
(Author POV)
"Hei apa yang sedang kalian bicarakan?" tiba-tiba seorang wanita yang mereka baru kenal muncul dibalik pintu dengan tatapan kejam dengan mata yang melotot marah. Mereka semua tampak ketakutan saat melihat siapa yang sedang berdiri didepan mereka semua. Apalagi tangannya terdapat pisau dengan darah segar yang menempel yang diacungkan pada mereka berenam.
"K-kami...." ucap mereka terbata-bata.
"Sudahlah, ayo bantu aku memasak di dapur," ucap wanita itu.
"Oh, jadi itu bukan darah?" Lala yang langsung ceplas-ceplos dicubit oleh Siska setelah mengucapkan apa yang baru saja dikatakannya itu. "Aww, sakit tau Sis,".
Wanita yang berdiri itu tak lain adalah Dewi hanya tersenyum.
"Oh ya, aku ingin menceritakan kalian sesuatu yang sangat penting, tapi setelah kalian membantu aku memasak ya," Dewi lalu beranjak pergi setelah menyelesaikan kata-katanya itu.
"Sesuatu yang penting? Apa ya kira-kira?" tanya Kevin pada mereka berlima. Mereka semua hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda tidak tahu sama sekali.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku ceritakan pada kalian," Dewi mulai berbicara saat sendok dan garpu yang sedari tadi berperang memperebutkan daging steak yang berada di piring.
Tatapan mereka semua kini menuju ke arah Dewi yang masih saja menyuapkan daging kedalam mulutnya.
"Cerita apa?" Lala yang ceplas-ceplos berucap begitu saja membuat Lia dan lain-lainnya mengalihkan pandangan ke arah Lala.
"Ini tentang diriku!" Dewi berkata lagi lalu pandangan mereka semua kembali kearah Dewi yang tadi kelihatan ragu-ragu kini mantap untuk menceritakan semuanya pada Lia dan teman-temannya. "Sebenarnya aku ini...."
Ternyata Dewi adalah siswi yang dinyatakan hilang 3 tahun lalu. Dia dikabarkan hilang secara misterius dari sekolahan saat istirahat sekolah. Bahkan keluarganya tidak tahu Dewi ada dimana, dan bahkan sekalipun polisi tak dapat menyelesaikan kasus ini dan menyerah untuk mencari keberadaan Dewi. Kasus Dewi selama 3 tahun itu kini ditutup.
Mereka berenam hanya saling menatap masing-masing. Mereka menerka-nerka apa yang baru saja Dewi katakan.
"Kenapa kamu tidak bisa kembali?" tanya Lia.
Dewi hanya merenung, lalu berkata, "Aku kehilangan buku itu, mungkin saja buku itu kembali ke perpustakaan atau hilang entah kemana," dia lalu diam, lalu berkata lagi, "Tapi, buku itu ada disini, dan aku bisa kembali lagi,". Dewi hanya tersenyum bahagia saat menerangkan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Pagi yang cerah untuk kembali ke tempat asal. Semalam mereka bertujuh telah membaca seluruh isi pada buku itu. Buku yang telah membawanya pada seorang wanita yang telah hilang selama tiga tahun untuk dibawa kembali ke tempat mereka.
“Baiklah, mari kita baca mantranya bersama-sama,” ucap Kevin saat mereka bertujuh melingkari buku itu. Sementara teman-tekannya mengangguk dan semua sudah siap.
"Dilantra Maximal Samuel Jolutra Gulonda—Go—Go—Go—Home, Backtris to Houses, Minro Ballat." ucap mereka bersama-sama sambil menutup mata.
Namun, seakan tidak ada yang terjadi. Bahkan suara angin saja tak terdengar ditelinga mereka. Sesuai dengan isi buku itu, mereka akan membuka mata bersama-sama selang 3 menit saat mereka membaca mantranya.
Tiga menit berlalu, dengan kode rahasia, mereka semua membuka mata secara bersamaan. Baru saja membuka mata, pandangan didepan membuat mereka semua kaget. Bahkan, Lala dan Siska berteriak keras lalu menutup mulut mereka dengan tangannya sendiri. Seorang wanita gemuk sudah ada didepan mereka memperhatikannya. Dengan wajah merah dan ekspresi marah, dia menggumam.
"Kenapa kalian semua disini? Bukannya masuk kelas, kalian malah membaca buku disini! Cepat, kelas baru dimulai!" teriak wanita itu yang tak lain adalah guru killer yang terkenal kejam suka membantai para siswa maupun siswi disekolah.
Tidak cukup satu menit mereka duduk, Lia dan lainnya langsung kabur dari ocehan guru killer yang biasa dipanggil GuLer oleh anak-anak sekolahan.
__ADS_1