
Dring...dring.. -suara nada dering handphone-
Mengangkat hp, melihat no. Ternyata no. Asing. (Mengerutkan dahi.)
“Iya, halo?”
“Nona, tolong lepaskan anak saya. Rinella, ini sebuah perintah!”
“Oh, Tuan ternyata sangat to the point ya. Apa keuntungan saya membebaskan angella? Emm, maksud saya nona Rinella?”
“Kalo begitu, silahkan cek e-mail yang saya kirim. Itu akan berguna untuk membuatmu puas.” (Bagaimana Shinea? Aku tidak peduli dengan anak sialan itu. Tapi, jika dengan begini bisa membuatku menang dalam kesepakatan. Itu menjadi keuntungan!)
“Baik, saya cek dulu. Nanti saya telfon balik!”
-Menutup-
Membuka laptop, melihat kiriman e-mail. Sebuah video, tentang kejadian masalalu. Yang memperjelas jika ini bukan kecelakaan. Tapi, hanya video. Tidak akan bisa membuat kesepakatan ini berubah.
(Ini, apakah seperti itu kejadiannya? Kenapa sangat lucu.) Mengerutkan dahi lagi.
-mengambil hp, menelfon balik-
Tuuut...tutttt...
“Bagaimana nona?”
“Saya tidak puas, video tetaplah hanya video.”
“Ternyata nona ini bodoh ya! Pikirkan lagi, bagaimana jika video itu tersebar luas. Dan media tahu.” Mengompor-ngompori.
“Tentu saja, dunia akan menjadikanku sebagai sorotan utama. Tapi, dalangnya adalah anda sendiri. Yang akan rugi adalah saya, karena pasti banyak argument buruk tentang saya. Dan yang untung adalah anda sendiri, karena putri Tuan. Nona Angella!”
(Hmmm, tenyata sekarang dia tidak mudah aku kibulin. Mau tidak mau, saya akan sebarkan video itu.) -menahan tawa-
“Mmm, baik nona Shin. Tolong, jangan salahkan saya!”
-Menutup panggilan-
***
Tidak ada yang tahu, jika ini tamparan keras bagi Nona Shinea. Saat ini, tidak ada yang bisa membuat hatinya gentar. Dia masih kehilangan hatinya, semakin hari semakin tidak berperasaan. Mengingat dan membaca apa yang terjadi pada dirinya, sangat sulit untuk dipercaya. Begitu naif dan polos, tidak bisa melakukan apa-apa. Bodoh dan lugu.
__ADS_1
Waktu yang tepat untuk dirinya membalas dendam atas apa yang menimpanya di masalalu. Tidak ada yang bisa menghalangi. Mungkin, semua sudah diatur menjadi kemenangan.
(Aku, tidak ingin memanggil mereka dengan sebutan dulu. Dan yang lebih jelas lagi, aku bukanlah Syarla yang lemah itu. Aku Shinea, itulah kebenarannya. Aku benci masalalu itu.)
“Cleo, antar aku pulang ke rumah kakek!”
“Baik nona..” (Kasian nona Shin, begitu banyak tekanan. Padahal, dia sudah ditekan sama tuan besar.)
-dalam perjalanan-
(Kek, aku tidak tahu. Rasanya sakit sekali kepala ini, sangat menyakitkan melihat video itu. Hanya aku tahan, kek. Aku tidak ingin lemah lagi, Kek.)
Tiiinnnn...tiiinnnnn...
“Nona, sepertinya ada mobil yang mengikuti kita. Bagaimana?”
“Berhenti saja!”
“Tapi, non...”
...
“Keluar!... Keluar!”
“Nona, biar saya saja yang keluar.”
“Biarkan saja, kamu hanya perlu telpon polisi!”
“B-baik non...” (kenapa tidak terpikirkan oleh saya. Kelihatannya, nona Shin sedang kurang sehat.)
-menelpon polisi-
(Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Ahhhhhh! Sakit sekali.)
“Saya bilang, keluar! Ini adalah perintah!”
“Nona, bagaimana ini. Polisi tak kunjung datang. Saya, takut nona kenapa-kenapa.”
“Jangan khawatir. Tidak perlu serius. Mereka hanya preman bayaran. Dan kita aman di dalam sini. Bahkan, senjata pun tidak tembus! Hanya, semua kebisingan ini membuat kepala saya sakit. Saya hanya ingin segela pulang dan beristirahat!”
Wiiiiiuuuuuuw...wiiiiuuuuuuwwww...
__ADS_1
“Polisi! Polisi! Cepat masuk mobil.”
(Sial, sepertinya hari ini bukan hari keberuntunganku!)
“Lihat, mereka takut pada polisi. Berarti hanya penjahat biasa! Cepat lanjutkan.”
“Baik Nona...” nada semangat.
-Rumah Kakek
“Kek, aku pulang!”
“Cucuku, akhirnya kamu pulang nak.”
(Apa yang terjadi, aku tidak bisa menahan rasa sakit ini lagi. Semakin tidak terkendali.)
Bruuukkkk..
“Nona! Tuan, nona pingsan.”
“Bawa dia ke kamarnya!” (Apa yang membuat dia kesakitan? Siapa yang berani menyentuh cucuku!)
“Cleo! Cleo!”
“I-iya Tuan.”
“Apa yang terjadi pada cucuku?!”
“Hari ini Nona bertemu dengan Nona Rinella Angellina. Yang Nona Shin sendiri sering memanggilnya Angella. Dan tadi juga Tuan Fedro menelpon Nona.”
“Tuan Fedro? Apa dia ayah angkat Rinella?” (Berani sekali dia!)
“Iya Tuan, dan juga. Tadi, di perjalanan ada sekelompok preman yang mau menculik Nona. Saya lihat Nona sudah sangat kelelahan.”
“Kamu pergi!” (Dia cucu kesayanganku. Sedikit saja menyakitinya, akan ku balaskan!)
(Sepertinya Tuan tidak tahu apa yang sudah dilakukan Tuan besar pada Nona, sebaiknya saya tidak ikut campur dalam hal ini.)
Kakek mengambil HP dan menelpon seseorang.
“Halo?”
__ADS_1
.....
*to be contineu