Lia & Friends (Travels and Adventures)

Lia & Friends (Travels and Adventures)
Six


__ADS_3

(Lia POV)


"Selamat datang," ucap seorang wanita seumuran mereka yang berjalan turun dari tangga lantai atas. Dia tersenyum dengan lesung pipit yang dalam di kedua pipinya. "Kalian mungkin agak capek dan lelah, silahkan beristirahatlah, besok baru kalian lanjutkan perjalanan kalian," dia berhenti pas satu anak tangga sebelum menyentuh lantai. Gaun cantik miliknya sangat indah dengan beberapa berlian berkilauan saat terkena cahaya lampu.


"Kamu siapa?" tanyaku.


Dia hanya tersenyum dan melangkah turun menginjakkan kakinya di lantai lalu berjalan kearah meja makan yang tepat berada didepan kami semua. Disana sudah ada beragam makanan enak dan lezat terhidangkan. Ah, darimana asal meja makanan itu, kenapa tiba-tiba ada di depan kami.


"Silahkan duduk dan mari kita makan dulu," dia menyendok beberapa air sup kedalam mulutnya. "Nanti aku ceritakan semuanya, duduklah," kembali dia tersenyum kepada kami. "Jangan takut, aku tidak akan meracuni kalian kok, aku adalah pemilik rumah ini," jawabnya seakan dia tahu pertanyaan apa pertama kali yang ada dikepala kami berenam saat melihatnya.


Aku dan yang lainnya mengambil tempat dan mencoba duduk berjauhan dari wanita ini. Enak, mungkin ini rasa yang dapat kami ungkapkan saat mencoba makanan yang ada didepan kami. Benar, tidak ada racun dalam makanan itu. Semuanya baik-baik saja.


"Sebenarnya kamu siapa?" tanya Kevin.


"Em... Itu... Nanti kita bahas setelah makan malam." Dia hanya berbicara sebentar lalu menyendok beberapa makanan kembali dalam mulutnya.

__ADS_1



Kami semua merasa kenyang dengan makanan lezat yang dihidangkan wanita itu. Kami semua diajak ke ruang tamu agar lebih leluasa bercerita dengan wanita itu.


"Perkenalkan namaku Dewi. Aku adalah salah satu warga didaerah ini yang tak pernah mengikuti kebiasaan para penduduk," ungkapnya.


"Kebiasaan? Kebiasaan apa?" tanya Yogi penasaran dengan kebiasaan para warga yang dimaksud wanita yang mengaku bernama Dewi itu.


"Iya, kebiasaan apa?" timpal Lala.


"Iya, tapi kami tidak melihat satu..." balas Kevin yang langsung dipotong oleh Dewi.


"Ya, begitulah kebiasaan para warga. Mereka takut pada malam. Bahkan tidak akan ada kegiatan yang dilakukan pada malam hari," jelas Dewi.


"Tapi, karena apa?" tanyaku yang membuatku semakin penasaran dengan warga didaerah ini.

__ADS_1


"Itu karena dulu sering ada anak yang hilang saat bermain pada saat malam. Bahkan banyak warga yang ditemukan tewas diluar rumah saat mereka berbincang pada malam hari. Bukan hanya satu orang saja, tapi warga yang berbincang pada saat itu juga. Jasad mereka diketemukan saat pagi menjelang dengan mata melotot seakan melihat sesuatu yang mengerikan. Itu membuat para bapak-bapak dan ibu-ibu didaerah ini membiasakan mereka untuk tidak melakukan kegiatan pada malam hari." jelas Dewi.


"Dan, kenapa kamu tidak melakukan hal ini juga." tanya Leo dengan rasa penasaran yang terpancar dimukanya.


"Aku tidak percaya dengan hal ini," ucap Dewi.


"Bukannya sudah terbukti bahwa ada anak hilang dan banyak warga tewas," kata Siska.


"Iya, itu hanya kata warga, aku belum pernah melihatnya sekalipun, karena aku baru saja tinggal didaerah ini." balas Dewi.


Kami semua hanya meng-oh-kan apa kata Dewi.


Malam semakin gelap. Jam ditangan sudah menunjukkan 12.08 PM. Ini saatnya kami semua melepas lelah dan beristrahat.


Dewi menunjukkan dua kamar. Satu untuk para laki-laki dan satu lagi untuk perempuan. Kamar laki-laki terletak dilantai bawah sedang kamar perempuan terletak dilantai atas. Dikedua kamar itu terdapat tiga tempat tidur yang seakan Dewi tahu akan kedatangan kami kerumahnya sehingga menyediakan semua ini.

__ADS_1



__ADS_2