
Ray terus menghindari pertemuan dengan Shoyo dan Ayumi. Dia merasa sulit untuk menghadapi mereka setelah menyembunyikan pertemuan sebelumnya. Namun, Ayumi tidak bisa menahan rasa penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia memutuskan untuk menghadapinya sendiri.
Ayumi mencari tahu alamat Ray dari informasi yang dia miliki dan pergi ke rumahnya. Dia mengetuk pintu dengan hati yang berdebar. Saat pintu terbuka, dia melihat Ray terkejut melihatnya di sana.
"Ayumi, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Ray dengan raut wajah yang campur aduk.
"Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi," jawab Ayumi dengan tegas. "Kenapa kau menghindariku dan tidak memberitahuku tentang pertemuanmu dengan Shoyo?"
Ray terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Ayumi. Akhirnya, dia memutuskan untuk berbicara dengan jujur.
"Aku minta maaf, Ayumi," kata Ray dengan suara rendah. "Aku merasa cemburu dan tidak ingin mengganggu hubunganmu dengan Shoyo. Aku khawatir bahwa kalian berdua akan semakin dekat dan aku akan terus menjadi 'teman kedua' di antara kalian."
Ayumi mendengarkan dengan penuh perhatian, wajahnya mencerminkan kebingungan dan kejutan. Dia tidak pernah menyadari perasaan Ray yang rumit ini.
"Ray, aku tidak pernah bermaksud untuk menyakiti perasaanmu," ucap Ayumi dengan suara lembut. "Kamu adalah teman berharga bagi kami berdua. Aku merasa sangat bersalah bahwa kau merasa terpinggirkan."
Ray menatap Ayumi dengan intensitas. Ada kelegaan di matanya, tapi juga keraguan.
__ADS_1
"Apa kamu benar-benar tidak marah padaku?" tanya Ray dengan ragu.
Ayumi tersenyum. "Tentu saja aku merasa terkejut dan sedikit kecewa, tapi itu tidak berarti aku marah padamu. Persahabatan kita berdua berarti banyak bagi ku, Ray. Aku ingin memperbaiki segala kekacauan ini dan menjaga hubungan kita tetap baik."
Ray menghela nafas lega. "Aku juga ingin itu," ucapnya dengan suara lembut.
Keduanya duduk di ruang tamu, membicarakan segala ketegangan dan rasa cemburu yang telah terjadi. Mereka saling mendengarkan, memahami, dan berjanji untuk tetap jujur satu sama lain di masa depan.
Kemudian, Ayumi mengungkapkan tentang pertemuannya dengan Shiro dan bagaimana mereka berencana untuk memesan desain interior untuk apartemennya yang baru. Dia mengundang Ray untuk bergabung dalam proyek tersebut, karena dia tahu betapa berharga pendapat dan bakat desain Ray.
Ray tersenyum, merasa lega bahwa Ayumi masih mempercayainya dan ingin melibatkannya dalam kehidupannya
Namun, saat pintu terbuka, mereka terkejut melihat bukan Shiro yang datang, melainkan seseorang yang tidak mereka duga. Di depan mereka berdiri Shoyo dengan wajah terkejut.
"Ray... Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Shoyo dengan tatapan penuh tanya.
Ayumi merasa bingung dan kebingungan. "Shoyo, sebenarnya... Aku menemani Ayumi untuk membahas proyek desain untuk apartemennya yang baru bersama perusahaan mu."
__ADS_1
Ayumi yang mendengar itu semakin kebingungan.
Shoyo merasa campur aduk. Dia tidak menyangka bahwa Ayumi adalah klien yang mereka bicarakan dan merasa senang sekaligus terkejut. Tiba-tiba, kenangan masa kecil yang kelam muncul di pikirannya.
Shoyo terdiam sejenak, cemas dan gelisah. Dia teringat akan rasa kesepian dan kesedihan yang dialaminya ketika Ayumi pergi tanpa kabar. Rasa takut itu muncul kembali, membuatnya ingin melarikan diri dari situasi ini.
Tanpa sepatah kata pun, Shoyo tiba-tiba berdiri dan pergi dengan langkah tergesa-gesa. Ayumi ingin mengejarnya, namun Ray menghentikannya.
"Tunggu, Ayumi. Mungkin Shoyo hanya perlu waktu untuk merespons," kata Ray dengan suara lembut.
Ayumi merasa kebingungan dan sedih. Dia tidak mengerti mengapa Shoyo bereaksi seperti itu. Dia ingin mengejar dan memahami apa yang sedang terjadi, tetapi dia memilih untuk memberikan sedikit waktu pada Shoyo.
Sementara itu, Shoyo kembali ke kantornya dengan hati yang berat. Seon Han, temannya dan rekan kerjanya, melihat kegelisahan di wajah Shoyo dan bertanya, "Ada apa denganmu? Apa yang terjadi?"
Shoyo menatap Seon Han sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Tidak apa-apa, Seon. Hanya ada beberapa hal yang membuatku sedikit kacau."
Seon Han mengangguk dengan penuh pengertian, namun tetap mengamati Shoyo dengan kekhawatiran. Dia tahu bahwa Shoyo memiliki masa lalu yang sulit dan trauma yang belum sembuh sepenuhnya.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor, Shoyo pulang ke apartemennya. Saat ia berbaring di tempat tidur sebelum tidur, pikirannya kembali kepada Ayumi. Dia bergumam dalam hati, "Apakah itu benar-benar Ayumi? Bagaimana dia bisa tiba-tiba muncul dalam hidupku setelah semua ini?"
Shoyo merasakan perasaan campur aduk dalam hatinya. Di satu sisi, dia senang bisa bertemu kembali dengan Ayumi, namun di sisi lain, ada rasa sedih dan kesepian yang muncul lagi. Ia merenung lama dalam keheningan,sebelum kemudian ia tertidur.