
-flashback-
“Syarla, tunggu. Maafkan aku! Aku sungguh tidak tahu bahwa...”
“bahwa apa? Bahwa kamu menikah dengan dia!? Apakah kamu tidak bisa menunggu sebentar saja sampai aku datang?” air mata ini mulai mengalir deras di pipi.
“Aku sungguh minta maaf.”
“Aku benci kamu!!!”
~
Tiba-tiba dering telepon kantor bunyi, mengagetkanku.
“Halo...”
“Nona Shin, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda.”
“Suruh Asisten pribadi saya untuk antar dia ke ruangan saya.”
Ahhh, sungguh. Aku tidak bisa mengingat kembali masa lalu itu. Kenapa seperti asing dan tidak asing. Sebenarnya aku ini siapa? Syarla itu siapa? Dan mengapa semua orang di sini memanggilku dengan nama Shinea, Mengapa sulit sekali mengingat hal itu.
(Uh, sakit sekali rasanya kepala ini.)
Tok.. tokk.. toookkk...
“Mmm.. ya, masuk!” (Aku harus bisa menahan rasa sakit ini)
__ADS_1
“Permisi, Nona Shin. Ini orang yang ingin bertemu dengan anda.”
“Silahkan duduk!”
“Kalo begitu, saya kembali bekerja lagi. Nona Shin.”
“Tunggu, Cleo! Kamu jangan dulu keluar.”
“Baik Nona.”
“Anda siapa dan ada keperluan apa?”
“Ma-maaf, S-saya ingin melamar kerja.”
“Apa-apaan ini? Apa orang di kantor ini sudah tidak bisa menangani hal ini?”
“Maaf Nona Shin, sebenarnya karyawan yang bertugas sebagai personalia sudah memberikan data karyawan baru minggu lalu. Dan saya tidak tahu bahwa dia akan melamar kerja.”
(Merepotkan sekali. Apa bedanya kerja sendiri dan punya karyawan. Bodoh!)
Entah apa yang membuatku menjadi begini. Tapi, rasanya aku punya masalalu yang buruk. Dan entah kenapa sangat sulit untuk aku mengingat kembali. Aku hanya menjalani hari-hari dengan ketegangan dan emosi. Sulit untuk tersenyum. Meski saat ini, aku mempunyai segalanya, rasanya tetap tidak mengembalikan sesuatu yang telah hilang. Aku akan terus mencari kebenaran masalalu itu. Agar aku bisa sedikit tenang.
*Istirahat kerja
-Suara bising-
“Itu boss pemilik perusahaan ini ya? Wah, cantiknya. Eh, tapi kok dia seperti tidak suka tersenyum?”
“Waaahhhh... Iya, dia sangat serius!”
__ADS_1
“Kata karyawan lama, dia berhati dingin. Pokoknya nyeremin deh.”
“Aduuuhh, gimana iniii...”
“Aku sangat takut. Tapi dia sangat cantik.”
“Dressnya sangat mahal. Katanya masih single, padahal sudah hampir...”
(Apa karyawan-karyawan ini hobi bergosip ya! Menyebalkan sekali)
Aku mengisyaratkan pada asisten pribadiku untuk mengawasi semua karyawan di sini. Memang, mereka jelata. Asalnya rendah, tetap akan rendahan pula prilakunya. Aku seperti acuh dan tidak peduli. Entah oranglain menilaiku bagaimana, aku juga tidak peduli.
“Semua, tolong bekerja dengan giat. Nona Shin ada keperluan lain. Akan kembali setelah 2 jam lagi.”
“Cleo, Kamu tetap di sini saja. Biar saya pergi dengan supir kantor.”
“Tapi, Non...”
“Tidak perlu khawatir!”
Aku langsung masuk ke dalam mobil. Setelah semua selesai, aku akan mencari tahu tentang masalaluku. Karena terlalu banyak tanda tanya yang harus aku temukan jawabannya.
*to be contineu
__ADS_1