
"Saya terima nikahnya as shifa fazilah binti Bukhari dengan maskawin seperangkat alat sholat dan tujuh puluh gram emas tunai"
"Bagaimana para saksi sah"
"Sah"
"Alhamdulillah"
Ucapan sukur di memenuhi ruangan berbau oabat itu, ada beberapa orang ruang itu yang menyaksikan pernikahan tetutama dari keluarga Sifa., Sifa yang medengar kalimat sakral itu tanpa sadar meneteskan air matanya. perasaan ya kini campur aduk ada rasa bahagia karena bisa memenuhi permintaan abahnya dan ada rasa sakit, benci,marah,kecewa karena mulai saat ini dia menjadi istri sah gurunya menjadi menyata.
Dengan tangan yang gemetar Sifa kini menyalimi tangan guru yang telah menjadi suaminya itu.
Kini Sofi mengangkat tangan kanannya, lalu meletakkan ke ubun-ubun milik sifa, tangan kiri lelaki itu tengah mengadah sejajar dengan dadanya, ia pun mulai melantunkan do'a-do'a dengan cukup lama.
cup
Satu kecupan namun cukup lama berhasil mengerut kesucian kening yang selama ini Sifa jaga, ada rasa marah dan benci di hati Sifa ketika mengetahui keningnya kini telah ternodai
Tanpa mereka sadari orang yang telah menikah mereka kini telah menutup mata. Sifa mengalihkan pandangannya menatap Abah iya berharap bisa melihat senyum yang terukir di wajah Abah namun semua harapan itu sirna.
"Abah...." lirih Sifa yang melihat Abah menutup mata. air mata kini membasahi wajahnya, suara Isak tangisan memenuhi ruangan itu.orang-orang yang ada di sana kini saling menenangkan Sifa.
"Sifa kamu tenang sif" ucap Sofi berusaha menenangkan istri kecilnya, namun bukannya sifa tenang malah ia semangkin menangis ketika mengingat sekarang dirinya sudahmenjadi seorang istri.
"A..aku ma..mau cerai" seru Sifa terbata. Sifa berpikir tidak ada gunanya ia menjadi istri bila Abah sudah tidak ada, dia menikah nanya karena Abah tapi bila Abah tidak ada buat apa pernikahan ini di pertahankan, dia hanya ingin melihat Abah senang namun bukan senyum yang ada di wajah abah malah mata Abah yang tertutup untuk selamanya.
Deg
ada goresan kecil di hati Sofi ketika kata cerai keluar dari mulut Istrinya, Sofi tidak habis pikir sebegitu mudah kata-kata itu keluar dari mulut Sifa, bahkan pernikahan ini baru terjadi beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
"Sifa jaga ucapan mu itu tidak baik" ucap Reza yang mendengar adiknya meminta cerai. Sifa tak menanggapi ucapan kakanya ia hanya pokus pada Abah yang hendak di bawa perawat entah kemana.
"Abah.. hiiiks hiks.. Abah"
"Suster jangan bawa pergi abahku" ucap Sifa menahan tangan suster agar tidak pergi, namun cekalan itu segera di lepas oleh Reza.
"Sifa ikhlaskan Abah, biar Abah tenang di sana"
"Kaka mudah bilang seperti itu tapi aku? aku gak bisa kak, aku butuh Abah, siapa yang melindungi Sifa bila gak ada Abah.. siapa yang ngertiin Sifa bila gak ada Abah, siapa yang akan mendengar kan keluh kesah Sifa bila tidak ada Abah" lirih Sifa sembari menangis.
Yah Sifa selama ini sangat dekat dengan Abah dibandingkan uminya. ia selalu menceritakan apa saja kepada abah bahkan ketika Sifa sakit bukan umi yang ia panggil untuk menemaninya tetapi Abah yang ia cari agar menemani dirinya, dan Abah tidak mempermasalahkan itu,mungkin karena Sifa seorang anak perempuan bungsu di keluarganya.
Kini almarhum Abah hendak di makamkan, bayak orang yang datang di tempat pemakaman untuk mendoakan, kecuali umi ia masih pingsan di kamar sejak ia mengetahui abah telah tiada. sedangkan Sifa ia hanya bisa menangis tak terima dengan keadaan.
"Ya Allah kenapa kau ambil Abah dari ku, kenapa bukan aku yang kau ambil" batin Sifa
"Umi, umi harus tenang kasihan Abah di sana bila kita menangis nya" ucap Sofi menenangkan mertuanya sebelum ia pulang.
"Sofi, umi titip Sifa yah" ucap umi sembari melihat Sifa yang tertidur di sofa
"Dia pasti sangat kehilangan, karena selama ini dia yang paling dekat dengan Abah. Sofi sayangi Sifa sepenuhnya, jangan pernah membuat ia menagis cukup ini yang menjadi terakhir kalinya ia menangis" yang di bales dengan anggukan kepala oleh Sofi
"Dia sebenarnya sangat lemah, hanya saja ia selalu menyembunyikan kelemahannya, dia tak mau membuat orang-orang di sekitarnya khawatir kepadanya"
"Sofi bila Sifa keras kepala, agak membangkang, maaf kan dia, umi mohon jangan pernah kamu membentak nya karena Sifa sangat sensitif hatinya"
"Iya umi" jawab Sofi
"Umi percaya kepada pilihan Abah, Abah pasti tidak akan salah memilihkan Suami untuk anaknya" ucap umi lalu lekas pergi dari tempat itu menuju kamar menumpahkan semua kesedihan di sana.
__ADS_1
Sofi kini mendekat kearah Sifa, ia mengangkat tangannya meletakkan di kepala Istri kecilnya, memberi usapan halus di sana, membuat si empu tambah nyenyak dalam tidurnya. sebenarnya Sofi ingin membawa Sifa pulang kerumahnya namun melihat keadaan yang masih dalam keadaan duka membuat Sofi mengurungkan niatnya.
"Satu Minggu, saya ijinkan kamu tetap tinggal di sini" gumam Sofi lalu ia memberi kecupan di dahi istri nya lekas itu ia pergi menuju kerumah.
Hari demi hari kini telah berlalu seperti biasanya Sofi akan bulak-balik dari rumah kerumah mertuanya untuk menemui istri kecilnya, tak lupa membawakan makanan untuk Sifa dengan alasan tanggung jawab katanya, mesikpun Sifa sudah beberapa kali menolak dan tidak memakan makanan bawaannya, namun Sofi tetap seperti itu sampai datang pada waktunya Sifa harus ikut pulang kerumahnya.
"Gue gak mau" seru Sifa
"Sifa kamu harus ikut saya gak ada penolakan" tegas Sofi
"Pokoknya gue gak mau tinggal Ama lu" ucap Sifa sembari menunjuk kearah Sofi
"Sifa kamu gak boleh kaya gitu, itu suami mu" ucap umi yang sendari tadi melihat keributan rumah tangga kecil anaknya.
"Bodo amat, lagian Sifa mau cerai Ama dia" ucap Sifa sembari menatap Sofi tajam.
"Sifa" ucap Sofi menahan amarahnya. Sofi tak pernah sedikitpun untuk menceraikan Sifa, tapi kenapa istri nya itu selalu meminta cerai kepadanya.
"Sifa itu tidak baik sayang" ucap Sofi sembari meraih tangan Sifa.
"Lepasin gue, gue gak mau" Sifa kini memberontak berusaha melepas cengkal tangan itu.
"Sifa kamu harus ikut sumi mu surga kamu ada padanya sekarang, kamu gak boleh lawan" ucap Reza yang melihat adiknya terus melawan.
"Kak Reza Sifa gak mau jadi istri dia,dia itu gak cocok buat jadi sumai Sifa dia itu COCOKNYA JADI OM SIFA" seru Sifa, dengan penekanan di akhir kalimatnya
"Sof bawa ajah adiku secara paksa dia emang sedikit keras kepala" ucap Reza kesal kepada adiknya yang terus melawan. Sofi yang seperti mendapat lampu hijau pun langsung menarik Sifa dan memasukannya kedalam mobilnya secara paksa,meski Sifa terus meronta meminta di lepaskan.
"KAK REZA ZAHAT, awas sajah kau yah Sifa gak bakalan maafin Kaka" teriak Sifa di salam mobil.
__ADS_1