
Kehidupanku berubah saat aku menemukan seorang gadis di tengah hujan. "Bisakah aku tinggal dengan mu?" gadis itu mengatakan hal itu padaku.
Kupikir dia kabur dari rumah sampai dia menceritakan semua, bukan hanya tinggal dengan ku tapi dia juga adalah istriku.
Benar, itu tercantum dalam dokumen pernikahan, jadi secara langsung aku telah menikahinya.
Dia gadis yang cantik, kecantikan itu yang membuat orang-orang terpukau, bukan hanya cantik tapi dia memilih keanggunan yang luar biasa.
Tidak... aku pikir menikahi seseorang yang baru saja bertemu akan sulit, tapi tidak demikian dengannya. Aku merasa dia sudah mengenalku sejak awal, saat pertemuan pertama kami aku terkejut dia mengetahui namaku.
Ya.. aku akan menikmatinya untuk sekarang ini, tapi bagaimana jika dua gadis cantik duduk bersebelahan denganmu?
Itu yang ku alami saat ini, karena aku tidak ingin masalah semakin panjang. Kami memutuskan untuk makan siang bersama.
Jika kami kan di kafetaria itu akan mencuri perhatian jadi agar aman aku menemukan tempat yang cocok.
Di halaman belakang sesekolah. Aku hanya terpikir tempat yang tidak sering dikunjungi oleh siswa adalah halaman sekolah.
Tempatnya sangat nyaman, terlebih lagi ada beberapa tanaman yang membuat suasana sejuk.
Baiklah waktu menikmati hal itu, itu yang kupikirkan...
"Ini buka mulutmu..."
Yumina menyodorkan sumpitnya kearah menandakan itu adalah sebuah suapan.
"Tidak, kamu tidak perlu melakukan hal itu."
"Memang kenapa? Jangan malu begitu."
Ini bukan soal itu tapi... Aku melihat Risu dengan kondisi sedang menahan amarah.
Yumina terus mendesak ku agar aku membuka mulut.
"Haahhmmuum..."
"Anak pintar.."
Aku bukanlah anak-anak, saat itu masuk aku tidak dapat merasakan rasa dari masakan, mungkin aku terlalu malu hingga aku tidak dapat merasakannya.
"Seperti kalian sedang bersenang-senang?"
"Tentu saja.." Jawab Yumina dengan nada senang.
"Hei!! Jelaskan hal ini kepada ku, Hari!!"
"Baik.. baik.. Huhh, sebenarnya kami sudah saling kenal sejak lama, bisa dibilang sebagai teman masa kecil."
"Ehh, tapi kamu tidak bilang kalau mempunyai teman masa kecil?"
"Aku lupa memberitahukan kepada mu, maaf."
"Lalu apa kalian sering melakukan hal ini?"
"Tentu saja, kami sering melakukan hal tersebut." Yumina menyela
Saat aku akan menjelaskan Yumina tiba-tiba saja memotong pembicaraan kami.
"Apaaa!!!?"
"Eheeh.. apa kamu keberatan?"
"I—Itu..."
"Kalau kamu tidak keberatan maka tidak masalahkan?"
Risu terpojok, dia tidak dapat mengatakan perkataan selanjutnya. Aku kasihan kepadanya tapi aku sendiri tidak dapat berbuat apapun.
Kami akhirnya menghabiskan istirahat tersebut, setelahnya bel berbunyi. Kami berpisah saat menuju kelas, dan sekarang hanya kami berdua saja.
Aku menyuruh Yumina untuk duluan ke kelas dan aku akan menyusulnya. Jika ini terlihat maka kami akan di curiga oleh teman sekelas.
Jam pelajaran berlanjut hingga waktu sore, dan jam pulang sekolah tiba.
Aku segera menuju loker sepatu dan menggantinya, tapi secara mengejutkan Yumina menunggu ku.
Kupikir dia sudah pulang duluan setelah ku, apa yang dilakukan?
"Kenapa kamu masih di sini?"
"Apa kamu bisa menemani ku berbelanja?"
"Boleh saja."
"Aku akan memasakan makan yang enak untuk mu."
"Aku sangat menantikannya."
Setelahnya kami pergi berbelanja di supermarket, jalannya sangat dekat apartemen kami.
Dua orang siswa... aahh tidak, sepasang suami-istri belanja bersama. Sejujurnya aku sangat berdebar-debar saat ini.
Tapi aku harus tetap tenang. Kami membeli beberapa sayuran, buah dan daging.
"Itu bukannya sake? Tapi kita dilarang untuk membelinya."
"Tenang saja, ini sake beras jadi anak di bawa umur boleh membelinya karena tidak mengandung alkohol."
"Ternyata kamu hebat."
"Ini wajar, aku adalah istri mu."
"Kamu benar."
"Aku rasa bahan yang kita perlukan sudah cukup."
"Apa yang akan kamu buat malam ini?"
"Soal itu.. rahasia.."
Kami pergi ke meja kasir untuk membayar, saat keluar hari sudah malam.
Kami sampai dirumah, Yumina menyuruhku untuk mandi terlebih dahulu dan menganti pakaian.
Aku pada akhirnya dapat melepaskan rasa lelah ini, tidak ada yang lebih enak selain berendam.
Semua beban begitu saja menghilang dariku. Aku selesai dan menganti baju, saat keluar aroma wangi dari masakan Yumina tercium di hidungku.
Ini sangat harum, aku keluar dan mendapati sosok Yumina dengan celemek sedang memasak.
Yaampun dia benar-benar terlihat seperti seorang istri.
Setelah beberapa menunggu... akhirnya masakannya selesai, aku tidak berhenti untuk terpukau untuk masakannya.
"Selamat makan."
Aku menyuap ke mulutku, ternyata benar masakannya sangatlah lezat, saat memakan aku merasakan rasa yang luar biasa.
Memang pada dasarnya masakan yang dia buat sangatlah sederhana, tapi kenapa jauh lebih enak dari umumnya.
Seperti sup miso ini, rasa kaldunya benar-benar kuat terutama saat tahu yang berada di miso hancur.
Rasanya jauh lebih enak, apa dia sengaja membiarkan hancur begitu saja?
Pokoknya makan malam ini sangatlah lezat, aku menikmati saat santai begini.
"Nee.. sayang.."
"Hmmm?"
Aku melihat kearah Yumina, saat makan aku merasa Yumina ingin mengatakan sesuatu.
Ini terlihat jelas dia gelisah saat ingin mengatakannya, tapi beberapa saat wajah gelisahnya berubah menjadi raut wajah memerah.
__ADS_1
"Be—Begini..."
Wajahnya semakin memerah, astaga saat melihat ini dia imut.. benar-benar imut... raut wajah istriku tidaklah cantik tapi dia memiliki sisi yang lain.
"Aku ingin kamu jangan mendekati gadis lain!"
Aku terkejut saat mendengarnya. Kupikir dia ingin meminta sesuatu, tapi saat kamu mengatakan hal itu di tambah raut wajah memerah aku rasa dia cemburu.
"Anu, Yumina... mungkinkah kamu cemburu?"
"Ti—Tidak!!"
Dia cemburu..
Seperti perhatian ku kepadanya sangatlah kurang, aku mengerti perasaannya. Tapi Risu itu baik, kami tidaklah memiliki perasaan apapun selain teman.
Aku harus mengenal lebih detail mengenai istriku ini, kami memang baru saja bertemu dan tidak tau latar masing-masing.
Benar juga besok libur mungkin sebaiknya aku mengajaknya keluar.
Ini bagus, mengingat ini cara tercepat untuk saling kenal.
"Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat?"
"Eh?"
"Karena besok libur, kupikir tidak ada salahnya untuk jalan-jalan keluar."
"Benar juga, bagaimana kalau ke taman hiburan?"
"Taman hiburan? Boleh saja, kebetulan aku mendapatkan dua tiket ke taman hiburan dan aku sama sekali belum menggunakannya."
"Tapi kenapa kamu tiba-tiba mengajakku?"
"Tidak ada salahnya kita keluar berdua, terlebih lagi aku ingin mengenal dirimu lebih jauh."
"............"
"Iya, aku sangat menantikannya."
...----------------...
Hari besok tiba, saat bangun dan bersiap-siap aku terkejut melihat sosok anggun di pagi hari.
Yumina memakai baju kera lengan panjang di kombinasikan dengan rok maxi yang menutupi hingga betis terlebih lagi motif tartan (kotak-kotak) yang tidak terlalu mencolok membuatnya sangat manis.
Terlebih lagi bagian penataan rambutnya, dia menggunakan gaya klasik straight bangs-long membuat dirinya terlihat mengemaskan.
Apa ini!? Ini benar-benar tidak baik untuk jantungku...
"Selamat pagi, sayang..."
"Ahh.. Selamat pagi..."
"Hm? Ada apa?"
"Tidak... bukan apa-apa."
Gawat!! Istriku hari ini sangat cantik..
"Hei! Ada apa denganmu?"
"Hari ini kamu terlihat sangat cantik, jadi aku terpukau melihatnya."
"Begitu ya.."
Kenapa kamu ikut memerah wajahnya? Harus aku akui penampilan mungkin akan menarik perhatian orang lain.
Kami segera pergi ke taman hiburan, butuh sekitar 1 jam menggunakan kereta.
Setibanya di stasiun aku terkejut, mengingat ramai sekali, kupikir saat week day akan sepi.
Kami masuk ke dalam kereta dan beruntungnya kereta yang kami naik sepi, ada beberapa penumpang di dalam yang terus melihat kami.
Kami pada akhirnya sampai di sana.
"Waahh.. ini sangat besar."
"Ayo kita masuk."
"Tunggu.."
Yumina tiba-tiba memegang tanganku, aku terkejut!!
"Apa yang kamu lakukan!!?"
"Dengan begini kita tidak akan terpisah."
"Boleh saja..."
Meskipun aku sedikit malu tapi taman hiburan ini sangat ramai di kunjungi banyak orang.
Kami memasuk ke taman, begitu banyak permainan di sana... sangat ramai.
Aku melihat kearah Yumina. Yumina begitu terpukau, mungkinkah dia belum ke sini?
Ini terlihat dari matanya yang sangat menantikan hal ini, kami berjalan melihat sekitar.
Sepertinya taman hiburan lebih banyak hal baru yang belum aku ketahui.
"Pertama apa yang harus kita coba?"
"Hmm.. begitu sulit memilihnya, begitu banyak permainan."
"Bagaimana wahana penembak jitu?"
"Penembak jitu?"
"Itu permainan yang bisa mendapatkan hadiah."
"Benarkah? Aku ingin mencobanya."
Kami kemudian pergi. Begitu banyak hadiah di sana tapi ada satu hadiah yang menarik perhatian ku.
Sebuah boneka beruang coklat terpajang di sana, aku ingin mendapatkan hadiah tersebut.
Untuk bisa memenangkan hadiah utama, kita di berikan 3 kali kesempatan untuk menjatuhkan target.
Target kali ini adalah sebuah kaleng, meskipun begitu dengan jarak 4 meter sangat mustahil menjatuhkan semua kalengan tersebut dalam satu tembakan.
Tapi bukan berarti tidak bisa memenangkan hadiahnya, aku mulai mengarahkan senjataku.
"Semangat!!!..."
Tetap tenang, jika aku salah menembak kesempatan akan sia-sia. Aku mulai mengatur nafasku dan mulai menembak..
Kaleng-kaleng mulai berjatuhan, aku kemudian mengisi kembali dan menembakkan kembali.
"Hebat!!!"
Aku berhasil... hanya dengan dua kali aku bisa menjatuhkan semua kaleng.
Aku kemudian mengambil bonek tersebut, syukurlah aku mendapatkannya.
"Kamu hebat sekali!"
"Terima kasih... dan ini."
"Untukku?"
"Sebenarnya aku berniat memberikannya kepadamu, sepertinya kamu tidak terlalu hal begini."
"Itu tidak benar!"
__ADS_1
"Benarkah?"
"Aku sangat senang kamu memenangkan ini untuk ku, aku sangat bahagia. Terima kasih."
"Ughh..."
Astaga... di imut sekali...
Setelahnya kami mencoba berbagai permainan di sana, mulai dari roller coster dan berbagai halnya.
Hingga Yumina mengajak ku ke sebuah rumah hantu..
"Eh.. kamu serius ingin masuk?"
"Kenapa tidak? Aku penasaran."
Aku bukanlah seorang penakut namun aku mempunyai trauma akan rumah hantu.
Saat masih kecil aku, aku pernah pergi bersama dengan kakak perempuan dan tebaklah, kupikir saat masuk ke dalam akan sangat menyenangkan.
Tapi kakakku menjahili ku dan menyebabkan aku tidak pernah lagi masuk ke rumah hantu.
Yumina menarik ku ke dalam, saat masuk suasana memang mengerikan dan gelap.
Kami berjalan dengan Yumina menggenggam erat di samping ku. Ini cukup erat, mungkin perasaan ku saja atau rumah hantu ini tidak begitu seram?
Hihihihi...
Suara yang di kenal muncul, suara wanita? Kami juga mendengar beberapa suara aneh lainnya.
Seperti ini baru di mulai. Kami tiba di sebuah pemakanan, suasana di sini sangat seram sejujurnya aku merasa takut.
"Yumina kamu baik-baik saja?"
Aku bertanya kepada, karena sejak masuk dia tidak berbicara sedikit pun itu membuat ku khawatir.
"Aku... baik-baik.. saja..."
Wajahnya sedikit takut, dia begitu erat memegang tanganku.
Waahahhhah!!!!!
"Hihhhhh!!! Kyaaaaa!!!!"
"Ughh...Yumina kamu baik-baik saja."
Saat mendengar suara menyeramkan dia langsung memeluk ku sangat erat, aku harus bagaimana!?
"Sudah tidak apa-apa.. aku di sini."
"Hari?"
Fuuuuhhhh.. aku berhasil memenangkan Yumina, kami segera melanjutkan berjalan dan keluar.
Kami berhasil keluar, dan Yumina tidak mau melepaskan pelukannya.
"Hei Yumina, kita sudah keluar.. bisa kamu lepaskan."
"Aku masih takut..."
"Sudah.." sambil mengelus kepalanya.
Yumina yang tadinya takut sekarang dia sudah tenang, aku mengelus kepalanya dan seperti itu membuatnya nyaman.
"Kamu hebat bisa bertahan dari hal itu."
"Tapi itu menyeramkan."
"Hahah.. aku juga sama seperti mu saat pertama kali masuk."
"Tapi aku bisa melihat saat kamu takut, itu benar-benar imut."
"Moouu, berhentilah mengejekku!! Bodoh! Bodoh!!" menepuk bahu.
"Hahahha... maaf... maaf..."
"Kalau kamu cium aku sebagian permintaan maaf."
"Eh? Tunggu.. menciummu..."
"Aku tidak akan memaafkan perbuatan mu sampai aku di berikan ciuman."
"Tapi melakukan ini di depan umum sangat memalukan."
"Cepatlah..."
Yaampun.. aku harus bagaimana!? Jika mencium di rumah aku tidak masalah, tapi di tempat ini...
Aku mendekatkan ke wajah Yumina...
Aku menutup mataku, aku mencium tetap di pipinya.
"Sudah..."
"Te—Terima kasih..."
Kami tidak melihat satu sama lain setelahnya, aku melakukannya, sepertinya orang-orang tidak melihat ini, Fuuhhh... syukurlah.
Aku melihat jam tangan, sudah waktunya makan siang.
"Yumina, kita istirahat terlebih dahulu."
"Oh, benar juga."
Kami memutuskan untuk beristirahat dan pergi mencari restoran, kebetulan kami menemukan salah satu kedai yang paling aku kunjungan saat ke taman hiburan.
Kami masuk. Bagian dalam restoran ini mengambil gaya barat klasik yang membuat kesan yang elegan.
"Selamat datang..."
Begitu masuk kami di sambut oleh pelayan yang ramah, dia mengantarkan ke kursi kami.
Jika bertanya soal menu, restoran ini menghidangkan beragam makan, mulai dari masak china hingga eropa.
"Makanan di sini sangat beragam."
"Kamu ingin memesan apa?"
"Hm.. aku sulit menentukan. Apa kamu memilih saran?"
"Bagaimana dengan sachertorte?"
"Sachertorte?"
"Ini adalah chocolate cake dengan lapisan cokelat dan isian selai aprikot yang berasal dari austria."
"Terdengar sangat enak."
"Kalau begitu kita pesan ini saja."
Aku kemudian memanggil pelayan...
Setelah beberapa lama, pesanan kami datang. Sachertorte pesannya kami datang, karena ini makan manis sebagai minuman pendamping adalah kopi.
Untuk segi rasa cake ini seperti pada umumnya, rasa manis mendominasi rasa tapi kelebihan dari kue sachertorte adalah tekstur cake yang sangat lembut dan rasa coklatnya yang tidak terlalu manis. Sehingga perpaduan rasa dan tekstur cake satu ini sangat istimewa.
Dan bukan aku saja yang menikmatinya, Yumina tampak sangat menikmatinya.
"Ini enak."
"Syukurlah kamu menyukainya."
"Iya, ini begitu lembut saat di makan dan juga rasa manisnya sangat cocok dengan minumannya."
__ADS_1
Aku senang dia menikmatinya....