Lentera Cinta Para Dewa

Lentera Cinta Para Dewa
BAB 3 Luka di Atas Luka


__ADS_3

"Berdamai dengan keadaan memang tak pernah mudah. Namun, menolak takdir justru membuat kita semakin sakit."


Sebagaimana kartu yang disusun jatuh satu maka menimbulkan efek jatuh yang beruntun atau yang sering disebut sebagai efek domino. Satu kejadian besar. Ah, tidak, koreksi lagi kalimatnya--satu kejadian yang teramat besar menimbulkan kejadian maha besar lainnya. Apa yang telah dilakukan Nico membuat pernikahan putra sulung keluarga Akbar dibatalkan. Kejadian lain juga menyusul, saham keluarga Akbar anjlok. Beberapa koleganya memutuskan hubungan bisnis. Belum lagi luka yang harus ditanggung, baik Alvino maupun Rania. Oh, Nico sungguh remaja yang luar biasa. Benar-benar luar biasa biang kerok.


Apa yang harus dilakukan keluarga ini sekarang. Alvino masih berambisi membunuh Nico setiap ingat pada Rania. Mungkin remaja tak tahu diuntung itu lebih baik mati daripada harus hidup dengan masalah yang orang dewasa saja tak mampu menyelesaikannya. Bagaimana tidak? Gadis mana yang hatinya tak hancur bila mengalami semua ini. Harusnya ia menikah dengan cintanya. Namun, tepat saat kakinya tengah berada di ambang pintu pernikahan semuanya hancur total.


Rania-lah yang memikul beban paling berat. Ia merasa telah menghianati Alvino. Dirinya merasa hina, kotor, dan tak layak untuk hidup lagi. Berkali-kali gadis itu mencoba bunuh diri. Ia mengalami trauma yang mendalam sehingga setiap melihat laki-laki ia akan berteriak histeris meminta pertolongan. Tak terkecuali ketika melihat Alvino yang datang dengan maksud melihat kondisi kekasihnya.


"Pergi kau! Pergi dari hadapanku. Tolong jangan sakiti aku lagi!!!"


Pyaaarrrrr!!!


Sebuah vas bunga pecah ketika menghantam tembok. Beruntung Alvino dapat menghindari lemparan Rania.


"Rania sayang, ini Alvino yang datang." Mamanya berusaha menenangkan putrinya.


"Dia orang jahat itu, Ma!" Rania menunjuk Alvino dengan pandangan bengis. "Pergi kau, pergi!!!"


Hati Alvino sungguh teriris. Ternyata kebersamaannya dalam waktu yang panjang tak membuat Rania mengingat sosok Alvino dengan baik dalam kondisi saat ini. Alvino menelan pahit. Ngilu dadanya.


"Rania, ini aku, Alvino. Kau ingat padaku?"


Sejenak mata Rania menelisik Alvino dari ujung kepala hingga ujung kaki. Secercah harapan Alvino muncul bahwa Rania akan mengingatnya sembari menghambur dalam pelukan Alvino dengan beruraian air mata.


Bbuugggg...!!!


"PERGI KAU!!! IBLIS!!!"


Hancur. Bukan pelukan yang didapat Alvino tapi hantaman bantal. Rania-nya benar tak mengingatnya sedikit pun. Kebencian Rania terhadap Nico telah membuatnya menganggap semua laki-laki adalah si keparat Nico itu.


"Ra... Rania..." Suara Alvino tercekat ditenggorokan. Sekuat apapun Alvino berusaha hasilnya akan tetap sama. Rania bukan butuh dirinya. Rania butuh psikolog. Jiwanya sekarang tak sehat.


Gadis itu terus beringsut di sudut ranjangnya. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut tebal yang hanya menyisakan kepalanya. Rambutnya berantakan dan matanya telah sembab. Rania terus ketakutan melihat Alvino. Apapun yang dikatakan mamanya tak merubah pemikirannya sedikit pun. Bagi Rania semua laki-laki adalah Nico.


"Sayang..." Air mata Nyonya Putra mengalir lagi. Diambilnya helaian rambut putrinya yang menutupi wajahnya, diselipkannya ke belakang telinga. Seketika tampak jelas mata Rania yang menyiratkan ketakutan teramat besar. Wajahnya sendu, tak ada lagi sisa raut ceria peri jelita barang sedikit pun. Kelam, itulah raut wajah yang ditunjukkan Rania. Takdir telah mempermainkannya dengan begitu tega. Bahkan tanpa permisi sedikit pun sebelumnya. Benar-benar lancang!


"Alvino, maafkan Mama. Bukan maksud Mama mengusirmu. Tapi, kau tau sendiri keadaan Rania. Tidak tepat bagimu saat ini terus berada di sini."


"Aku tahu," jawab Alvino pendek.


"Untuk sementara waktu biarkan Rania tenang terlebih dahulu. Mama tahu ini tidak mudah..." Nyonya Putra takkan pernah menyelesaikan kalimatnya. Suaranya tenggelam dalam isakan tangis. Tak satupun ibu di dunia ini melihat putrinya menderita, apalagi putri semata wayang.


"Aku sungguh minta maaf."

__ADS_1


Nyonya Putra menggeleng. Didekatinya pemuda yang tengah rapuh itu, digenggamnya tangannya dengan erat untuk menguatkan hatinya.


"Bukan salahmu, Nak. Kau sejauh ini telah menjaga Rania dengan baik."


"Tidak, Ma. Aku telah gagal menjaga Rania. Jika aku mampu menjaga Rania maka hal ini takkan terjadi. Aku lengah Ma. Aku adalah pemuda yang payah." Suara Alvino terdengar penuh sesal yang memilukan.


"Tak ada gunanya Nak, menyalahkan diri sendiri. Bukan kau yang bertanggungjawab atas kejadian ini. Jangan membuat dirimu semakin terpuruk."


Kepala Alvino tampak mengangguk lemah.


"Aku titip Rania, Ma. Tolong jaga Rania sampai ia mampu mengingat aku lagi."


"Pasti Nak."


Alvino melepaskan genggaman tangan Nyonya Putra. Ia berjalan gontai meninggalkan kamar Rania. Sejenak ia menoleh pada kekasihnya yang langsung tampak ketakutan ketika Alvino melihat ke arahnya. Terpaksa dengan berat hati ia meninggalkan kamar dengan sejuta air mata itu.


"Bagaimana keadaan Rania, Nak?"


Hanya gelengan lemah yang diberikan Alvino atas pertanyaan ibunya.


"Duduklah kemari Al, kami ingin membicarakan sesuatu."


Tanpa bicara sepatah katapun Alvino hanya menurut ketika ayahnya menyuruhnya duduk.


"Tuan Putra, sejujurnya tak layak membicarakan pernikahan di tengah kondisi yang seperti ini. Akan tetapi, kami juga tidak bermaksud lepas tanggungjawab. Kedatangan kami kesini justru bermaksud untuk bertanggungjawab atas perbuatan anak kami, Nico."


"Maksud Tuan Akbar, Tuan tetap ingin melangsungkan pernikahan Alvino dengan Rania?"


Tuan Akbar menggeleng.


"Bukan Alvino tapi, Nico."


Mata Alvino terbelalak seketika. Ia nyaris tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Bahkan Tuan Putra sendiri juga merasa bermimpi saat terjaga.


"Apa yang Ayah lakukan? Ini bukan keputusan yang bijak Ayah. Menikahkan korban pemerkosaan dengan pelakunya adalah kesalahan yang sangat fatal. Ayah akan membuat Rania menderita trauma seumur hidup."


"Tenang Alvino. Ayah tahu yang Ayah lakukan bukanlah hal yang paling benar. Ayah memiliki alasan kenapa Ayah memilih keputusan ini."


Alvino membuang nafas dengan kasar. Berusaha susah payah mengendalikan emosinya di depan Papa Rania.


"Jika boleh tahu, apa alasan Tuan Akbar yang sebenarnya?"


Pandangan Tuan Akbar beralih ke arah Tuan Putra.

__ADS_1


"Yang melakukan perbuatan keji ini adalah Nico, bukan Alvino. Jika Alvino yang harus bertanggungjawab maka itu tidaklah benar bagi keduanya, sekalipun Alvino bersedia menikahi Rania. Akan tetapi, bagaimana saya bisa mendidik Nico untuk mengenal tanggungjawab atas perbuatannya jika yang menikahi Rania justru Alvino?"


"Maaf Tuan Akbar, bukankah Nico masih SMA?"


"Ya, benar. Kita semua tahu, Nico masih SMA. Kelihatannya tidak mungkin bukan menikahkan gadis berusia 25 tahun dengan remaja berumur 18 tahun."


"Maaf, menyela Ayah. Tapi kurasa Ayah mengambil keputusan yang egois. Ayah tidak tahu seberapa besar kebencian Rania terhadap Nico. Dia bahkan menganggap semua lelaki adalah Nico. Lalu, bagaimana Ayah bisa menikahkan mereka? Ayah hanya memikirkan tanggungjawab Nico tanpa menoleransi trauma Rania!"


"Yang dikatakan Alvino ada benarnya, Yah." Nyonya Akbar menimpali.


"Kita tidak akan menikahkan mereka saat ini. Begitupun Nico tidaklah harus hadir di depan Rania dalam kondisi yang tak memungkinkan ini. Mereka akan menikah ketika Rania sembuh. Sementara itu kau jangan mengganggu mereka, Alvino."


"Tapi, ayah..."


"Kau harus mengerti Alvino bahwa setiap yang berbuat harus bertanggungjawab!"


Alvino mengeraskan rahangnya. Ingin rasanya ia menghantam meja kaca di depannya. Keputusan ayahnya telah membuat luka di atas luka. Ini sama halnya ayahnya ingin memisahkan cinta Alvino dan Rania. Merebut dengan paksa kebahagiaan Alvino dengan dalih tanggungjawab yang terdengar memuakkan. Lantas apa bedanya ayahnya dengan Nico?


Diam-diam Alvino berdecih tak suka. Dirinya merasa tak berdaya dipermainkan.


"Bagaimanapun bukankah lebih baik jika kita mendengarkan pendapat Tuan Putra selaku papa Rania?" Kata Nyonya Akbar.


Tuan Akbar menggangguk.


"Benar. Bagaimanapun keputusan ini tak kan berguna tanpa persetujuan kedua keluarga. Jadi, aku berharap Tuan Putra sependapat dengan saya."


Wajah Tuan Putra tampak bimbang. Jelas baginya ini keputusan yang tak mudah. Diam menimang-nimang keputusan, ia tak lantas menjawab. Membuat Alvino merasa tak sabaran. Dia sedikit menaruh harapan jika Tuan Putra tak setuju dengan keputusan ayahnya.


"Baiklah Tuan Akbar, saat ini mana yang terbaik saja untuk putri saya. Saya setuju."


Pupus sudah harapan Alvino.


"Lalu bagaimana denganku Ayah? Setega itu ayah menghancurkanku?"


Ini seperti konspirasi terencana. Jika benar adanya, sungguh iblis dalang di balik semua ini!


"Kelak kau akan menemukan jalan baru Alvino. Hidup haruslah bergerak maju. Kejatuhan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal kebangkitan."


"Bedebah semuanya!"


Alvino bangkit dengan perasaan marah. Ia merasa seperti tak dipikirkan sama sekali oleh keluarganya. Kecewa, rasa sakitnya telah bertumpuk-tumpuk di dada.


"Alvino tunggu!" Nyonya Akbar meraih tangan Alvino.

__ADS_1


"Lepas!" Alvino menampik kasar. Tanpa rasa perduli ia melenggang meninggalkan kediaman Tuan Putra dengan perasaan marah yang membara.


((()))


__ADS_2