Lentera Cinta Para Dewa

Lentera Cinta Para Dewa
BAB 7 Dilema Tak Berujung


__ADS_3

Sebelum pukul 13.00 Alvino sudah mendatangi cafe tempat ia berjanji akan menemui Kanza. Rupanya gadis itu telah berasa di sana terlebih dahulu. Ia duduk manis memainkan ponselnya ditemani segelas minuman. Tak lupa Kanza memesankan minuman untuk Alvino juga.


"Coklat panas kesukaanmu, Al." Kanza menyodorkan gelas itu kepada Alvino yang diterima dengan ucapan terimakasih.


"Sudah lama menunggu?" Tanya Alvino.


"Tidak juga," jawab Kanza sambil menyeruput minumannya yang diikuti oleh Alvino.


"Aku harus kembali ke kantor setengah jam lagi," ucap Alvino sembari menilik arlojinya.


"Tidak ingin makan siang dulu?"


"Tidak Kanza, terimakasih. Mungkin lain waktu. Perusahaan Ayahku hampir bangkrut. Aku tak bisa membiarkan itu terjadi setelah semua yang menimpa keluarga kami."


Kanza mengangguk.


"Kau pekerja keras sekali Al. Pantas banyak wanita tergila-gila padamu."


"Kau bahkan lebih pekerja keras dariku. Kau membangun usahamu sendiri dari nol. Sekarang kau bos. Berbeda denganku yang hanya meneruskan usaha orangtuaku.


Kanza tersenyum sembari mengaduk-aduk minumannya.


"Semua orang mengatakan aku pekerja keras. Ya, mungkin aku telah berhasil dari segi materi tapi gagal dalam urusan cinta."


"Kau akan menemukan cinta sejatimu Za. Tepat waktu bukan berarti selalu buru-buru kan?"


Kanza tersenyum kemudian mengangguk. Mengiyakan yang diucapkan Alvino.


"Ada berita apa tentang Rania?"


Air muka Kanza tiba-tiba menjadi keruh. Dihelanya nafas panjang seolah menyiapkan berita buruk untuk disampaikan. Alvino menangkap semua itu dengan jelas. Diam-diam dia juga menguatkan hatinya untuk berita buruk yang akan segera menyentuh gendang telinganya.


"Kau tak pernah menemui Rania lagi?"


Alvino menggeleng, "Keluarganya melarangku. Demi kebaikan Rania aku pun mematuhinya. Kau tau kan dia menolak bertemu semua lelaki."


"Kau tak pernah bertemu adikmu setelah kau menembaknya?"


"Untuk apa aku menemuinya. Aku pasti akan membunuhnya lagi jika bertemu dengannya. Sekarang jangankan menemuinya mendekatinya saja tak bisa. Ayahku telah menyuruh beberapa orang bodyguard untuk menjaganya."


Alvino menunjukkan ekspresi tak suka sekaligus tak berdaya. Dia memang selemah itu dan amat payah sebagai lelaki.

__ADS_1


"Keluarga Rania sedang berusaha mendekatkan Rania dengan Nico."


"Maksudmu?"


"Kau tahu Rania tak mengingat dirimu bukan? Keluarganya juga tak pernah menghadirkan ingatan tentang dirimu melainkan berusaha membangun ingatan Rania penuh dengan Nico. Kau tau artinya apa? Kau sedang disingkirkan dari hidup Rania."


Remuk. Hati Alvino semakin tak berbentuk mendengar hal ini.


"Jadi, jika mereka akan menikah kelak maka itu adalah kenyataan?" Tanyanya dengan nada yang amat lesu. Terdengar kasihan sekalu.


Kanza mengangguk mengiyakan.


"Aku harus apa Kanza?"


"Apa kau tak lagi ingin bersama Rania?"


"Hanya kau saja yang masih mendukungku untuk bersama Rania, bahkan Tuhan pun tak lagi menhendaki kami bersama," ucap Alvino. Pupus sudah harapannya untuk mempersunting cintanya. Semua jalan seolah telah tertutup untuknya. Menerobos jalan yang tertutup tersebut agaknya mustahil dilakukan.


"Artinya kau menyerah begitu saja?"


"Kau ingin aku melakukan apa Za? Menculik Rania dan memaksanya menikah denganku? Aku bisa saja melakukannya tapi apa mungkin hal itu bisa membuat Rania bahagia? Mungkin aku justru membuatnya jauh lebih menderita dengan segala traumanya."


Bisu. Kanza tak memberikan jawaban apapun.


"Saat hal itu terjadi Rania mungkin sudah menjadi istri adikmu, Al. Apa kau akan menghancurkan rumah tangga mereka?"


Pusing. Kepala Alvino berdenyut menyakitkan saat memikirkan hal tersebut. Ia memijit pelipisnya dengan pelan sembari memikirkan langkahnya ke depan.


"Rania hanya alat untuk menghancurkanku, Za. Nico tidak benar-benar mencintai Rania. Mudah bagi Nico untuk mencampakkan Rania ketika Rania dia rasa sudah tak berguna untuk menghancurkanku. Anak itu sangat licik. Di depan ayah ia seolah menyesali semua perbuatannya. Tapi, pada kenyataannya dia bahkan tak memiliki rasa berdosa sedikitpun."


Rasa geram tiba-tiba menyeruak dalam hati Alvino. Ingin rasanya kali ini ia menghancurkan jantungnya. Bukan sekedar tembakan yang meleset mengenai bahunya saja.


"Aku tak banyak tahu mengenai masalah pribadi kalian. Toh aku juga tidak berhak untuk mengetahuinya. Namun, yang pasti aku datang kemari dengan harapan kau takkan melepaskan Rania begitu saja jatuh dalam pelukan adikmu. Sebagai sahabatnya aku tak rela hidup Rania dibuat menderita. Satu-satunya orang yang mampu menyelamatkan hidup Rania hanya kau, Al. Kaulah sumber kebahagiaan Rania selama ini."


Yang diucapkan Kanza memang benar. Tapi, itu dulu. Sekarang Rania bahkan tak ingat jika pernah ada laki-laki bernama Alvino yang menjadi sumber kebahagiaannya selama ini. Kepala Rania terlalu penuh dengan nama Nico yang telah menghancurkan hidupnya, hingga kewarasannya pun terenggut.


"Kanza, kau tahu aku sangat mencintai Rania. Tapi, kau juga tahu ketidakberdayaanku saat ini. Posisiku terlalu lemah. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk Rania. Kedua orangtua Rania bahkan mengisi ingatan Rania dengan nama Nico. Itu artinya aku sudah tak diharapkan hadir dalam kehidupan putrinya. Lalu kau datang dengan harapan sebesar dunia yang rasanya mustahil aku kabulkan."


"Kalau seperti itu berjanjilah kepadaku untuk menjaga kesetiaanmu pada Rania hingga tiba waktunya kalian dapat bersatu lagi." Kanza menatap Alvino dengan serius.


Alvino tahu Kanza amat perduli dengan kebahagiaan Rania. Tapi, bukankah ini terlalu memaksa dan egois. Bagaimana bisa Alvino berjanji untuk menunggu hal yang tak pasti? Rania akan menikah dengan Nico. Hal itu pasti akan terjadi entah cepat atau lambat. Tidak menutup kemungkinan Rania yang setiap hari ingatannya dicekoki dengan Nico nantinya menganggap Nico adalah cintanya. Justru jika Alvino hadir tiba-tiba dalam kehidupan Rania bukan tidak mungkin Rania akan mengaggp Alvino orang asing yang ingin merusak rumah tangganya. Atau bisa juga Rania menganggap Alvino sebagai kakak ipar kurang ajar yang dengan tak tahu malu menyukai Rania. Ah, rumitnya dunia hanya karena permasalahan cinta.

__ADS_1


Nico mengusak rambutnya dengan kasar. Pusing sekali kepalanya. Disisi lain ia sangat ingin berjanji untuk menanti Rania, disisi yang lainnya ia takut nantinya Rania tak pernah ditakdirkan untuknya. Hidup terlalu misterius untuk dijanjikan hal-hal yang saat ini kita yakini mampu untuk kita lakukan.


"Apa kau bisa berjanji, Al?" Ulang Kanza ketika mendapati Alvino hanya melamun tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Bagaimana jika yang hal itu terjadi padamu Za, apa kau mampu berjanji? Aku ingin tahu pendapatmu."


Seketika Kanza gelagapan. Bagaimana mungkin Kanza bisa menjawab. Ingat, Kanza itu tak pernah pacaran. Tak pernah jatuh cinta pada lelaki manapun. Tak pernah hidupnya dibuat pusing oleh urusan cinta. Hidup Kanza hanya terisi dengan prestasi, pencapaian, karir, dan uang. Jika ingin mengetahui tips cepat sukses mungkin bisa berguru dengan Kanza.


"Kenapa kau justru bertanya begitu padaku? Kau kan tahu sendiri kalau aku jomblo akut."


Sedikit senyuman melengkung di bibir Alvino mendengar Kanza mengakui jika dirinya jomblo akut. Memang tak bijak rasanya menanyakan hal tadi pada Kanza.


"Ah, tidak. Tadinya aku cuma ingin mendengar pendapatmu sa..."


Ucapan Alvino terhenti oleh dering gawainya. Nama Reno muncul di sana.


"Ha...." belum genap Alvino mengucapkan kata "halo" Reno sudah lebih dahulu nyerocos.


"Kau dapat bingkisan dari Jelita. Ingin menerimannya atau tidak? Jika kau keberatan menerimanya aku akan mengambilnya, mengingat sepertinya kau tak suka pada Jelita. Daripada bingkisan ini nantinya kau buang lebih baik untukku saja."


Mata Alvino terbelalak.


"Cari mati kau Ren!"


Tutttt... Tuuttt... Tuuttt...


Sambungan telepon diputus sepihak. Memang Reno bawahan tak ada akhlak. Tak pernah santun terhadap atasan. Terlalu menyepelekan bos hanya karena Alvino sahabatnya sendiri.


Alvino bangkit dari duduknya dengan gusar.


"Kanza maafkan aku. Tapi, aku benar-benar ada urusan mendadak."


"Tapi Al..."


Alvino sudah terlanjur melangkahkan kakinya dengan menuju pintu sebelum Kanza sempat mencegahnya pergi.


"Oh, iya." Alvino berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Kanza yang berdiri dengan wajah kesal. "Untuk pertanyaanmu tentang janji tadi aku tam bisa menjawabnya saat ini. Lain waktu aku akan menjawabnya dengan pemikiran dan keputusan yang benar-benar matang."


"Alvino tunggu..."


Terlambat, karena Alvino sudah keluar dari cafe. Ia bahkan setengah berlari menuju parkiran mobil.

__ADS_1


((()))


Umm... Kira-kira apa ya bingkisan yang diberikan sama Jelita? Bikin penasaran aja. Yuk, ikuti terus kisah Lentera Cinta Para Dewa di episode selanjutnya. 😄😄😄


__ADS_2