
"Ditinggalkan selalu tampak lebih menyakitkan daripada meninggalkan."
Pemberontakan selalu terjadi dalam hati Alvino. Tak terima, jelas menjadi hal yang mungkin akan dilakukan oleh siapapun manusia di bumi ini. Meskipun penolakan hanya akan melipatgandakan rasa sakit hati yang dideritanya saat ini. Fokus utama Alvino bukan mencari obat atas apa yang dirasakannya saat ini melainkan, menilik kejadian yang sudah-sudah, lalu mencari letak sisi kelebihannya yang berujung pada pertanyaan: Salahku apa harus menanggung beban luka seperih ini? Atau pertanyaan serupa tapi tak sama. Kurang baik apa diriku selama ini sehingga orang-orang disekitarku tega berbuat sejahat ini untuk meluluh lantakkan kehidupanku? Dunia memang sering sekejam itu, kawan!
Ditemani rinai hujan yang seakan tahu kekalutan hatinya malam ini, Alvino memacu kendaraannya dalam kecepatan tinggi. Mobilnya membelah jalanan menuju ke luar kota yang tampak lengang. Puluhan panggilan masuk di-smartphonenya sejak tadi ia abaikan begitu saja, seolah tuli sudah telinganya. Atau memang hatinya tak pernah mau menerima segala bentuk niat dan perlakuan baik dari seseorang yang selalu dianggapnya tak pernah ada dalam kehidupannya, yaitu Nyonya Akbar.
Lewat tengah malam Alvino telah sampai pada sebuah bangunan rumah yang mewah dua lantai yang didominasi dengan warna putih dan emas. Pada jendela sebuah kamar tampak lampunya menyala, menampilkan siluet seseorang. Alvino bergegas keluar dari mobilnya. Dengan tidak sabaran ia menendang pintu rumah tersebut hingga pintunya menjeblak terbuka. Kemudian berlanjut setengah berlari menaiki anak tangga menuju satu-satunya kamar yang lampunya masih menyala.
"Adik sialan!" Umpat Alvino seraya melesatkan satu tendangan keras yang berhasil dihindari oleh sang target.
Nico tersenyum licik
"Senang bertemu denganmu kembali, Kak!"
"Ciihhh!!!" Alvino berdecih muak melihat wajah Nico.
"Jauh-jauh datang menemuiku hanya membawa emosi? Kau sudah kalah telak Kak." Nico berjalan santai melewati Alvino. Kemudian menjatuhkan pantatnya pada sebuah sofa empuk di sudut kamarnya. Santai sekali, tanpa ada setitik dosa di wajahnya.
"Jadi, semua adalah permainanmu?"
Nico menepuk sofa kosong tepat di sampingnya. "Duduklah di sini, Kak! Mari kita bicara santai layaknya adik kakak yang saling menyayangi hahaha..."
Nico tertawa lepas, menertawakan kata terakhir yang diucapkannya namun, sejurus kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi bengis.
".... Atau adik kakak yang saling benci," Lanjutnya diiringi seringaian jahat di wajahnya.
__ADS_1
Alvino merasa geram bukan buatan. Ingin sekali kepala adiknya itu dilesakkan ke dasar lantai yang dipijaknya.
"Katakan jika semua ini memang rencanamu!"
"Bukankah sudah jelas? Kau menanyakan hal yang kau sendiri sudah tahu jawabannya, Kak. Hanya orang bodoh yang melakukan hal itu. Kau terlihat seperti dewa yang sempurna namun, sebenarnya kau hanyalah pecundang!"
Ejekan Nico sukses menyulut api emosi yang bergejolak di dalam dada Alvino sehingga reflek begitu saja ia melayangkan satu hantaman keras kepada Nico. Sayangnya pukulan itu berhasil ditangkis oleh Nico dan setiap Alvino melayangkan pukulan lainnya ia hanya mengenai udara kosong. Semakin kuat ia berusaha memukul Nico semakin sia-sia saja. Akhirnya ia tersengal kelelahan. Tampak begitu lemah dan menyedihkan di mata Nico.
"Kenapa kau tega melakukan hal ini padaku, Nico?"
"Karena cinta hahaha..." Jawab Nico ngaco. Suara tawanya begitu nyaring akan tetapi di dalamnya tersirat sesuatu yang menyedihkan.
"Tidak ada cinta yang memaksakan. Cinta itu sesuatu yang natural, Nico. Ia anugerah dari Tuhan. Merampas sesuatu yang tak seharusnya dianugerahkan kepadamu tidaklah bisa disebut dengan cinta."
"Bagaimana jika benar aku mencintai Kak Rania?"
Hening. Nico terdiam seperti melamunkan sesuatu. Sementara itu Alvino menunggu sesuatu yang akan keluar dari mulut adiknya dengan tanda tanya besar yang melingkupi seluruh sisi kepalanya.
"Ya, aku memang gila," ucap Nico sembari membuang nafas berat. Ia lantas berbalik menghadap jendela. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana di sisi kanan dan kiri. Matanya lurus memandang keluar. Desau angin dan rintik hujan masih menghiasi kesedihan malam ini.
"Semua karena dirimu, Kak," ucapnya sembari melirik Alvino dari balik bahunya. "Kau sempurna. Hidupmu lebih dari kata sempurna. Kau begitu disayangi oleh Ayah, kau punya cinta dari Kak Rania yang melimpah. Di mata Ayah kaulah kebanggaannya. Setiap hal kecil yang kau lakukan tak pernah luput dari pujiannya. Di mata Kak Rania kau begitu diagungkan layaknya dewa. Kau populer dimana-mana. Pemuda sukses dan punya segalanya."
"Sementara aku?" Nico berbalik menghadap Alvino dengan cepat. "Aku tak pernah seberuntung dirimu. Aku selalu tersisihkan. Jika Tuhan memberimu kehidupan yang sempurna maka aku sebaliknya. Hidupku penuh kekurangan. Ayah tak pernah menganggap apapun yang kulakukan sebagai hal yang membanggakan. Itu semua karena kau. Jika kau tak ada mungkin kehidupan takkan seburuk ini."
"Remaja yang malang!" Ejek Alvino.
__ADS_1
"Oh, mulai detik dan seterusnya tentu tidak lagi. Akan aku rebut sesuatu yang tak pernah Tuhan berikan kepadaku, karena aku juga berhak menjalani kehidupan yang didambakan banyak orang."
"Jika kau menganggap aku sebagai penyebab kehidupanmu tak bahagia, kenapa kau harus melibatkan Rania dalam permainanmu?"
"Bukankah cara paling ampuh menghancurkan seseorang adalah dengan cara menyakiti orang yang paling disayangi?"
"Kau begitu picik, Nico!"
Nico hanya tertawa nyaring mendengar hinaan kakaknya. Hal tersebut sukses membuat hati Alvino dongkol bukan main.
Sebenarnya Nico adalah remaja genius yang sedang tersesat di lembah neraka. Kau harus mengakui, diusianya yang sekarang ia mampu menyusun rencana sedemikian menghancurkan. Amat sangat bahaya! Rencana yang bahkan orang dewasa belum tentu mampu melakukannya dengan rapi. Orang seperti Nico inilah yang nantinya bisa tumbuh menjadi musuh paling sulit ditaklukkan apabila jalan hidupnya tak dibenahi. Sekarang dia memang hanya seorang remaja. Barang kali ia tengah mencari jati dirinya yang sebenarnya. Mencoba segala hal baru tak perduli jika itu membahayakan. Darah mudanya tentu masih sangat panas dan mudah bergejolak, sehingga iri dengki mudah saja membiasakan dirinya ke dasar jurang-jurang kejahatan.
"Kau tak bisa terus menghancurkan kehidupan banyak orang. Jika kau ingin bahagia kau harus menyukuri apa yang Tuhan berikan padamu. Bukannya kau justru merasa iri dengan kehidupan orang lain. Itu salah.
"Menilai benar atau salah itu bukan tugasmu, Kak."
"Bagiku sudah cukup apa yang telah kau lakukan, Nico."
"Ini bahkan baru permulaan, Kakak. Tak seorang pun yang mampu menghentikan aku!"
"Sayangnya aku bisa." Secepat kilat Alvino meraih benda hitam yang terselip dibalik saku jas yang membalut tubuhnya.
DDOORRRR!!!
Nico berdiri mematung tak percaya. Sedikitpun tak dapat bergeser dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Lupakan bahwa kita adalah adik kakak, Nico. Kewajibanku mengirimmu pada Tuhan telah kutunaikan!"
((()))