
Saat ini Arka dan Eila berada di kamar. Mereka baru saja menyelesaikan sesi pernikahannya. Masing-masing tidak ada yang ingin berbicara. Arka yang sibuk berkutat dengan laptopnya dan Eila yang sedang mandi.
Satu hal yang Eila ketahui dari Arka, bahwa Arka mempunyai seorang putri yang bernama Elylia. Waktu pertama bertemu dengan Elylia, Eila merasakan perasaan yang berbeda. Apakah benih kasih sayang tumbuh dihatinya? Entahlah.
Eila mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi, seusainya ia langsung tidur tak mempedulikan Arka yang masih sibuk dengan laptopnya.
¤¤¤
5.00 AM
Eila terbangun, ia merengganggkan tubuhnya, "hoamm."
Ia melihat Arka yang nampak pulas tertidur di sampingnya. Eila tidak berniat untuk membangunkannya, mungkin Arka lelah. Meski Eila membenci Arka tapi ia masih punya rasa kasihan.
Eila turun menuju dapur, memasakkan sarapan untuk Elylia dan juga Arka. Tapi sayangnya ia tak tahu apa makanan favorit Elylia.
"Gue masak apa ya enaknya? Tanya Bi Mina aja kali ?" fikirnya.
"Bi Mina." Panggil Eila yang melihat Bi Mina melewati dapur.
"Ada apa nyonya?"
"Makanan kesukaan Elylia apa bi?" tanya Eila.
"Non Elylia suka sama nasi goreng." Jawab Bi Mina.
"Makasih bi."
"Sama-sama nyonya. Kalau begitu saya tinggal dulu." Ucap Bi Mina meninggalkan dapur.
Setelah kepergia Bi Mina, Eila langsung memasak nasi goreng. Ia harap Elylia menyukainya. Tak lama kemudian Eila selesai memasak. Ia meletakkan sarapannya di meja makan, tak lupa juga ia membuatkan susu untuk Elylia dan menyiapkan bekal Elylia.
"Hari ini Elylia sekolah kan?"
Eila segera naik ke atas untuk membangunkan Elylia yang tertidur.
"Lia, bangun. Hari ini kamu sekolahkan." Ucap Eila mengguncang pelan tubuh Elylia.
"Enghhh." Lenguhnya.
Elylia mengerjapkan matanya berkali-kali, "5 menit lagi ma."
"Nanti kamu telat Lia, ayo bangun. Mama udah siapin sarapan kesukaan kamu nasi goreng." Ucap Eila.
"Siap komandan." Sorak Elylia bangun dari tidurnya dan masuk ke kamar mandi.
Eila kembali ke kamarnya untuk mandi. Ia melihat Arka yang masih tertidur pulas. Eila bahkan tak berniat untuk membangunkannya, Arka bangun atau tidak itu bukan urusannya.
Sekali lagi Eila harus mengganti pakainnya di dalam kamar mandi, mungkin seterusnya akan begitu juga. Seusainya, ia menuju kamar Elylia yang tengah bersiap-siap berangkat sekolah.
"Elylia." Panggil Eila.
"Iya ma?"
"Kamu sudah siap?" tanya Eila.
"Sudah, ayo turun." Ajaknya menggandeng tangan Eila. "Papa di mana ma?"
"Papa lagi tidur. Mungkin capek." Jawabnya.
"Tapi Elylia di suruh bangunin papa kalau belum bangun." Ujar Elylia.
"Yaudah, kamu sarapan dulu. Biar mama yang bangunin papa." Pinta Eila menuju kamarnya.
Eila mendekati Arka yang tertidur di ranjang, "Arka bangun, bangun." Ucap Eila mengguncang-ngguncangkan tubuh Arka.
"Ini manusia apa mayat sih, tidur pulas amat?" batin Eila.
"Arkaaaaa bangunnnn." Gertaknya.
Eila melototkan matanya, ia fikir apakah Arka sudah mati? Eila mengecek denyut nadinya, "masih hidup kok. Arka bangun, lo masih hidup kan?"
Tak ada jawaban.
Eila keluar dari kamar, "Elylia papa kamu nggak bisa dibangunin." Teriaknya dari atas.
"Cari notebook nya Lia aja ma. Di sana ada hal-hal tentang papa." Teriak Elylia dari bawah.
Eila segera mencari notebook yang di maksud Elylia. Setelah menemukannya ia tertawa sendiri, bagaimana anak sekecil Elylia mebuat buku seperti ini.
Judul: Hal yang ditakuti papa.
Papa takut sama kucing dan kecoa.
Eila membaca tulisan tersebut, ia tertawa. Baginya itu sangat lucu, bagaimana bisa Arka yang dikenal gagah takut akan hal seperti itu. Eila kembali membuka halaman berikutnya.
"Nah ini yang gue cari." Gumamnya.
Judul: Cara bangunin papa (mayat)
Cium dahi.
Cium pipi.
Cium bibir.
Peluk dari belakang, mengendus ke leher.
Peluk dari depan lalu cium bibir.
"Nggak ada cara selain ini? Gue ogah ngelakuin ini semua."
Eila keluar dari kamar Elylia, "Lia boleh minta bantuan kamu?" tanya Eila dari atas.
"Mmmm, maaf ma. Elylia mau berangkat sekolah. Makasih bekalnya mama. I love you." Ucap Elylia tersenyum manis.
__ADS_1
"I love you too." balas Eila lalu berbalik ke belakang.
"Astaga. Arka!!! Lo ngagetin gue tau nggak!" teriak Eila.
"Oh. Itu apa?" tanya Arka menunjuk buku yang dipegang Eila.
"Bukan urusan lo." Jawabnya beranjak turun.
"Tunggu." Tahannya. "Bisa nggak pake aku-kamu aja. Kitakan udah jadi suami-istri." Ujarnya.
"Bodoamat, terserah gue. Lagipula gue mau ngomong sesuatu sama elo." Ucapnya melepaskan tangannya dari genggaman Arka.
Arka mengikuti langkah Eila menuju meja makan. Sesampainya di meja makan, Eila dan Arka duduk. Eila tidak langsung memakan sarapan, tapi Arka justru sebaliknya. Ia makan dengan porsi yang begitu banyak. Rakus!
"Kamu nggak makan?" tanya Arka di sela-sela makannya.
"Nggak." Tolak Eila. "Gue mau buat perjanjian sama elo." Ucapnya membuat Arka mengerutkan dahi.
Eila mengambil selembar kertas dan pulpen, lalu menuliskan sesuatu di kertasnya. Setelah selesai ia menyerahkan pada Arka.
PERJANJIAN SELAMA MENIKAH BERLAKU UNTUK ARKA DAN EILA.
Tidak mencampuri urusan Arka/Eila.
Tidak boleh melarang jika Arka atau Eila pergi bersama orang lain baik itu cowok atau cewek.
Dilarang mengatur ini-itu atau menyuruh ini-itu.
Dilarang mengancam.
Dan jika salah satu melanggar maka ia harus diberi hukuman oleh pihak yang tidak melanggar.
"Aku nggak bisa penuhin permintaan kamu." Ucap Arka setelah membaca surat perjanjiannya.
"Kenapa?"
"Karena aku suami kamu Eil! Mana mungkin aku nggak ikut campur urusanmu." Ucap Arka dengan eskpresi datar.
"Gue nggak peduli. Lagian sejak kapan lo peduli status kita? Gue harap sifat lo kembali kayak dulu lagi sok cool dan cuek." Teriaknya.
"Aku udah bilang jangan pake gue-elo. Pake aku-kamu Eil." Ucap Arka tapi tak dipedulikan Eil.
¤¤¤
Setelah debat dengan Arka di meja makan tadi Eila tidur di kamar. Sedangkan Arka sibuk mengerjakan tugasnya. Ia memang tidak pergi ke kantor, tapi ia tetap mengerjakan tugasnya. Toh, terserah Arka kan? Orang dia CEO nya.
Sampai siang hari Eila masih tertidur begitu juga dengan Arka yang tidur di sampingnya.
"Mama sayang kamu La. Kamu yang bahagia ya sama Arka. Jangan ngelawan suami nanti kualat loh. Selamat tinggal sayang."
"Mama!" teriak Eila terbangun dari tidurnya.
Wajah Eila penuh keringat, padahal di kamarnya terdapat AC. Perasaannya begitu khawatir dan cemas. Entah mengapa ia merasa sangat ketakutan.
"Cuma mimpikan?" gumamnya.
"Mama." Panggil Elylia.
Eila yang tadinya terburu-buru meghentikan langkahnya, "ada apa sayang?"
"Mama mau kemana?" tanya Elylia.
"Mama mau ke rumah nenek."
"Ikut." Pinta Elylia.
"Jangan sekarang ya sayang, mama buru-buru." Ucapnya mencium puncak kepala Elylia lalu pergi menuju garasi.
¤¤¤
Sesampainya di rumah ibunya Eila mengetok pintunya berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Ia memutuskan untuk menelfon adiknya.
"Halo, Erva kamu ada di mana?"
"Halo, kak hiks.. ibu kak... hiks.."
"Ibu?!! Ibu kenapa? Se-sekarang kamu ada di mana?"
"Di rumah sakit Jakarta."
"Kamu tunggu disana, kakak susul."
¤¤¤
Sesampainya di rumah sakit, Eila melihat Erva yang tengah duduk di kursi tunggu dengan wajah yang cemas.
"Erva." Panggilnya.
"Kakak." Ucapnya memeluk Eila.
"Gimana keadaan ibu?" tanya Eila khawatir setelah melepaskan pelukannya.
"Nggak tau kak, dokter masih meriksa ibu." Jawabnya.
Beberapa menit kemudian seorang dokter keluar dari ruang UGD, "dengan keluarga bu Elina?"
"Iya dok. Bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Eila dan Erva bersamaan.
"Bu Elina meminta kalian untuk bertemu dengannya." Ujar sang dokter.
Eila dan Erva langsung masuk ke dalam menemui ibu tercinta mereka. Buliran air turun dari pelupuk mata Eila dan Erva. Mereka hancur melihat ibunya yang terbaring lemah.
"Ibuu.. Eila sama Erva disini." Ucap Eila menggenggam tangan ibunya.
"Eila, ibu sayang kamu." Ucap Elina parau.
__ADS_1
"Eila tau bu."
"Eila, ibu minta maaf karena susahin kamu."
"Enggak, ibu nggak pernah nyusahin aku. Justru selama ini aku yang nyusahin ibu."
"Eila kamu harus janji sama ibu. Jaga adikmu, sayangi suami kamu. Ibu tau kamu menikah dengan Arka karena terpaksa, tapi ibu yakin perlahan-lahan pasti benih cinta akan tumbuh sayang. Sayangi Elylia juga seperti kamu menyayangi ibu. Dan kalau ibu pergi, jangan nangis. Ibu sangat-sangat sayang sama kalian. Selamat tinggal."
Tepat setelah mengucapkan selanat tinggal, Elina menghembuskan nafas terakhirnya.
"I-ibu, ibu. Bu bangun, Erva nggak mau kehilangan ibu..." Beonya.
Eila mendongakkan kepalanya, ia tidak boleh menangis meskipun ia ingin. Ia sudah berjanji pada ibunya untuk tidak menangis, jika ia menangis siapa yang akan menguatkan Erva?
Raut wajah Eila terlihat jelas jika ia sangat berduka, wajahnya memerah begitu juga dengan Erva yang menangis meraung-raung.
"Ibuu maafin Erva, ini semua salah Erva. Maafin Erva buat ibu kecewa, tapi tolong jangan tinggalin Erva bu.." Ucapnya penuh penyesalan.
"Erva jangan nangis. Kalau kamu nangis ibu pasti sedih di sana." Ucap Eilan mencoba menenangkan adik semata wayangnya itu.
Eila memeluk Erva erat, sata ini Erva butuh orang terdekat untuk menyangganya. Meskipun Erva sudah dewasa, tapi Eila tetap menganggapnya sebagai adik kecilnya.
"Tenanglah Erva, Tuhan sayang sama ibu. Mangkanya Tuhan manggil ibu lebih cepat. Ibu pergi karena ini udah takdir, bukan salah siapa-siapa." Ujar Eila melepaskan pelukannya.
"Eila."
Eila sontak menoleh ke sumber suara. Arka memeluknya erat.
"Arka... Ibu pergi selamanya.." Lirih Eila.
"Jangan ditahan, nangis aja kalau nangis. Jangan terlihat kuat kalau didepanku. Ini perintahku."
Eila menangis sejadi-jadinya mendengar ucapan Arka. Hatinya sesak, pikirannya buram, ia merasa sebagian dirinya telah hilang.
Arka mengelus punggung Eila untuk menenangkannya. Arka tahu Eila pasti sangat sedih.
"Maaf Eila."
"Aku akan mengurus pemakaman ibumu."
¤¤¤
Di pemakaman Erva dan Eila menatap sendu nisan yang bertuliskan nama ibunya. Seusainya pemakaman, Arka dan yang lainnya kembali kerumah Arka.
"Arka, ada hal yang mau aku bicarain sama kamu. Bisa bicara empat mata?" mohon Eila.
Arka menarik tangan Eila menuju kamar, "ada apa?"
"Kamu tau kan ibu udah pergi. Dan Erva sekarang tinggal sendiri. Boleh nggak kalau Erva tinggal sama kita?" tanya Eila ragu-ragu.
"Boleh."
"Beneran?" tanya Eila memastikan.
"Tapi ada syaratnya."
"Apapun syaratnya aku bakal terima." Ucap Eila yakin.
"Jangan pernah bantah ucapan aku, urusan kamu urusan aku. Dan kalau mau keluar izin dulu sama aku." Terang Arka.
Eila ragu, ia tidak setuju akan persyaratan yang diberikan Arka. Tapi jika ia tidak setuju Erva tidak akan di izinkan tinggal di sini.
Sekarang Erva adalah segalanya baginya, "baik aku setuju."
"Dan satu hal lagi, selalu pakai aku-kamu kalau bicara." Ujar Arka lalu pergi turun menemui Erva dan Elylia.
Eila mengikuti Arka menuruni tangga. Sekarang mereka berempat berkumpul di ruang keluarga.
"Ada yang ingin kukatakan pada kakak." Ujar Erva.
"Ada apa?"
"Aku hamil." Paparnya.
Eila membulatkan matanya, "apa! Kamu bencanda kan?" tanya Eila memastikan.
"Aku serius kak. Usianya 2 minggu. Ibu masuk rumah sakit karena aku bilang kalau aku hamil, dan jantung ibu kumat. Aku--"
"STOP ERVA! STOP! KAKAK, KAKAK KECEWA SAMA KAMU!" bentak Eila meninggalkan ruang keluarga.
Erva jatuh terduduk, ia menyesal membuat orang tercintanya kecewa. Ia menangis dalam diam.
"Erva kamu serius?" tanya Arka sekali lagi.
"Iya kak."
Arka menghela nafas kasar. Mengapa istrinya harus diberi cobaan yang berat?
"Elylia kamu hibur tante Erva dulu ya. Biar papa yang nyusul mama." Pinta Arka.
¤¤¤
Arka melihat Eila yang membenamkan kepalanya pada bantal. Ia tahu istrinya itu sedang menangis.
"Eil, aku tahu kamu sekarang marah sama Erva, aku tahu kamu kecewa. Tapi saat ini Erva butuh kamu, cuma kamu yang bisa nguatin Erva. Eil aku tahu kamu bisa lewatin ini, bicarain sama Erva baik-baik. Kita cari tahu siapa ayahnya." Terangnya.
Apa yang dikatakan Arka memang ada benarnya. Seharusnya ia menguatkan Erva, bukan malah menyakitinya atau membuat mentalnya down. Meskipun Eila kecewa pada Erva tapi rasa sayangnya mengalahkan itu semua.
Eila bangun lalu menghampiri Erva, "Erva kakak minta maaf. Kakak seharusnya nggak membentak kamu. Maafin kakak." Mohon Eila memeluk Erva.
"Ini bukan salah kakak. Ini salahku." Ujar Erva melepaskan pelukannya.
"Jadi siapa ayah dari anak yang kamu kandung?" tanya Eila.
"Dia.."
__ADS_1
¤¤¤