
¤¤¤
“Cewek yang gue suka itu lo Eil,” sambung Louis.
Pengakuan Luois membuat Eila terdiam, otaknya masih berpikir. Jadi selama ini Louis menyukai dirinya? Tapi kenapa Louis baru mengatakannya sekarang ketika ia sudah memiliki suami.
“Gue tau gue telah ngungkapinnya. Gue cuma mau ngutarain perasaan gue dan lo nggak perlu terbebani dengan pernyataan gue,” terang Louis.
Eila mencoba tersenyum, “lupain gue.” ucap Eila singkat hendak meninggalkan cafe.
Louis dengan cepat menahan Eila, menariknya dalam pelukannya dengan sangat erat. “Biarin gue meluk lo untuk kali ini Eil,”
Eila merasa risih dengan perlakuan Louis karena ia sudah memiliki suami, meskipun begitu ia juga tidak tega membiarkan Louis sahabatnya dalam kesedihan. Eila membalas pelukan Louis, lalu beberapa menit kemudian ia melepaskan pelukannya.
“Gue pulang dulu, udah malem. Takut Arka nyariin,” pamit Eila.
“Sepeduli itu lo ke Arka? Meskipun Arka udah ngehianatin lo?”
Eila terdiam, bagaimana Louis tau akan permasalahan rumah tangganya? Eila menghembuskan nafasnya perlahan, ia tidak ingin ambil pusing darimana Louis tahu masalah rumah tangganya.
“Arka suami gue Lou, terlepas dari ngehianatin atau enggak itu nggak akan ngubah status gue sebagai istrinya, gue harus tetep ngejalanin tanggung jawab seorang istri sekaligus ibu,” terang Eila lalu pergi meninggalkan Louis sendirian.
¤¤¤
Eila tak langsung pulang ke rumah, ia memakirkan mobilnya di area pinggir taman. Ia keluar dari mobil lalu duduk di ayunan yang ada di taman.
Suasana taman yang sepi di malam hari membuat hati dan pikiran Eila menjadi tenang.
“Lo nggak pulang?”
Suara yang ada di samping Eila membuatnya terkejut, ia menoleh. “Lo sendiri ngapain di malem-malem di sini Kris?” tanya Eila.
Yups, itu Kris.
“Gue tadi juga di cafe, ngeliatin lo ngobrol sama Louis dan gue ngikutin lo sampai sini.” Jawab Kris.
“Dih penguntit, jangan-jangan lo juga suka sama gue,” tuduh Eila.
“Geer banget lo, orang gue ke cafe karena disuruh cari Luois yang nggak pulang-pulang.” Sanggah Kris.
“Cari Louis?” tanya Eila bingung.
Kris mengangguk, “dia saudara tiri gue. Udah cukup lama nyokap nikah sama bokapnya, sorry gue baru bilang sekarang.” Jawabnya.
“Arka udah tau?” tanya Eila lagi yang dijawab Kris dengan gelengan kepalanya.
Eila tidak ingin bertanya lebih jauh tentang keluarga Louis ataupun Kris, ia menghargai privasi keduanya. Jika mereka ingin bercerita, maka Eila selalu siap untuk mendengarkan.
“Btw, lo sama Arka udah baikan?” tanya Kris.
“Ya gitu,”
“Gitu gimana? Lo harus kasih Arka kesempatan Eil, gue tau Arka salah tapi kasih dia kesempatan satu kali lagi.”
“Gue udah usahain, tapi gue nggak bisa semudah itu buat percaya lagi ke Arka. Gue butuh waktu, entah berapa lama. Tapi jangan paksa gue untuk saat ini.” Terang Eila lalu pergi meninggalkan Kris sendirian di taman.
¤¤¤
Sesampainya di rumah Eila mengganti pakaiannya lalu membaringkan tubuhnya di samping Arka. Ia tidak bisa tidur karena ucapan Louis yang masih terngiang dia pikirannya. “Pasti besok di kantor suasananya canggung,” batin Eila.
Eila menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia mencoba untuk tidur. Menarik nafasnya, lalu ia keluarkan begitu berkali-kali sampai akhirnya ia tertidur.
Keesokan paginya, Eila terbangun. Ia melihat jam yang ada di nakas meja yang menunjukkan pukul 9. Eila membulatkan matanya, ia telat. Segera ia berlari ke kamar mandi, tak butuh waktu lama ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian kantornya. Ia menyisir rambutnya, memakai bedak lalu mengoleskan lip ice di bibirnya.
Setelah itu ia berlari menuruni tangga. Ia melihat Erva, Kris dan Arka tengah sarapan. “Eil, kamu nggak sarapan dulu?” tanya Arka.
“Kalian gila ya sarapan jam segini, gue udah telat.” Ucap Eila.
__ADS_1
Arka langsung meminjam kunci motor milik Kris lalu mengikuti Eila yang berlari keluar rumah menuju garasi. “Aku anter pakai motor Kris, kalau kamu pakai mobil nanti macet.” Ungkap Arka.
¤¤¤
Eila sampai di kantor pukul setengah 10, ia segera turun dari motor berlari menuju ruangannya tanpa menghiraukan Arka. Sesampainya di depan ruangan miliknya, ia mengatur nafasnya lalu memasuki ruangan kerjanya yang di sana terdapat Louis. Ia jadi salah tingkah, “maafkan saya karena telat pak.” Ucapnya menundukkan kepalanya.
Meskipun Louis sahabatnya, Eila tetap harus bersikap sopan karena Louis juga atasannya. Eila menggigit bibir bawahnya karena gugup, ia tak berani menatap atasannya itu.
“Saya yang harusnya minta maaf. Maaf untuk kejadian tadi malam Eila, saya mengucapkannya dalam keadaan tidak sadarkan diri, anggap itu tidak pernah terjadi.” Ucap Louis. “Maaf juga karena membuatmu tidak nyaman,” sambungnya lalu meninggalkan ruangan Eila.
Eila menghela nafasnya lega, untung saja Louis tidak memarahinya karena telat. Tapi ia tidak bisa melupakan kejadian tadi malam begitu saja.
“Oke Eil, lupakan kejadian tadi malam untuk sementara. Sekarang lo harus fokus kerja.” Gumamnya.
¤¤¤
Eila telah menyelesaikan pekerjaannya, ia merapikan berkas-berkasnya lalu pergi meninggalkan ruangannya menuju parkiran. Di parkiran ia baru ingat kalau ia tidak membawa mobil, “aduh Eila bodoh banget sih sampai lupa. Ini Arka kemana juga, di anter tapi nggak di jemput ck.”
Eila membuka ponselnya untuk memesan ojek online tapi tiba-tiba ponselnya mati karena kehabisan batrei. Ia menunggu taxi, sudah 10 menit ia menunggu tapi tidak ada satupun taxi yang lewat. Ah sialnya dia hari ini.
“Mau pulang bareng gue?” tawar Louis yang berada tepat di samping Eila.
“E-eh, boleh deh. Sorry ya ngerepotin,”
“Kayak sama siapa aja Eil, gue nggak mau gara-gara kejadian tadi malem ngebuat persahabatan kita berubah.” Ungkap Louis.
“Itu nggak mungkin Lou, setelah lo ngungkapin perasaan lo meskipun dalam keadaan mabuk, pastinya gue atau lo bakal jaga jarak.” Terangnya Eila. “Gue udah punya suami Lou meskipun dalam pernikahan nggak ada kata cinta, tapi gue ngehargain hubungan pernikahan gue sama Arka. Lo sahabat gue dan gue nggak mau kehilangan lo, gue mau lo lupain gue oke. Lo pantes dapetin pasangan yang lebih baik dari gue.” Sambungnya sembari tersenyum pada Louis.
Louis hanya mengangguk dan tersenyum kecut, “gue usahain Eil, tapi kalau seandainya gue gagal lupain lo, jangan paksa gue buat lupain lo dan jangan larang gue buat tetep suka sama lo. Satu hal lagi, kalau suatu saat nanti gue ngeliat lo nangis karena Arka, saat itulah gue bakal ambil lo dari Arka.” Jelas Louis.
¤¤¤
Sesampainya di depan rumah, Eila mengucapkan terimakasih pada Louis dan menawarkan untuk makan malam bersama. Louis mengangguk menerima tawaran dari Eila. Mereka berduapun masuk ke dalam rumah bersamaan.
Arka, Kris, dan Erva nampak terkejut dengan kedatangan Eila dan juga Louis. Sedangkan Elylia tersenyum ceria melihat mamanya pulang. Eila menghampiri putrinya, mengecup kedua pipinya lalu duduk di samping Elylia dan Louis duduk di samping Erva.
“Handphone aku mati,” jawab Eila singkat.
Tampak raut wajah Arka yang menunjukkan cemburu, Arka menatap Louis dengan kesal. Ia menghembuskan nafasnya lalu pergi meninggalkan meja makan.
“KA LO MAU KE MANA?” teriak Kris yang tak dihiraukan Arka.
“Kalian makan aja, nanti makanan Arka biar gue yang nganterin ke kamar.” Terang Eila.
¤¤¤
Setelah makan malam, Eila dan Erva membereskan meja makan. Ia meminta Erva membawa Elylia ke kamarnya untuk beristirahat. Sementara ia mengantarkan Louis ke depan rumah.
“Gue pulang dulu Eil,” pamit Louis.
Eila mengangguk, “hati-hati di jalan Lou.” Ucap Eila melambaikan tangannya.
Setelah mobil Louis pergi meninggalkan halaman rumahnya, ia kembali ke meja makan mengambil nasi dan lauk untuk diberikan pada Arka. Ia naik ke atas, meletakkan nampannya di meja yang berada di samping Arka.
“Jangan lupa di makan,”
“Aku nggak nafsu.” Ucap Arka.
Eila mengerti apa yang ada di pikiran suaminya ini. “Arka, Louis cuma nganterin aku pulang karena ngeliat aku sendirian di parkiran. Lagipula dia sahabat sekaligus bos di kantor aku, kamu nggak perlu cemburu.” Terang Eila. “Kalaupun handphone aku nggak mati, aku bisa aja naik ojek.” Sambungnya.
“Aku cemburu karena dia punya perasaan ke kamu Eil.” Tegas Arka membuat Eila terdiam. “Aku tau itu karena aku juga laki-laki Eil, aku bisa ngeliat dengan jelas tatapan Louis ke kamu dan aku nggak suka itu.” Jelas Arka.
Eila masih bungkam, ia sedikit lega karena Arka tak tau kalau tadi malam ia bertemu dengan Louis tapi ia juga tidak bisa tenang, jika Arka mengetahui kalau Luois menyukainya apa dia tetap di izinkan bekerja di perusahaan Louis?
Arka menyentuh pundak Eila membuat sang empu tersadar dari pikirannya, “a-aku mau mandi dulu. Kita bicarakan ini lagi setelah aku mandi.”
¤¤¤
__ADS_1
Eila keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk, ia mengambil piyamanya di lemari. Ia melihat Arka yang begitu fokus dengan laptopnya sampai tak sadar bahwa istrinya sedang memperhatikannya, pandangan Eila beralih ke nampan yang ia bawa tadi, masih utuh.
“Arka,” panggil Eila.
Arka yang mendengar namanya dipanggilpun menoleh, ia tertegun melihat proporsi tubuh Eila yang begitu indah. Arka meneguk salivanya berkali-kali, hasratnya sebagai seorang laki-laki muncul tapi ia tahan.
“Kenapa?” tanya Arka mencoba tenang.
“Bisa nggak kesampingin kerjaan kamu, makan dulu kek. Kalau kamu sakit gimana? Jangan kayak anak kecil yang ngambek Arka,” omel Eila.
“Aku nggak ngambek Eil, aku cuma kesel itu aja. Lagian ini aku juga mau makan.” Bantah Arka.
Arka mengambil sesendok nasi dengan tangannya yang gemetar. Ia belum terbiasa melihat Eila yang hanya menggunakan handuk, itu membuat dirinya gugup hingga menjatuhkan sendok yang ia pegang. “Arka, lo kenapasih. Tenang, jangan gugup.” Batin Arka.
Eila mendekati Arka membuat Arka semakin gugup karena takut ia tidak bisa menahan dirinya. Eila menempelkan telapak tangannya ke dahi Arka, “kamu sakit?” tanyanya yang di jawab gelengan oleh Arka.
Eila mengambil sendok yang dijatuhkan Arka lalu meletakkannya di meja, “kamu ambil sendok lagi di dapur, ini kotor. Aku mau ganti baju dulu.” Ucapnya masuk ke dalam kamar mandi.
¤¤¤
Kini Eila dan Arka berada di kasur, keduanya saling membelakangi. Eila memikirkan apa dia akan tetap di izinkan bekerja atau tidak sedangkan pikiran Arka masih mengingat pada bentuk tubuh Eila. Seketika Arka menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. “Mesum banget sih gue, Arka lo harus sadar. Tahan Ka, lo pasti bisa.” Gumamnya.
“Arka,” panggil Eila.
Arka seketika membuka selimutnya ketika namanya dipanggil, “kenapa Eil?” tanyanya.
Eila mendekatkan tubuhnya pada Arka lalu memeluknya, itu membuat Arka terkejut, Arka merasa sesak nafas. Pikiran kotornya masih saja melayang-layang di otaknya.
“Ka, aku masih boleh kan kerja di perusahaan Louis?” tanya Eila menatap manik mata Arka. Eila benar-benar takut jika Arka tidak mengizinkannya, terlihat jelas sekali dari bola mata Eila yang penuh harapan agar ia diizinkan tetap bekerja.
Sebenarnya Arka tidak mengizinkan, tapi melihat Eila yang begitu gemas di matanya membuat ia mengiyakan pertanyaan Eila. “Masih, asal kamu bisa jaga jarak sama Louis.” Jawabnya.
Eila tersenyum, “makasih.” Ucapnya mengecup bibir Arka cukup lama.
Arka membulatkan matanya, ia terkejut kenapa Eila tiba-tiba semanis ini? Eila yang hendak melepas kecupannya ditahan Arka. Arka ******* bibir Eila, menekan tengkuk leher Eila memperdalam ciuman mereka. Ia sudah tidak bisa menahan hasratnya. Ia menginginkan Eila.
¤¤¤
Eila terbangun pukul 9 lewat 45 menit, ia merenggangkan tubuhnya. “Aduh badan gue sakit semua.”
“Pagi Eil,” sapa Arka keluar dari kamar mandi.
“Pagi,” balas Eila. “Kamu baru bangun juga? Erva sama Lia udah sarapan belum?” tanya Eila.
“Aku bangun dari jam 7, jogging bareng Erva sama Lia. Sarapannya juga udah di masakin Erva kok.” Jawab Arka.
Setelah mendengar jawaban Arka, Eila kembali menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia masih mengantuk dan lelah. Arka yang melihat Eila kembali tidur hanya tersenyum. Ia mendekati Eila lalu menyelinap ke selimut Eila. Arka memeluk Eila dari belakang sembari mengelus perut rata istrinya itu dan berharap akan ada kehidupan di rahim Eila.
“Arka geliiii, jangan di elus ih.” Omel Eila.
Arka tak mempedulikan omelan Eila, ia tetap mengelus-elus perut istrinya itu hingga membuat istrinya marah. “Arkaaaaaa ish, nyebelin banget sih!” geramnya mencubit lengan Arka.
“Aduh,”
Eila membalikkan badannya menghadap Arka, “rasain tuh. Mangkanya nggak usah bikin orang kesel.”
Sekali lagi Arka tak menghiraukan ucapan Eila, ia kembali memeluk Eila dengan sangat erat, kali ini Arka mengelus punggung Eila, Eila juga pasrah karena ia lelah meladeni Arka yang sama sekali tidak menggubris ucapannya.
Arka berterimakasih pada Tuhan, hari ini ia benar-benar bahagia karena hubungannya dengan Eila mulai membaik. Ia akan berusaha yang terbaik agar kedepannya hubungan mereka bisa lebih baik lagi.
“Arka aku capek, mau tidur jangan ngelus-ngelus punggung aku. Geli tau,” gumam Eila.
“Iya-iya maaf, yauda tidur aja.” Ucap Arka mengecup dahi, kedua pipi Eila dan mengecup bibirnya cukup lama.
Setelah melepaskan kecupannya, Eila dan Arka saling bertatapan. Keduanya tersenyum tulus lalu saling berpelukan hingga akhirnya tidur bersama.
¤¤¤
__ADS_1