Lentera Cinta Para Dewa

Lentera Cinta Para Dewa
BAB 5 Dua Misteri


__ADS_3

"Kau hanya bisa memperkeruh keadaan, Al! Reputasi keluarga kita hancur, bisnis kita di ambang kebangkrutan juga. Kau harusnya bisa berfikir lebih dewasa dan menghindari tindakan gegabah yang hanya menambah masalah. Sekarang Ayah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Urusan cinta sudah membuatmu gelap mata."


"Tapi, Ayah...."


"Apa?" Potong tuan Akbar.


"Nico telah menghancurkan hidupku."


"Astaga, Alvino!" Tuan Akbar merasa geram. "Di dunia ini bahkan semua wanita bisa tergila-gila padamu dan kau membiarkan dirimu terpuruk oleh satu wanita? Bodoh! Kau laki-laki lemah!"


"Aku tidak suka apa yang seharusnya menjadi milikku direbut orang lain. Ini bukan soal lemah atau kuatnya seorang lelaki Ayah. Aku justru sedang membuktikan kegigihan perjuanganku untuk memiliki apa yang aku inginkan."


"Sudah, tak perlu kau pusingkan soal cinta. Ayah sudah memilihkan pengganti Rania. Pertemuan kalian telah diatur besok. Pastikan kau tak mengecewakan Ayah!"


Mulut Alvino hanya bisa menganga dan mengatup. Sulit sekali menemukan suaranya saking terkejutnya ia. Sungguh kabar ini pukulan lain yang lebih berat. Mudah sekali bagi ayahnya menghadapi urusan hati, seolah itu hanya hal sepele.


"Ayah..."


"Anggap ini hukumanmu karena kau telah menembak Nico. Kau masih beruntung karena Nico tidak tewas. Jika anak itu tewas tentu hukumanmu akan jauh lebih berat dari sekedar menikahi gadis yang tak kau cintai."


"Ayah tidak bisa menentukan jalan hidupku!"


"Oh, tentu bisa Alvino. Itu sangat mudah."


"Tidak selamanya uang dan kekuasaanmu bisa mengendalikan hidup seseorang, Ayah. Ayah harus..."


Belum genap kalimat Alvino tiba-tiba muncul sosok wanita yang sangat Alvino kenal pada layar ponsel pintar Tuan Akbar melalui video call. Sosok yang sering Alvino rindukan.


Wanita itu tersenyum.


"Alvinoku sayang," sapanya lembut penuh nada keibuan.


"Trik licik apa yang Ayah lakukan?"


"Tidak ada. Hanya ingin mengabulkan keinginanmu selama ini untuk berkomunikasi dengan Ibu kandungmu."


"Ibu! Katakan padaku dimana keberadaan Ibu sekarang. Aku akan menjemputmu. Aku akan memberikan kehidupan yang baik untuk Ibu dan membebaskan Ibu dari neraka yang Ayah buat."


Ibunya hanya menggeleng penuh senyuman bersahaja.


"Tidak anakku. Ibu di sini baik-baik saja. Ibu bahagia meski tak Ibu pungkiri Ibu sangat merindukanmu. Alangkah lebih baik jika Ibu tetap di sini. Kehadiran Ibu hanya akan menghancurkan masa depanmu. Kesalahan yang Ibu lakukan dimasa lalu tak mungkin bisa dimaafkan publik. Kau harus hidup bersama ayahmu. Hanya ayahmu yang bisa memberikan kehidupan yang baik."


"Tidak Ibu." Alvino menggeleng dengan kuat.


"Tidak ada kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Tidak ada dosa yang tak bisa diampuni."


"Alvino anakku, jika demikian maka maafkanlah adikmu. Dia juga membuat kesalahan namun, tentu dirimu pasti mampu memaafkannya bukan?"


Alvino menelan getirnya ucapannya sendiri. Ia hanya mampu terdiam.


"Ayahmu benar jika kau harus bangkit dan menata kembali hidupmu. Temui gadis itu sayang. Ini permintaan Ibu. Tolong jangan ditolak. Ibu yakin kelak gadis itu bisa menjadi obat bagi luka hatimu."

__ADS_1


Alvino membatu.


"Maukah kau berjanji pada Ibu untuk bangkit lagi?"


Hening tak ada jawaban.


"Waktumu hampir habis Al. Setelah ini kau takkan tahu kapan lagi bisa berkomunikasi dengan ibumu. Tentukan pilihanmu sekarang juga!" Ucap Tuak Akbar.


"Al..."


"Baiklah, Bu. Aku berjanji."


***


Brruuukkkk!!!


Seseorang menabrak Alvino hingga membuatnya nyaris terjengkang ke belakang. Berkas yang dipegangnya terlepas dan berhamburan.


"Ah, sial!" Umpat Alvino.


Ia lekas memunguti helaian-helaian kertas yang berserakan di halaman depan kantornya. Di tengah kesibukannya memunguti kertas ia melihat sepasang kaki berbalut kaus kaki pendek dan sepatu hitam, rok abu-abu pendek menutup kakinya hingga batas bawah lulut menampilkan kulit betis sang pemilik kaki yang putih mulus bagai porselen. Penasaran. Alvino menaikkan pandangannya pada wajah pemilik kaki tersebut.


Yang ditatap justru menampilkan ekspresi tanpa dosa. Seoalah ia tak pernah menabrak Alvino. Apalagi membuatnya repot dengan urusan memungut kertas berserakan. Kesal. Alvino cepat membereskan berkasnya lalu bangkit dengan ekspresi marah.


"Punya mata tidak sih?" Tanya Alvino dengan nada membentak. Jujur saja mood-nya tak pernah benar-benar baik sejak ia gagal menikah. Apalagi pagi-pagi begini ia lebih sentimen.


"Punya lah Bang," jawab gadis berseragam SMA itu dengan centil.


"Masa cantik gini ga punya mata," lanjutnya.


Cih, cantik apanya? Eh, tapi tunggu dulu. Memang gadis itu berparas cantik kok. Hidungnya bangir, matanya indah, dan bibirnya mungil seperti boneka.


Ah, apaan sih Al, malah jadi memperhatikan gadis itu. Sadar, ayo sadar.


Alvino berusaha menguasai diri.


"Heh, kalau punya mata dipakai. Nggak lihat apa orang lagi buru-buru malah ditabrak."


"Yee... Abang galak amat. Lagian kan aku ga sengaja. Bukan cuma abang kok yang buru-buru. Aku juga."


"Jangan panggil aku abang! Emang tukang bakso?"


"Maunya dipanggil apa?" Tanya gadis itu dengan nada sedikit merayu, seperti bocah tak benar saja kelakuannya. Untung dia cantik, apalagi matanya, indah sekali. Bulu matanya tampak lentik alami dan bola matanya terlihat cemerlang.


"Untuk apa juga kamu mau memanggilku. Seperti kita akan bertemu lagi saja. Lagipula ini aneh sekali. Baru kali ini aku melihat ada anak sekolahan yang melewati kantor ini."


"Aduh, Bang. Tadi kan aku sudah bilang kalau aku buru-buru. Ini adalah jalan pintas ke sekolahku. Jadi, aku lewat sini. Aneh menurut abang?"


Hmmm... masuk akal juga jawabannya, batin Alvino.


"Yasudah sana kalau mau sekolah. Aku sibuk, buang-buang waktu saja."

__ADS_1


"Abang pikir abang ga buang-buang waktuku? Harusnya aku sudah sampai di sekolah nih. Gara-gara Abang marah aku malah masih di sini. Aku nggak mau tau pokoknya Abang harus anterin aku ke sekolah!"


"Males!"


"Ihh, nggak tanggungjawab!"


"Tanggungjawab apa? Kamu yang nabrak. Harusnya kamu yang tanggungjawab untuk jadi asistenku seharian ini."


"Bukan ide yang buruk."


Gadis sinting, pikir Alvino.


"Kamu mau bolos sekolah?"


"Lho kan tadi Abang sendiri yang bilang disuruh tanggungjawab. Ya, terpaksa dong aku bolos sekolah."


"Terserahlah."


Alvino melangkah masuk kantor. Malas menanggapi urusan gadis SMA sinting tak jelas. Meeting pagi ini jauh lebih penting untuk menyelamatkan perusahaannya dibanding meladeni bocah tak jelas yang datang dari antah barantah.


Baru saja Alvino menginjakkan kakinya di lobby ia merasakan ada kejanggalan. Bagaimana tidak, mendadak saja semua mata tertuju padanya. Oke, ini bukan hal biasa mengingat Alvino memang tampan dan populer. Namun, kali ini sedikit berbeda. Bukan pandangan takjub melainkan pandangan tanda tanya.


Cuek. Alvino meneruskan langkahnya hingga sampai di depan pintu ruang kerjanya.


"Bawa siapa kamu Al?" Tanya Reno, ia merupakan sekretaris sekaligus sahabat karib Alvino sejak kecil.


Alvino menoleh. Ia baru sadar jika gadis SMA tersebut mengekori dirinya. Pantas saja sedari masuk lobby tadi banyak pasang mata yang mengamatinya.


"Kenalin Kak, namaku Jelita," ucapnya sembari mengulurkan tangan.


Nama yang cocok dengan parasnya, Jelita. Batin Alvino. Sedari tadi ia sibuk mengomeli gadis itu tanpa sempat bertanya siapa namanya. Lagipula Alvino kira pertemuannya hanya kebetulan semata yang singkat. Tidak ada yang akan berfikir jika gadis sinting ini akan mengikutinya hingga ke dalam kantor.


"Aku Reno." Ia menjabat uluran tangan Jelita.


"Namamu cantik ya, seperti orangnya."


Jelita tersenyum, ia tersipu-sipu malu memperoleh pujian. Alvino justru merasa jijik mendengar pujian Reno. Basi, semua lelaki buaya sudah menggunakan trik rayuan gombal tersebut ribuan kali. Anehnya, kaum perempuan masih saja menyukai rayuan basi model begitu. Tanpa sadar Alvino sendiri tadi sempat membatin jika nama dan paras Jelita cocok.


Reno melepaskan jabatan tangan mereka kemudian berjalan mendekati Alvino demi bisa berbisik.


"Pagi-pagi bawa berondong ke kantor. Dia siapa Al?"


"Anak..."


"Aku pacar barunya Abang Al, Kak. Ya kan Bang?"


Terbelalak. Baik Alvino juga Reno sama-sama dibuat terkejut dengan pernyataan Jelita. Enak saja mengaku pacarnya Alvino. Pacar dari Hongkong? Ketemu juga baru tadi pagi. Astaga, Alvino benar-benar ingin menjitak kepala Jelita.


(()))


Lanjut di episode berikutnya ya readers. Pada episode ini ada dua misteri yang belum terjawab loh. Pertama, adalah kesalahan Ibunya Alvino. Apa sih yang dilakukan ibunya Alvino sampai tak bisa dimaafkan publik? Kedua, siapa Jelita sebenarnya? Nah, untuk memperoleh jawabannya simak terus ya episode selanjutnya dari kisah Lentera Cinta Para Dewa. 😄😄😄

__ADS_1


__ADS_2