
¤¤¤
7.00 PM
Eila dan Erva sekarang berada di depan rumah Kevin. Eila mengetuk pintu rumah Kevin. Tak lama keluarlah orang yang mereka cari.
"E-erva kamu ngapain ke sini?" tanya Kevin.
"Kita boleh masuk nggak?!" tanya Eila sewot.
"Eh i-iya, silahkan masuk."
Eila dan Erva duduk bersamping. Raut wajah Eila saat ini tak bersahabat, layaknya singa liar yang terganggu tidurnya.
"Kamu tau kenapa aku dateng ke sini?" tanya Eila menatap Kevin datar.
"Enggak kak."
"Aku mau kamu nikahin Erva." Ujar Eila.
Erva hanya diam menundukkan kepalanya. Ia tak berani bersuara, ia tahu kakaknya sedang mode 'on' jadi lebih baik diam.
"Apa?! Enak aja main nikah. Gue nggak mau nikahin adek lo." Teriak Kevin menunjuk Erva.
Eila menghela nafas, "kamu harus tanggung jawab Kevin!"
"Tanggung jawab apa?!! Gue nggak ngelakuin apapun ke adek lo."
"Erva hamil." ucap Eila menekan kata hamil.
"Erva itu mantannya banyak, siapa tahu itu bukan anak gue!"
Plakk
Eila menampar Kevin kesabarannya benar-benar sudah habis, "heh mantan Eila lebih baik daripada preman bajingan kayak kamu! Preman itu gentle, tapi orang kayak kamu bahkan nggak pantes disebut preman!" bentak Eila.
Kevin menarik kerah baju Eila, "heh lo mendingan pergi dari rumah gue. Sebelum gue bunuh lo!" ancam Kevin.
Erva bangkit melerai Eila dan Kevin.
"Kevin lepasin kakak gue." Ucap Erva mencoba melepaskan tangan Kevin dari baju Eila.
Tapi gagal, Kevin justru mendorong Eila dan Erva hingga terpental.
"Akhh." Ringis Eila dan Erva.
"Erva, are you okay?" tanya Eila khawatir.
"I'm okay. Kak mending kita pergi dari sini. Aku nggak mau kakak celaka gara-gara aku." Pinta Erva.
"Tapi Erva..."
"Kak aku mohon."
"Okey."
Eila mengambil tasnya, ia menatap Kevin tajam.
"Ingat Kevin, hidup kamu nggak akan pernah tenang." Ucap Eila lalu pergi meninggalkan rumah Kevin.
¤¤¤
Erva membaringkan tubuhnya di kasur ditemani Eila yang duduk di sampingnya tengah mengobati luka didahi Erva.
"Maaf. Maaf aku udah kecewain kakak dan buat hidup kakak susah."
"Ini takdir, kamu sekarang tanggung jawab kakak. Kakak nggak pernah merasa kamu nyusahin kakak. Tapi Erva, kalau kamu nggak nikah nanti bayi kamu lahir tanpa ayah."
"Aku tau, aku udah mutusin ngelahirin bayi ini tanpa ayah. Dan aku nggak mau kuliah lagi." Ujar Erva.
"Kenapa?" tanya Eila terkejut.
"Aku nggak mau dibully anak kampus. Mereka selalu bully aku kak, bilang aku miskin, matre, dan murahan." Terang Erva menahan tangisnya.
"Erva kenapa kamu nggak bilang sama kakak dari dulu?"
"Aku nggak mau kakak terbebani."
"Kamu nggak pernah membebani kakak. Dengar, kamu harta kakak satu-satunya. Kalau kamu dibully seperti itu buktikan ke mereka kalau kamu bisa lebih hebat dan sukses. Suatu saat nanti mereka pasti benar-benar membutuhkanmu. Karena itu kamu harus kuliah, biar kamu bisa bungkam mulut murahan mereka." Terang Eila.
Erva tersenyum. "Makasih kakak selalu support aku. Aku janji apapun yang terjadi, aku akan tetep lanjutin kuliah. Aku tahu aku harus nanggung malu, tapi aku lebih malu kalau aku nggak bertanggung jawab atas hal yang aku perbuat."
Semangat Erva kembali membuat Eila merasa tenang.
"Nah gitu dong. Cepetan tidur, jangan begadang, dan jangan banyak fikiran oke." Ucap Eila mengecup puncak kepala Erva.
"Selamat malam kak."
"Selamat malam juga Erva." Ucap Eila menutup pintu kamar Erva.
Setelah menutup pintu kamar Erva, Eila menyenderkan punggungnya dipintu. Perlahan ia terduduk, menekuk kakinya.
Ia merasa cemas jika Erva melahirkan anaknya tanpa ayah. Semua yang ia ucapkan pada Erva tadi hanya untuk menyemangatinya. Ia takut jika Erva dihina orang lain. Ia tidak bisa mendengar kata hinaan itu untuk adiknya.
Tak terasa buliran air keluar dari pelupuk matanya. Hatinya merasa sakit jika mengingat ucapan Erva.
"Mereka selalu bully aku kak, bilang aku miskin, matre, dan murahan."
Kalimat itu terus terngiang-ngiang ditelinganya. Eila merasa ini salahnya, mengapa Erva yang harus menerima hinaan itu. Mengapa harus Erva yang mengalami.
Pikirannya kosong, begitu juga dengan perutnya. Tatapan Eila juga kosong seakan tak ada harapan untuk hidup.
"Apa benar gue anak pembawa sial?" batin Eila.
"Ini semua salah gue. Dasar Eila pembawa sial, pembawa sial, pembawa sial." Lirihnya menjambak rambutnya.
"Pembawa sial." Gumam Eila menampar pipinya sendiri.
Eila mengucapkan kata 'pembawa sial' berkali-kali sekaligus menampar pipinya sendiri. Ia merasa semua kejadian buruk yang orang terdekatnya alami itu karena salahnya.
"Eila bodoh, nggak berguna."
Pipi Eila memar, mata dan hidungnya memerah karena menangis. Rambutnya acak-acakan karena ia menjambaknya.
"Bodoh, bodoh, bodoh." Ucap Eila memukul kepalanya.
"Eil, apa yang kamu lakukan. Hentikan." Ucap Arka menahan tangan Eila agar berhenti memukul kepalanya.
"Aku bodoh, nggak berguna, pembawa sial, dan ini semua salah aku." Gumamnya.
Setelah mengucapkan hal itu, Eila pingsan. Arka langsung menggendongnya, membawa Eila ke kamar. Arka menelfon dokter kenalannya untuk segera datang ke rumahnya.
20 menit kemudian. Seorang dokter kenalan Arka datang. Ia segera memeriksa keadaan Eila.
"Gimana keadaannya Kris?" tanya Arka khawatir.
"Dia baik-baik aja. Tapi gue saranin, istri lo jangan banyak fikiran dan makan teratur." Jawab Kris.
"Kok bisa memar pipinya?" tanya Kris.
"Gue juga nggak tahu. Gue tahunya waktu dia mukul kepalanya." Jawabnya.
"Ohh, kalau gitu gue obatin dulu memarnya."
__ADS_1
"Nggak usah, jangan sentuh istri gue. Lo tunggu aja di bawah, udah lamakan nggak ketemu? Kita ngobrol sebentar."
"Posesif amat." Batin Kris.
"Oke gue tunggu di bawah." Ucapnya meninggalkan kamar Arka.
Arka mengobati luka Eila dengan hati-hati dan sangat teliti. Setelah mengobati, ia mengecup bibir dan juga dahi Eila yang sedang tertidur.
"Jangan banyak fikiran. Cepat sembuh, sayang." Bisiknya.
¤¤¤
Arka dan Kris tengah berbincang-bincang di ruang keluarga. Arka sudah menganggap Kris sebagai keluarganya sendiri, karena Krislah satu-satunya teman sejati Arka.
"Ada perkembangan sama istri lo?" tanya Kris.
"Ada, cuma 5% doang."
"Pfttt. Boleh nggak gue ketawa?"
"Nggak. Lia, Erva, Eil lagi tidur. Gue nggak mau mereka bangun."
"Erva? Adiknya istri lo?" tanya Kris.
"Iya."
"Gue mau tanya perkembangan lo sama istri lo."
"Kan gue udah jawab. Eila itu beda nggak kayak Stella. Eila lebih ke arah mandiri, keras kepala, dan pekerja keras. Sedangkan Stella kebalikannya." Terang Arka.
"Yaiyalah, lo nikahin Stella karena lo emang cinta sama dia. Sedangkan Eila? Kalian nikah karena terpaksa." Kata Kris.
"Gue bisa lihat aura Eila, dia emang tipe yang pekerja keras. Tapi saat dia harus menikah sama elo, itu seakan-akan menghambat impiannya." Terang Kris. "Mungkin Eila mirip sama gue." Lanjutnya.
"Mirip? Mirip darimana coba?" tanya Arka meremehkan.
"Gue punya pikiran menikah adalah penghambat impian gue. Karena itu gue jones, gue mau bener-bener sukses baru nikah. Mungkin Eila juga mikir gitu." Jelasnya.
"Emangnya seberapa banyak lo tahu tentnag Eila?" tanya Kris.
"Gue nggak tahu sama sekali tentang dia. Tapi akhir-akhir ini dia banyak tekanan dan cerita sedikit demi sedikit ke gue."
"Baguslah, seenggaknya kalian bisa jadi dekat. Btw, elo masih saingan sama si bocah?"
"Masih, dari info yang gue dapet Eila sempat kerja di situkan? Tapi hari ini dia dipecat."
"Kok bisa? Gue nggak yakin Eila dipecat gegara kerjanya nggak becus."
"Gue juga nggak tau kenapa dia bisa dipecat." Jawab Arka memakan cemilan.
"Lo kok bego sih, kalau masalah gitu tanyain biar bisa lebih deket. Aelah bego lo masih ada aja." Hina Kris.
"Gue udah tanya tapi nggak di jawab." Ucap Arka merebahkan dirinya di sofa.
"Sadboy. Hahahaha." Tawa Kris.
"Berisik, jangan ketawa." Gertak Arka membuat Kris terdiam. "Lo denger suara nggak?" tanya Arka.
"Lah iya suara pisau motong kan? Sekarang udah jam 11 mana ada yang masak malem-malem."
"Kita ke dapur aja." Ajak Arka.
Mereka berjalan mengendap-endap agar tak menimbulkan suara. Arka dan Kris mengintip dari balik tembok.
"Ka itu manusia kan?" tanya Kris memastikan bahwa sosok yang ia lihat tadi memang manusia.
"Iya, lo liat aja kakinya sama bayangannya." Bisiknya.
"Kalian ngapain di sini?"
"Gue bukan kuntilanak lol. Pengecut amat jadi cowok."
"Eila kamu ngagetin tau nggak." Ucap Arka mengelus dada.
"Bodoamat. Rasain tuh gimana rasanya dikagetin. Wleee." Ejek Eila menjulurkan lidahnya.
"Ngapain lo malam-malam ke dapur?" tanya Kris.
"Gue buat salad buah. Laper." Jawabnya.
"Eil kamu udah mendingan?" tanya Arka.
"Lumayan." Jawab Eila mengambil nampan berisi salad buah dan kue.
Ia membawanya ke ruang keluarga lalu kembali lagi ke dapur mengambil sebatang coklat, susu kotak, dan buah-buahan yang sudah ia kupas.
Arka dan Kris terkejut yang melihat porsi makan Eila begitu banyak.
"Arka lo bener kan belum 'ngapa-ngapain' sama Eila?" bisiknya.
"Iya."
"Tapi dia makan kek orang hamil tau nggak?" bisik Kris lagi.
"Eil lagi sedih Kris, biasanya orang sedih makan banyak." Bisik Arka.
"Justru orang sedih itu nggak makan bego." Bisiknya lagi.
"Eila kenapa nggak makan nasi aja daripada makan gituan? Nanti kamu laper lagi." Ujar Arka.
"Aku alergi nasi."
Arka dan Kris saling berpandangan.
"Gue yakin Arka baru tahu kalau Eila alergi nasi." Batin Kris.
"Lo nggak takut gendut makan begituan?" tanya Kris.
"Nggak. Gue lebih takut nggak bisa makan beginian." Jawab Eila.
"Istri Arka ajaib." Batin Kris.
"Lo hamil?" tanya Kris membuat Eila tersedak.
"Uhuk-uhuk."
Eila segera meminum susu kotaknya, "lo gila apa? Gue bahkan nggak pernah berfikir untuk hamil, gue mau fokus sama masa depan gue yang masih abu-abu." Jawab Eila.
"Gue udah bilang Ka, prinsip kita sama." Bisik Kris bangga.
"Kalian kenapa sih dari tadi bisik-bisik? Ada yang kalian sembunyiin ya?" tuduh Eila.
"Tau tuh Arka, ngajak bisik-bisik." Fitnah Kris.
"Enak aja, lo yang bisikin gue dulu." Gerutu Arka.
"Bisa diem nggak? Gue nggak bisa nikmati makanan gue ngelihat Tom & Jerry."
"Kenapa?Tom & Jerry kan lucu." Ucap Kris.
"Iya mereka lucu, tapi kalian enggak!" ucap Eila. "Lo nggak pulang?"
"Ngusir?" tanya Kris.
__ADS_1
"Iya. Hush, hush." Usir Eila.
Kris berdiri, "selamat bersenang-senang kalian berdua. Gue pulang dulu." Pamit Kris.
Sepulangnya Kris, makanan Eila sudah habis. Ia mengembalikan nampan, mangkuk dan sisa makanannya ke dapur.
"Eil tunggu." Tahan Arka.
"Apa?"
"Biar aku yang makan sisanya." Ucap Arka mengambil sisa makanan Eila.
"Tapi--"
"Ini bekas bibri istri aku, jadi aku suka." Pungkas Arka membuat pipi Eila memerah.
"Dasar Arka mesum." Gumamya meletakkan nampan dan mangkuk ke tempat pencuci piring.
Arka mengikuti Eila, ia berada tepat di belakang Eila yang sedang mencuci beberapa piring kotor. Arka memeluknya dari belakang, Eila tak masalah asalkan tak menganggu pekerjaannya.
"Setidaknya itu membuktikan aku masih normal bukan?" goda Arka menaruh kepalanya dibahu Eila.
Eila memutar bola matanya, "Arka jangan becanda, aku capek mau tidur. Good night." Ucap Eila.
Mereka berdua sekarang berada di kamar. Arka membaringkan tubuhnya di kasur, memeluk Eila dari belakang dan membenamkan kepalanya di leher Eila.
"Arka..."
"Tidur Eil, sekarang udah malam. Aku tahu kamu risih, anggap aku ibu kamu yang tidur sama kamu waktu kecil." Ucap Arka.
Eila terdiam, kedua ujung bibirnya perlahan naik ke atas lalu ia memejamkan matanya.
¤¤¤
"Arka bangun." Ucap Eila meniup rambut Arka.
Eila menghelas nafas, sudah pasti Arka tidak akan bangun jika ia hanya memanggil namanya. Eila memeluk Arka dari depan, "Arka bangun, kamu harus kerja."
Karena tak ada reaksi dari Arka, ia turun dari kasur. Eila menghampiri kamar Elylia tapi Lia tak ada di kamarnya. Lalu ia ke meja makan tak ada siapapun.
"Mungkin Lia sama Erva udah berangkat sekarang kan udah jam 6.30 AM."
"Good morning Eil, pagi-pagi mikirin apa?" tanya Arka tepat di telinga Eila.
"Bukan apa-apa."
"Aku mau tanya sama kamu." Ucap Arka duduk di kursi meja makan.
"Tanya apa?"
"Bisa kamu ceritain kenapa kamu nyakitin diri kamu sendiri kemarin?"
"Aku nggak mau bahas itu Arka." Jawab Eila. "Kamu hari ini ke kantor kan?" tanya Eila mengalihkan pembicaraan.
"Iya. Aku mungkin lembur." Ujar Arka.
Seusainya sarapan, Arka dan Eila kembali ke kamar.
"Kamu mandi aja dulu, aku siapin jas sama tas kamu." Ucap Eila.
Arka memasuki kamar mandi, sementara Eila merapikan kasurnya lalu menyiapkan jas dan tas Arka.
Tak lama kemudian Arka keluar dari kamar mandi, ia sudah memakai pakaian kantornya kecuali dasi dan jas.
"Arka sini aku pasangin dasi."
Eila memasangkan dasi ke leher Arka dengan berjinjit, tapi tetap saja ia tak bisa menggapai leher Arka. Arka yang peka menekuk kakinya, mensejajarkan tingginya dengan Eila. Setelah memasangkan dasinya, Eila juga memasangkan jas Arka.
"Aku berangkat kerja dulu, jaga rumah baik-baik. Kalau keluar izin aku dulu." Ucap Arka mengecup puncak kepala Eila. "Byee..."
Setelah kepergian Arka, Eila membaringkan tubuhnya di kasur. Ia tak tahu hari ini harus melakukan apa. Berjam-jam ia membaringkan tubuhnya di kasur.
"Lama-lama gue juga bosen kalau gini terus."
Eila memutuskan untuk berjalan-jalan menghirup udara segar. Ia segera mandi, seusainya mandi ia menggunakan pakaian casualnya.
Eila duduk di café meminum air mineral dan brownis coklat yang ia pesan. Ia menikmati suasana seperti ini, membuat dirinya tenang dan melupakan masalahnya meski hanya sementara.
"Hey Eil."
Eila menoleh ke arah sumber suara yang menyapanya. Bibirnya tersenyum, "Sam? Lo Sam kan?"
"Iya, apa kabar lo? Lama nggak ketemu." Ucap Sam memeluk Eila, Eila membalas pelukan Sam.
"Eh duduk sini, wah nggak nyangka gue bakal ketemu sama elo." Seru Eila.
"Gue juga, btw lo kesini sendiri?" tanya Sam.
"Iya. Kalau lo?"
"Sebenernya sih gue lagi nunggu Jennie, Mina, sama Louis." Jawab Sam.
"Baru aja diomongin udah dateng aja, hey." Sapa Eila melambaikan tangannya pada Jennie, Mina, dan Louis yang baru masuk.
Mereka bertiga menghampiri meja Eila dan Sam, mereka bersalaman dan berpelukan satu sama lain. Lalu duduk melingkar.
"Udah lama nggak ketemu La? Gue rindu sama elo." Ucap Jennie tersenyum.
"Bisa aja lo. Lo masih sama Sam kan?" tanya Eila.
"Iya, nih jangan lupa datang." Ucap Jennie menyerahkan sebuah undangan pernikahannya.
"Siap bos."
"Lou, lo pesenin ya." Pinta Mina.
"Pesen apa?"
"Kayak Eila aja, tapi minumnya Chocolate Coffe." Saran Jennie.
"Oke."
Semuanya berbincang-bincang sesekali tertawa karena candaan Sam kecuali Louis yang sedang berbicara dengan seorang waiter.
"Sekarang lo kerja apa La?" tanya Jennie.
"Gue nganggur, baru aja dipecat." Jawab Eila lesu.
"Kok bisa?"
"Yaa, panjang ceritanya. Kalian ada lowongan nggak? Biar gue nggak dirumah terus, gue bosen." Ujarnya.
"Sorry banget La, di perusahaan gue nggak ada." Ucap Jennie.
"Lo mau jadi sekretaris gue?" tanya Louis tiba-tiba.
Mata Eila membulat seakan tak percaya apa yang ia dengar, "ma-mau dong. Kapan gue kerja?" tanya Eila semangat.
"Besok."
"Thanks Lou, lo emang terbaik deh." Puji Eila memeluk Louis.
Beberapa menit kemudian pesanan mereka datang, "selamat menikmati." Ucap pelayan.
__ADS_1
Mereka ber-5 berbincang hingga sore hari, Eila tak menyadari jika ada yang memperhatikannya dari kejauhan dengan tatapan cemburu.
¤¤¤