Malaikat Ditengah Hujan

Malaikat Ditengah Hujan
Chapter 3


__ADS_3

Waktu 17.00...


Tidak terasa waktu sudah mulai gelap...


"Hari ini benar-benar menyenangkan."


"Benarkah? Syukurlah kamu menikmatinya."


"Terlebih lagi aku mendapatkan foto yang bagus." sambil menunjukan gambar.


Ada gambar diriku yang tidak sengaja di ambil olehnya, gambar diriku sangat memalukan.


"Bisakah kamu menghapus foto itu."


"Tidak boleh!! Ini adalah foto suami yang sangat imut."


"Tolong jangan katakan aku imut, itu memalukan." aku tersipu memerah


"Fufufu... Jangan begitu, bagiku ini adalah foto yang berharga."


"Jika itu penting untuk mu, aku tidak melarang kamu menyimpannya."


"Terima kasih..." sambil bersandar pada pundakku.


Yumina bersandar di pundakku, aku terkejut. Dia melakukan sesuatu secara spontan, meskipun keadaan di dalam kereta sangat sepi.


Kami saat menikmati hari ini, ini sangat menyenangkan, apakah sekarang kami benar-benar terlihat seperti suami istri?


Entahlah, tapi dengan waktu yang terus berjalan mungkin itu akan terjadi.


Kami sampai di rumah, karena ini waktu makan malam, aku berpikir untuk memesan pizza sebagai makan malam.


Aku tidak ingin Yumina kelelahan karena memasak.


"Sebaiknya kita pesan pizza saja."


"Eh? Tapi aku akan memasak."


"Tidak perlu, aku ingin kamu bersantai untuk hari ini, dan aku tidak ingin melihat kamu kelelahan."


"Be—Begitu..." Yumina memerah.


Kami melihat menu pizza sebelum memesannya, aku menyerahkan pilihan pizza kepada Yumina.


Yumina tanpanya bingung memilih menu tersebut, untuk beberapa lama dia hanya terdiam.


Tapi setelah lama memiliki dia menunju ke salah satu menu. Sebuah pizza pepperoni dengan keju mozarella dia atasnya.


Aku kemudian menghubungi layanan pemesanan, setelah memesan pizza dan membayar, kami menunggu pesan datang.


Butuh sekitar 20 menit untuk pesanan pizza kami sampai, jadi selama itu kami membersihkan diri terlebih dulu.


20 Menit berlalu...


Pizza pesanan kami tiba, saat di buka itu benar-benar baru di panggang. Uap asap dari pizza mengepul di udara aromanya sangat lezat.


"Whohhh..."


Yumina terpukau, untuk beberapa alasan kupikir dia sangat menantikan hal ini.


"Selamat makan..."


"Humhh~~"


Jika aku boleh jujur, dia sangat imut!!! Dia seperti sebuah anak kucing yang mengemaskan.


Aku sangat ingin mengelusnya!! Sangat!! Tapi aku masih menahan diri untuk tidak melakukannya.


Makan malam ini sangat enak...


"Huh? Kenapa wajahmu memerah?"


"Eah!! Ini... Bukan apa-apa."


"Ini sangat enak.."


"Benarkah? Syukurlah kamu suka."


"Tunggu.. ada sesuatu di wajahmu."


"Benarkah? Dimana?"


"Itu...."


Eehh!!! Tunggu... Tunggu...!!! Tanpa aku sadari, Yumina mencium ku. Aku sontak panik dan berlari menjauh darinya.


"Apaa yang kamu lakukan?!!!"


"Ada bekas makanan di pipimu."


Ugh... Ini tidak baik untuk kesehatan jantung ku, aku benar-benar di buat tunduk di depannya.


Aku sama sekali belum terbiasa dengan kebiasaan Yumina yang mengejutkan seperti tadi.

__ADS_1


Jika pada umumnya itu adalah hal yang normal di lakukan oleh pasangan tapi aku sama sekali belum beradaptasi dengan hal itu.


Seperti aku harus lebih pekat terhadap apa yang Yumina lakukan, maksudku kami secara resmi sudah menikah secara tidak langsung aku mengetahui apa saja kebiasaan yang dia lakukan.


Kami menjalankan hari seperti biasanya, kami juga di sekolah masih menyembunyikan hubungan aku dan Yumina, tidak ada seorang yang tau hal tersebut.


Aku menyadari satu hal yang pasti, yaitu sikap Yumina di sekolah dan di rumah sangat jauh berbeda.


Di sekolah Yumina terlihat seperti seorang putri bangsa dengan aura yang anggun tapi berbeda saat Yumina bersamamu Yumina bersikap layaknya seekor anak kucing, sangat manja terhadapku.


Dia juga lebih sering untuk memanjakan ku saat kami berdua, bukan aku tidak menginginkan hal itu, pria mana yang memiliki seorang perempuan yang selalu memanjakan dirinya.


Hari ini sekolah berjalan seperti biasa, tidak ada hal yang menarik perhatian ku.


Namun aku merasa ada suatu kejanggalan, saat aku hendak pergi ke perpustakaan setelah meminjam beberapa buku dari sana aku melihat Yumina bersama dengan seorang anak laki-laki.


"Yumina.."


Anak laki-laki tersebut sepertinya ingin menembak perasaannya kepada Yumina, untuk sementara aku akan pergi dari sana.


Aku tidak ingin menambah kerumitan dan pergi menjauh. Saat pergi dari tempat itu, aku bertanya-tanya...


Apa Yumina sering di tembak oleh anak laki-laki? Dalam benak ku terlintas hal itu.


Tapi selama ini dia belum menceritakan hal tersebut kepadaku. Mungkin aku terdengar cemburu saat anak laki-laki menembak perasaan pada Yumina.


Secara kami sudah menikah, tapi itu tidak berdasar pada cinta.


Aku kemudian kembali ke kelas, duduk di kursi ku dan bersikap tidak terjadi apapun.


Jam pulang sekolah...


Hari yang benar-benar melelahkan, aku bergegas pulang ke rumah. Seluruh badaku terasa berat seperti mengangkat beban berat.


Aku membuka pintu, namun rasa ada sesuatu yang berbeda, mungkin perasaan ku saja.


Aku terlalu lelah untuk memikirkan sesuatu, tanpa aku sadar Yumina tidak ada di rumah.


Entah bagaimana aku kehilangan tenaga, kemudian aku tersungkur tidak sadarkan diri.


Dalam keadaan setengah sadar, aku hanya mendengar seseorang memanggilku terus menurut.


"Hari!! Hari!!!"


"Hei, tolong sadarlah!!! Nee!!!"


Yumina panik karena Hari tiba-tiba saja pingsan, Yumina segera membawanya ke kamar.


Yumina tiba lebih awal dari pada Hari, dia berniat membuat makan malam spesial.


Tidak lama setelahnya suami tercintanya pulang.


"Selamat datang, Sayang."


Yumina mengucapkan selamat datang kepada Hari, namun tidak ada jawaban setelah.


Dia begitu saja melewati Yumina.


Yumina terus memanggilnya, tapi Hari tidak memperdulikannya.


"Tunggu, jangan cuekin aku begitu!"


Yumina melihat ke arah wajah Hari.


"Kamu Baik-baik saja?"


Dengan tatapan kosong melihat Yumina, tanpa sepatah katapun yang dia ucapkan.


Lalu saat Yumina memanggilnya untuk makan malam, tidak ada jawaban sama sekali.


Yumina panik melihat Hari tidak sadarkan diri, dia segera membaringkan tubuh Hari ke kasur.


"Panas!?"


Yumina dengan cepat mendinginkan suhu Hari dengan es, dia juga mengukur suhu badannya.


"38,2°..."


Untuk sementara Yumina membiarkan Hari beristirahat, dia tidak beranjak dari samping tempat tidurnya.


2 jam berlalu....


Huuhh?!!! Apa yang terjadi?!!


Hmm? Apa ini?


Kepalaku sangat sakit, aku tidak mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


Melihat kearah jam, ternyata sudah pukul 10 malam dan...


Aku menyadari Yumina berada di samping tempat tidur ku, dalam keadaan tertidur.


Mungkinkah dia merawat ku selagi aku demam? Aku merasa bersalah akan hal ini.

__ADS_1


Dia mungkin akan terkena demam juga.


Yumina perlahan membuka matanya...


"Hariii!!! Syukurlah!!!!..."


Yumina melompat ke arahku, aku bereaksi terkejut saat itu.


"Mouu... kamu membuat ku khawatir saja.."


"Maafkan aku..."


Yumina memeluk dengan air mata membanjiri wajahnya, aku merasa bersalah saat ini, membuat dirinya begitu khawatir dengan ku.


Aku membalas pelukan darinya..


"Aku minta maaf Yumina.."


"Tidak... aku tidak marah."


Meskipun dia tidak marah, dari lubuk hatiku yang terdalam aku merasa bersalah akan hal ini.


Untuk pertama kalinya ada seseorang yang mengkhawatirkan kondisi diriku lebih dalam.


Aku senang, mengingat aku tidak memiliki siapa selama ini. Dan Yumina adalah orang yang kumiliki saat ini, aku tidak ingin kehilangan sesuatu yang berharga.


Malam berlalu dengan cepat, kondisi tubuhku dalam keadaan pulih, Yumina bahkan membuat kan ku semangkuk bubur.


Setelah memakan bubur buatannya stamina dalam tubuh mulai kembali, buburnya sangat, ada sedikit rasa kacang, benar-benar saling bersatu satu sama lain.


"Ini enak. Terima kasih Yumina.."


Yumina membalasnya dengan sebuah senyuman manisnya, karena hal itu perasaan ku kembali memuncak.


Sesuatu di dalam diriku berdegup kencang saat melihat senyuman Yumina.


Seolah-olah akan ada sesuatu yang berdetak hebat, apa itu jantung ku?


Aku rasa jantung ku berdetak lebih cepat dari detak jantung normal.


Yumina beranjak ke samping tempat tidurku, ukuran tempat tidur yang kecil membuat ku dapat merasakan kehangatan Yumina.


"Yumina!!"


Aku sontak bereaksi terkejut saat serang itu datang, tanpa di sangka Yumina memeluk dari belakang.


Aku dapat merasakan wangi dari Yumina, itu menusuk ke hidungku.


Huh? Seperti Yumina mengatakan sesuatu, aku tidak mendengar dengan jelas karena suaranya yang begitu kecil.


Sepertinya aku tidak akan bisa tidur jika posisi begini.


"Nee, hadap ke sini.."


"Baiklah.."


Aku menurut dan berbalik posisi tidur.


.......


......


Dalam keheningan, aku bisa melihat wajah Yumina dengan jelas meskipun gelap.


Jarak antara kami sangat dekat... benar-benar dekat...


Dag Dig Dug....


Suara jantung mulai cepat, ini lebih cepat dari sebelumnya.


Aku melihat wajah Yumina yang di tutupi warna merah muda merona di sekitar pipinya, itu membuatnya sangat imut dengan ekspresi seperti itu.


Aku mencoba untuk tenang, aku seperti tertarik dengan medan yang kuat, detak jantung ku berdebar begitu hebatnya.


Apa Yumina dapat mendengarnya?!! Jika bisa.. itu sangat gawat..


"Ada apa?"


"Begini—A.. aku hanya merasa jarak kita sangat dekat dan itu membuat ku...."


"Tetaplah seperti ini, aku ingin merasakan kehangatan mu walaupun hanya sebentar."


"Eh?"


Aku terkejut mendengar ucapannya, kata-kata seperti itu mengartikan makna yang berbeda.


Meskipun aku tidak mengerti maksud dari ucapan, tapi aku mengerti tindakan Yumina saat ini.


Aku benar-benar membuatnya sangat khawatir, aku merasa bersalah atas hal ini.


Aku meraih tubuh rampingnya dan memeluknya dengan erat, karena tindakan tiba-tiba dari ku membuat Yumina sedikit spontan bereaksi terkejut.


Walaupun begitu, dia tidak menolak pelukan dariku, terlebih lagi pelukannya kepada begitu erat hingga diriku sulit bergerak.

__ADS_1


__ADS_2