
“Lepaskan aku! Apa kalian tuli?”
“Maaf nona Rinella, ini perintah dari Nona Shin agar tetap menahan anda!”
“Cuih... dia dan selalu dia! Awas saja, aku akan memberi perhitungan!”
Suasana di tahanan sangat gaduh, belum lagi emosi Rinella yang naik, turun. Seperti orang gila yang sangat ingin memecahkan balon. Lalu menjadi pusat perhatian. Semua usahanya gagal, siapa yang merasa diuntungkan dan dirugikan, dia tidak peduli. Hanya ingin meminum darah segar Shinea. Itu hal utama yang diingatnya saat ini juga.
“Tolong antar saya menemui putri saya.”
“Baik pak, silahkan.”
“Rinella... Putriku. Kamu baik-baik saja kan?” (bodoh! Kenapa dia tidak sekalian saja menghukum mati Rinella. Dia tidak berguna, sudah tidak ada yang harus diharapkan!)
“Ayah! Aku ingin keluar, dan membunuh Syarla. Dia pantas mati ayah!” (aku sebaiknya meminta perlindungan padanya. Si rubah tua ini, dia sangat licik. Aku harus memanfaatkannya!)
“Apa yang membuatmu begitu bersedih sayangku?”
-Mendekat, dan menarik wajah Rinella. Tangannya, merayap sangat liar menuju arah yang tidak sewajarnya-
“Apa ayah suka melihat putri kesayangannya ini tersiksa? Sungguh kejam!”
“Tentu tidak gratis! Apa yang akan menjadi bayarannya jika ayah membantumu? Atau ...”
“Oh, ayahku tersayang. Aku sangat terharu, ayah selalu memanfaatkan tubuhku yang indah ini. Aku akui, ayah memang paling hebat dalam tawar menawar.” (Lebih baik aku ikuti hawa nafsu si rubah tua ini. Hmmm)
“Baiklah! Ayah akan membebaskanmu dari penjara.”
“Ayah sungguh baik padaku.”
Tontonan yang sangat tidak wajar. Hubungan mereka tidak seperti anak dan ayah saja. Tapi, ini bukan rahasia lagi. Semua orangpun mengetahui hubungan terlarang mereka. Tapi, ini sungguh sangat mengganggu dan menjijikan sekali. Kedua pihak itu mencari keuntungan demi ambisi tersendiri.
“Pak, saya ingin putri saya bebas!”
“Tidak bisa pak, ini sudah menjadi tanggungjawab kami, dan juga pihak dari nona Shin belum mencabut tuntunannya terhadap putri bapak!”
“Apakah anda ingin membuat saya marah? Saya bisa membuat anda kehilangan pekerjaan karena hal ini.” (saat ini, bocah ini sangat membuatku bergairah. Aku tidak ingin membuat kesempatan itu hilang begitu saja.)
“Maaf pak, saya tidak berani. Baik, bapak tunggu! Saya akan membuatkan surat kebebasan atas putri Bapak!”
“Ayo sayang, kamu bebas langsung hari ini.”
“Aku sayang ayah.” Mencium langsung di depan umum.
“Hari ini, kita langsung pulang ya, sayangku.” (Saat aku berfikir dia tidak berguna, justru dia selalu membuatku ingin merasa puas) -tertawa kecil-
__ADS_1
“Ayah, aku sudah tidak sabar. Menikmati cinta kita, sudah lama ini aku kesepian.”
“Sudah sampai, biar Ayah gendong kamu ke kamar ya.” (Ini adalah hal yang paling ingin kulakukan. Menikmati dirinya, dan menyentuh tubuhnya.)
“Ahhh, sayangku. Kamu semakin pintar!”
Braaaakkkk.... membuka pintu.
(Melakukan hubungan terlarang)
“Mmmmm...” menggerang terangsang.
...
“Ayah, aku belum puas.”
“Ayah juga sayang...” (Melakukan hubungan terlarang)
“Uhhhh... ahhhh...”
-Suara yang terdengar keluar-
(Apa Papah dan Rinel ada di rumah ya. Aku sebaiknya mengeceknya.)
Berjalan menuju kamar Rinella, putri angkatnya. Saat itu pula dia melihat pemandangan yang sangat membuatnya kecewa dan hancur untuk pertama kali.
-Saling tatap dengan keadaan tanpa busana-
“Haha.. Istriku, jangan terkejut! Ini bukan kali pertama kamu melihat ini, benarkan?”
“Yaaaa... Tapi tidak dengan dia!”
“Oh, ibu. Sungguh disayangkan. Aku sudah sering melakukan ini dengan Ayah! Ibu tau, Ayah selalu kesepian. Aku sudah membuat Ayah merasa bahagia.”
“Kalian berdua! Tidak lebih hina daripada binatang!” marah dan menahan tangis.
“Istriku... sudahlah, jangan terbawa emosi. Ini hanya sebuah permainan saja. Aku hanya mencintaimu.”
“Aku tidak sudi!”
-pergi-
“Ayah, apakah Ayah hanya mencintai Ibu?” (Dia memang mata keranjang.)
“Ayah hanya mencintai kamu, putriku.” Mencium tangannya, dan meraba-raba tubuhnya.
__ADS_1
“Ssstttt... nanti Ibu denger. Mmhhhe”
“Kamu itu memang paling pintar mencari perhatian Ayah!”
***
-Tangis dan kecewa-
(Aku harus pergi ke mana? Padahal dia adalah anak yang selalu aku banggakan, tidak kusangka malah bermain api dengan Ayah angkatnya sendiri. Ini keterlaluan! Aku akan berjalan mengikuti arah jalan ini saja. Lebih baik aku pergi dan tidak untuk kembali lagi. Sudah terlalu banyak penghianatan yang telah suamiku perbuat. Aku sudah tidak sanggup!)
“Lina?” suara memanggil dari mobil.
“K-kamu....”
“Kamu kenapa menangis sendirian di jalanan seperti ini? Mari, masuk! Ikut pulanglah bersamaku!”
“Tidak Tuan Shinji, aku merasa sangat berterimakasih.”
“Tidak perlu sungkan. Mari!”
-masuk mobil-
“Apakah Tuan Fedro telah menyakitimu lagi?”
“Dia...” menunduk sedih.
“Dia bersama putri angkatmu, benarkan?”
“Bagaimana kamu bisa tahu hal itu?”
“Ini sudah menjadi rahasia umum. Kamu saja yang selalu tutup telinga, benarkan?”
“Kali ini, kamu menang!”
“Ikutlah bersamaku pulang, dan ceraikan saja suamimu itu.”
“Aku... tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Dia, dia mengancam akan membunuh ayahku.”
“Tidak usah khawatir, ikut aku.”
***
__ADS_1
-to be contineu