
Pernikahan termewah akan digelar esok pagi. Keluarga Akbar begitu bahagia. Pada akhirnya anak mereka akan menikah. Pun menikah tidak dengan sembarangan orang. Rania selain dikenal sebagai gadis jelita juga merupakan keturunan konglongmerat. Keluarganya masuk dalam daftar top 5 orang terkaya di negara ini. Namun, ada hal yang lebih disukai keluarga Akbar daripada kekayaan keluarga Rania yaitu, kebersahajaan keluarganya. Meskipun bergelimang harta keluarga itu tak pernah sombong apalagi pamer. Keluarganya bahkan hampir tak pernah bermasalah. Sejauh yang terlihat selalu rukun dan damai.
Rania sendiri adalah putri tunggal keluarga Putra. Gadis yang sudah lama sekali menjadi incaran banyak orangtua untuk dijodohkan dengan anaknya. Alasannya tentu untuk mengangkat derajat keluarga dan memajukan bisnis keluarga. Semuanya Rania tolak. Ia tak senang dengan perjodohan. Apalagi perjodohan yang di dalamnya mengandung maksud dan tujuan khusus. Rania adalah pemuja cinta sejati. Kelak ia hanya akan menikah dengan seseorang yang ia cintai. Tidak perduli latar belakang keluarganya bagaimana. Namun, nasibnya sungguh mujur karena hatinya justru tertambat pada putra sulung keluarga Akbar. Satu-satunya keluarga terkaya di negara ini yang mampu mempertahankan posisinya di urutan pertama selama sepuluh tahun terakhir.
Malam ini setelah mengatur banyak persiapan Nyonya Akbar duduk di sofa ruang tengah. Ia luruskan kakinya dan beberapa kali ia mencoba meregangkan otot-ototnya. Meskipun lelah, binar matanya sungguh tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Begini rasanya menjadi orangtua." Ucapnya sembari memijit tengkuknya sendiri."Meskipun aku tak pernah merasakan memiliki anak sehendaknya aku bisa merasakan menjadi orangtua." Ia tersenyum sendiri.
Tepat ketika itu Nico turun dari kamarnya. Remaja yang duduk di bangku kelas 3 SMA itu tampak buru-buru dengan jaket yang tersampir sembarangan di pundaknya.
"Kau mau kemana, Nico?"
Nyonya Akbar baru akan membuka suara. Jelas yang bertanya barusan bukanlah dirinya.
"Aku ada urusan mendesak. Jika tak keberatan bolehkah aku meminjam mobilmu, Kak?"
"Kau harusnnya tak keluyuran. Ini hampir pukul sebelas malam. Lagipula urusan mendesak apa yang sampai membawamu terlihat buru-buru begini."
"Aku tak bisa mengatakannya pada kakak."
Pada dasarnya Alvino memang sangat menyayangi adiknya sehingga apapun yang diinginkan Nico tak pernah ia halangi.
"Ambillah kunci ini dan pastikan kau besok tak bangun terlambat dihari pernikahanku."
Nico merain kunci mobil dari tangan kakaknya. "Mana mungkin aku melakukan hal tersebut kakak. Kakak yang terbaik. Aku menyayangi kakak."
Alvino tersenyum. Ia sedikit mengusak rambut adiknya. "Jadilah manusia yang baik."
Sekilas Nico membalas senyuman kakaknya sebelum ekor matanya menangkap sosok ibunya yang duduk di sofa. Ia lantas mendekat.
"Maaf tidak menyadari keberadaan ibu. Aku pamit keluar dulu." Nico meninggalkan pelukan singkat pada ibu tirinya yang selama ini telah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri. Berbeda dengan Alvino yang tak pernah menganggap bahwa nyonya Akbar itu ada.
"Hati-hati di jalan sayang."Nico mengangguk singkat mengiyakan pesan ibunya kemudian lekas menuju pintu keluar.
Sejenak hatinya gamang untuk meninggalkan rumah. Ia meraih ponselnya. Dibacanya ulang pesan singkat yang tertera di layar smartphone-nya. Ia tak yakin tapi ia penasaran. Ada rasa khawatir yang tak nyaman menggeluti hatinya.
***
Ini sudah lewat satu jam dari waktu pernikahan yang telah ditentukan. Keluarga Akbar wajahnya terlihat pias. Alvino, entah sudah kali keberapa melihat jam tangannya dalam satu jam terakhir ini. Setelan jas pengantinnya agak kusut. Keringatnya terlihat membasahi dahinya walaupun ia tengah berada di dalam ruangan full AC. Mempelai wanita tak kunjung datang. Para tamu banyak yang berbisik-bisik tak mengenakkan.
"Apa keluarga pihak wanita tidak bisa dihubungi?" Entah sudah berapa kali pertanyaan ini terlontar yang selalu ditanggapi Alvino dengan gelengan lemah.
Kebahagiaannya semalam seolah sirna. Kini hatinya diliputi perasaan tak nyaman. Ia masih menunggu. Berharap mempelai wanita hadir. Sungguh,ia takkan marah jika gadisnya datang terlambat, daripada ia harus terjebak dalam situasi yang seperti ini. Menunggu tanpa kabar, menunggu tanpa kejelasan. Siapapun yang berada dalam situasi ini dipastikan muak.
__ADS_1
Braaaakkkkk!!!
Tiba-tiba pintu gedung terbuka dengan kasar. Semua pandangan seketika teralihkan pada satu titik ke arah pintu. Hening. Semua orang bertanya-tanya penasaran pada kehadiran Nico dengan keadaan berantakan. Seperti baru bangun tidur langsung pergi tanpa sempat cuci muka. Matanya terlihat sedikit sembab.
Tanpa sepatah kata pun ia langsung berjalan tergesa ke arah Alvino. Di tariknya dengan paksa tangan kakaknya menuju ruangan kosong. Semua tingkah Nico semakin mengundang tanda tanya besar yang bersarang di setiap kepala orang.
"Apa yang kau lakukan, Nico?" Alvino bertanya tak sabaran. Ia menyentak tangan adiknya.
Nico menatap kakak dengan pandangan penuh sesal yang sulit diartikan.
"Kakak... " Suara Nico tercekat ditenggorokan. Seolah apa yang akan diucapkannya benar-benar berat. "Calon istrimu tak akan datang."
Demi mendengar ucapan Nico yang lirih kuping Alvino berdiri.
"Apa kau bilang?"
Kepala Nico tertunduk dalam. "Aku mengatakan jika calon istrimu tak akan datang."
"Jangan membuatku tambah gila Nico!" Alvino mengusak rambutnya dengan kasar.
"Kau tau aku sudah hampir gila menunggunya tanpa kabar sejam belakangan ini. Pernikahan ini menghabiskan milyaran dana. Tamu-tamu penting telah berkumpul sejak pagi. Mendengar bisik-bisik mereka saja sudah membuatku tak nyaman. Sekarang kau datang tanpa pulang semalaman dengan keadaan yang berantakan, ditambah ucapanmu yang makin membuat kepalaku berdenyut pusing. Apa kau masih waras Nico?"
"Aku tidak tahu apa yang akan kakak lakukan padaku jika kakak tahu yang sebenarnya."
"Maafkan aku kak, tapi... Aku telah menodai kekasihmu."
Bagai disambar petir disiang bolong saat matahari tengah bersinar terik-teriknya Alvino mendadak linglung. Demi mendengar ucapan adiknya dunia Alvino hancur. Gedung mewah tempatnya berpijak kini seolah runtuh, menghimpit dadanya dari segala penjuru, sehingga terasa begitu menyesakkan.
"Hahaha... Lelucon macam apa ini, Nico?" Sedih, suara Alvino yang tegas berubah bergetar entah saking marahnya atau saking kecewanya. Entahlah keduanya sulit dibedakan.
"Aku sama sekali tak mengatakan lelucon Kak. Maafkan aku. Semuanya adalah kebenaran."
Hening. Alvino menatap wajah adiknya dengan tak percaya. Ditelisiknya bola mata kecoklatan itu demi didapati setitik kebohongan. Namun, mata itu tak sedikit pun menyimpan kebohongan. Mata itu murni mengatakan semuanya dengan sejuta kejujuran, yang justru membuat Alvino semakin merasa tak dapat menahan sesuatu yang bergejolak hebat di dalam dadanya.
Buuggg...!!!
"Kurang aja kau, Nico!!!" Pekiknya diiringi satu pukulan keras yang telak menghantam rahang Nico hingga remaja berusia delapan belas tahun itu jatuh terjengkang di lantai.
"Beraninya kau menyentuh kekasihku!"
Buuggg...!!!
Buuggg...!!!
__ADS_1
Buuggggg!!!
Pasrah. Itulah yang dilakukan Nico saat menerima pukulan bertubi-tubi dari kakaknya. Matipun ia tak menampik.
"Aku tak akan mengampunimu!"
Buuggg...!!!
"Jahanam kau, Nico..!!!
Buuggg...!!!
"MATILAH KAU DAN MEMBUSUK DI NERAKA!!!"
"Alvino, apa yang kau lakukan?!"
Tuan Akbar dengan sigap menahan tangan Alvino sebelum sempat merobek bibir Nico lebih dalam. Menarik Alvino dengan paksa untuk menjauh dari adiknya.
"Lepaskan aku ayah!" Alvino memberontak dengan sekuat tenaga sehingga tuan Akbar merasa kewalahan. Dibutuhkan sehendaknya tiga tenaga orang dewasa untuk menahan tubuh Alvino yang sedang kalap. Entah bagaimana orang sedang marah selalu mendapat tenaga ekstra.
"Dia tak pantas hidup. ********!!! Aku akan membunuhmu." Lagi-lagi Alvino memberontak dengan sekuat tenaga. Berusaha membebaskan dirinya dari kungkungan orang-orang Tuan Akbar.
Nico sendiri berusaha bangkit. Wajahnya telah babak belur berlumur darah. Jangan ditanya dengan rasa sakitnya. Tentu saja luka-luka itu mendatangkan sakit dan perih. Namun, saat ini ada yang lebih sakit dari sekedar luka yang menga-nga.
"Kendalikan dirimu Alvino!"
Nyonya Akbar menyusul masuk ruangan setelah mendengar bunyi ribut-ribut. Alangkah terkejutnya ia mendapati kedua putra tirinya dalam keadaan yang memprihatinkan. Ia bergegas membantu Nico.
"Apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian?" Tuan Akbar berusaha bertanya dengan nada bijak setelah Alvino sedikit lebih tenang.
Dengan beruraian air mata Alvino menceritakan apa yang didengarnya dari pengakuan Nico.
"Tidak... Tidak mungkin ini terjadi." Tubuh langsing Nyonya Akbar merosot bebas ke lantai seolah tubuh itu loyo tanpa tulang penyangga. Dadanya mendadak sesak. Air matanya berlomba-lomba turun membasahi lantai yang berkilat menampilkan bayangan wajah cantiknya yang sekarang tertutupi pilu.
"Nico, katakan pada kami semua jika yang kau ucapkan adalah kebohongan!"
"Percuma ayah. Aku telah melihat matanya. Tak sedikit pun ia berbohong."
"Maafkan aku ayah. Aku sungguh telah melakukan kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Bunuhlah aku ayah."
Tak habis fikir. Tuan Akbar benar-benar kehilangan kata-katanya. Suaranya tercekat ditenggorokan. Untung saja ia tak mempunyai riwayat penyakit jantung. Jika tidak mungkin sekarang dirinya telah dilarikan ke IGD.
Nico telah sukses membuat lubang hitam luka yang begitu dalam pada setiap hati orang. Hari bahagia Alvino berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi hari yang begitu pilu. Harusnya hari ini ia menikah dengan sakral bersama gadis pujaan hatinya yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Namun, lihatlah apa yang terjadi sekarang. Mempelai wanita tak datang dan tak akan pernah datang. Bukan hanya malu dan aib yang teramat besar yang harus ditanggung keluarga ini, bukan pula hanya kerugian materi, jauh dari semua itu awal penderitaan yang maha dahsyat telah datang menyapa keluarga yang selama ini selalu adem ayem dan tentam.
__ADS_1
((()))