Lia & Friends (Travels and Adventures)

Lia & Friends (Travels and Adventures)
Four


__ADS_3

Tampaknya Lia cs tidak berada di tempat yang biasanya. Ada yang lain di tempat itu. Orang-orang yang disangka mereka tidak ada kini sudah duduk di setiap tempat duduk yang disediakan. Anehnya, mereka semua menatap Lia dan teman-temannya seakan baru saja melihat alien yang datang ke bumi dengan pakaian anehnya atau melihat mereka bagaikan bidadari maupun dewa yang diutus Tuhan untuk turun ke bumi dan makan ke restauran yang kelihatannya juga sudah berbeda.



“Dimana kita??” ucap Siska berbisik pada teman-temannya agar tidak disangka merasa kaget karena dia baru saja melihat sesuatu yang aneh disini.



“Entahlah, aku juga nggak tau,” balas Lala.


Mereka semua merasa bingung. Tidak ada yang melakukan aktivitas detik itu juga. Mereka hanya saling memandang satu sama lain. Makanan yang banyak yang ada didepan mereka pun berbentuk tidak sama dengan makanan yang dipesannya tadi. Makanan yang mirip makanan era 70-an dihidangkan didepan mereka. Tampaknya menggugah selera.



“Aku rasa ini akibat kita membaca mantra tadi,” ucap Lia meyakinkan mereka.



“Iya, aku rasa seperti itu,” balas Kevin.



“Jadi, ini semua gara-gara buku ini?” kata Yogi sambil mengacungkan buku itu didepan matanya.



“Iya, aku pastikan itu,” balas Siska.



“Lalu kita harus ngapaink,” ucap Lala.



“Aku nggak mau mati konyol ditempat ini, dengan tatapan orang-orang disini sudah membuatku setengah mati duduk disini,” bisik leo.


__ADS_1


“Mending kita keluar dari tempat ini dan mencari asal tempat ini,” usul Lia.



“Iya, Lia benar, kita harus keluar dari tempat ini. Tapi sebelumnya kita makan dulu deh, kelihatannya enak nih makanannya,” setelah mengucapkan apa yang dikatakan Lala, makanan berupa stiek daging sapi sudah ada dalam mulutnya.



“Nih makanan kira-kira berapa ratus ribu yah, kan biasa dikantin kita habiskan uang sekitar 100 ribu?” tanya Leo.



“Udahlah, kita makan dulu, urusan uang bayaran nanti diatur belakangan,” ucap Kevin mengambil makanan berupa mie yang digulung beesama udang dan kira-kira itu digporeng. Renyah dan manis. Enak sekali.



***



“Berapa mbak,” ucap Lia pada orang yang datang menghampirinya. Dia adalah pelayan restauran itu.




“Wih,,, nggak salah nih,, makanan seperti tadi itu cuma 10 ribu per orang!!!” Leo kaget dengan mata terbelalak, dia tidak menyangka makanan yang mirip makanan eropa itu dihargai sangat murah.



“Hussstt,,, nggak segitunya kalee,,, dasar luh,,,” ejek Siska.



***


__ADS_1


Mereka semua sudah keluar dari restauran itu. Udara segar mereka dapati setelah melangkah melewati pintu restauran. Keadaan luar pun tidak sama dengan keadaan yang biasa mereka kenal. Rumah, toko, masjid, gereja, semua berbeda, tidak ada yang sama persis. Ini memang bukanlah dunia mereka. Ini didunia lain.



Orang-orang saling menatapi Lia dan teman-temannya sama halnya didalam restaurant seakan baru saja melihat durian yang jatuh dari pohonnya. Lia dan teman-temannya berjalan tanpa arah melewati ratusan tatap mata di jalanan. Kemudian mereka sampai pada sebuh rumah yang tampak tidak asing dimata mereka.



“Aku rasa pernah melihat rumah ini, tapi dimana yah...???” ucap Yogi.



“Iya, aku juga pernah melihatnya,” timpal Leo.



“Oh iya, aku baru ingat, ini kan rumah yang ada pada gambar dalam buku itu?” ucap Lia lalu menunjuk buku yang dipegang oleh Kevin.



Mereka bersama-sama melihat gambar rumah itu. Dan benar, rumah itu ada dalam gambar. Tidak ada perbedaan. Bahkan pohon beringin itu masih saja berdiri tegak di samping rumah tersebut. Mereka semua memasuki rumah yang kelihatan angker itu. Tapi, seseorang datang dari arah belakang mereka berenam.



“Kalian mau apa...???” ucap seorang perempuan. Dia berada tepat dibelakang Lala. Memakai pakaian kebaya merah serta sanggulan dikepalanya. Matanya bulat dan indah, apalagi wajahnya yang cantik dan menawan. Dia seumuran dengan kami.


Kami hanya melongo mendengar pertanyaan perempuan itu. Kami merasa tidak ada seorang pun yang mengikuti kami sejak keluar dari restauran itu. Apalagi baru beberapa detik kami menginjakkan kaki dan tadi, kami melihat sekeliling tidak ada orang sama sekali disekitar rumah tua itu. Sangat aneh.



“K-kami....” ucap Siska terbata-bata.



“Sebaiknya kalian tidak memasuki rumah tua ini. Rumah ini kosong tak berpenghuni, namun rumah ini sangat berbahaya buat kalian,” ucapnya memandangi kami satu per satu. “Aku sarankan untuk menjauhi rumah ini sejauh mungkin.” lanjutnya kemudian meninggalkan kami berenam dengan tanda tanya. Siapa sebenarnya dia. Apa dia ada hubungannya dengan rumah ini.


__ADS_1


***


__ADS_2