
"Bocah SMA? Serius Al? Seleramu...?" Reno benar-benar kehilangan kata-katanya.
Tak perduli apa yang dibicarakan Reno, Jelita melenggang masuk ke ruangan Alvino seorang diri. Seolah itu bukan kantor melainkan kamar di rumahnya. Memang kurang ajar benar bocah itu. Alvino hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuananya. Oh, kemana Tuhan yang selama ini selalu menyempurnakan hidup Alvino. Nampaknya cobaan yang menimpanya bertambah terus seiring bergantinya hari.
"Al, lain kali ajak-ajak kenapa kalau mau kenalan berondong. Apalagi model kayak Jelita begitu. Bening," ucap Reno sambil nyengir kuda.
Alvino menepukkan berkas di tangannya ke dada Reno sekilas.
"Bangun! Minum kopimu sana. Jangan ngelindur!"
Alvino menyusul masuk ruangan meninggalkan sahabatnya yang memasang wajah sebal.
"Pergi sekolah sana!" Suruh Alvino galak melihat Jelita duduk manis di kursi kerjanya sembari mengetuk-ngetukkan buku jarinya yang indah ke meja. Astaga, bahkan jari-jari Jelita pun tampak indah. Lentik dihiasi kuku putih bersih terawat. Namun, bukan karena mahalnya mahakarya salon. Kuku-kuku itu natural indahnya, ditambah memang sang pemilik kuku rajin merawatnya. Ah, mungkin kaum hawa nanti bisa menanyakan perihal tips membuat kuku terlihat indah dan menawan secara alami pada Jelita.
Ok, kita lupakan soal kuku anak SMA yang tak tahu sopan santun itu. Bagaimana tak dikatakan demikian? Lihatlah ia bahkan tak menggubris ucapan Alvino. Ia sibuk memandang pigura kecil di atas meja Alvino. Mata indahnya sibuk mengamati, lantas bibir mungilnya mengerucut menampilkan ekspresi muka sebal.
"Lihat Kak..." kata Rania ketika Reno muncul di tengah pintu, bahkan sebelum badan Reno sepenuhnya masuk ruangan Alvino. Katakan tak sopan juga pada Reno yang masuk tanpa permisi. Namun, untuk yang satu ini, Reno adalah pengecualian. Ia memang sudah terbiasa keluar masuk ruangan kerja Alvino tanpa permisi.
"Besok-besok pigura ini pasti akan berganti fotoku," katanya dengan level percaya diri setingkat para dewa.
Ngilu. Hati Alvino ngilu sekaligus kesal mendengar pernyataan Jelita. Mana mungkin Alvino mengganti foto cinta pertamanya--Rania dengan foto bocah ingusan ini.
"Sudahlah lebih baik kamu pergi sekolah sana daripada mengacau hariku. Kalau tidak juga bergerak akan kuusir kamu nanti."
Jelita mendengus kesal.
"Aku tak mau ke sekolah. Sebentar lagi bel masuk. Aku pasti telat sampai sekolah."
"Kamu ini harusnya mengantarnya ke sekolah Al. Bukan malah membentak-bentak dia. Sok galak amat. Biasanya juga nggak. Norak ah caramu cari perhatian!"
"Jangan membelanya Ren, dia sudah mengacaukan pagiku!"
"Hatimu yang kacau Al, bukan Jelita yang mengacaukan pagimu. Kau bilang setiap pagi selalu kacau belakangan ini. Bahkan ketika tak ada Jelita pun setiap pagi kau masih tetap uring-uringan tak jelas."
Sahabat tak ada akhlak!
"Belain terus. Kamu ini sahabatku bukan sih?"
"Kalau urusan cewek cantik kita bisa jadi rival dulu Al."
__ADS_1
"Terserah!"
"Yasudah, kalau kamu tak mau antar Jelita ke sekolah biar aku saja yang mengantar."
Otak Alvino berputar cepat. Playboy cap kadal ini nanti bisa neko-neko kalau sampai mengantar Jelita. Dia paham betul sifat sahabatnya. Alvino tak rela gadis itu diganggu Reno. Meski ya, jujur saja ia tak ingin perduli apa yang akan dilakukan Reno.
"Ayo Lita kita berangkat." Reno mendekati Jelita lantas menarik tangannya menuju pintu melewati Alvino yang berdiri tanpa reaksi.
"Tunggu dulu!"
Baik Reno maupun Jelita menghentikan langkahnya.
"Ummm... Bi-biar aku saja yang antar." Ucap Alvino gagap lantaran malu mengucapkan kalimat tersebut.
"Nah, gitu dong, sob. Pacar itu dijaga biar tak ditikung lagi--Upsss!" Reno membekap mulutnya sendiri. Ia memang sering lepas kontrol kalau bicara. Maka tak jarang Alvino ingin mencemplungkan tubuh Reno ke dalam peleburan baja lantaran mulutnya sering bicara tak tahu kondisi hati.
"Selesaikan berkas ini!" Perintah Alvino dengan mengesampingkan perasaannya yang baru saja dicabik oleh Reno. Ia melemparkan berkas di tangannya ke arah Reno.
Sebelum Reno sempat mengeluarkan protes Alvino sudah meninggalkan ruangan kerjanya diikuti Jelita yang berlari-lari kecil berusaha mengejar langkah Alvino. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya hingga mereka duduk bersebelahan di dalam mobil.
"Kemana aku harus mengantarmu?" Tanya Alvino tanpa menoleh ke arah Jelita.
"Ke KUA hehehe..."
"Ya ke sekolah lah Bang. Ya, kali langsung ke KUA, buru-buru amat Abang."
Ah, entahlah. Alvino sudah kehabisan kata-kata menanggapi gadis ini. Ada rasa kesal yang bercampur aduk mengguncang mood-nya. Ingin ia melontarkan pertanyaan seperti: waras tidak sih kamu ini? Atau otakmu tak lupa dibawa kan pagi ini? Namun, percuma saja gadis itu nanti pasti hanya akan menjawab dengan jawaban yang tak kalah bikin kesal.
"Kamu sekolah dimana?" Akhirnya justru pertanyaan itu yang keluar.
"SMA Harapan Bangsa, Bang."
"Hanya selemparan lembing pun jaraknya dari kantor ini tapi kau minta diantar. Merepotkan!"
Meski menggerutu tak jelas seperti ibu-ibu kost menagih tunggakan sewa kost, Alvino tetap menjalankan mobilnya menuju sekolah yang disebutkan gadis tersebut. Sepanjang perjalanan yang memang singkat itu Alvino terdiam. Ia memilih tak menggubris Jelita.
"Heh Jelly, turun. Sudah sampai," ucap Alvino setelah menghentikan mobilnya tepat di dekat pintu gerbang sekolah.
"Jelita Abang, bukan Jelly."
__ADS_1
"Sama saja, Jelly kan lebih mudah diingat."
Jelita membuka pintu mobil Alvino.
"Yasudah tak masalah. Aku anggap itu panggilan sayang. Jelly, tidak buruk juga." Jelita terkikik geli.
"Panggilan sayang apanya. Cepat turun!"
"Terimakasih ya Bang mau nganterin aku ke sekolah. Sampai ketemu dilain waktu." Jelita melemparkan senyum manis yang membuat jantung Alvino berdebar sesaat. Alvino buru-buru mengalihkan pandangannya ke depan untuk menormalkan debaran jantungnya. Jika ia masih memandang senyuman Jelita mungkin ia bisa terpikat, sementara ia masih menolak untuk melupakan Rania. Hatinya milik Rania seorang.
Alvino menghela nafas panjang. Kepalanya disandarkan pada sandaran kursi mobil. Sejenak dipandangi lagi punggung Jelita yang sudah menjauh meninggalkan mobilnya.
"Gadis sinting!" Umpatnya kesal.
Perlahan Alvino menjalankan mobilnya berniat kembali ke kantor karena ada rapat penting yang harus ia hadiri. Dibuangnya jauh-jauh sosok Jelita dari fikirannya. Jelita hanya gadis SMA yang tak sengaja ditemuinya pagi ini, tak lebih dari itu. Apalagi gadis itu benar-benar menyebalkan. Tak penting untuk diingat. Besok-besok juga takkan bertemu lagi.
Tiba-tiba ponsel Alvino berdering. Ia melihat nama pemanggil di layar smartphone-nya.
"Kanza?" Dahi Alvino berkerut.
"Halo, ya Kanza," ucap Alvino setelah menerima telepon. Tumben sekali sahabat Rania itu menelponnya.
"Alvino, aku ingin bicara padamu, apakah kau punya waktu untuk bertemu denganku?"
Mengingat Alvino memiliki jadwal rapat ia hanya diam menimang-nimang jawaban.
"Ini soal Rania," ucap Kanza tak sabaran karena Alvino tak kunjung menjawab.
Mendadak Alvino membanting setir mobilnya dengan tajam ke tepi jalan. Diinjaknya rem mobil itu tanpa ampun sehingga terdengar decitan panjang.
"Ada apa dengan Rania?" Tanyanya setelah mobilnya berhasil berhenti di tepi jalan dengan selamat.
"Tidak bisa kuceritakan lewat telepon. Kita harus bertemu secepatnya..."
"Kita bertemu di cafe kesukaan Rania pukul 13.00." Potong Alvino cepat. Tak pernah ia seantusias ini jika bukan karena Rania.
"Baiklah, sampai jumpa nanti siang."
Sambungan telepon terputus.
__ADS_1
((()))
Hayoo... Kira-kira hal penting apa ya yang ingin disampaikan Kanza kepada Alvino? Yuk, ikuti terus kisah Lentera Cinta Para Dewa diepisode berikutnya. 😄😄😄