
¤¤¤
Pulang dari kerja, Eila langsung menuju kamar. Bukan kamarnya, melainkan kamar tamu. Ia tidak ingin satu ranjang dengan Arka untuk saat ini. Eila naik ke lantai atas menuju kamar Elylia, di sana terdapat putrinya yang sedang menggambar. Padahal sekarang hampir pukul 10 malam.
“Lia sayang lagi gambar apa?” tanya Eila.
“Ini papa,” jawab Eila menunjuk gambar pria dewasa. “Yang di tengah Lia terus ini mama, di samping mama ada tante Erva.” Lanjutnya.
“Bagus banget anak mama kalau gambar,” puji Eila memangku Lia dan mengecup kedua pipi putrinya.
“Kamu daritadi di rumah sendiri?” tanya Eila.
“Enggak kok ma, papa tadi di rumah. Nganterin Lia sekolah, jemput Lia sekolah, ngajak Lia jalan-jalan, terus nemenin Lia bobok siang.” Terang Elylia dengan wajah yang bahagia.
Eila terdiam, ia berpikir kenapa Arka tidak masuk kerja? Tumben dia menghabiskan waktu dengan Elylia. Padahal selama ini dia sibuk bekerja, bekerja dan bekerja. Tapi ah sudahlah, Arka menghabiskan waktu dengan Elylia menurutnya pilihan yang tepat.
“Pasti kamu seneng bangetkan, terus sekarang papa di mana?”
Elylia menggeleng, “Lia nggak tau, waktu Lia bangun, papa udah nggak ada di rumah.”
“Yaudah kalau gitu, mama mau mandi dulu oke. Kamu sekarang tidur ya, udah malem.” Pamit Eila. “Lia bisa tidur sendiri kan?”
“Iya ma, selamat malam.”
“Selamat malam juga sayang,” ucapnya mengecup puncak kepala Elylia.
¤¤¤
Karena Arka tidak ada di rumah, Eila fikir hari ini tidak ada salahnya dia mandi di kamarnya. Eila menghabiskan waktu 30 menit untuk mandi, lalu keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk.
Ia bercermin, mengusapkan vitamin ke rambutnya agar tidak kering. Setelah itu ia mengambil pakaiannya di lemari. Tepat saat Eila akan melepaskan handuknya, pintu kamarnya di buka, terdapat Arka di sana dengan wajah kusutnya.
Eila yang hanya menggunakan handuk seketika panik. Dia menutupi dadanya dengan tangan, membelakangi Arka lalu berjalan perlahan menuju kamar mandi. “Apes banget sih.” Umpatnya dalam hati.
Arka yang melihat Eila berjalan menuju kamar mandi seketika menahannya, ia memeluk Eila dengan erat.
Eila terdiam karena terkejut dengan tindakan Arka yang tiba-tiba memeluknya, beberapa detik kemudian ia memberontak mencoba melepaskan pelukan Arka, “apa-apansih, lepasin nggak!” gertaknya.
Bukannya melepaskan, Arka malah memperat pelukannya. Ia tak peduli jika Eila bertambah marah padanya, yang terfikirkan di otaknya saat ini hanya ingin memeluk Eila.
Eila berusaha mendorong Arka hingga akhirnya Arka melepaskan pelukannya. Eila menatap Arka dengan pandangan sinis dan kesal.
“Eil, maafin aku. Aku tau aku salah, aku mau kita ngulang dari awal.” Mohon Arka.
“Aku nggak mau.” Tolak Eila.
“Please, kasih aku kesempatan lagi Eil,” ucap Arka memohon dengan wajah melasnya.
Pertama kalinya Eila melihat Arka yang seperti ini. Arka yang biasanya angkuh dan gagah, kini memohon pada Eila dengan tatapan melas.
Meski begitu Eila tetap dengan keputusannya, ia tidak akan memberikan Arka kesempatan untuk kedua kalinya. “Aku udah bilang ke kamu kal-”
Ucapan Eila terhenti karena ciuman Arka yang mendarat di bibir Eila. Eila membulatkan matanya, ia mencium bau alkohol, “Arka mabuk?” pikirnya.
Tak lama setelah berciuman, Arka jatuh pingsan dalam pelukan Eila. Eila kemudian menuntun Arka lalu membaringkannya di ranjang, ia menutupi tubuh Arka dengan selimut agar Arka tak kedinginan.
¤¤¤
Eila kini berada di samping Arka yang tertidur, ia mengusap-usap rambut Arka. Ingin rasanya ia marah tapi ia kasihan melihat Arka yang seperti ini. “Bodoh banget sih jadi cowok. Punya masalah malah mabuk,” kesalnya. “Andai bunuh orang nggak dosa, udah gue bunuh lu.”
Daripada ia membuang tenaganya hanya untuk memarahi Arka yang sedang tertidur, ia memilih memejamkan matanya sebentar untuk beristirahat. Tanpa terasa akhirnya ia ikut tertidur pulas di samping Arka.
¤¤¤
Matahari sudah memancarkan cahayanya yang menyilaukan, tapi masing-masing Eila dan Arka masih menutup matanya dengan rapat.
Keduanya lelah, Eila yang lelah karena bekerja dan masalah yang datang satu-persatu dan Arka yang frustrasi memikirkan agar ia dapat mendapatkan kesempatan dari Eila.
10.00 a.m
Eila terbangun, ia mengerjapkan matanya berkali-kali lalu melihat jam yang menunjukkan pukul 10. Ia merenggangkan tubuhnya kemudian melihat sosok di sampingnya yang sudah hilang entah kemana.
Tiba-tiba ia teringat hal-hal yang di lakukan Arka kemarin yang membuatnya terluka, ingin sekali ia mencakar dan mencabik wajah Arka. Tentu ia marah, tapi jika memikirkan Arka yang kemarin mabuk, hatinya sedikit luluh. Entah mengapa ia tak tega melihat Arka memiliki beban berat.
“Stop Eil, itu kesalahan Arka. Jangan luluh, harus teguh.” Tegas Eila menyadarkan dirinya sendiri.
¤¤¤
Setelah mandi Eila bergegas turun untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Ia segera menuju ke dapur. Di dapur ia dikejutkan dengan Arka yang sedang memasak menggunakan celemek. Eila ingin tertawa tapi ia menahannya.
Arka menyadari keberadaan Eila, “udah bangun Eil? Aku lagi masakin kamu nasi goreng.” Ujar Arka.
Eila hanya diam, ia menyandarkan kepalanya di dinding sambil melihat Arka yang sedang memasak. “Emang bisa masak?” tanya Eila.
__ADS_1
Arka menggeleng, “tadi udah nonton tutorialnya jadi tau sedikit-sedikit.”
Perlu kalian tau, Arka saat ini ingin menjadi suami yang baik. Ia ingin meluluhkan hati Eila agar diberikan kesempatan sekali lagi untuk mengulang semuanya dari awal.
“Nggak perlu, kamu ingetkan aku alergi nasi. Nggak usah repot-repot masak dan jangan belagak sok jadi suami yang baik kalau niatnya biar aku maafin kamu.” Terangnya. “Lagipula aku udah maafin kamu, tapi bukan berarti aku ngasih kamu kesempatan satu kali lagi.”
“Eil, please ak-”
“Silahkan kamu berusaha sekeras mungkin Arka tapi inget, jawabanku tetep sama.” Potong Eila.
Eila mendekati Arka, ia melihat masakan Arka yang berantakan alias salah kaprah dalam membuatnya. Eila mengambil secuil nasi yang Arka masak lalu meminta Arka untuk mencicipinya.
Mata Arka mengerjap berkali-kali, Eila yakin pasti rasanya aneh. “Gimana? Enak nggak?” tanya Eila.
Arka menggeleng, “terlalu asin.”
“Mangkanya kalau nggak bisa masak ya nggak usah masak. Ini nasi goreng asin siapa yang mau makan? Kan buang-buang bahan makanan jadinya.” Omel Eila.
“Maaf Eil,"
Eila memutar bola matanya malas, “sini aku ajarin.” Ucap Eila mengambil satu celemek lagi lalu ia kenakan.
“Serius Eil?” tanya Arka tak percaya, Eila hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Pertama, kamu kupas dulu bawang putih sama merah, terus potong kecil-kecil.”
Arka mengikuti arahan yang diberikan Eila sesekali mencuri pandang wajah Eila yang menurutnya bertambah cantik.
“WOY LAGI NGAPAIN, ROMANTIS AMAT!” Gertak Kris yang tiba-tiba berada di belakang Eila dan Arka.
Arka mengelus dada, sedangkan Eila yang terkejut tak sengaja mengiris jarinya yang membuatnya mengeluarkan darah segar. “Aw,” ringisnya.
Arka dan Kris seketika panik.
“Eh-eh Eil, gu-gue ga bermak-”
“Lo cepet ambil kotak P3K!” gertak Arka.
Kris berlari mengambil kotak P3K yang Arka maksud, sedangkan Arka menghisap darah yang keluar dari jari Eila lalu meludahkannya di wastafel tempatnya mencuci piring. Arka membilas tangan Eila dengan air agar darahnya berhenti keluar membuat Eila meringis kesakitan.
“Aduh-duh perih tau,” ringisnya.
Kris yang baru saja datang langsung membuka kotaknya, kemudian Arka segera mengobati luka Eila.
“Iya, sorry ya Eil.”
Arka membantu melepaskan celemek yang Eila gunakan, “hari ini dan seterusnya jangan ke dapur dulu biar bi Mina yang masak, tunggu sampai jari kamu sembuh.” Larang Arka.
“Kok gitusih, nggak mau..” Tolak Eila. “Lagian ini cuma luka kecil doang, nggak usah lebay deh.” Imbuhnya.
Arka tak menggubris ucapan Eila, ia membuatkan 3 potong sandwich untuk Eila dan menuangkan air mineral ke gelas. “Nih makan, kasian adek bayinya kalau nggak di kasih makan.”
“Sejak kapan perut lo ada adeknya Eil?” tanya Kris tak percaya.
“Ngomong apasih lo, Arka cuma bercanda, mau aja lu dikibulin.” Cibir Eila.
“Lia mau punya adik kah?” tanya Elylia yang tidak tahu kapan datangnya. “Yeeeyy Lia mau punya adek, nanti bisa main bareng, Lia jadi nggak kesepian deh.” Sorak Elylia senang.
Elylia mendekati Eila menyentuh perut datar milik Eila. “Adek bayinya ada di sini kan, masih kecil ya.” Ucapnya polos sambil mengelus-elus perut Eila.
“Lia sayang, dengerin mama ya, di perut mama itu enggak ada adeknya, papa tadi cuma becanda sayang.” Terang Eila membuat wajah Elylia seketika murung.
Eila memang tidak ingin membuat Elylia sedih, tapi jika ia tidak mengatakan sebenarnya maka itu akan membuat Elylia berharap tinggi bahwa ia akan memiliki seorang adik.
“Lia nggak boleh sedih, nanti papa sama mama buatin Lia adek yang banyak, oke.” Sahut Arka membuat Eila menatap kepadanya dengan mata yang melotot.
“Beneran ma, pa? Janji ya?”
“Janji,” ucap Arka.
Eila masi terdiam, ia tidak bisa berjanji.
“Mama kok diem? Mama nggak sayang lagi ya sama Lia?” tanya Elylia dengan nada sedih.
“Enggak kok, mama sayangggg banget sama Lia.”
“Kalau gitu mama harus janji buatin Lia adek.” Ucapnya.
Eila terdiam, ia berfikir sejenak. “Oke, mama janji.” Ucap Eila semata-mata agar putrinya bahagia.
¤¤¤
Hari ini Eila memutuskan untuk tidur di kamarnya. Seharian penuh ia tidak melihat Arka berkutat dengan laptopnya, bahkan malam ini Arka langsung membaringkan tubuhnya di sampingnya.
__ADS_1
Eila sudah memaafkan Arka, ia tidak ingin memendam kebencian pada Arka karena pada akhirnya dia sendiri yang akan lelah. Jika ia tidak memberi maaf dan tetap mengingat kejadian lalu yang Arka lakukan justru akan menyakiti dirinya sendiri. Ia ingin berdamai dengan luka, tapi ia tidak akan membukakan hati ataupun memberi Arka kesempatan.
“Udah nggak marah sama aku lagi Eil?” tanya Arka.
“Enggak.”
“Aku udah dimaafin?”
“Udah,” jawab Eila singkat.
“Berarti bisa buat debay kan?”
Eila membalikkan tubuhnya menghadap Arka, “ngomong apaasih. Aku emang udah maafin kamu, udah nggak marah sama kamu, tapi bukan berarti mau buat debay sama kamu.” Terangnya. “Buat aja sana sama Chelsea,” gumamnya.
“Kok gerah banget ya? Padahal AC nya nyala, rusak apa gimanasi?” batin Eila bertanya-tanya.
Arka mendekatkan tubuhnya pada Eila lalu mendekap tubuh Eila dengan erat. Ia mengelus-elus rambut Eila yang harum dan halus, sang empu hanya diam karena sejujurnya Eila merasa nyaman diperlakukan seperti ini oleh Arka.
Setelah cukup lama mengelus rambut Eila, Arka mensejajarkan wajahnya pada Eila. Ia mengecup dahi Eila, kedu pipinya secara bergantian lalu mengecup bibir Eila yang lama-kelamaan menjadi *******.
“Eil,” panggil Arka lembut.
“Kenapa?”
Arka tampak berfikir cukup lama, terlihat bahwa ia ingin mengucapkan sesuatu tapi ia urungkan. “Nggak kenapa-kenapa. Kita tidur aja oke.”
“Aku nggak ngantuk,”
Arka membenamkan wajahnya di leher istrinya, Eila tak merasa keberatan, tak lama kemudian ia merasakan hembusan nafas Arka yang teratur. “Udah tidur ya?” batinnya.
Tiba-tiba ponsel milik Eila bergetar, ia meraba nakas mejanya lalu mengangkat panggilan yang masuk. Terdapat nama Louis di sana. “Tumben jam segini telfon?” gumamnya.
“Halo Lou ada apa?”
^^^“Bisa ketemu sekarang nggak Eil?”^^^
“Emang kenapa? Urusan kantor?”
^^^“No, nggak ada hubungannya sama kerjaan.”^^^
“Lo ada masalah? Oke, ketemuan di mana?”
^^^“Di The X Cafe,”^^^
“Oke, gue otw ke sana sekarang.”
Telfon di matikan, Eila melihat Arka yang tertidur lelap. Ia turun dari ranjang perlahan-lahan agar tidak mengganggu Arka yang tertidur, ia mengganti piyamanya menjadi pakaian santai lalu mengambil kunci mobil, tas, dan ponselnya. Eila berjalan mengendap-endap agar tak membangunkan penghuni rumah. Langsung saja ia menuju garasi dan meminta satpam untuk membukakan gerbang rumahnya.
¤¤¤
Sesampainya di cafe, mata Eila mencari sosok Louis, ia menemukan Louis ruangan cafe paling ujung yang jauh dari keramaian. Ia mendekatinya, terlihat wajah Luois yang murung. “Lou, lo nggak papa?” tanya Eila memastikan.
Louis mengangkat kepalanya, Louis mendekati Eila yang masih berdiri. Ia memeluk Eila dengan erat, Eila sedikit terkejut dengan tindakan Louis, tapi pada akhirnya ia membalas pelukan Louis dan mengusap punggung sahabatnya itu agar merasa tenang.
“Eil, gue nggak mau dijodohin.” Gumam Louis.
Eila mengernyitkan dahinya, “kenapa nggak mau?” tanyanya.
“Karena gue nggak suka cewek pilihan mama,”
“Lou, cewek itu pilihan mama lo, pasti cewek baik-baik. Nggak mungkinkan kalau mama lo pilih jodoh asal-asalan. Mama lo pasti milihin jodoh yang menurutnya terbaik buat lo, mama lo tau apa yang harus dilakukan agar anaknya bahagia.” Terang Eila, ia melepaskan pelukannya lalu menyuruh Louis untuk duduk diikuti ia yang duduk didepan Louis.
“Oh ya? Kalau emang pilihan orang tua itu yang terbaik harusnya lo bahagia dengan pernikahan lo, buktinya sampai saat ini lo nggak pernah merasakan manisnya pernikahan kan?” Balas Louis.
Eila hanya diam membeku, ia tak tau harus menjawab apa. Karena semua yang Luois katakan itu benar.
“Gue nggak mau menikah sama orang yang nggak gue cintai Eil,”
“Lou denger, gue sama Arka menikah bukan dijodohin tapi untuk ngelunasin hutang-hutang nyokap gue ke Arka. Anggep aja bisnis atau istilah jahatnya gue dijual, itu beda lagi sama lo yang murni dijodohin sama nyokap lo.”
“Lo coba buka hati buat wanita pilihan nyokap lo dan lupain cewek yang lo sukai. Gini deh, lo suka dia, emang dia suka lo? Apa dia peduli sama hidup lo? Nggak kan? Lupain dia Lou.”
Lou menatap mata Eila. “Dia selalu ada buat gue, orang pertama yang ngerangkul gue ketika gue susah ataupun lagi ada masalah dan-”
Eila menyela ucapan Louis, “oke, meskipun begitu, dia nggak ada perasaan sama sekali sama lo kan?”
“Gue nggak tau,”
“Lupain dia Lou,”
“Eil, gimana bisa gue ngelupain orang yang selalu ada buat gue. Semakin gue usaha buat pura-pura nggak peduli sama lo, gue nggak bisa. Gue nggak mau mengakui kalau gue suka sama lo, tapi itu ngebuat rasa sayang gue bertambah besar. Gue nggak bisa nikahin cewek lain Eil.” Terang Louis membuat Eila tak percaya.
Eila mencoba mencerna setiap kata yang di ucapkan Luois. “Maksud lo, cewek yang lo suka itu...”
__ADS_1
¤¤¤