Love Or Work

Love Or Work
Chapter 06- Love or Work


__ADS_3

¤¤¤


Pukul 5 Kris masih saja enggan untuk pulang. Ia tengah menunggu Arka pulang dari kantornya. Sedangkan Eila sekarang berada di kamarnya, ia membaringkan tubuhnya lalu memejamkan matanya sebentar.


Ponsel Eila yang berdering membuat ia membuka matanya, ia meraih ponselnya di atas nakas meja. “Halo?”


^^^“Halo Eil, gue Louis. Hari ini kan Jennie sama Sam mau married, lo dateng ke sana sama siapa?”^^^


“Gue juga nggak tau,”


^^^“Gimana kalau lo berangkat sama gue?”^^^


“Boleh, nanti jam setengah 6 lo jemput gue ya,”


^^^“Oke, sip.”^^^


Setelah mematikan telfon, Eila bangkit lalu segera mandi karena sekarang sudah pukul 5.04, 20 menit kemudian ia selesai mandi, ia menggunakan dress selutut warna biru muda dengan area dada yang sedikit terbuka. Tak lupa ia menyisir rambutnya lalu memakaikan make-up pada wajahnya. Ia memakai anting warna yang senada dengan dressnya, begitu juga dengan high heelsnya.


Jam menunjukkan pukul 5.28, Louis pasti sudah menunggunya di depan. Ia mengambil dompetnya dan juga ponsel lalu keluar dari kamar. Ia menghampiri Kris, “Kris minta tolong temenin Elylia dulu ya, bentar lagi Erva pulang, gue ada urusan bentar.” Pinta Eila.


“Emang lo mau ke mana? Cantik bener istrinya Arka.”


Eila memutar bola matanya, moodnya menjadi buruk mendengar nama Arka. “Gue mau ke kondangan, gue pergi dulu oke. Makasih,” ucap Eila lalu pergi menghampiri Louis yang sudah menunggunya di depan gerbang.


¤¤¤


Louis yang melihat Eila masuk ke mobilnya sedikit terperangah dengan kecantikan Eila. Entah mengapa, ia merasa Eila lebih cantik dan bersinar dari biasanya. “Lo cantik Eil,” puji Louis.


Eila tersenyum, “makasih, gue tau kok gue cantik. Mangkanya lo suka gue, iyakan.” Canda Eila.


“Dih, pd banget sih kalau gue suka lo.” Elak Louis.


“Hahaha, becanda Lou. Yuk jalan,”


Louis menjalankan mobilnya, awalnya tidak ada percakapan sama sekali. Hingga akhirnya Louis mencoba untuk memecahkan keheningan.


“Gimana, hubungan lo sama suami lo?” tanya Louis.


Eila menghela nafas, “ya begitulah, nggak ada yang menarik.”


Louis menoleh sebentar ke arah Eila lalu kembali fokus melihat jalan raya, ia tahu sahabatnya yang satu ini pasti ada masalah. “Kalau lo ada masalah cerita ke gue, gue kan sahabat lo, dan kalau butuh bantuan jangan sungkan minta bantuan ke gue.” Terang Louis.


Eila mengangguk, “iya Lou, makasih.”


¤¤¤


Sesampainya di tempat pernikahan Jennie dan Sam, Eila dan Louis langsung duduk di tempat yang disediakan. Mungkin sekitar 5 menit lagi acara pernikahannya akan segera dimulai.


5 menit kemudian pembawa acara membuka acara pernikahan. Dari proses pembukaan, isi dan juga penutupan di mana Sam dan Jennie saling berciuman. Semua sorak bertepuk tangan ikut bahagia dengan pernikahan sang pengantin.


Selanjutnya Louis dan Eila memakan hidangan yang di sediakan, entah mengapa Eila merasa menjadi pusat perhatian. Apa hanya perasaannya saja? Tidak. Itu memang benar, banyak yang terpesona dengan kecantikan Eila.


“Gila, lama nggak liat Eila tambah cantik aja tuh cewek.” Bisik salah satu seseorang.


Eila tak peduli, ia melanjutkan untuk menghabiskan makanannya. Setelah menghabiskan makananannya, Louis dan Eila kini menghampiri Sam dan Jennie untuk berfoto bersama, “hai Eil, lo cantik banget gila.” Puji Jennie.


“Lo juga cantik banget, selamat ya.” Ucap Eila memeluk Jennie.


“Yuk kita foto dulu, setelah acara nanti kita ngobrol bareng.” Ajak Jennie.


“Setelah acara kan kalian harus first night, nggak bisa gitu dong. Kita langsung pulang aja soalnya gue juga nggak bisa pulang terlalu malem, lo tau kan gue juga udah nikah.” Tolak Eila halus.


“Okedeh, nggak papa. Next time kita kumpul bareng.”


¤¤¤


Setelah berfoto dengan Sam dan Jennie, Louis dan Eila berdansa bersama. Tapi kakinya terasa sakit karena terlalu lama menggunakan high heels. Louis yang peka langsung menekuk satu kakinya, melepaskan heels yang di pakai Eila lalu mengajaknya pulang.


Eila baru sampai di rumah pukul setengah 9, ia mengucapkan terimakasih pada Louis sebelum masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu ia langsung menaiki tangga menuju kamarnya.


Di sana ia melihat Arka dengan wajahnya yang memerah. Pasti sedang marah, pikir Eila. Tapi ia tak peduli, ia menatap sekilas wajah Arka lalu membaringkan tubuhnya di kasur.

__ADS_1


“EILA!” bentak Arka. “Berani-beraninya kamu pergi sama cowok lain tanpa izin ke aku?!” gertaknya.


Eila tak menjawab, dia lelah ingin tidur.


“JAWAB AKU EIL!”


“Aku cuma pergi buat ke pernikahan temenku doang, itu aja nggak lebih.” Jawabnya mencoba sabar.


“Oh ya?” remeh Arka tak yakin dengan jawaban Eila.


Arka menarik lengan Eila membuatnya terduduk, “lihat baju kamu! Itu terlalu terbuka!”


“Biasa aja tuh menurutku,” bela Eila membuat Arka naik pitam.


“EIL! GIMANA BISA KITA SALING JATUH CINTA KALAU KAMU AJA JALAN SAMA COWOK LAIN TANPA IZIN KE AKU!”


“TERUS?! EMANG KENAPA? ARKA DENGER YA, KAMU SENDIRI YANG NGEBUAT AKU ENGGAN UNTUK BUKA HATI, KAMU SENDIRI YANG NGEBUAT HUBUNGAN KITA ITU BERJARAK!” balas Eila tak mau kalah.


Eila menurunkan nada suaranya mencoba mengontrol emosinya, “sekarang aku nanya, apa aja yang kamu lakuin di pasar malam kemarin? Apa yang kamu lakuin di kantor tadi siang? Hm? Ayo jawab!”


Arka terdiam.


“Kamu kira aku nggak tau? Aku tau Arka. Waktu di pasar malam aku mau ngomong kalau aku mau ngebuka hati aku untuk belajar mencintai kamu dan nerima kamu itu suami aku. Tapi apa yang aku dapat? Kamu bermesraan sama cewek lain?” Ungkap Eila menahan air mata. “Lalu tadi siang, aku sekali lagi ngelihat kamu bermesraan lagi, rasanya sakit tau nggak. Kalau kamu suka sama cewek itu, seharusnya kamu nikahin dia Arka, bukan nikahin aku.” Lanjut Eila, tangisnya sudah pecah, ia tak dapat menahannya lagi.


“Sekalipun aku nikah sama kamu karena terpaksa, aku nggak ada niatan untuk selingkuh dari kamu. Tapi ternyata, kamu sendiri yang ngehianatin aku.” Imbuhnya.


“Eil, a-aku bisa jelasin itu semua. Dengerin aku, oke.” Ucap Arka mencoba menenangkan Eila.


“Nggak perlu, nggak ada yang perlu di jelasin. Semuanya udah bener-bener jelas. Sekarang kamu mau pergi sama siapapun, ataupun bermesraan sama siapapun itu hak kamu dan aku nggak akan ngelarang kamu. Tenang aja kok, aku bakal tetep stay sama kamu, tapi itu cuma demi Elylia.” Terangnya.


Eila pergi keluar kamar. Ia melihat Erva yang berada di depan pintu kamarnya. Ia segera menghapus air matanya. “Kamu ngapain di sini?” tanya Eila.


Erva terkejut melihat wajah kakaknya yang memerah, ia ingin bertanya tapi ia takut. “Aku denger teriakan kakak, jadi aku-”


“Nggak usah di pikirin oke,” sela Eila. “Kakak nggak mau kamu sama janin kamu kenapa-napa karena stres mikirin kakak.”


Erva hanya diam, ia tau kakaknya tidak baik-baik saja. Tapi jika kakanya sudah bilang seperti tadi, ia tidak bisa berbuat apa-apa.


“Sekarang kamu tidur, udah malem.” Perintah Eila yang di angguki Erva.


¤¤¤


Eila menarik napas lalu membuangnya perlahan, ia lakukan berkali-kali lalu ia mencoba memejamkan matanya dengan tidur menghadap ke kanan. Meskipun begitu bermenit-menit ia belum bisa tertidur. Sampai akhirnya ia mendengar suara pintu terbuka. Ia enggan melihatnya, ia tak ingin ambil pusing mungkin saja itu Erva yang ingin menemaninya, pikir Eila.


Tapi dugaannya salah, itu adalah Arka. Karena sudah terbiasa tidur bersama Eila, Arka tidak bisa tidur jika tidak mencium aroma khas Eila. Ia memeluk Eila dari belakang, membenamkan wajahnya di leher Eila. Arka tidak tau jika Eila belum tertidur. Ia tau ia salah, Arka benar-benar menyesalinya dan ingin memperbaiki semuanya.


Eila yang di peluk Arka juga hanya bisa terdiam.


“Eil, maafin aku. Aku tau aku salah, harusnya aku nggak ngelakuin itu semua. Entah hilang kemana pikiran warasku waktu Chelsea menciumku. Aku bener-bener nyesel Eil, aku mau kita ngulang semua dari awal, ku mohon.” Lirih Arka.


Eila terdiam mendengar ucapan Arka. Ia tidak bisa percaya pada Arka. Hatinya masih terluka, ia dikhianati dan dikecewakan, membuatnya enggan untuk memberi Arka kesempatan kedua. Sangat susah untuk memaafkan Arka.


“Sudahlah, semuanya udah berakhir nggak ada yang perlu di ulang dari awal.” Batin Eila lalu ia tertidur.


¤¤¤


Pukul 6 Eila terbangun, ia tidak melihat keberadaan Arka di sampingnya. Mungkin bangun lebih awal. Badannya pegal semua, dan kepalanya begitu pusing. Ia keluar untuk sarapan, tapi ia mendapatkan pemandangan di mana wanita yang bermesraan kemarin siang dengan Arka sedang duduk di pangkuan Arka.


Eila terkejut, tapi beberapa detik kemudian ia tampak biasa saja dan seolah-olah tak peduli menganggap mereka tak ada. Ia mengambil 2 roti lalu mengoleskan selai coklat, tak lupa ia menuangkan air di gelasnya. Apa hati Eila terluka? Jawabannya tentu saja, tapi kali ini ia benar-benar tidak ingin mencampuri urusan Arka.


Arka mendorong wanita yang ada di pangkuannya lalu menghampiri Eila, tapi Eila memilih menghindar karena ia tidak ingin berbicara dengan Arka. Lagipula hari ini ia juga harus bekerja.


“AKHHH, CHELSEA HARI INI LO GUE PECAT! KELUAR DARI RUMAH GUE SEKARANG.” Teriak Arka.


“Kok di pecat sih? Nggak mau. Denger ya Arka mending lo tinggalin deh istri lo itu. Mending sama gue, lo nggak nikahin guepun bakal tetep gue kasih jatah kok, daripada istri-”


“KELUAR!” bentaknya.


“Oke-oke, gue bakal keluar dari perusahaan lo. Seenggaknya gue udah ngebuat hubungan lo dan istri lo retak? So, kalau lo butuh pemuas nafsu datang aja ke gue.” Ujarnya lalu meninggalkan rumah Arka.


¤¤¤

__ADS_1


Eila sudah siap berangkat ke kantor, ia memesan taxi online karena mobilnya hari ini di bawa Erva untuk kuliah. Saat akan memesan taxi online, ia mendengar pintu kamarnya di ketuk. Di sana terdapat Arka.


“Eil dengerin penjelasan aku-,”


Belum selesai bicara, Eila menyela ucapan Arka. “Arka, aku kan udah bilang semuanya udah jelas, nggak ada lagi yang perlu dijelasin jadi kamu nggak perlu buang-buang tenaga buat ngomongin masalah yang udah usai.”


“Eil aku tau kamu denger semuanya tadi, aku nggak mau ada salah faham. Apa yang Chelsea ucapin itu nggak seperti apa yang kamu-”


“Aku hampir telat Arka, aku berangkat kerja dulu.” Potongnya meninggalkan Arka sendirian dengan wajah frustrasinya.


¤¤¤


Wajah Eila begitu murung, ia sama sekali tak semangat bekerja. “Males banget gue akhh.”


“Kenapa sih Eil, daritadi gue perhatiin nggak ada senyum-senyumnya.”


“Audeh, capek banget kemarin habis dari pernikahan Sam sama Jennie.” Keluhnya.


“Mau makan siang bareng gue nggak nanti? Gue traktir deh.” Ucap Louis membuat wajah Eila kembali ceria.


Louis paling tau cara membuat Eila ceria. Diantara Jennie, dan Sam, Louislah yang paling dekat dengan Eila. Apapun yang Eila sukai dan tidak disukainya Louis tahu, bahkan kebiasaan-kebiasaan Eila.


“Mina mana ya? Gue nggak liat dia di ruangannya tadi.” Tanya Eila.


“Dia izin dateng telat, katanya ada urusan sama cowoknya.” Jawab Louis singkat.


“Perusahaan lo santai banget sih Lou, nggak kayak perusahaan punya tetangga yang saingan biar jadi nomer 1. Gue kerja kayak nggak ada tantangannya gitu, jadi bosen.” Terangnya.


“Gue nggak mau ngebebani karyawan-karyawan gue Eil, yang terpenting saham perusahaan nggak ada penurunan, naik perlahan lebih baik daripada naik melejit tapi nanti turun drastis, dan yang terpenting nggak ada skandal ataupun masalah di perusahaan gue. Intinya yang dikejar di perusahaan gue bukan gelar.” Jelas Louis.


“Tumben lo bijak.”


“Lo muji apa ngehina?”


“Dua-duanya, hehehe.”


“Lagipula saat ini gue belom tertarik bekerja sama dengan perusahaan lain karena belom cocok aja, nanti kalau ada kerjasama pasti sibuk banget lo sama karyawan-karyawan lain.” Imbuhnya.


“Gue mau tau sesibuk apa nanti,” ucapnya tak sabar.


¤¤¤


Sesuai janji Louis, mereka makan siang di restoran yang cukup mewah. Kalau Eila pergi sendiri ia takkan mampu membayar menu-menu yang disediakan.


“Lo serius Lou mau traktir gue di sini?” tanya Eila meyakinkan.


“Iyalah, masa becandaan.”


“Nanti lo nggak bakal nagih-nagih ke gue kan?”


“Astaga, nggak Eil. Tenang aja, lo kayak sama siapa aja.”


Eila hanya memesan sandwich dan juga air mineral, Louis juga menyamakan pesanannya dengan milik Eila, hanya saja ia memesan kopi untuk minumannya bukan air mineral.


“Lo tuh kalau di traktir sekali-kali kek beli yang mahal gitu, daridulu nggak berubah.” Ucap Louis.


“Astaga, gue juga sadar diri Lou. Biar nanti kalau giliran gue yang traktir, nanti lo belinya yang murah-murah aja. Kalau lo beli yang mahal, bisa-bisa gue nggak makan sebulan.” Terang Eila membuat Louis tertawa.


“Santai aja Eil,”


Beberapa menit kemudian, seorang waiter mengantarkan pesanan mereka. Setelah itu keduanya sibuk mengunyah makanan masing-masing.


Louis melihat ujung bibir Eila yang terdapat saus mayo. “Eil di bibir lo,” ucap Louis menunjuk ke ujung bibir Eila sebelah kanan tapi Eila menyentuh ujung bibirnya sebelah kiri.


Louis mendekatkan wajahnya ke wajah Eila, lalu mengusap ujung bibir Eila yang terdapat saus mayo hingga bersih membuat Eila diam membeku. Jantung Louis juga berdegup kencang, mata mereka tak sengaja bertemu, keduanya beradu. Beberapa detik kemudian saling membuang muka.


“Ekhem, ma-makasih,” ucap Eila.


“Sama-sama,”


“Inget Lou, Eila udah punya suami. Tenangin jantung lo,” batin Louis.

__ADS_1


Setelah makan siang, Eila dan Louis kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan mereka.


¤¤¤


__ADS_2