
Marlan terus memperhatikan Gilang.
Mereka melanjutkan perjalanan karena sudah beberapa menit istirahat. jika istirahat lama, perjalanan menuju puncak pasti akan malam.
Damar menghindari perjalanan malam.
Bukan tidak biasa.
Tetapi kali ini ia mengajak adik sepupu nya yang masih pemula.
Sehingga lebih nyaman jika melakukan perjalanan di pagi hari, sehingga sore nanti sudah sampai di puncak.
Mereka terus berjalan menapaki jalan yang sedikit terjal.
Tak sedikit dari mereka yang terlihat lelah dalam melakukan pendakian kali ini.
Lain hal dengan Gilang.
Pria itu nampak sangat bugar dan penuh semangat.
Tak nampak wajah lelah pada Gilang.
'Kok Gilang semangat banget yaa pendakian kali ini?'. Ucap Marlan di dalam hati.
Sudah cukup jauh mereka berjalan.
Kira kira satu atau dua jam lagi mereka tiba di puncak gunung S jika mereka tidak banyak beristirahat.
Yang paling sering meminta istirahat adalah bara.
Setengah perjalanan tadi, bara mengeluh kaki yang kemarin sakit, kambuh kembali.
Maka dari itu bara meminta waktu untuk berhenti sejenak.
Seperti saat ini...
Bara kembali meminta berhenti untuk merenggangkan kaki nya sejenak.
"eh berhenti sebentar lagi dong. Makin nyeri aja nih kaki kayaknya". Teriak bara pada damar yang posisi nya tiga barisan di depan.
"Oke bar". jawab damar.
__ADS_1
semua menunggu bara yang melemaskan kaki nya yang sakit itu.
Maudy memilih untuk bersandar sebentar di pohon besar.
Sedangkan Marlan menghampiri damar yang jauh berada di depan karena Marlan berada di barisan akhir.
"mar". ucap Marlan.
"Yo. Kenapa?".
"Coba Lo perhatiin Gilang deh. Kok dia gak ada capek sama sekali ya?". ucap Marlan pada damar.
"Hmmm.. Kalo di lihat sekilas sih iya. Dia biasa aja gitu yaa kelihatan nya". Damar pun memperhatikan Gilang yang sedang berdiri di dekat pohon besar.
"Tadi gue liat dia kayak ada makan pil gitu mar. Terus nih yaa, gue perhatiin dari tadi Gilang ngeliatin adik lu terus". Marlan mengungkapkan kegusarannya terhadap Gilang.
Karena ini kali pertama mereka nanjak membawa wanita pemula. Desi memang sudah terbiasa mendaki.
"Kalo itu masa sih? Gilang liatin adek gue terus?". tanya damar.
"Iyaa mar. Sebaiknya Lo awasin deh adek Lo itu. Mencegah lebih baik dari pada mengobati mar". Setelah Marlan mengucapkan itu semua, damar berteriak pada teman temannya kalau mereka akan melanjutkan perjalanan menuju puncak....
Maudy dan bara yang memang baru kali pertama melakukan pendakian begitu takjub melihat pemandangan yang sangat luar biasa.
"Gilaaaaa... Bagus banget gini pemandangan nya bar. Betah deh gue di sini". ujar Maudy yang takjub pada ciptaan Tuhan ini.
"Kita nginep kan di sini kak dam?". tanya Maudy.
"Iyaa dong nginep cantik". yang menjawab malah Gilang.
"Yeh yang ditanya siapa, yang jawab siapa". Maudy memalingkan wajahnya dari Gilang.
'Ck.. Sombong sekali perempuan satu ini'. Batin Gilang.
Semua orang mendirikan tenda.
Bara satu tenda dengan damar, Marlan dan Ucok. Sedangkan Maudy berdua dengan Desi.
Tenda sudah berdiri. Mereka semua memasuki barang ke dalam tenda.
Marlan dan Desi menyiapkan peralatan masak. Perut sudah berteriak minta di isi.
__ADS_1
Marlan memasak nasi dibantu Ucok. sedangkan Desi dan damar memasak lauk pauk.
Yang lainnya menyiapkan air minum, teh, kopi dan lainnya.
"Wah kak Desi masak apa ? Aku bantu apa nih?". tanya Maudy menghampiri Desi dan damar yang sedang asik memasak hidangan makan sore.
"Kamu mau bantuin?" tanya Desi
"Iyaa kak. gak enak dong kalo tinggal makan aja tanpa bantu bantu. Hehehe".
"Itu deh, di tas ada daging kaleng. Kita tumis aja dagingnya. Sama plastik sampah nya keluarin yaa di, supaya tetap bersih habis kita masak". titah Desi pada Maudy.
Maudy pun langsung mengerjakan tugasnya.
Ada bawang Bombay dan cabai.
Maudy mengiris iris bumbu itu untuk memasak daging.
Damar kepikiran ucapan temannya Marlan.
Damar coba melirik ke arah Gilang.
Deg....
Ternyata benar.
Gilang terus melihat ke arah Maudy sambil tersenyum tidak jelas.
'Kayak bukan Gilang nih'. batin damar.
.
.
.
.
.
Selamat membaca semuaaa nyaaaaa....
__ADS_1