
Li Jhi Sie adalah seorang jendral yang kuat, membunuh musuh tanpa ampun. Orang hanya mengenal dia sebagai seorang jendral perang tapi tak ada yang tau kalau dia juga adalah seorang boss mafia terkenal dan paling ditakuti, mafia terkuat no.1 di Dunia bawah tanah yang bernama Redrose. Jika mendengar nama itu maka berlututlah semua musuh.
drrtt drrtt drrtt
📲"halo boss" Ucap seseorang.
📲"hmm...bagaimana?" Tanya wanita itu yang tak lain adalah Li Jhi Sie.
📲"kami sudah menemukan mereka, mereka sekarang ada di daerah XCX" Ucapnya.
📲"baik saya akan kesana" Ucapnya dengan seringaiannya.
tut tut tut
"saya menemukan kalian" batinnya
"Dian siapkan mobil saya akan pergi sekarang" ucap Li.
"Jendral anda akan kemana sebentar lagi kita akan ke kantor pusat" Ucap dian.
"saya sudah menemukan pembunuh keluargaku" Ucap Li.
"saya ikut ya agar membantu anda jika terjadi sesuatu ya Li'er" Suara lelaki tiba tiba ikut bicara yang tak lain adalah Galang kekasih Li Jhi Sie.
"😊mm..baiklah" ucap Li dengan senyum manisnya.
》skip daerah XCX
"boss persiapan sudah siap tinggal tunggu aba aba anda saja" Ucap tangan kanan Li yang bernama Farhan.
"langsung kepung dan serang aku akan mencari ketua mereka dan membunuhnya" dengan penuh penekanan dan aura membunuh yang pekat. Yang berada disana hanya bergidik ngeri.
"baik..."
Pertarungan antara Redrose dengan Sevendead sangat mencekam banyak yang mati dari kedua kubu. Lain halnya dengan wanita yang berstatus boss mafia ini, dia tengah berada di sebuah ruangan yang dapat di bilang cukup mewah.
"lebih baik lo keluar sekarang gak usah jadi pecundang" penuh aura membunuh.
"wahh wahh wahh berani juga lo dateng gue kira lo bakal suruh anak buah lo yang gak berguna itu" Seorang lelaki yang tiba tiba muncul dengan seringainya.
"Dimana boss lo?"
"mau tau...heh tapi setelah lo mati dulu....hiyaaak" langsung menyerang
Selama satu jam mereka bertarung akhirnya lelaki itu mati dengan penuh luka di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
tiba tiba
Jlebb sebuah belati menusuk tepat ke jangtung Li.
"Arrgghh..." Teriak Li dan langsung terhuyung.
"KELUAAR...hah hah.." teriak Li dengan nafar tersedat sedat.
"Boooossss" Teriak seluruh anggota dang langsung coba mendekati Li tapi terhalangi oleh ratusan orang terjadilah pertarungan yang tak terelakkan.
Datanglah seorang lelaki menuju Li yang sudah bercucuran darah.
"Li'er.." panggilnya yang tak lain adalah Galang.
"Galang hah hah ban..tuin...a..ku hah hah" ucap Li dengan terbata.
"hah...apa seorag jendral dan juga boss mafia meminta pertolongan padaku hahahaha sangat lucu" ucap Galang dengan nada mengejek dan membuat Li terkejut bukan main.
"ada apa dengan kamu?" dengan nada tak percaya.
"tidak ada.."
"tapi mengapa kamu tidak membantuku Lang?"
tiba tiba terdengar suara teriakan dari luar yang tak lain adalah tangan kanan Li.
" Ap..apa maksud semua ini Lang" tanya Li dengan tatapan tajam.
"Haha...itu karena kamu!!"
"Apa maksudnya Lang hiks hiks.."
"Kamu mau tau?...ah iya aku lupa bilang ke kamu berikan kalung itu!!" dengan aura membunuh.
"Heh kamu gak akan dapatin kalung itu" ucap Li.
"Jika kamu berikan aku akan membantu kamu ! bagaimana Li'er?"
" Baik aku berikan kalung itu..." ucapnya terjeda, Galang hanya menampilkan seringainya. " Dengan syarat kembalikan KELUARGA ku" sambil menekan kata keluarga. Galang hanya terdiam dan terkejut mendengar perkataan Li Jhi Sie.
" hahaha kamu tidak bisa bukan mengembalikan keluarga ku ?" Li berkata dengan sinis.
" Bagaimana bisa aku mengembalikan mereka?" tanya Galang bingung.
"Karna kau, aku kehilangan keluarga ku. Karna kau, aku tak bisa merasakan kasih sayang keluarga ku terutama IBU ku. maka kau harus MATIIII" Teriak Li sambil berderai air mata.
__ADS_1
Dor Dor Dor
Tiga tembakan melayang ke arah Galang membuat sang empu meringis kesakitan.
"Haha..seka..li..pun..a..kuh hah hah mati ma..ka..ka..liann..hah hah harushh mati ber..sa..ma..ku" ucap Galang terbata sekaligus melempar bom yang membuat Li Jhi Sie terkejut dan langsung berlari menuju ke arah Farhan.
"FARHAAAN AWAAASS" Teriak Li Jhi Sie dan langsung memeluk Farhan membuat sang empu terkejut.
DUAAARR Li Jhi Sie pun terkena ledakan itu.
"Hiks hiks boss.." tangis Farhan saat melihat Li dalam keadaan bersimpa darah.
"Han ...A..kkuh..mo...hon ja..ga me..re..ka..semuah hah hah demi aku..kaauhh ha..rus...hi..dup ba..ha..giaa hah." hembusan nafas terakhir Li membuat semua tak kuasa menahan air mata terutama Farhan yang sudah menganggap Li seperti adik kandungnya sendiri.
TIDAAAAKKKK
teriak Farhan menggema di daerah tersebut. Semua menangis melihat orang yang sudah memberikan kehidupan yang layak kepada mereka.
" Aaaaaa... Li'er bangun ku mohon banguuuun hiks hiks jangan tinggalin kami semua hiks hiks AKU MOHON BANGUN LI JHI SIEEEEE." Teriak Farhan sambil mengguncang tubuh Li yang sudah tak bernyawa lagi.
"Hiks hiks hiks ke...ketua kita semua juga ikut sedih tapi jangan seperti ini boss berkata kepada ketua untuk hidup bahagia jadi kami mohon IKHLASKAN boss untuk tenang di sana" Ucap salah satu anggota itu. Farhan menoleh ke arah angotanya dan melihat semua mengangguk setuju.
"Baiklah Li'er kamu yang tenang ya hiks hiks disana se..semoga ka..mu bahagia" Ucap Farhan sesegukan sambil mengecup puncak kepala Li dengan sayang.
Mereka pun pergi dari sana. Pagi harinya semua orang terkejut sekaligus sedih akan berita meninggalnya orang yang sangat berjasa dan baik kepada semua orang.
Lain halnya dengan Li
"Kenapa sangat gelap di sini? Apakah aku sudah mati?" Ucapnya sambil terkikik geli.
"Bodoh tentu saja sudah mati aku kan terkena ledakan dasar bodoh hihi" Ucapnya " ehh cahaya apa itu ? " tanyanya bingung sambil berjalan kearah cahaya itu.
'Silaunya' batin Li sambil mencoba menyesuai kan cahaya yang masuk ke retina matanya.
Saat sudah tidak terlalu silau Li pun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan langsung berteriak.
"Aaaaa" teriaknya sambil berfikir 'ini ada di mana?' dan melihat ke bawah dan mendapati tangannya sangat kecil mungil.
Beberapa saat kemudian kepala Li sangat sakit dia pun berterak kencang hingga membuat pelayan dan pengawal lari menuju kamar Li.
"Aaaaaaa sakiiiiiit"
Bruak
" Tuan putri ada apa?" tanya pelayan itu khawatir.
__ADS_1
Saat kepala Li tidak terasa sakit lagi dia mendongakkan kepalanya dan melihat banyak orang.
"Putrikuu" teriak lelaki yang menggunakan baju bersulam naga.