
¤¤¤
"Dia..."
"Dia siapa Erva?" tanya Eila penasaran.
"Kevin kak." Jawabnya.
"Kevin? Kevin anak berandalan itu." Ucapnya memastikan.
"Iya."
"Kakak kan udah bilang, jangan dekati dia Erva. Tapi kamu malah bandel." Eila menghela nafasnya kasar, "secepatnya kita ke rumah Kevin."
"Tapi kak--"
"Nggak ada tapi-tapian Erva. Please, turutin kakak." Mohon Eila.
¤¤¤
Setelah mencari solusi masalah Erva. Eila dan Arka kembali ke kamar. Eila menghempaskan tubuhnya di kasur. Hari ini penuh kejutan baginya. Membuatnya lelah dan ingin beristirahat.
Sedangkan Arka saat ini kembali sibuk dengan laptopnya. Arka tahu istrinya sedang berduka tapi itu tidak membuatnya menunda pekerjaannya.
"Arka." Panggil Eila tapi tak ada sautan.
"Arka!" teriaknya.
"Apasih!"
"Lo bisa nggak sih ninggalin kerjaan lo sebentar aja!" bentak Eila.
"Bahasa!!!" ucap Arka menekankan setiap kata.
"Jadi apa selama ini kamu selalu di rumah tapi sibuk ngerjain tugas dan nggak meluangkan waktu buat Elyla??!" tuduh Eila.
Tak ada jawaban dari Arka, "..."
"Arka jawab!"
"Aku lagi sibuk Eil."
"Terserah lo deh, gue capek ngomongnya." Ujarnya membenamkan wajahnya ke bantal.
"Kalau Erva nikah pasti banyak biaya yang harus dikeluarin. Gue nggak yakin Arka mau biayain semuanya. Apa gue cari kerja aja?" pikirnya.
Eila bangkit dari tidurnya, ia mengambil laptop miliknya. Melihat apakah ada email penerimaan lamaran kerja dari perusahaan yang ia kunjungi.
"Yes, ada 1 pesan." Soraknya, dengan begini ia tak perlu cari kerjaan lagi.
Eila membaca isi pesan tersebut, bibirnya mengembang. Setelah tau isinya, ia ingin melompat-lompat di kasur tapi ia sadar kalau tidak sendiri di sini, jadi untuk saat ini ditahan dulu.
"Pesan apa?" tanya Arka yang sekarang tepat berada di belakang Eila.
"Arka!! Gue udah bilang jangan ngagetin!! Kayak jelangkung tau nggak!" teriaknya memukuli dada bidang Arka.
"'Jangan teriak, Elylia udah tidur. Dan ingat selalu perjanjian kita!!" tegasnya.
"Iya aku ingat." Ucap Eila menekankan kata aku.
"Dapat pesan apa?"
"Aku diterima di perusahaan Kelly Compeny. Aku boleh kerja kan?" tanya Eila.
"Enggak!" jawab Arka singkat tapi mampu membuat Eila kesal.
Bagaimana tidak? Bekerja di Kelly Compeny ialah impiannya sejak dulu. "Arka please! Kerja di Kelly Compeny itu impian aku." Mohonnya.
"Sekali enggak tetap enggak Eil!!" tegasnya.
"Kenapa?!" tanya Eila membentak.
"Pelankan suaramu." Perintahnya.
Eila melipat tangannya di dada, membuang muka ke arah lain. Ia mulai malas dengan persyaratan Arka. Ini belum sehari tapi Arka melarangnya bekerja? Bagaimana jika hari selanjutnya, apakah ia masih bisa bersabar? Entahlah.
"Kamu nggak perlu kerja, biar aku yang kerja. Karena itu tugas aku Eil. Kamu cukup di rumah aja!" terang Arka.
"Oke." Lirihnya.
"Lihat aja, gue bakal bangun pagi-pagi dan kerja tanpa sepengetahuan elo Arka!" batinnya menyunggingkan senyum.
Senyum Eila kembali mengembang, ia tak sabar menjalankan rencananya. Ia tidur dan berharap waktu cepat berlalu.
¤¤¤
4.39 AM
Eila bangun dari tidurnya, ia mengambil pakaian kantornya dalam lemari dan berjalan mengendap-endap ke kamar mandi.
Seusai mandi ia mengambil laptop, tas selempangnya dan ponselnya. Arka nampaknya tidur pulas. Eila tak ingin membuang kesempatan emas.
Sebelum pergi ke kantor ia masak terlebih dahulu dan menyiapkan bekal untuk Elylia, dibekalnya terdapat secarik surat yang di tulis Eila untuk Elylia.
Untuk Elylia, sayang bekalnya udah mama siapin. Maaf mama nggak bangunin kamu, mama harus kerja. Jangan bilang papa kalau mama nulis surat ini buat kamu. I love you♥️
Dari mama Eila>_<
Eila segera berangkat ke kantor sebelum orang rumah bangun.
¤¤¤
__ADS_1
Saat ini Eila berada di ruangan bosnya, Ron Harsley. CEO Kelly Company, Eila akan bekerja sebagai sekretaris bosnya itu.
"Ini berkas-berkas yang harus kamu pelajari. Saya harap secepatnya kamu bisa memahami perusahaan saya." Ujar Ron.
"Baik pak."
"Silahkan ke ruanganmu."
Eila menuju ruangannya yang tepat berada di samping ruangan Ron. Ia membaca berkas-berkas yang diberikan Ron berjam-jam. Untungnya hanya sekali membaca, Eila faham.
Saat ini Ron sedang mencari klien untuk diajak bekerjasama. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan penghasilan perusahaannya dan mengalahkan saingan perusahaannya.
Di berkas yang ia baca, Ron telah memilih perusahaan apa yang akan diajak bekerjasama. D2 Company. Setahu Eila, Arka juga mengincar D2 Company.
Eila bangkit dari duduknya menuju ke ruangan Ron.
Tok tok tok
"Silahkan masuk." Ucap Ron dari dalam ruangannya.
Eila duduk di depan Ron, "pak saya sudah membaca berkasnya. Bapak ingin meningkatkan penghasilan perusahaan dan mengalahkan Big 2DM Company." Ujar Eila.
"Benar, kamu cepat sekali memahaminya. Saya tidak salah memilih kamu." Puji Ron. "Jadi apa saran kamu?"
"Saya sarankan secepatnya kita mengadakan pertemuan dengan CEO D2 Company. Karena perusahaan Big 2DM Company juga mengincarnya." Terangnya.
"Kalu begitu buat perjanjian dengan Arles untuk bertemu secepatnya." Perintah Ron.
"Baik pak." Ucap Eila.
"Tunggu Eila." Tahan Ron.
"Ada apa pak?"
"Sekarang istirahat makan siang, mau makan siang bersama saya?" tawar Ron.
Eila tampak berfikir apakah harus menerimanya atau tidak, "boleh pak." Jawabnya.
¤¤¤
Awalnya Eila khawatir jika Ron akan mengajaknya ke kantin perusahaan, tapi ternyata Ron mengajaknya makan siang di sebuah restoran.
Seorang waiter datang ke meja Ron dan Eila, "permisi, silahkan dipilih menunya tuan dan nyonya."
"Buttery Honey Mustard Salad 1, sama Ice Chocolate 1. Kamu apa La?" tanya Ron.
"Saya Chicken Salad and Avocado Sandwich dan air mineral."
"Just that?"
"Ya."
"Kenapa pesan air mineral?" tanya Ron.
"Saya haus."
"Ohh begitu. Mengenai pembicaraan tadi, bagaimana kamu tahu kalau Big 2DM Company juga mengincar D2 Company?"
"Ahh itu.."
Eila menggantungkan kalimatnya, ia tampak berfikir apakah harus memberitahu kalau dia adalah istri dari CEO Big 2DM Company?
"Eila." Panggil Ron membuyarkan pikiran Eila.
"Ahh maaf, saya hanya menebak. Perusahaan anda merupakan perusahaan yang besar begitu juga dengan Big 2DM Company. Jika anda mengincar D2 Company itu artinya saingan anda juga." Terangnya.
"Benar juga ucapanmu. Kamu cepat dalam berfikir." Puji Ron sekali lagi.
"Terimakasih."
Tak lama kemudian seorang waiter mengantarkan pesanan Ron dan Eila. "Silahkan dinikmati." Ucapnya lalu pergi.
Eila dan Ron sibuk mengunyah makanan masing-masing.
¤¤¤
"Ayo Eila, 5 menit lagi istirahat siangnya habis."
"Eh, anu pak. Ini mau saya bayar." Ujarnya.
"Nggak perlu." Pungkas Ron. "Restoran ini milik kakek saya."
"Ohh."
Eila baru tahu jika kakek Ron memiliki restoran yang semegah ini.
"Terimakasih pak sudah mentraktir saya."
"Sama-sama. Kalau begitu ayo kembali ke kantor." Ajak Ron.
"Syukurlah, uangku jadi aman." Batin Eila.
¤¤¤
In The Eila Room
Eila saat ini berbicara di telfon dengan sekretaris Arles yang bernama Rina.
"Halo saya Eila sekretaris pak Ron, dari perusahaan Kelly Compeny. Kami ingin mengadakan pertemuan dengan pak Arles secepatnya untuk melakukan kerja sama. Kira-kira kapan kita bisa bertemu?"
"Sebenarnya kami juga mendapatkan banyak tawaran, tapi kami menolak seluruh tawaran yang ada. Hanya tersisa tawaran dari perusahaan bos anda dan juga perusahaan Big 2DM Company."
__ADS_1
"Lalu?"
"Kami masih mempertimbangkannya, apakah bekerjasama dengan perusahaan anda atau perusahaan Big 2DM Company. Beri kami waktu."
"Baiklah, jika anda sudah selesai tolong hubungi saya."
"Baik terimakasih, sampai jumpa."
Tuttt
Telfon tertutup. Eila berfikir bagaimana caranya agar 2D Company bekerjasama dengan perusahaan Ron.
Meskipun Arka suaminya tapi menurutnya pekerjaannya lebih penting. Eila juga tahu Arka akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang ia incar.
Eila berfikir keras agar ia bisa meyakinkan CEO D2 Company.
"Gue tau apa yang harus gue lakuin. Kita lihat aja nanti." Gumamnya.
Eila melanjutkan pekerjaannya yang tersisa hingga larut malam. Ia melihat jam tangannya, "udah pukul 8. Gue pulang deh besok dilanjutin." Ujarnya.
¤¤¤
Sesampainya di rumah, Eila tak melihat mobil Arka di garasi yang artinya Arka masih di kantor.
"Selamat gue." Batinnya.
Ia masuk ke dalam rumah, Erva yang melihat kakaknya masuk langsung menghampirinya, "kakak dari mana aja?" tanya Erva.
"Kakak tadi kerja. Kenapa?"
"Tadi kak Arka marah besar tau, nanya kakak dimana. Terus aku jawab nggak tahu, Elylia juga ditanya--"
"Terus dia jawab apa?" tanya Eila memotong ucapan Erva.
"Nggak tau juga." Jawabnya.
"Syukurlah, kamu yang masak makan malam?" tanya Eila menuju meja makan.
"Iya, tapi aku buatin kakak roti selai coklat." Jawabnya.
"It's oke. Thanks." Ucapnya mengambil roti yang ada di piring. "Kakak ke kamar dulu."
"Tunggu kak." Tahan Erva.
"Apalagi?"
"Kenapa sih tadi kak Arka ngamuk banget kak?" tanya Erva penasaran.
"Tau tuh, PMS mungkin. Udahlah nggak usah dipikirin, kakak mau mandi capek." Pamitnya pergi menuju kamar.
Saat akan membuka pintu kamarnya Eila mengurungkan niatnya, ia malah pergi ke kamar Elylia. Eila membuka pintu kamar Elylia, nampak Elylia yang tengah belajar.
"Lia, kamu belajar apa sayang?" tanya Eila.
"Mama, mama tadi papa maraaaaaaah banget."
"Iya mama tau, makasih ya sayang kamu nggak bilang ke papa tentang suratnya." Ucapnya mengecup puncak kepala Elylia.
"Surat apa?"
Eila dan Elylia menoleh ke pintu, tampak Arka yang menahan amarahnya. Tangannya mengepal, wajahnya memerah. Arka berjalan mendekati Eila.
"Jawab aku!!! Surat apa Eil!" bentaknya.
Eila mencengkeram lengan Arka. Bibirnya ia dekatkan ke telinga Arka, "jangan pernah bentak aku di depan Elylia."
"Memangnya kenapa!!!"
Eila tak menanggapi ucapan Arka, ia membalikan badannya menghadap Elylia. "Sayang, kamu ke kak Erva dulu ya. Kalau belum makan, makan malam sama kak Erva aja. Nanti mama nyusul." Pintanya.
Elylia menuruti ucapan Eila. Setelah kepergian Elylia, Eila menarik tangan Arka menuju kamar mereka.
"Kalau di depan Elylia jangan pernah bentak aku!"
"AKU NGGAK PEDULI EIL, JAWAB PERTANYAANKU, SURAT APA YANG KAMU MAKSUD!"
"Lia itu masih kecil, aku nggak mau mentalnya drop karena tahu kita bertengkar. Silahkan marah ke aku, bentak aku sepuas kamu, tapi jangan pernah lakuin itu di depan Lia." Terangnya mencoba sabar.
"Nggak usah sok peduli sama Elylia, dia itu putri aku dan aku lebih tahu tentang dia."
"Tapi dia juga putri aku." Bentak Eila, kesabarannya sudah habis. "Meskipun aku nggak tau banyak tentang dia, tapi aku berusaha untuk jadi ibu yang baik buat Lia. Aku tulus sayang Lia, asal kamu tahu aku ngelakuin ini karena aku tahu gimana rasanya nggak punya ibu sejak kecil." Terang Eila menahan air matanya.
"Aku tahu kamu marah karena aku nggak dengerin ucapan kamu, tapi please Arka. Izinin aku kerja, please." Mohon Eila.
"Aku kan udah bilang sekali enggak ya enggak Eil!" bentak Arka.
"Kenapa Ka? Kenapa? Apa karena Ron itu saingan kamu?! Arka, aku cuma mau cari penghasilan dari kerja kerasku sendiri."
"Apa penghasilanku nggak cukup buat kamu?!"
"Cukup, sangat cukup. Tapi aku kerja buat lunasin hutang keluargaku Arka, dan setelah hutangnya lunas aku mau--"
"Jangan ada kata cerai." Sela Arka tegas.
"Kenapa Ka? Atau emang kamu sengaja ngelarang aku kerja, biar aku nggak bisa lunasin hutang keluargaku terus aku harus selalu jadi istri kamu gitu? Aku nggak mau menikah tanpa cinta Arka, aku mau lunasin hutang keluargaku dan kita bisa--"
Arka mencium bibir Eila, ia tidak ingin kata 'cerai' keluar dari mulu istrinya. Eila melototkan matanya dan hanya diam. Eila ingin melepaskan ciumannya tapi Arka menahan tengkuk lehernya.
"Mphh..."
¤¤¤
__ADS_1