
Natal telah tiba...
Malam itu Yumina dan aku menghabiskan malam Natal bersama, walaupun tidak meriah kami menikmatinya.
Terlihat hidangan begitu banyak di meja, walaupun aku sudah memaksa Yumina untuk tidak melakukan pekerjaan dia tetap melakukannya.
Aku sedikit khawatir tentang kondisi tubuhnya, dia begitu keras dalam melakukan pekerjaan.
Di saat yang bersamaan, salju mulai turun dengan lebat. Saat aku sedang memerhatikan hal tersebut, Yumina mengambilkan sebuah kue dan mengarahkan garpunya kepadaku.
"Oi Yumina..."
"Ayo..."
Dengan senyuman di wajahnya begitu membuatku tidak dapat menolaknya..
Huaamm..
Mulutku mengunyah dalam keadaan wajahku memerah, Yumina terlihat menikmati saat-saat seperti ini.
Ini seolah aku di manjakan olehnya, huh.. aku saat ini sangat tidak berdaya.
"Kamu benar-benar memanjakan ku.."
"Apa salahnya? Apa kamu tidak suka?"
"Tidak... hanya saja..."
"Kalau begitu, kamu nikmat saja. Jika kamu tidak mau aku akan memaksamu.."
"Tunggu, itu sangat memaksa.."
"Wanita itu selalu memaksa akan sesuatu, terdengar egois tapi faktanya begitu.."
"Huhh..."
Kami tanpa sadar telah mengikuti alur waktu yang begitu cepat, aku melihat jam di handphone ku, begitu terkejut saat melihat ini. Sudah pukul 22.00 malam, ini sudah lewat waktu tidur, gawat!! Kami benar-benar menikmatinya tanpa kami sadar.
Sebaiknya kami sudahi saja akan hal ini, saat aku mencoba untuk membalikan badan, sebuah tubuh bersandar kepadaku.
Yumina?..
Dia terlihat tertidur sangat nyenyak saat bersandar di badanku. Aku berusaha membangunkannya, suara panggilan seolah tidak di jawab saat aku membangunkannya, mencoba lagi namun panggilanku masih tidak di dengar.
Jika terus begini, dirinya akan sakit. Aku merangkul tubuhnya yang begitu ramping, mengangkat perlahan.
Aku terkejut!! Tubuhnya begitu ringan saat aku mengangkat, kupikir dirinya sedikit berat.
Aku perlahan membawanya ke dalam, sambil berusaha untuk tidak membangunkannya.
Yumina perlahan aku letakan di kasur yang empuk, huh... dengan begini selesai.
Aku bangkit dan menatap tepat di wajah, aku tersentak saat melihat wajah Yumina.
Wajahnya begitu manis saat dia tertidur..
Pummm...
Aku secara tidak sadar menyentuh pipi Yumina, begitu lembut dan halus, beberapa kali aku mengusapkan tanganku di pipinya.
Huhh... Gawat...!!
Sebuah gerakan kecil mengejutkanku...
Aku begitu panik ketika kupikir Yumina bangun, namun saat aku tidak menyentuh pipinya karena gerakan tadi.
Yumina secara alami mendekati tanganku dan mengusapkan kembali, layaknya seekor anak kucing saat tertidur.
Ugghh... Ini benar-benar tidak bagus untuk jantungku...
Aku sangat tidak sanggup menyaksikan momen seperti ini, aku benar-benar akan mati karena hal ini.
Astaga...
...----------------...
"Hari... Hari..."
Hughh... Siapa itu? Seseorang memanggilku, dalam keadaan setengah sadar mencoba membuka mataku.
Pandangan buram seseorang terlihat, seseorang muncul di sana, tidak melihat begitu jelas.
Aku berusaha untuk memfokuskan mataku..
"Hei, Hari..."
"Hughh... Yumina?"
Aku kemudian tersadar setelahnya, saat aku benar-benar sadar, Yumina telah berdiri di depan ku dengan wajah marah..
Tunggu... Aku tidak mengerti, aku mencoba jelas untuk melihatnya. Ternyata benar... Dia berdiri di depan ku dalam keadaan marah.
Dia menurunkan sedikit alisnya dan menatap tajam ke arahku, itu adalah kondisi seseorang benar-benar marah.
"Etto, Yumina...."
__ADS_1
"Hari!!!"
"Aku tidak tau kenapa kamu terlihat marah? Tapi sebelum kamu marah kepadaku, tenang dirimu oke..."
Dalam keadaan panik melihat Yumina dengan kondisi marah membuatku tidak berkutik sedikit.
Yumina sekarang adalah sosok yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Ini pertama kalinya Yumina menunjukkan sisi marahnya kepadaku.
Aku perlahan menayangkan perihal mengapa dirinya marah? Namun, dia terus menatapku dengan tajam, semakin tajam saat aku menatap matanya.
Itu bagaikan sebuah pisau tajam yang siap untuk menikam.
"Kenapa..."
"Eh?"
"Kenapa kamu tidur di sini!!!!"
Yumina dengan spontan berteriak kepadaku...
Kenapa kamu tidur di sini? Aku sama sekali tidak mengerti? Tapi setelahnya aku sadar.
Aku tidur di ruang tamu saat mengantarkan Yumina ke kamar, aku tidak mengingat bagaimana itu terjadi?
Tapi saat itu diriku benar-benar dalam kondisi lelah tanpa aku sadar sudah tertidur di sofa.
"Itukah yang membuatmu marah?"
"Tentu saja!! Bagaimana kalau kamu sakit?"
Ah, begitu ya...
Jadi, dia bukanlah marah kepadaku, melainkan mengkhawatirkan ku. Tapi aku tidak menyangka jika dia begitu khawatir kepadaku sampai seperti ini.
"Terima kasih Yumina..."
"Kenapa berterima kasih?"
"Soalnya, kamu begitu mengkhawatirkan diriku dan itu membuat ku sangat senang.."
"Ugh..."
Sekarang aku mengerti, Yumina akan sangat tegas dalam hal apapun, namun di lain sisi dirinya memiliki rasa khawatir yang begitu besarnya.
Serangkai hal seperti membuatnya menjadi sosok yang sempurna, entahlah mungkin ini hanya pandangan ku saja.
Terlebih lagi, dirinya akan kembali menjadi seperti biasanya saat aku memujinya.
Tidak aku tidak bercanda... Ketika aku berkata terima kasih telah mengkhawatirkan ku, Yumina akan langsung membuang mukanya dari ku.
"Fhuhhh..."
"Kenapa kamu ketawa!!?"
"Maaf... Kamu membuat raut wajah itu membuat ketawa melihatnya."
"Jangan ketawa!!!"
"Baik-baik, aku mengerti..."
Sekarang sudah Natal dan tinggal beberapa hari lagi tahun baru, dalam benakku apakah Yumina akan mengunjungi keluarganya?
Saat memikirkan hal itu, entah kenapa aku menjadi cemas, bagaimana aku menjelaskan bahwa aku adalah suami Yumina..
Tapi aku sudah lama tidak mendengar kabar dari mereka, kuharap mereka baik-baik saja.
Sejujurnya, aku tidak menghubungi mereka sejak pindah kemari, bukan berarti hubungan kami berantakan hanya saja sedikit rumit.
Aku memiliki sebuah keluarga kecil dengan adik perempuan yang berumur sekitar 6 tahun.
Bisa dikatakan hubungan keluarga kami baik-baik saja, tapi aku memutuskan untuk tinggal sendiri dan memutus hubungan dengan mereka.
Sampai sebuah peristiwa terjadi....
"Hari... Hari...."
"Uhmm?"
"Kamu baik-baik saja?"
"Iya, aku baik-baik saja..."
"Sungguh?..."
"Aku tidak apa..."
Aku termenung tanpa aku sadari, melihat kondisi yang begitu membuat Yumina mulai memasang raut wajah khawatir.
Meskipun aku katakan baik-baik saja, Yumina seakan tidak mempercayai ucapanku.
Mengesampingkan hal itu, seseorang baru saja mengirim sebuah pesan di handphone ku.
Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak aku kenal..
[Datanglah ke rumah saat perayaan tahun baru.]
__ADS_1
Saat membaca pesan tersebut aku terdiam untuk sesaat... tapi, aku menyadari pesan itu berasal dari rumah.
Namun aku tidak yakin mereka yang mengirim pesan ini, apakah orang lain?
Tidak hanya itu pesan tersebut menambahkan...
[Bawalah Yumina bersama mu.]
Tunggu, membawa Yumina? Dalam keraguan saat aku membaca pesan tersebut.
Siapa dia sebenarnya? Lalu, bagaimana orang ini mengetahui jika Yumina tinggal bersamaku.
Aku sama sekali tidak berniat membawa Yumina untuk pulang, sebuah firasat tidak mengenakan muncul.
Aku tidak ingin Yumina terlihat sebuah masalah yang rumit, tapi jika itu membahayakan baginya aku tidak akan segan untuk menyingkirkannya.
"Pesan dari siapa itu?"
"Ini..."
"Hm?"
Aku ragu mengatakan hal itu kepada Yumina, kemudian aku mengambil nafas pelan dan meyakinkan diriku untuk mengatakan.
"Yumina, maukah kamu ikut bersamaku mengunjungi keluarga ku saat tahun baru?"
"Apa ada masalah?"
"Tidak, aku ingin memperkenalkan kamu kepada mereka."
"Bohong.."
"Uhmm? Kenapa kamu berkata seolah ini semua bohong?"
"Aku tau kamu menyembunyikan sesuatu."
Astaga!!
Yumina saat ini ragu akan perkataan ku, nyatanya aku tidak ingin menceritakan semua kejadian itu kepadanya.
Aku tidak ingin membuat orang lain terlibat dalam urusan yang rumit.
Yumina menatapku...
Aku sama sekali tidak bisa berbohong kepadanya, seolah aku terjebak dalam kenyataan yang menyakitkan dan tidak bisa melarikan diri kemanapun.
Yumina mengarahkan tangannya kepadaku tepat di pipiku, tangannya begitu hangat.
"Aku tau kamu mengalami kejadian sulit, tapi aku tidak ingin kamu menyimpan nya sendiri!"
"Tapi aku tidak ingin seseorang terlibat dalam hal itu..."
"Jangan bodoh!! Aku ini istri mu, aku ingin merasakan perasaan yang sedang kamu alami, aku tidak peduli perasaan itu sebuah penderitaan ataupun kebahagiaan!! Karena itu.. jangan mencoba untuk menyimpan sendiri dan bersikap kuat di hadapanku, aku tidak menyukai hal itu!!"
Kata-kata Yumina membuat diriku menyadari jika aku tidak sendiri di dunia ini.
Perkataannya telah membuatku sadar bahwa aku ini egois, aku bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di hadapan orang lain.
Sangat naif diriku ini!!
Aku terus bersikap kuat di hadapannya untuk membuat Yumina tidak mengkhawatirkan diriku.
Yumina dengan gerakan membawaku dalam pelukannya, gerakan itu nyaris tidak aku sadari.
Aku berada dalam sebuah kehangatan pelukan, meskipun aku mencoba untuk melepaskannya aku tidak bisa..
Pelukan itu telah melemahkan diriku dalam sekejap, dia tanpa hentinya membelai rambut.
Gerakan itu bagaikan seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya yang sedang menangis.
"Aku tidak ingin kamu memikulnya sendiri.."
"Kamu tidak perlu bersikap seperti ini kepada ku."
"Tidak apa, ini adalah keinginan ku sendiri."
"Ini membuatku sangat lemah di hadapanmu."
"Aku tidak peduli kamu itu kuat atau lemah, aku akan tetap mencintaimu, Hari..."
"Yumina..."
"Aku akan selalu bersamamu, di dalam penderitaan ataupun kebahagiaan. Aku tidak akan melepaskan mu."
"Terima kasih, Yumina."
Perkataan Yumina membuat dirimu terlepas dari rantai yang sudah lama terikat.
Dirinyalah orang yang benar-benar mempercayai ku setelah Yuya dan Chitose.
Yah.. sekarang aku tidak dapat bersikap kuat di hadapannya lagi. Aku benar-benar sangat lemah, tapi berkatnya juga aku menjadi percaya diri kembali.
Aku ingin terus bersamanya, dalam sebuah kebahagiaan atau penderitaan.
Aku beruntung mempunyai Yumina dalam hidupku, entah sebuah takdir yang mempertemukan ku dengan Yumina ataupun sebuah kebetulan.
__ADS_1
Tidak ada yang tau pasti tentang semua ini..