
Guru Killer yang memiliki nama asli Ibu Berti menatap mereka yang berlarian menjauhinya. Dalam hatinya ia memiliki dendam untuk membalas anak-anak bandel ini di masa depan. Kalau tidak, dirinya mungkin akan frustasi karena sering dianggap menakutkan oleh kalangan siswa yang ada disekolah, apalagi saat wajah anak-anak bandel tadi ketakutan melihat Ibu Berti, itu yang membuatnya yakin jika wajahnya menakutkan padahal menurutnya dia memiliki wajah cantik dan halus yang tidak mungkin membuat beberapa siswa lari ketakutan.
Mengenai Ibu Berti. Dia terkenal sebagai guru killer di sekolah. Bentuk badannya gemuk. Serta bagian kaki dan tangan yang sudah seperti kaki gajah membuatnya sungguh ditakuti. Lebih-lebih mukanya yang tampak garang dan menyeramkan, padahal menurutnya tidak. Jika menghukum, hukumannya tidak tanggung-tanggung. Beberapa siswa pernah dirawat rumah sakit karena harus membersihkan toilet perempuan dilantai dua selama 24 jam.
Kenapa bisa jadi begini? Ya karena ada isu mengatakan bahwa di toilet perempuan itu angker. Lalu siswa ini ketakutan dan terjatuh dari lantai dua ke lantai dasar sehingga menyebabkan beberapa tulangnya patah.
Cerita lain angkernya toilet di lantai dua yaitu seperti suara cekikikan di dalam tempat sampah depan pintu toilet, suara air yang diguyur padahal tidak ada orang disana, atau beberapa siswi berteriak karena melihat genangan darah di lantai, tapi setelah di cek, bahkan darah setetespun tidak ada disana dan semua lantai kering.
Karna itu, hampir semua siswa menghindari ibu Berti.
Setelah beberapa jam, bell berbunyi sangat merdu—menggema di setiap lorong sekolah. Ada rasa senang bercampur bahagia di wajah para siswa-siswi yang sudah lelah menulis di bukunya masing-masing dan menunggu hal ini terjadi.
Semua siswa dalam ruangan membereskan peralatan menulis mereka. Ada yang memasukkan buku-bukunya sekaligus kedalam tas, dan ada pula yang memisahkan beberapa buku dan membawanya ke loker untuk disimpan. Memang disekolah memliki loker khusus untuk menyimpan peralatan sekolah bagi siswa-siswi yang bersekolah disana.
__ADS_1
Tampak jauh disana, seorang wanita cantik berdiri sendirian. Dia sudah melirik kesana kemari. Sepertinya dia sedang mencari seseorang diantara kerumunan siswa-siswi yang berjalan keluar dari kelasnya masing-masing.
Dia berpakaian putih. Tampak seorang putri. Anak-anak sekolahan melihatnya dengan tatapan aneh.
"Sejak kapan sekolah membiarkan orang lain memasuki sekolah?"
"Pakaiannya sangat indah. Mungkin dia siswi pindahan."
"Cantik. Manis. Benar jika dia itu idamanku."
Bukankah sekolah punya peraturan untuk orang asing yang memasuki sekolah? Kenapa tidak ada tindakan dari sekolah?
__ADS_1
"Hei—Bagaimana pelajaran matematika tadi?" Tanya seorang wanita gemuk dengan dua kuncir dikepalanya. Pakaiannya lebar. Dia memakai dasi yang pendek. Berjalan berdampingan dengan seorang wanita sebayanya. Namanya adalah Nia si gemuk. Dia sering di panggil si gemuk karena postur badannya yang sangat besar, mungkin 11:12 dengan badan ibu killer.
"Agak mudah, namun cukup susah." Jawaban yang sangat tidak masuk akal terucap oleh lawan bicaranya. Dia teman sebangkunya. Mei. Wajah Mei ini sebenarnya sangat polos. Memakai kacamata bundar membuat orang-orang di sekolah melihatnya sebagai siswa culun.
"Aku malah tidak menjawab apa-apa tadi." Kekeh Nia memperlihatkan gundukan yang besar di pipinya.
"Wah, kamu lebih parah. Aku tadi hanya menatapnya dan menyalin kembali soalnya." Ucap Mei sambil memperbaiki kacamata besarnya. "Kata mama, kalau tidak bisa menjawab soal, cukup kita salin kembali soalnya di kertas, nanti akan dapat nilai walaupun cuma sedikit."
"Benarkah?"
"Ya iyalah."
Dibelakang dua siswi ini, berjalan seseorang yang memakai pakaian jas hitam dan celana hitam. Tangannya ditutupi dengan kaos tangan hitam. Semuanya serba hitam, selain wajah tentunya. Wajahnya tidak buruk, bisa dikatakan kategori 'biasa' dalam kamus ketampanan. Gerak-geriknya mencurigakan. Matanya selalu mengarah ke dua orang didepannya lalu menengok kesamping kiri-kanan—mencoba melihat situasi.
__ADS_1
Nia si Gemuk dan Mei si Kacamata tidak menyadari hal ini. Mereka tetap fokus dan membicarakan mengenai mata pelajaran menjengkelkan itu. Mereka tidak menyadari jika si pria berpakaian hitam itu sedang memantau dan memata-matai mereka berdua.
Tampaknya akan ada kejadian yang luar biasa akan terjadi hari ini.