan seorang laki-laki.
“Uhhh... Aku jadi iri padamu.” Kanza mamasang wajah cemberut yang dibuat-buat. Diusianya yang memasuki 25 tahun ini memang tak sekalipun ia pernah merasakan cinta. Hidupnya hanya ia gunakan untuk terus berusaha membahagiaankan keluarganya dengan pundi-pundi uang yang seolah tidak pernah ada cukupnya.
“Kau bisa saja kan menikahi Nico dan menjadi adik iparku. Sepertinya Nico tak kalah tampan dari kakaknya.” Rania tertawa. Lesung pipinya tampak jelas membuat wajahnya semakin jelita.
“Yakk!!! Rania. Aku tidak segila itu hingga harus menikahi bocah yang masih duduk di bangku SMA demi mendapat pasangan yang tampan.” Kanza bersungut-sungut merasa diledek sahabatnya.
“Uhh... anak manis jangan ngambek sayang.” Rania mencubit pipi Kanza yang tampak gembil menggemaskan.
“Tapi, ngomomg-ngomong apa kau akan tetap datang sendirian di hari pernikahanku nanti? Tinggal 29 hari lagi loh.”
“Apa kau menolakku datang jika tak memebawa pasangan?” Wajah Kanza masih terlihat kesal.
“Bukan maksudku seperti itu Kanzaku sayang. Kau seperti anak kecil saja yang suka merajuk.”
Kanza memasang wajah cemberut yang tampak imut.
“Bagaimana kalau kau datang dengan Rio, kawan sekelas kita dulu yang wajahnya manis. Atau dengan Farel, cowok cool yang...”
__ADS_1
“Aku akan datang sendiri Rania. Tak perlu sibuk mencarikanku pasangan.” Potong Kanza sebelum Rania sempat menyelesaikan ucapannya.
“Ok, ok, Kanza. Aku takkan memaksamu.” Rania menyerah.
Terdengar suara klakson mobil di luar rumah Rania. Seketika perhatian kedua gadis tersebut teralihkan.
“Dewa ketampananmu sudah datang menjemput Rania. Ayo, lekaslah turun.” Kanza mendorong punggung Rania.
“Berbahagialah karena kalian akan memilih gaun pengantin. Jangan kecewakan aku dengan penampilanmu di hari pernikahanmu nanti.”
Rania tergelak mendengar ucapan sahabatnya. Ia sebenarnya tahu Kanza tak ingin menunda Rania pergi bukan karena Alvino telah datang melainkan untuk menghindari pembahasan perjodohan sepihak yang hampir setiap hari Rania bahas.
Akhirnya Rania mengalah. Ia tak tega juga jika terus membahas masalah pasangan dengan Kanza. Ah, si jomblo ngenes itu memang malang benar. Alangkah baiknya kalau Rania cepat turun daripada membiarkan dewa ketampanannya menunggu lama.
“Lama menunggu sayang?” Sapa Rania ketika melihat Alvino menunggunya di dalam mobil dengan kaca jendela yang diturunkan sebagian sehingga menyisakan celah untuk kepala Rania melonggok ke dalam mobil.
Alvino tersenyum. Ia sedikit menggoyangkan ponselnya.
“Aku baru saja akan meneleponmu.”
“Tak sabaran sekali. Terlalu rindu padaku ya?”
“Aawww...” Rania mengaduh.
“Aku memang merindukanmu setiap saat.” Alvino mendaratkan satu kecupan sayang di kening Rania yang sontak membuat pipi Rania memerah.
“Masuklah atau kau akan menjadi kepiting rebus seharian di sini.”
“Harusnya kau bukakan pintu mobil biar romantis seperti di film-film.”
“Kita kan tak sedang syuting adegan film.”
“Uhh... Dasar menyebalkan. Tidak romantis.” Oceh Rania dengan wajah cemberut sembari masuk mobil. Ia sedikit membanting pintu mobil Alvino.
Sekali lagi Alvino hanya tersenyum menaggapi kelakuan kekasihnya.
__ADS_1
“Sayang, kau mau jalan sekarang atau hanya akan di sini memandangiku sepanjang hari?”
Alvino sedikit mendekatkan wajahnya. Memandang Rania lebih intens.
“Bagaimana kalau aku memilih tawaranmu yang kedua?” Goda Alvino.
“Tidak lucu!” Rania mendorong wajah Alvino menjauh. “Dasar menyebalkan!”
“Kenapa? Kau tidak suka kalau aku memandangimu sepanjang hari? Baiklah sepertinya kau memberi isyarat kepadaku untuk memandangi gadis lain.”
“Eh?? umm... Anu..” Rania gelagapan.
“Maksudku bukan seperti itu...”
“Lalu seperti apa?” Goda Alvino lagi.
Astaga, Alvino memang pandai benar membuat Rania gelagapan. Tentu ia paham Rania takkan rela membiarkan Alvino memandangi gadis lain. Gadis bodoh mana yang akan melakukan hal tersebut. Tak satu pun, tanpa terkecuali Rania.
“Ayo berangkat. Kau menyebalkan sekali!”
“Tapi kau sayang kan?”
“Yak! Alvino. Berhenti menggodaku.”
Alvino tergelak.
“Berhenti menertawakanku dan ayo berangkat!”
Susah payah Alvino berusaha mengkondisikan dirinya kembali normal. Sepertinya rusuknya bisa patah dua karena menahan tawa. Rania memukul pelan bahu Alvino untuk membantunya mengembalikan keadaan. Namun, sejurus kemudian mereka malah sama-sama tertawa.
Hingga beberapa lama akhirnya tawa mereka mereda juga. Alvino perlahan menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Rania. Kembali pada rencana awal untuk datang ke butik langganan keluarga Akbar. Mereka akan memilih gaun pengantin terbaik yang nantinya akan memukau semua mata yang memandangnya. Pernikahan keduanya digadang-gadang akan menjadi pernikahan termewah dan termegah di tahun ini.
Sungguh bahagia benar tampaknya hidup kedua sejoli tersebut. Seperti kesempurnaan hidup memang melekat pada keduanya. Mereka punya segalanya yang diimpikan oleh kebanyakan orang. Kepopuleran, paras nyaris sempurna, harta dan tahta, serta kebahagiaan yang tak pernah surut.
Namun, dibalik itu semua ada seseorang yang merasa iri terhadap mereka. Hatinya begitu panas setiap kali melihat kebahagiaan mereka. Ada api yang bergejolak di dalam dadanya. Niat jahat pun disusun untuk menghancurkan pasangan sejoli tersebut. Dan orang yang berniat jahat tersebut tak lain dan tak bukan adalah orang terdekat pasangan itu sendiri.
__ADS_1
((()))