
¤¤¤
"Mphhh.."
Eila memukul dada bidang Arka, yang artinya ia kehabisan nafas. Arka yang faham langsung melepaskan ciumannya.
Eila mengambil nafas sebanyak mungkin, "kamu gila apa main cium aja?"
"Kenapa? Itu wajar dilakuin suami-istri." Ucap Arka santai.
"Wajar? Halooo mereka saling mencintai, tapi kita nggak! Don't ever kiss or touch me." Ucap Eila memperingatkan Arka.
"Kita bisa belajar saling mencintai."
"Akunya nggak mau cinta sama kamu." Ujarnya.
"Don't ever kiss or touch me?" Arka mengulangi ucapan Eila.
"Ya."
"But I will always kiss and touch you, karena itu hakku sebagai suami." Ucap Arka menatap Eila liar.
"Ke-kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Eila berjalan mundur hingga ia mentok di tembok.
Arka mengunci Eila dengan kedua tangannya agar tak bisa lari darinya. Tatapan mereka saling beradu, wajah mereka kian mendekat.
"Aku tahu kamu belum siap, tapi jangan pernah menolak ciumanku. Bukannya kamu harus menepati janji almarhumah ibu? Lagipula ini juga salah satu menumbuhkan benih cinta bukan?" terang Arka.
Eila diam tak berkutik, ia ingat akan janji almarhumah ibunya.
"Eila." Panggil Arka.
"Ahh ya maaf." Ucapnya. "Aku nggak akan menolak untuk hal tadi, tapi kamu harus izinin aku kerja."
"Nggak. Kamu lupa sama janji kamu? Selalu turutin apa yang aku ucapkan." Ujar Arka. "Kalau kamu ngelanggar Erva nggak akan aku--"
"Yayaya, aku ingat. Tapi maaf banget masalah pekerjaan, aku nggak mau kamu ikut campur."
"Huh, keras kepala." Gerutu Arka.
"Udah sana mandi, bau kecut tau nggak badan kamu. Daritadi aku nahan baunya biar nggak kehirup." Perintah Eila.
"Iya-iya."
Arka melepaskan jas dan juga bajunya di depan Eila. Terpampang perut sixpack miliknya dan bahunya yang lebar.
"Nih manusia ngapain buka baju depan gue? Maunya apa coba?" batin Eila.
"Kamu ngapain buka baju di depan aku?" tanya Eila menatap ke arah lain.
"Kenapa emangnya? Setiap wanita pasti suka bentuk tubuh laki-laki seperti ini." Ujar Arka.
"Itu artinya mereka nggak tulus cinta sama kamu, karena mereka cuma cinta sama tubuh kamu." Terang Eila.
"Oh ya? Tahu apa kamu tentang cinta yang tulus?" tanya Arka meremehkan.
"Cinta yang tulus itu menerima kamu apa adanya, menerima kekurangan kamu. Selalu ada ketika kamu susah dan senang." Terangnya. "Dan cinta yang tulus itu nggak memandang materi ataupun fisik, karena itu semua cuma sementara. Sedangkan cinta yang berasal dari hati akan menjadi cinta sejati."
Arka terperangah akan penjelasan Eila, ia seperti pernah mendengar ucapan itu sebelumnya. Di mata Arka, ada sosok lain yang berada dalam tubuh Eila.
"Arka!" panggil Eila.
"Eh, hah? Ada apa?" tanyanya.
"Kamu nggak jadi mandi?" tanya Eila.
"Jadi kok, aku mandi dulu." Ucapnya memasuki kamar mandi.
Setelah Arka masuk ke kamar mandi, Eila dapat bernafas lega. Ia turun menghampiri Erva dan Elylia.
Erva dam Elylia ternyata sedang bercanda di ruang keluarga sambil menonton tv. Eila duduk di samping Elylia.
"Hey bicarain apa? Kok ketawanya kenceng banget?" tanya Eila.
"Bukan apa-apa kok kak." Jawab Erva.
"Awas aja kalau kamu ngajarin Lia yang nggak baik." Ucap Eila menatap tajam Erva.
"Eng-enggaklah." Elak Erva.
"Oh iya, besok sepulang kakak kerja kita ke rumah Kevin. Bisa hubungin Kevin?"
"Sebenarnya aku udah hubungin dia kemarin malam tapi nggak dijawab, mungkin nomornya udah nggak aktif." Terang Erva.
"Kalau gitu besok kita ke rumahnya. Dan kamu lanjutin kuliah kamu dulu ya Va. Seenggaknya sebelum perut kamu terlihat buncit." Pinta Eila.
"I-iya kak."
"Lia tadi udah makan sama kak Erva kan?" tanya Eila.
"Udah kok ma." Jawab Lia.
"Yaudah kalau gitu ayo ke kamar kamu, sekarang udah malam kamu harus tidur. Erva kamu juga cepetan tidur, jangan begadang." Omel Eila.
"Iya, cerewet banget sih." Gumam Erva menuju kamarnya.
Eila memegang tangan Lia menaiki tangga. Sesampainya di kamar Eila menemani Lia menggosok giginya. Setelah itu Eila membacakan cerita dongeng agar Elylia tertidur.
Seusainya membacakan dongeng untuk Lia, Eila kembali ke kamarnya. Ia merebahkan dirinya, badannya lengket karena belum mandi.
"Arka kok belum kelar ya mandinya?" tanya Eila pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa menit kemudian Arka keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Eila yang melihat Arka telanjang dada merasakan pipinya memanas. Padahal tadikan ia sudah melihatnya. Tapi kali ini berbeda, rambutnya yang basah menjadi poin tambahan ketampanan Arka.
Eila segera masuk ke kamar mandi, ia harap Arka tak melihat wajahnya yang memerah. Eila menghabiskan waktu 1 jam untuk mandi air panas.
Seusainya mandi Eila memakai piyama lalu ia keluar dari kamar mandi. Terlihat Arka yang fokus menatap laptopnya.
"Kenapa belum tidur sih tuh manusia, piyama gue pendek semua lagi akhhh."
Eila merebahkan dirinya di kasur. Ia ingin tidur, karena hari ini begitu panjang membuatnya lelah. Tak menunggu waktu lama Eila tertidur.
Beberapa menit kemudian, Arka menutup laptopnya. Ia membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Ia melihat wajah istrinya yang begitu tenang saat tidur.
Arka meneliti wajah istrinya, alis yang tebal, hidung mancung, dan bibir yang mungil. Akhh, ingin sekali Arka menciumnya.
"Selamat malam." Ucapnya lalu menutup matanya.
¤¤¤
5.00 AM
Eila bangun dari tidurnya, pandangan yang ia lihat adalah wajah Arka yang tertidur pulas. Ia tahu Arka sangat lelah. Entah dorongan dari mana Eila mengelus rambut Arka sesekali menatap wajah Arka yang tampan.
Eila menyentuh hidung mancung milik Arka, "Tuhan menciptakanmu dengan sangat baik. Semua yang kau inginkan pasti kau dapatkan dengan mudah." Lirih Eila.
__ADS_1
Arka membuka matanya membuat Eila salah tingkah, "good morning Eil."
"Jelangkung sialan lo Arka! Suka banget buat orang jantungan." Umpat Eila.
"Good morning too Arka. A-aku mau mandi dulu." Ucap Eila salah tingkah.
Arka menahannya agar Eila tetap di sampingnya. Eila menuruti permintaan Arka. Mereka saling bertatap mata cukup lama.
"Arka aku harus kerja."
"Sebentar aja, please." Mohon Arka.
Arka mendekatkan wajahnya ke wajah Eila. Arka lalu membenamkan wajahnya dileher Eila membuat Eila melotokan matanya. "Arka kamu ngapain?" tanya Eila.
"Sebentar aja, please. Aku kangen hal kayak gini sejak dulu setelah kepergian Stella." Ujarnya.
Eila merasa Arka begitu manja. Eila juga tidak tega jika melarang Arka memeluknya. Eila memeluk Arka, mengusap-usap rambutnya. Eila melakukannya karena ia merasa kasihan, bukan karena ia mencintainya.
"Arka, Arka." Panggil Eila berkali-kali.
Di leher Eila merasakan hembusan nafas Arka yang teratur, "Arka kamu tidur ya?"
Tak ada jawaban, Eila membaringkan tubuh Arka. Lalu pergi ke kamar mandi. Setelah mandi Eila bergegas turun. Di meja makan nampak Elylia dan Erva sedang sarapan.
"Lia mama berangkat dulu ya." Pamitnya mengecup puncak kepala Elylia.
"Erva, kakak minta tolong siapin bekalnya Lia dan jangan lupa kuliah kamu. Kakak berangkat dulu. Dadah..."
¤¤¤
Sesampainya di kantor, Eila menyapa karyawan-karyawan kantor. Setelah itu ia langsung menuju ruangannya. Eila duduk di kursinya lalu membuka laptop miliknya, melihat saham perusahaan apakah mengalami kenaikan.
Eila mengerutkan dahinya, "sahamnya hanya naik 60% ? Tapi nominalnya nggak salah apa?" pikirnya.
"Ada yang salah disini! Saham naik tapi nominalnya nggak sampai pengembalian modal. Kalau begini, perusahaan bisa bangkrut. Gue harus ke pak Ron." Ujarnya.
Eila bergegas menuju ruangan Ron dengan membawa laptop miliknya. Ia sampai lupa mengetuk pintu.
"Eh Eila ada apa?" tanya Ron sedikit terkejut dengan kedatangan Eila.
"Ahh, maaf pak. Saya lupa mengetuk pintu."
"Tidak papa, ada perlu apa kamu ke mari?"
"Begini pak, saya ingin membicarakan tentang saham perusahaan karena menurut saya terdapat kejanggalan." Ujarnya.
"Kejanggalan? Kejanggalan seperti apa?" tanya Ron mengangkat salah satu alisnya.
"Coba bapak lihat grafik sahamnya, saham perusahaan naik 60% tapi nominalnya hanya 100M. Bukankah jika saham naik 60% keuntungannya seharusnya ±600M. Jika saham naik bukankah kita untung? Tapi disini perusahaan mengalami kerugian yang cukup besar." Terang Eila.
"Jadi maksud kamu ada yang mencuri uangnya." Tebak Ron.
"Benar, mungkin sudah lama bapak mengalami ini. Hanya saja mungkin anda tidak sadar karena anda terfokuskan dengan persentasenya, bukan nominalnya." Jelas Eila.
"Ah kamu benar, saya terlalu fokus dengan persentasenya. Jadi apa tindakan kamu selanjutnya?" tanya Ron.
"Bukankah yang memegang saham Pika?"
"Benar, hanya dia yang tahu keluar-masuknya uang dalam perusahaan. Karena saya mempercayainya, apa kamu menuduhnya?" tanya Ron.
"Tidak, saya tidak menuduhnya. Saya hanya memastikan kalau Pika memang pemegang sahamnya. Saya akan menghubungi Pika dan mencari tahu siapa yang melakukan pencurian." Ujar Eila lalu pamit kembali ke ruangannya.
¤¤¤
Sekarang ini Eila memikirkan bagaimana caranya agar ia dapat menemukan 'pencuri' nya?
"Akhhh, kepala gue mau pecah!!!" pekiknya.
Eila bangkit dari kursinya, ia menuju ke ruangan Pika. Sekali lagi ia lupa tidak mengetuk pintu. Saat ia membuka pintu ruangan Pika, ia melihat pemandangan yang seharusnya tak ia lihat.
"Akhh sialan." Umpat Eila.
Eila melihat Pika yang sedang bermesraan dengan seorang karyawan kantor. Seketika Eila menutup pintunya, untung saja Pika tak menyadarinya. Ingin rasanya ia mual, bukankah ada larangan bermesraan di kantor.
Eila segera ke toilet kantor memuntahkan yang ada dalam perutnya. Ukhh jijik sekali melihat pemandangan seperti itu. Setelah memuntahkan semuanya, Eila mendengar suara Pika dari luar toilet. Eila segera masuk ke salah satu bilik toilet dan menaiki toilet duduknya.
"Ohh shit, kenapa gue malah sembunyi sih!!"
Entah apa yang mereka lakukan, tapi Eila mendengar suara desahan.
"Meraka ngapain sih? Si cowok juga ngapain ke toilet cewek!" batinnya.
Eila keluar dari bilik toilet, ia ingin keluar dari sini. Tapi hari ini ia tak beruntung.
"Lo ngapain di sini?"
Eila membalikkan badan, ia melihat rambut Pika yang acak-acakan dan di sampingnya terdapat kekasih Pika mungkin.
"Gu-gue, ya bab lah." Jawab Eila gugup.
"Tunggu dulu, bukankah ini kesempatan. Gue coba pancing dia, kayaknya seru." Batin Eila.
"Oh ya? Atau lo sengaja pergokin kita lagi bercinta dan ngadu ke pak Ron?" tuduh Pika.
"Ngadu ke pak Ron?" tanya Eila bingung.
"Hallah nggak usah pura-pura. Udah banyak orang kek elo." Ujarnya. "Kalau sampai elo ngadu, gue bakal buat elo dipecat sama Ron." Ancam Pika.
"Emangnya lo siapanya pak Ron?" tanya Eila.
"Kenalin, gue Pika. Calon tunangannya Ron." Jawab Pika sombong.
"Ohh, baru tau gue. Oh iya, gue mau tanya. Elo kan yang megang saham perusahaan?"
"Iya kenapa?"
"Setelah gue lihat grafiknya, ada yang nyuri uang perusahaan. Maksud gue, persentasenya naik tapi nominalnya nggak sesuai dengan persentase." Terangnya.
Raut wajah Pika dan kekasihnya seketika cemas dan juga takut.
"Kalau persentasenya 60% nominalnya ±600M, tapi di grafiknya nominalnya cuma 100M yanga artinya ada yang nyuri uangnya, dan bisa membuat perusahaan mengalami kerugian." Lanjutnya.
"Terus ngapain lo ngomong ke gue? Lo nuduh gue gitu yang nyuri uangnya?" bentak Pika.
"Pika, gue cuma mau bicarain ini karena elo yang megang saham perusahaan, dan seharusnya lo itu lebih teliti." Pungkasnya. "Atau emang jangan-jangan.." Eila menggantung ucapannya, ia menunggu reaksi Pika seperti apa.
"Udahlah ngomong aja kalau lo nuduh gue." Bentak Pika.
"Lo sendiri yang bilang Pika, bukan gue. Dan dengan reaksi lo tadi mencurigakan tau nggak?"
"Kalau emang kita yang nyuri uang perusahaan kenapa? Lo mau laporin ke pak Ron? Percuma! Ron lebih percaya ke Pika daripada elo." Timpal cowok Pika.
"Ini yang gue tunggu, cowok lol emang."
"Lo kok ngasih tau ke dia sih!!"
__ADS_1
"Tenang aja sayang, percuma juga kalau dia lapor. Dia kan nggak punya bukti." Ujarnya.
"Ahh, oke gue udah tau siapa yang nyuri. Gue cuma tinggal ngelapor ke pak Ron. Masalah dia percaya atau enggak urusan belakang." Ucap Eila meninggalkan toilet.
"Terimakasih, karena kebodohan kalian, kerjaan gue jadi sedikit ringan."
Eila bergegas ke ruangan Ron lalu mengetuk pintu.
"Silahkan masuk."
Eilapun masuk, senyumnya mengembang.
"Ada apa Eila kamu terlihat ceria dari sebelumnya?" tanya Ron.
"Tentu saja saya ceria, saya sudah menemukan siapa pelakunya." Jawab Eila.
"Oh ya? Cepat sekali, siapa pelakunya?"
"Pika dan selingkuhannya." Jawab Eila.
Raut wajah Ron seketika berubah, Eila tahu pasti Ron mengira kalau Eila menuduh Pika. Tapi Eila punya buktinya. Kalian tahu? Eila merekam pembicaraannya di toilet waktu itu.
"Keluar dari perusahaan saya!" bentak Ron.
"Apa? Apa maksudnya pak?" tanya Eila kebingungan.
"Kamu saya pecat!"
"Tapi pak, saya tidak menuduh Pika. Saya pun-"
"Keluar Eila." Bentak Ron.
Eila mengepalkan tangannya, "baik, saya keluar. Tapi ingat pak, bapak akan menyesal memecat saya dan mempertahankan wanita seperti Pika!" ucap Eila meninggalkan ruangan Ron.
Eila mengemasi barang-barangnya lalu bergegas pergi meninggalkan perusahaan. Ingin rasanya ia mencakar dan mencabik wajah Pika dan juga selingkuhannya itu.
¤¤¤
Sesampainya rumah Eila menuju ke kamar, ia melihat Arka yang sibuk dengan laptopnya.
"Tumben pulang lebih awal?" tanya Arka yang tetap fokus menatap laptopnya.
"Aku dipecat." Jawab Eila lesu, lalu merebahkan dirinya di kasur.
"Bagus deh, karma ngelawan suami."
"Kok bagus sih!! Ngeselin banget sumpah punya suami kek gini. Ditanyain kek dipecat karena apa? Atau nggak dihibur gitu, nggak peka amat." Omel Eila.
"Maaf aku pake kacamata jadi nggak denger." Canda Arka.
"Arkaaa!!!" teriak Eila frustrasi.
"Katanya minta dihibur, malah dimarahin."
"Itu nggak lucu tau, malah makin badmood ngeselin." Gerutu Eila.
"Sayang, kenapa kamu dipecat?" tanya Arka lembut.
"Nggak usah panggil sayang, aku jijik tau nggak dengernya."
Arka menghela nafas, ia harus bersabar menghadapi istrinya ini.
"Kamu kenapa di pecat? Coba cerita ke aku."
"Ogah, udah ga mood cerita." Ucap Eila cemberut.
"Terus mau kamu apa? Aku gini salah gitu salah. Aku bukan dukun yang tau apa isi hati kamu Eil." Ujar Arka mulai kesal.
Eila terdiam, saat ini ia tidak nafsu melakukan apapun. Tidak tahu apa yang harus dikerjakan atau dipikirkan.
"Eil ayo keluar." Ajak Arka.
"Ke mana? Aku lagi males."
Arka mendekati Eila, ia merebahkan dirinya di samping istrinya itu.
"Ngapain kamu?" tanya Eila.
"Tidur sama kamulah." Jawab Arka.
Arka mendekatkan tubuhnya pada Eila membuat mereka tak ada jarak. Eila tak masalah dengan itu karena hari ini ia tidak ingin berdebat dengan siapapun.
"Arka." Panggil Eila lirih.
"Apa?"
"Kenapa kamu mau nikah sama aku? Aku nggak yakin kamu nikahin aku karena hutang." Entah mengapa terbesit pertanyaan seperti itu di otak Eila.
"Sebenarnya sih emang enggak, aku nikahin kamu karena...." Arka menggantung kalimatnya membuat Eila tak berkedip menatap Arka.
"Karena apa?"
"Karena Elylia butuh kasih sayang seorang ibu." Ujarnya. "Aku jarang di rumah karena aku sibuk kerja dan nggak bisa luangin waktu buat Elylia. Meskipun di rumah aku juga sibuk kerja, jadi mungkin aku harus cari seorang ibu buat Elylia." Terangnya.
"Terus kenapa kamu pilih aku?"
"Karena aku nggak sengaja ngelihat kamu waktu main sama anak kecil di taman." Jawab Arka menerawang dimasa itu.
"Ohh ituu, itu waktu aku kerja jadi baby sitter. Kebetulan juga aku emang suka anak kecil." Ucap Eila tersenyum kecil. Entahlah, ketika mengingat masa bahagianya merawat anak kecil dulu, dirinya merasa senang.
"Kenapa sih kamu suka anak kecil?" tanya Arka penasaran.
"Karena dulu aku anak panti." Jawab Eila singkat.
"Anak panti? Bukannya kamu.."
"Iya aku anak panti. Awalnya aku diadopsi sama orang terpandang, tapi setelah ibu angkatku hamil dan lahirlah darah daging mereka. Aku seolah-olah nggak pernah ada, aku selalu disiksa tapi adikku selalu dimanja. Aku pernah coba kabur tapi gagal dan berakhir kena hukuman. Hampir setiap hari aku dipukul karena adikku yang selalu fitnah aku. Kadang dikurung di gudang, dimandiin air dingin, nggak dikasih makan dan masih banyak lagi." Terang Eila tersenyum kecut.
"Tapi kamu kok bisa sama bu Elina?" tanya Arka lagi.
"Kebetulan waktu itu ibu jadi pembantu disitu. Ibu tau kalau aku sangat-sangat tersiksa, dan ibu bawa aku kabur. Aku dirawat dengan penuh kasih sayang meskipun ibu udah punya anak, waktu itu Erva umurnya 4th. Ibu bener-bener adil, dan saat aku remaja aku janji sama diriku kalau aku bakal selalu berusaha buat bahagiain anak kecil siapapun itu." Jelas Eila.
Ia rasa matanya memanas, sakit rasanya menggali luka yang ia kubur dalam-dalam. Arka memeluk istrinya, membenamkan tubuh Eila pada tubuhnya.
Arka mengelus rambut Eila sesekali mencium aromanya.
"Maaf, aku nggak tahu tentang hal itu." Batin Arka.
"Arka, nanti malam aku ke rumah Kevin sama Erva untuk nyelesain masalah Erva." Lirih Eila.
"Iya." Jawabnya. "Mau aku anterin?" tawar Arka.
"Nggak usah, makasih."
¤¤¤
__ADS_1