
¤¤¤
Eila baru pulang dari cafe pukul 5, ia langsung memasuki kamarnya dan nampak Arka yang sibuk berkutat dengan laptopnya. “Bukannya kamu lembur Ka?” tanya Eila.
"Dari mana aja?" tanya Arka tak menghiraukan pertanyaan Eila.
"Aku habis nongkrong di cafe sama temen-temen," jawab Eila jujur.
“Kenapa kamu nggak izin ke aku Eil?”
“Arka dengerin, aku nggak mau ganggu kamu yang lagi kerja. Lagipula aku juga kebetulan ketemu sama temen-temen di cafe.”
“Terus cowok pake sweater yang kamu peluk itu siapa?”
“Itu temen aku Louis, aku meluk dia cuma sebagai ucapan terimakasih karena dia ngasih aku kerjaan di kantornya.” Jelas Eila agar tak ada salah paham dengan Arka.
Arka menghela nafasnya, meski Eila sudah menjelaskan, ia tetap tidak tenang dan sedikit kesal. Arka menutup laptopnya, lalu merebahkan dirinya di kasur.
Eila menatap punggung Arka yang membelakanginya, “Arka, aku mau jalan-jalan,” rengek Eila.
Arka diam tidak merespon rengekan Eila. “Arka!” panggil Eila.
Tak ada jawaban.
“Aku jalan-jalan sama Louis ya? Boleh kan?” izin Eila.
Arka hanya diam, tak ada jawaban sama sekali yang membuat Eila sedikit kebingungan. Tumben-tumbenan Arka tidak melarangnya. Apa Arka sudah tidak peduli lagi dengannya? Matanya seketika membulat, sontak ia berdiri dan berjingkrak.
“Yes, Arka cuek lagi, bagus dong kalau dia ngga peduli lagi sama gue. Akhirnya gue bisa ngelakuin apapun yang gue mau tanpa harus minta izin ke dia.” Gumamnya girang.
“Aku denger yang kamu omongin Eil,” ucap Arka yang tadinya membelakangi Eila sekarang berubah menjadi posisi duduk.
Eila yang mendengar ucapan Arka berhenti berjingkrak-jingkrak. Seketika ia terdiam, tak tau harus berbuat apa dan mengatakan apa.
Arka menepuk-nepuk kasurnya, meminta Eila agar berada di sampingnya. Eila yang mengerti langsung menurut begitu saja. Eila tidak berani menatap Arka, ia hanya menunduk.
“Nanti kita jalan-jalan berdua oke, sekarang aku mau istirahat dulu, capek.” Ungkap Arka yang mendapat anggukan dari Eila.
Arka membaringkan tubuhnya diikuti dengan Eila tidur di samping Arka. Eila memeluk Arka dari depan, tak lama iapun tertidur pulas diikuti juga dengan Arka.
¤¤¤
Arka terbangun pukul 6.30, ia melihat Eila yang tertidur pulas. Arka yang tadinya ingin mandi mengurungkan niatnya, ia lebih ingin di samping Eila, menatap wajah cantik Eila. Arka mengusap-usap rambut Eila.
“Cantik,” puji Arka.
“Eil, bangun, katanya mau jalan-jalan.” Ucap Arka mengguncang pelan tubuh Eila agar bangun. “Eil bangun,” ulangnya.
Eila hanya melenguh, ia sama sekali tak membuka matanya. Ia malah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sehingga Arka yang di sampingnya juga ikut tertutupi seluruh tubuhnya.
30 menit kemudian Eila terbangun, di depannya terdapat Arka yang sedang menatapnya. Hampir tidak ada jarak di antara mereka yang membuat Eila salah tingkah dan wajahnya memerah.
“Ja-jalan-jalannya jadi?” tanya Eila sedikit gugup.
“Jadi,” jawab Arka. “Kamu mandi dulu atau aku? Atau mandi bareng aja?” goda Arka membuat pipi Eila bertambah merah. “Aku becanda Eil, lucu tau nggak liat wajah kamu kalau malu,” terang Arka tertawa kecil.
Eila berdecak, “ish, apasih minggir ah aku mandi duluan.”
¤¤¤
Selesai mandi, Eila sudah siap dengan pakaian casualnya, tinggal merapikan rambut dan memakai natural make upnya sambil menunggu Arka yang sedang mandi.
Eila berkaca di depan cermin, ia berfikir sejenak, entah mengapa dalam hatinya ada rasa agar bisa menerima Arka sebagai suaminya. Ia ingin pernikahan yang bahagia, yang dimulai dengan cinta. Ia memang terpaksa menikah dengan Arka, tapi tak ada salahnya jika ia ingin membuka hati membiarkan dirinya untuk belajar mencintai Arka.
Eila berhenti menyisir rambutnya, ia tersenyum. “Oke, nanti gue bakal bilang ke Arka untuk mulai semuanya dari awal.”
¤¤¤
Sekarang Eila dan Arka berada di sebuah pasar malam. Banyak wahana yang seru, apalagi rumah hantu. Tapi Eila belum tertarik untuk menaiki 1 wahanapun. Ia lebih memilih untuk membeli aneka jajan yang di jual di sana.
“Arka, beli sosis bakar ya,” pintanya yang langsung mendapatkan anggukan dari Arka.
__ADS_1
Setelah membeli sosis bakar, Eila melanjutkan dengan membeli roti bakar, kentang goreng, cup cake, permen kapas, es boba, dan lain-lain layaknya anak kecil. Arka tersenyum melihat Eila yang begitu bahagia.
“Jadi, kalau kamu ngambek aku bujuknya pakai makanan bisakan?” tanya Arka tertawa kecil.
Eila tersenyum malu, “hehe, bisa kok.” Jawabnya.
Setelah puas makan aneka jajan, Eila melihat-lihat wahana yang ingin ia naiki. Ia berjalan sambil menggandeng tangan Arka membuat Arka terheran-heran.
“Arka, aku mau ngomong sesuatu,”
“Eil bentar aku ada telfon,”
“Oke, aku tunggu di sini.”
Cukup lama Eila menunggu Arka, sampai akhirnya ia merasa bosan dan memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri. Dan tanpa sengaja ia melihat pemandangan yang seharusnya tak ia lihat. Matanya memanas menahan tangis, ia mendongak ke atas agar air matanya tak jatuh. Eila kembali ke tempat semula dan mencoba menganggap tak ada hal apapun yang terjadi.
Eila masih menunggu Arka yang belum juga kembali, tak sengaja ia berpapasan dengan Kris, teman Arka. “Hai Kris,” sapa Eila.
“Hai Eil, lo juga ke sini? Sama siapa?” tanya Kris.
“Gue ke sini sama Arka,” jawab Eila.
“Oh ya? Terus Arka sekarang mana? Gue ngga liat batang hidungnya.”
“Dia lagi ngangkat telfon, mungkin.” Jawab Eila ragu dengan senyum yang ia paksakan.
Kris bingung dengan raut wajah Eila, sepertinya ada hal yang tidak beres tapi ia mencoba tidak mencampuri urusan pribadi istri temannya itu. “Oh, udah lama nunggu Arka ngangkat telfonnya?”
“Lumayan, 45 menit mungkin,”
“Astaga, itu bocah lupa apa kalau bawa istri, nanti istrinya hilang di ambil orang nggak rela,”
“Emang Arka peduli gitu kalau gue deket sama cowok lain?” tanya Eila.
“Yaaa, peduli lah Eil, diakan suami lo.” Jawab Kris. “Eh, gimana kalau lo pulang bareng gue aja? Nanti Arka lo WhatsApp aja,” tawar Kris yang mendapatkan anggukan dari Eila.
¤¤¤
Dalam mobil Eila hanya diam dengan tatapan kosong, ia sama sekali tak berbicara, dari perjalanan pulang sampai rumah pun ia hanya diam membuat Kris terheran-heran.
Eila tak peduli mau mengabarinya atau tidak, toh palingan Arka lupa dengan keberadaan Eila di sana. Ia tak ingin memikirkan sesuatu yang membuat sesak dadanya. Ia lebih memilih tidur.
¤¤¤
Pagi hari Eila terbangun dan disampingnya terdapat Arka yang tertidur pulas. Eila membuka ponselnya, jelas sekali Arka tidak mencarinya. Eila pada akhirnya juga tidak peduli. Ia memutuskan untuk mandi karena hari ini ia akan bekerja di perusahaan Louis temannya.
Setelah mandi dan memakai pakaian kantornya, ia mengambil barang-barangnya lalu turun ke bawah. Terdapat Erva dan Elylia yang sedang sarapan. Eila hanya mengambil sepotong roti.
Eila mengecup puncak kepala Elylia, “mama berangkat kerja dulu ya sayang. Sarapannya di habisin terus berangkat sekolah sama kak Erva, oke.”
“Siap mama,”
“Erva, jangan jajan sembarangan, kalau beli makanan lihat dulu higenis apa nggak, bergizi apa enggak. Ngerti?” Ucap Eila mengingatkan Erva.
“Iya kak,”
¤¤¤
Eila sekarang berada di perusahaan Louis yang bernama LE Company, awalnya LA Company entah mengapa di rubah menjadi LE Company. Eila langsung masuk dan menuju ruangan Louis, dan tentu ruangan Louis ada di lantai paling atas. Ia menaiki lift, lalu ia berjalan menuju ruangan Louis.
Eila mengetuk pintu menunggu dipersilahkan masuk. “Silahkan masuk,” ucap Louis.
Eila membuka pintu lalu duduk di kursi yang berada di depan Louis. “Selamat pagi pak,” sapa Eila sopan.
Louis tertawa mendengar ucapan Eila membuat sang empu kebingungan, “astaga Eil, gue aneh denger lo ngomong formal gitu,” terang Louis.
Eila tersenyum kikuk, ia juga sedikit canggung berbicara formal dengan sahabat karibnya satu ini. “Yaa, mau gimana lagi, sekarang lo kan bos gue.” Ucapnya.
“Santai aja, kalau sama gue bicara kayak biasanya aja. Tapi kalau ada karyawan lain lo bisa pake bahasa formal.”
“Nggak adil dong kalau kek gitu,”
__ADS_1
“Perintah bos loh, masa ditolak? Mau dipecat ya?” goda Louis.
“Astaga Lou, lo dari SMA, kuliah, sampe sekarang tetep aja ngeselin.” Kesal Eila.
“Ahahaha, bukan Louis kalau nggak bikin lo kesel, lo lucu kalau lagi kesel.” Ungkapnya jujur.
“Bodo ah, pokoknya gue tetep pake bahasa formal kalau lagi kerja, di luar itu gue pake bahasa seperti biasanya.” Tegas Eila. “Sekarang, lo nggak ngasih kerjaan ke gue gitu?” tanya Eila.
“Iyadeh terserah lo, berkas-berkasnya udah ada di ruangan lo semua, kalau semisal ada hal yang nggak lo fahami, lo bisa tanya ke gue.” Terang Louis mendapatkan anggukan dari Eila.
Eila lalu menuju ruangannya yang berada di depan ruangan Louis, lalu ia membaca berkas-berkas yang sudah tertata rapi di lemari kerjanya.
¤¤¤
Hari ini Eila pulang lebih awal karena pekerjaannya sudah selesai, ia melihat jam yang masih pukul 11.30, iapun memutuskan untuk menjemput Elylia di sekolah.
Sesampainya di sekolah, ia menunggu di depan gerbang sekolah. Tak lama tampak Elylia yang keluar dengan wajah cerianya. Eila melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah putrinya itu.
Elylia yang tau dijemput mamanya merasa sangat senang, ia berlari kecil memeluk Eila. “Mama nggak kerja? Kok jemput Elylia?”
“Kerja sayang, hari ini mama pulang awal jadi bisa jemput kamu,” jawab Eila.
“Ma, ke kantor papa yuk, kita kasih kejutan,” ajak Elylia.
Eila berfikir sejenak, saat ini ia tidak ingin berhadapan dengan Arka tapi ia juga tidak ingin menolak permintaan putrinya. Pada akhirnya Eila mengangguk setuju. Mereka masuk ke dalam mobil lalu menuju kantor Arka.
“Tadi di sekolah Elylia belajar apa sayang?” tanya Eila di dalam mobil.
“Tadi Elylia belajar penjumlahan sama pengurangan, terus ada monyetnya ma, ada jerapah, burung, badak, gajah, kucing, sapi, kambing sama kuda.” Jawab Elylia semangat.
Eila sedikit bingung, kenapa ada nama-nama hewan di pelajaran matematika? Sampai beberapa detik kemudian ia paham, mungkin gurunya menggunakan gambar-gambar hewan sebagai pembelajaran agar murid-muridnya tidak bosan.
“Ohh, terus Elylia bisa nggak?” tanya Eila sekali lagi.
“Bisa dong, Elylia dapet nilai 100,” jawabnya.
“Anak mama pinter, nanti kita belajar sama-sama mau?”
Elylia mengangguk semangat, “mauuuu.”
¤¤¤
Eila dan Elylia sampai di kantor Arka. Mereka langsung berjalan menuju ruangan Arka, tak lupa Eila menyapa karyawan kantor dengan tersenyum.
“Itu istrinya pak Arka? Cantik banget,” puji salah satu karyawan.
Eila membuka pintu ruangan Arka, dan betapa terkejutnya ia melihat Arka yang sedang bermesraan dengan wanita lain. Eila seketika membalikkan badannya lalu mengajak Elylia pergi dari kantorn Arka.
Mata Eila berkaca-kaca, dadanya sesak, kemarin di saat di pasar malam Eila juga melihat Arka bermesraan dengan seorang wanita. Dan kali ini ia lagi-lagi melihat hal yang membuatnya terluka, sejak kapan Arka bermain di belakangnya? Kalau ia mencintai wanita itu kenapa ia menikahinya, kenapa tidak menikahi wanitu itu saja?
“Mama kenapa balik lagi?” tanya Elylia polos.
Langkah Eil terhenti, ia menekuk kakinya mensejajarkan tingginya dengan tinggu putrinya itu. “Sayang, papa lagi kerja. Pasti papa sibuk, jadi kita nggak boleh ganggu biar pekerjaan papa cepet selesai terus bisa pulang deh ketemu kita.” Jelas Eila.
¤¤¤
Di rumah, Eila sedang belajar bersama dengan Elylia, lalu menyuapi putrinya untuk makan siang, dan menemani tidur siang. Setelah Elylia tertidur pulas, Eila mengecup puncak kepala putrinya lalu keluar menuju dapur.
Saat ia melewati ruang keluarga, ia melihat Kris yang sedang menonton televisi. Eila mengurungkan niatnya ke dapur, ia menghampiri Kris lalu duduk di depannya.
“Ngapain lo ke sini?” tanya Eila.
“Gue mau main aja,” jawabnya bohong. “Arka lagi di kantor ya?” tanya Kris.
“Menurut lo?”
“Ya lagi dikantor sih, gue juga tadi barusan dari sana dan ngelihat dia lagi bermesraan sama cewek lain.” Ucap Kris ragu mengatakan hal tersebut, ia takut respon Eila seperti apa.
Tujuan Kris ke sini ingin membantu Eila menyelesaikan masalahnya. Awalnya Kris pikir ia tak perlu ikut campur, tapi jika seperti ini hubungan Eila dan Arka bisa saja berakhir sebelum memulai. Kris membantu Eila bukan karena ia suka, tapi ia hanya ingin membalas budi.
Eila terkejut berlagak pura-pura tak tahu, “oh ya? Bagus dong, nanti gue sama Arka bisa cerai dan Arka bisa nikah sama itu cewek. Gue juga bingung kalau dia suka sama cewek itu kenapa nikah sama gue? Iyakan?”
__ADS_1
Kris sedikit tak percaya dengan respon Eila, ia fikir Eila akan marah tapi ternyata tidak. Padahal tanpa Kris tahu, Eila sedari kemarin menahan amarahnya dan rasa sakit di hatinya. “Lo fikir gue bakalan marah? Nggaklah, di sini yang berkuasa itu Arka jadi hak-hak dia mau selingkuh atau enggak, lebih cepat berpisah lebih baik karena gue bisa bebas ngelakuin apapun yang gue mau tanpa harus minta izin ke dia,” Terangnya.
¤¤¤