
Kini sudah hampir malam. Kami semua memikirkan kemana kita akan menginap malam ini. Rumah orang-orang kini satu persatu mulai tertutup. Kami hanya mondar-mandir tak karuan di desa yang tidak kami kenali itu. Lala sudah dari tadi merasa kecapekan berjalan mencari motel ataupun villa untuk penginapan, namun tidak ada satupun yang dapat kami temukan. Mobil, motor atau kendaraan lain pun sama sekali tidak ada yang berlalu lalang di jalanan. Suasana mulai sepi. Pilihan terakhir penginapan hanya rumah tua itu. Rumah kosong yang tak berpenghuni namun berbahaya jadi satu-satunya pilihan.
“Apa tidak apa-apa,” ucap Leo.
“Tentu saja. Rumah itu kan kosong, tidak ada penghuninya. Cukup satu malam kita menginap disitu, setelah itu kita cari cara untuk pulang ketempat asal kita besoknya,” saran Yogi.
“Tapi kata perempuan tadi, rumah itu sangat berbahaya,” ucapku.
“Mungkin saja itu cuma untuk menakut-nakuti kita, apalagi ini satu-satunya tempat tinggal kita, ini hanya semalam kok, besoknya kita cari penginapan,” kini Kevin membalas perkataanku.
“Bagaimana kalau itu benar. Rumah tua itu berbahaya,” Siska mulai mengantisipasi akan terjadinya hal buruk nantinya.
“Iya, mungkin saja itu pesan untuk kita agar tidak dapat masalah nantinya,” timpal Lala.
__ADS_1
“Jadi, kita harus pergi dari rumah itu dan mencari penginapan..???” tanya Yogi.
“Iya, ada baiknya begitu,” balas Leo.
“Baiklah, tapi jika tidak menemukan penginapan gimana dong,” kata Lala.
“Jalan satu-satunya yah, kita nginap dirumah kosong itu,” ucap Yogi mantap.
Kami menunggu hingga jam 20.48 di sebuah rumah warga. Lampu penerang berupa bambu dengan sumbu api di depan rumah masih saja menyala dengan terangnya. Tapi, keadaan masih saja sama dengan jam 18.24. Tidak ada pergerakan sedikit pun. Batuk saja tidak terdengar. Bahkan suara nafas saja tidak dapat kami dengar. Apa semuanya sudah tidur? Kami pastikan mereka semua sudah tidur karena jam segini tetap tidak ada pergerakan. Harapan satu-satunya hanya rumah kosong itu.
Kami semua berjalan ke arah rumah kosong tua itu. Kini kami sudah sampai di depan rumah tua itu. kami lalu memasuki pagarnya. Kemudian pintu depannya.
“Kreekkk” Suara pintu yang bergesekan dengan lantai sangat keras hingga membuat kami semua kaget. Gelap. Satu kata ini yang kami lihat dalam ruangan pengap tak berkehidupan itu. Untung saja kami membawa senter di dalam tas kami semua. Biasa kalau kegiatan malam harus pakai senter. Jadi antisipasi saja di dalam tas. Lala merengek ketakutan. Dia memegang erat tangan Leo hingga meremasnya.
__ADS_1
“Kalian harus cari tombol atau colokan untuk menghidupkan lampunya,” ucap Kevin memerintah.
Kami semua kini terbagi tiga kelompok, yaitu Kevin bersama Yogi, aku bersama Siska, dan Lala yang ketakutan itu tidak ingin berpisah dengan Leo, jadi kami satu kelompokkan saja Lala dengan Leo.
“Klik” Lampu menyala. Ternyata Kevin yang menemukan lebih dulu tombol sakelarnya. Kini terang benderang. Cahaya lampu langit-langit menerangi seisi rumah tua yang tak kami gambarkan awalnya. Kami kira kami akan mendapati rumah yang acak-acakan serta jaring laba-laba dimana-mana. Namun, kenyataan sebaliknya. Rumah itu tampak bersih. Debu sedikit pun tidak terlihat sama sekali. Bahkan lantainya terasa lembab baru saja di pel.
Aneh. Sangat aneh memang. Rumah yang katanya kosong tak berpenghuni terlihat dari luar kotor, jorok dengan ilalang tumbuh di setiap temboknya tapi bersih di dalamnya. Apa mungkin ada yang tinggal di dalam rumah ini? Pertanyaan ini terbesit begitu saja dibenak kami semua.
Kami saling memandang takjub dengan pemandangan dalam rumah tua ini. Tapi tak sedikitpun kami merasa heran dan takut akan keadaan rumah yang bersih namun tak berpenghuni ini. Apa ada orang yang membersihkan setiap hari tempat kosong ini?
Tiba-tiba......
***
__ADS_1