Malaikat Ditengah Hujan

Malaikat Ditengah Hujan
Chapter 5


__ADS_3

"Selamat Natal semuanya...."


Teriakan dari Chitose saat memulai pesta, walaupun ini masih cepat 1 hari.


Pesta berjalan dengan cukup meriah dengan Yumina bergabung dalam pesta.


Ini semua tidak akan berlangsung jika kejadian 5 menit lalu...


DING... DONG...


Suara bel berbunyi...


Aku segera menuju pintu saat mendengar bel pintu berbunyi, Yuya dan Chitose datang lebih cepat dari jam yang di tentukan.


Membuka pintu...


Terlihat Yuya dan Chitose yang berdiri dengan senyuman di wajah mereka, seolah mengatakan apa kamu merindukan kami?


Sejujurnya, raut wajah mereka mudah di tebak. Aku mempersilahkan mereka masuk sebelum mereka mati kedinginan.


Aku mengantarkan mereka hingga ke ruang tamu, terlihat Yumina yang sedang meletakkan makanan di meja.


"Eh?"


"Eh?"


Melihat Yumina berada di rumah ku membuat mereka berdua terdiam, aku sudah menduga mereka akan bereaksi seperti ini.


"Tunggu Hari, kenapa Yumina ada di sini?"


Chitose dengan cepat menarik kera bajuku...


"Hei bisakah kamu tenang sedikit?"


Reaksi Chitose lebih hebat dari perkiraan ku, tapi di sisi lain Yuya melihat dengan tatapan yang mencurigakan.


Yumina kemudian bangkit dan mulai memperkenalkan diri.


Setelah mendengarkan perkenalkan Yumina, Yuya dan Chitose kembali terkejut saat nama belakang Yumina ada nama keluarga ku.


Untuk kalangan umum, memiliki nama belakang yang sama itu menandakan orang itu memiliki hubungan keluarga.


Mengingat Yumina adalah istri ku jadi namanya tercantum nama keluarga ku.


Aku bereaksi dengan cepat untuk menenangkan mereka.


Yumina juga berpikir jika itu mengejutkan mereka.


"Jadi, dengan begini Yumina adalah istriku."


"Tunggu, sejak kapan?"


"Eh.. sejujurnya ceritanya cukup rumit dan menyebalkan."


Tapi rasa kebingungan masih ada di wajah mereka.


"Cukup.. Cukup... terkejut nanti saja, aku akan menceritakan lebih detail setelahnya.


Aku segera mengakhiri perbincangan, karena aku tidak ingin makanan yang di buat Yumina menjadi dingin.


Kami pada akhirnya melanjutkan pesta untuk beberapa lama.


Saat ini semuanya berjalan lancar, dan mereka menikmatinya seolah-olah tidak terjadi barusan.


Mereka memang pasangan yang bodoh..


"Ini silahkan..."


Yumina memberikan ku sebuah makanan, wah... bukankah ini sebuah kue?


Dari segi tampilan layaknya kue pada umumnya, aku mengambilnya dan memakannya.


Apa ini?! Kue ini sangat enak!! Tidak... tapi kue ini benar-benar sangat enak.


Apa Yumina membelinya? Itu tidak mungkin, bagaimana bisa kue yang di beli akan seenak ini.


Kupikir dia membuatnya sendiri...


Aku hanyut dalam rasa kue yang begitu lezat, ini pertama kalinya aku mencicipi kue buatan Yumina.


"Hari..." menepuk bahu..


Aku sampai tidak mendengar Yumina memanggilku hingga dia menepuk bahuku.


Aku seketika sadar dan kembali ke dunia nyata..


"Huh.. ada apa?"


"Kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja.


"Tapi tadi kau melamun.."


"Itu karena kue buatanmu, ini benar-benar enak hingga aku tidak sadar, maaf.."


Aku rasa memang benar-benar kue ini adalah buatan, ini terlihat di wajah Yumina yang memerah namun Yumina langsung memalingkan wajahnya.


Selagi aku melihat Yumina dengan wajah merah, Yuya dan Chitose terus menatap kami.


Mereka seolah mempelajari hubungan ku dengan Yumina, tapi kuharap mereka tidak menilai ku dengan buruk


"Wahh.. sepertinya kami yang mengganggu waktu kalian."

__ADS_1


"Berhentilah, apa yang kalian bicarakan?"


"Habisnya, kalian sangat romantis. Benarkan Yuchi?"


"Iya, itu benar.."


"Astaga, kalian ini memang merepotkan."


"Omong-omong Yumina, bagaimana kamu bisa mencintai Hari?"


"Eh? Soal itu..."


Chitose bisakah kamu tidak menanyakan hal itu kenapa Yumina?


Yumina untuk sesaat terdiam dengan wajah memerah, Chitose membuat Yumina tersudut dengan pertanyaannya.


Namun Yumina dengan ekspresi tenang menjawabnya, tapi aku masih melihat rasa malu di wajahnya.


Meskipun tidak pasti, Yumina menjawabnya dengan percaya diri.


Chitose terpukau dengan jawabnya Yumina, aku tidak mendengarnya jawabnya. Karena mereka membicarakan hal itu di tempat yang berbeda.


Sambil menunggu urusan mereka selesai, Yuya tiba-tiba saja melontarkan pertanyaan yang mengejutkan ku.


Sebenarnya pertanyaan masih sama dengan apa yang Chitose tanyakan kepada Yumina.


Apa yang kau suka dari Yumina? Sehingga kamu menikahinya.


Pertanyaan yang di lontarkan Yuya kepadaku...


Sebenarnya ada banyak hal yang aku suka dari Yumina, karena tidak mungkin aku menjawabnya semua itu mungkin akan terlalu banyak.


Baru sekitar 4 bulan setelah aku menikahinya secara kebetulan, waktu yang cepat membuat sebuah kenangan muncul.


Yumina begitu cantik dan anggun saat kami pertama kali bertemu, terkadang dalam kondisi tertentu dirinya menunjukkan sisi yang tidak di lihat oleh orang lain. Masakan adalah salah satu alasan aku menyukai Yumina.


Yuya merubah posisi duduk, tangan berada di antara mulut dan dagu, itu merupakan ciri khas orang yang sedang berpikir.


Kemungkinan besar Yuya sedang memprediksi ucapan ku. Ya.. aku tidak mempermasalahkan hal itu, entah sesuatu yang mempengaruhi atau tidak dirinya tiba-tiba berdiri dan menghampiri Chitose yang sedang bersama Yumina.


Yuya membisikkan sesuatu ke telinga Chitose.


Apa yang mereka lakukan? Mereka seperti mengumpulkan informasi dari ku dan Yumina atau lebih tepatnya mencocokkan kedua alasan.


Hm?... Sepertinya mereka sudah menyimpulkannya, mereka kembali duduk dengan raut wajah... ehh.. bagaimana.. bisa ku bilang sangat aneh...


Setelah situasi yang aneh selesai, kondisi kembali menjadi normal, kami melanjutkan perbincangan normal.


Yumina seperti sudah mulai merasa nyaman saat mengobrol, sudah kuduga Yumina sangat hebat.


Waktu berlalu dengan cepat, setelah menikmati pesta, Yuya dan Chitose kembali kediaman mereka.


"Hari, jangan membuat Yumina menangis atau kau tau akibatnya.."


"Huh..."


Namun di sisi lain Yuya tersenyum saat meninggalkan kami, hanya dia yang terlihat normal atau.. hal sebaliknya?


"Mereka sangat baik ya."


"Ya, kamu benar-benar."


"Senangnya memiliki seseorang seperti mereka."


"Apa maksudmu? Aku akan selalu bersamamu.."


Aku secara tidak sengaja mengucapkan sebuah kalimat kepada Yumina, perkataan ku membuat dirinya langsung bertingkah seketika.


Lalu sebuah pukulan kecil mengarah kepadaku..


Pumm... Pumm.. Pummm..


"Mou... dasar..."


"Tunggu, apa yang aku lakukan? Aduh!!"


"Berhentilah mengatakan hal memalukan!!!"


"Tunggu... Memalukan? Aku tidak mengerti?!!"


Tangan Yumina begitu halus dan kecil saat memukul badanku, rasanya... dia benar-benar sangat imut saat begini..


Dia terus memukul hingga aku mulai merasakan rasa sakit..


...----------------...


Pagi hari saat Natal, salju-salju mulai turun membuat beberapa dari hal itu memenuhi bangunan.


Kota-kota ramai dengan perhiasan Natal, bahkan seluruh kota memamerkan sebuah dagangan dengan ciri khas Natal.


Aku duduk di sofa sambil melihat sebuah acara di televisi, seluruh acara di isi dengan hal Natal.


"Yumina.."


"Ada apa?"


"Apa kamu ingin keluar?"


"Tentu.."


"Bagaimana kalau kita membeli kue Natal? Aku ingin kamu beristirahat dari pekerjaan rumah."


"Hmm.. baiklah."

__ADS_1


Kami memutuskan untuk pergi berjalan-jalan, meskipun saat siang hari suhu menjadi sangat dingin.


Menelusuri jalanan yang di penuhi oleh Natal membuatnya sangat indah, sama seperti kami, ada banyak pasangan yang berkeliaran di sekitar taman.


Entah menikmati pemandangan ataupun melakukan hal romantis dengan pasangan.


Kami berhenti di sebuah toko yang menjual makan hangat, bakpao adalah makanan yang cocok saat musim dingin.


Bakpao itu sangatlah panas, uap panas mengembun tinggi saat udara sedang dingin.


"Wohhh..."


"Hati-hati itu sangatlah panas."


Huaammm....


"Ini sangat enak!!"


Nada senang keluar dari mulut Yumina saat dia pertama kali mencoba bakpao, mata yang bersinar-bersinar terlihat diantara kedua matanya.


Harus diakui ini sangat enak, bakpao dengan isian daging cincang dan beberapa sayuran membuat rasanya enak.


Yumina terus mengunyah bakpao tersebut, bahkan dirinya tidak berhenti untuk bergumam sesekali.


"Hari.."


"Ada apa?"


"Ada sesuatu di wajahmu."


"Dimana?"


....


"Aku menemukan nya..."


Meskipun Yumina telah menemukannya, namun aku merasa ada sesuatu...


Sesuatu... dalam kebingungan yang tidak bisa aku jelaskan dengan pasti mengenai hal itu.


Aku merasakan bibir Yumina... aku tidak memikirkan hal kotor tapi aku yakin aku merasakan hal itu..


Gerakan itu begitu cepat sehingga aku tidak yakin itu sesuatu yang aku rasakan.


Tapi jika itu benar, tidak ada orang yang melihatnya, aku melirik ke sekitar. Restoran begitu ramai tapi para pelanggan masih sibuk dengan makanan mereka.


Pukul 16.00...


Kami kembali...


Dalam perjalan pulang ke rumah kami melewati toko yang bersinar di setiap sudutnya.


begitu terang sehingga sangat mencolok, tapi kami tidak sengaja menemukan sebuah pohon Natal berdiri di tengah nyalanya lampu-lampu.


Dengan hiasan lampu di setiap daun dan sebuah bintang di pucuk atas pohon, itu sangat besar.


Banyak sekali orang yang berkumpul di sana, begitu ramai..


"Awas Yumina!!"


"Wohh!!"


"Aku menangkap mu..'


Yumina hampir terjebak di kerumunan ramai, namun beruntung aku dapat memegangnya dengan erat.


Dalam kondisi seperti ini akan sangat sulit jika kami terpisah, tapi secara menyejukkan Yumina bergandengan tangan denganku.


" Y—Yumina!!"


"Kenapa? Apa kamu tidak suka?"


"Tidak bukan begitu.. seharusnya kamu tidak melakukan hal itu secara mengejutkan, itu membuat kaget."


"Tapi dengan begini, aku tidak akan berpisah dengan mu."


"Umm.. itu benar.."


Pada akhirnya kami bergandengan tangan, meskipun rasa malu selalu mengikuti ku tapi tidak ada cara lain.


Kami menikmati keindahan Natal di sepanjang jalan kota, ada banyak pasangan yang keluar untuk merayakannya.


Tapi tidak sedikit orang terjebak akan pekerjaan ataupun hal lainya.


"Hari.."


"Hmm?"


"Terima kasih untuk kesenangan ini."


"Tidak apa, aku senang jika kamu menyukai hal ini, karena ini juga kesenangan untuk ku juga."


"Fhuuhh.. kamu tidak pandai untuk jujur ya..."


"Huh? Apa maksudmu?"


"Tapi meskipun begitu, aku sangat menyukai sifat kikuk mu saat bersamaku."


"Eeahh.. itu seolah aku terlihat lemah di depanmu."


"Tidak apa, aku menyukai apa adanya darimu, meskipun kamu terlihat lemah dan tidak berdaya. Aku ingin kamu tetap seperti itu, karena aku ingin selalu dan terus ingin membantumu setiap saat.. Hari..."


"Yumina..."

__ADS_1


Perkataan Yumina membuat sadar akan sesuatu, tidak peduli bagaimana kamu di mata orang lain, mau baik atau buruk, kamu akan terlihat sama di mata orang yang kamu cintai.


Perasaan yang belum aku rasakan dan perasaan itu telah menancap di hatiku seolah itu tidak akan pernah hilang.


__ADS_2