Lentera Cinta Para Dewa

Lentera Cinta Para Dewa
8. Ada Apa dengan Jelita?


__ADS_3

"Jangan dibuka!"


Persis didetik terakhir Reno akan menarik pita bingkisan tersebut Alvino muncul ditengah pintu. Nafasnya memburu, semua kancing jasnya terlepas, bahkan rambutnya tak kalah kacau masai.


"Perduli rupanya?" Tanya Reno meledek.


Tanpa Berkata lagi Alvino masuk ruangnya. Ia merebut bingkisan ditangan Reno.


"Mau dibantuin buka nggak? Penasaran deh sama isinya."


"Aku bisa sendiri." Sewot Alvino.


Ia duduk di kursi. Mengatur nafasnya agar lebih santai. Reno diam mengamati.


"Juara berapa tadi lomba lari?" Ledek Reno lagi.


Alvino mendelik tak suka. Ia tengah membungkar isi bingkisan dari Jelita. Dengan tak sabaran merobek bugkusnya hingga nampak sebuah bingkai. Ya, benar, Jelita memberikannya sebuah bingkai yang berisi foto dirinya yang tersenyum manis.


"Murahan!" Geram Alvino. Tanpa perlu melihatnya untuk kedua kalinya ia langsung melemparkan foto tersebut ke kotak sampah di sudut ruangan. Andai Jelita melihatnya pasti hal tersebut pasti akan menyakiti hatinya.


"Ingat Al, jangan selalu memandang rendah manusia hanya dari satu sisi. Kau pikir dia gadis SMA yang kegatelan. Ngincer hartamu atau hanya terpesona dengan ketampananmu? Belum tentu. Tidak semua wanita sepicik yang kau pikirankan. Hanya karena patah hatimu kau samasekali tak berhak menilai semua wanita dengan pandangan burukmu."


Reno berjalan ke kotak sampah. Mengambil foto Jelita. Sekali, ia menatap Alvino yang memandangnya dengan tatapan dingin. Tak perduli, Reno keluar dari ruangan Alvino membawa foto Jelita yang cantik.


Pintu tertutup, Alvino segera menghempaskan tubuhnya ke kekursi kerja. Mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mengusak rambutnya kasar. Frustrasi sekali hidupnya.


Benarkah Alvino secinta itu kepada Rania? Sehingga tanpa gadis itu hampir gila kehidupannya. Alvino kembali bertanya pada hatinya sendiri. Mungkin benar Alvino sangat mencintai Rania atau Alvino terlalu terobsesi saja dengan kesempurnaan hidup yang dimiliki Rania sehingga ia haus akan tuaian pujian manusia sebagai pasangan paling serasi dan cocok bagai dewa dewi cinta sejati?


"Aaaarrrrggggghhhhhhhhh!!!" Alvino mengerang frustrasi. Ia lantas bangkit. Meninggalkan kantor dengan tujuan yang tak jelas.


Reno yang berpapasan dengannya di koridor hanya bisa memandang bos sekaligus sahabatnya dengan pandangan prihatin.


***


Alvino tiba di sekolahan Jelita tepat saat sekolahan tersebut bubar. Siswa-siswi berhamburan pulang.


Dengan dada yang bergemuruh menahan emosi Alvino menunggu Jelita tepat di samping gerbang keluar. Tak sabar rasanya untuk segera memberi pelajaran pada gadis lancang tersebut. Tak ada yang lebih pantas diterima oleh gadis tersebut selain hukuman.


Satu demi satu siswa-siswi keluar. Mata Alvino awas memandang setiap gadis yang berseragam putih abu-abu. Lama namun, sosok Jelita tak kunjung tampak jua.


'Mungkin kah gadis itu bolos?' batin Alvin.


'Ah, tentu tidak' sangkalnya lagi. Tapi, jika difikir-fikir bisa jadi Jelita bolos mengingat tadi dia sempat mengirimkan paketan tak berguna tersebut.


Satu jam telah berlalu. Keadaan sekolah telah lenggang. Pak satpam tampak bersiap untuk pulang.


"Nunggu siapa Mas?" tanya Pak Satpam heran.


"Nggak Pak, mau jemput adek. Tapi, kayaknya udah pulang semua ya?"


Pak Satpam terlihat curiga. Ia menelisik Alvini dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mencari tanda-tanda penculik yang mungkin saja terdapat pada diri Alvino.


"Saya bukan penculik, Pak." Alvino buru-buru memberi tahu.


"Siapa tahu Mas. Waspada aja. Tampangnya mirip sih."


Alvino menelan ludah yang terasa pahit. Apa benar tampangnya seperti penculik?

__ADS_1


Gerbang sekolah segera di kunci. Pak Satpam memakai jaket bersiap untuk pulang.


"Pak tunggu!" Tiba-tiba sebuah suara menghentikan aktivitas Pak Satpam.


lima orang siswi berlari ke arah gerbang. Alvino kembali meneliti, siapa tahu diantaranya ada Jelita.


"Buka pintunya dong Pak!" Salah seorang siswa memerintah. Nada bicaranya menunjukkan bahwa ia tak menghargai orang yang lebih tua sama sekali.


Tanpa menjawab Pak Satpam membukakan pagar. Kelima siswi tersebut lekas keluar tanpa ucapan terimakasih. Justru air mukanya terlihat kesal.


Mata Alvino awas melihat sebuah noda darah pada kerah baju salah satu siswa yang nampak seperti ketua geng. Akan tetapi Alvino tidak mau tahu tentang hal itu. Ia lebih ingin tahu hal lain.


"Kalian tahu Jelita? Apakah dia masuk sekolah hari ini?"


"Ngapain nanyain sampah itu ke kami?" Jawab ketua geng dengan nada ketus. "Nggak ada pertanyaan yang kebib bermutu apa?" imbuhnya.


"Lagian kita bukan ibunya Jelita kali. Salah orang kalau nanya ke kami. Yuk, ah gengs, cabut. Bete lama-lama di sini."


Bukan main hati Alvino dibuat dongkol. Anak iblis dari mana bisa berkeliaran bebas di siang hari seperti ini?


"Jelita masuk kok Mas tadi pagi. Walaupun masuk hampir telat. Nggak tahu kenapa anak itu selalu masuk hampir telat. Sampai hafal saya sama anaknya gara-gara keseringan hampir telat." Tiba-tiba Pak Satpam memberitahu.


"Oh, ya dari tadi kok belum lihat Jelita ya. Jangan-jangan..." Pak Satpam menggantungkan kalimatnya. Ia lekas berlari masuk ke sekolah untuk memeriksa. Di belakangnya Alvino mengekor. Entah kenapa emosinya seketika berubah khawatir.


Di koridor panjang yang sepi suara sepatu mereka menggema. Menciptakan satu-satunya suara ditengah kesunyian berbalut kekhawatiran.


Sosok Jelita masih tak tampak. Bahkan keduanya telah memeriksa bagian belakang sekolah dan gudang. Tak ada hal lain yang mereka jumpai selain kekosongan.


"Kita balik aja deh Pak. Kali aja tuh anak minggat atau dah pulang tapi nggak lihat."


"Ah, Mas ini sok tahu. Saya itu kenal banget sama kebiasaan Jelita. Dia nggak pernah minggat. Kalaupun pulang dia selalu menyapa saya Mas tiap ketemu di gerbang. Bahkan nggak pernah absen nyapa saya. Anaknya ramah banget. Jadi, kalau dia udah pulang atau belum pasti saya tahu."


"Terus kita harus nyari kemana Pak? Sekolah sudah kosong melompong."


"Yang ngajak Mas nyari Jelita siapa ya? Perasaan tadi saya pergi sendiri. Masnya main ikut aja. Jangan-jangan bener nih Mas mau nyulik?"


"Ya ampun Pak, apa saya kelihatan mau nyulik orang?"


"Kelihatan banget."


Alvino sontak gelagapan. Rere bener rupanya satpam ini. Ngajakin gelud nih?


"Masnya pakai jas mahal tapi tampangnya acak-acakan. Keliatan kalau lagi nyamar nyuri jas orang kaya."


'Duh, gusti. Sabar. Nyebut Al, nyebut. Jangan emosi' batin Alvino menderita.


"Terus Jelita pulang pergi sekolah selalu jalan kaki sendirian. Nggak pernah tuh ada yang jemput apalagi ngaku-ngaku sebagai kakaknya. Pakai mobil bagus lagi. Tambah mencurigakan!"


"Bapak kok nuduh sih?"


"Lha ngaku aja kalau Mas bukan kakaknya Jelita."


"Tahu dari mana?"


"Tahu dari Sumedang Mas. Enak joss!" Pak satpam mengacungkan dua jempolnya.


Alvino mengusap wajahnya dengan kasar. Sebisa mungkin menahan diri untuk tidak menonjok Pak Satpam. Orang lagi serius sempat-sempatnya bercanda.

__ADS_1


"Kemarin pagi saya nganter Jelita ke sekolah. Bapak nggak ingat?"


"Mana saya tahu Mas. Kemarin kan saya nggak masuk." Jawab Pak Satpam santai tanpa rasa dosa.


Sumpah demi apapun Alvino benar-benar ingin menenggelamkan satpam ini ke palung Mariana yang terdalam di dunia. Benar-benar bikin emosi jiwa raga.


"Loh kok Pak Satpam di sini?"


Tepat didetik terakhir Alvino ingin menonjok Pak Satpam suara itu muncul.


"Loh, Jelita darimana aja?"


"Yeee... Pak Satpam ditanya malah balik nanya."


Pak Satpam nyengir kuda. "Anu... Ini tadi ada yang nyariin ngaku-ngaku kakaknya Jelita. Kali aja kan penculik. Orang tampangnya midel begini."


Jelita melirik Alvino sebentar.


"Ohh... Iya Pak. Ini memang kakak saya." Kata Jelita menyelamatkan Alvino. Lantas Jelita berbisik, " Baru pulang jadi TKI Pak. Selama ini nggak kelihatan. Jangan heran kalau penampilannya aneh. Dia sebenarnya jadi kuli di luar negeri. Cuma bosnya nggak baik. Kena mental deh. Akhirnya memang agak-agak begini penampilannya. Berhalusinsi kalo dia bos. Bapak maklum aja ya."


Pak Satpam mengangguk-angguk. Alvino mengirim tatapan mematikan ke pada Jelita. Karena meski Jelita berbisik jelas Alvino masih bisa mendengarnya.


"Yaudah yuk pulang. Bapak mau pulang juga nih."


Mereka bergegas keluar dari sekolah. Ketika Jelita akan berbelok ke jalan arah rumahnya Alvino buru-buru menarik Jelita masuk mobilnya. Memaksa gadis tersebut ikut dengannya.


"Hai calon suami. Mau kemana nih kita?" tanya Jelita berusaha menampilkan sosok cerianya.


Alvino tak menjawab. Pandangnya lurus ke depan. Wajahnya menunjukkan amarah yang siap meledak kapan saja. Yang demikian membuat Jelita sedikit canggung. Ia tahu Alvino tidak sedang berada dimood yang bagus untuk diajak bercanda. Bahkan laki-laki itu terlihat bisa membunuh kapan pun.


Mobil berbelok tajam ke arah danau. Kemudian berhenti dengan tiba-tiba. Alvino benar-benar mengemudi dengan kesetanan.


"Keluar!" Perintah Alvin. Ia keluar mobil lebih dulu. Berdiri menghadap danau. Menunggu Jelita menghampirinya. Jelita ragu-ragu menyusul.


"Aku tidak suka kehidupanku diusik oleh gadis kecentilan sepertimu."


Alvin memulai dengan ucapan menyakitkan.


"Kau pikir mengirimkan fotomu ke kantorku akan membuatku terkesima? Tidak. Kau salah besar. Bagiku kau tak lebih dari gadis penggoda laki-laki. Jika tujuan akhirmu adalah uang. Maka katakan padaku berapa nominal yang kau inginkan? Aku akan memberikannya dan setelah itu kau bisa pergi dari kehidupanku."


"Jika tujuan akhirmu adalah uang. Maka katakan padaku berapa nominal yang kau inginkan?" Jelita meniru ucapan Alvino dengan nada mengejek.


"Kau pikir gadis-gadis hanya ingin uangmu hingga rela melakukan apa pun?"


"Bukankah kau memang seperti itu? Bertingah kecentilan untuk menarik simpatiku. Asal kau tahu semua yang kau lakukan sangat memuakkan. Tak lebih membuat harga dirimu menjadi hina sebagai seorang gadis."


"Wahh mulutmu pedas sekali." Ucap Jelita. Ia membuang wajahnya ke samping. Merasa sangat kesal telah dihina.


"Yakk, Alvino! Jangan angkuh. Merasa kau manusia sempurna di dunia. Hingga menganggap manusia lain seperti sampah. Nyawamu masih pinjaman dari Tuhan, jangan sok menjadi manusia paling hebat. Kau bahkan hanya mainan bagi takdir. Seindah apapun parasmu, sekaya apapun dirimu di bawah kaki takdir kau tetap tak dapat mengupayakan apa-apa."


Panas. Dada Alvino membara. Gadis itu lancang sekali. Siapa dia dari gadis jalang berubah menjadi gadis sok bijak menasehatinya. Alvino tak terima!


"Hei!!!" Alvino berteriak ketika melihat Jelita mulai mengayunkan kakinya untuk pergi. Ia menarik tangan Jelita. Mencengkeramnya dengan keras, membuat pemilik tangan itu kesakitan.


"Lepas! Sakit." Jelita sekuat tenaga meronta melepaskan cengkraman Alvin yang kuat bagai elang.


Akhirnya dengan segala upaya tangan Jelita terbebas. Ia lekas berlari meninggalkan Alvin. Melihat hal tersebut Alvin ingin mengejarnya. Enak saja gadis itu pergi dengan mudah. Namun, seketika Alvino mengurungkan niatnya ketika melihat tanganya berdarah. Jelas itu darah Jelita.

__ADS_1


Tiba-tiba Alvino teringat siswa ketua geng di sekolah tadi yang kerah bajunya berdarah. Juga keterlambatan Jelita keluar dari sekolah. Alvino menjadi panik. Jangan-jangan Jelita...


((()))


__ADS_2