Malam Pengantin Berujung Luka

Malam Pengantin Berujung Luka
Malam pengantin


__ADS_3

Andrew menutup pintu kamarnya. Lalu membalikkan badannya. Sedetik kemudian matanya menatap tubuh mungil Ayu yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wajah cantiknya yang begitu elok, membuat dunia Andrew tak bisa sedetik pun teralihkan. Saat Ayu keluar dengan lingerie berwarna putih. Membuat dirinya tak bisa menolak gairahnya, yang sudah tak ditahan sejak siang tadi. Saat resepsi pernikahan mereka berlangsung.


Perlahan Andrew mendekati Ayu, lalu menangkup pipinya.


"Terima kasih sayang, kamu sudah resmi menjadi milikku seorang dalam ikatan pernikahan. Apa kamu siap menjadi milikku seutuhnya malam ini?"


Tanya Andrew sambil menatap dalam wajah Ayu.


Ayu mengangguk dan tersenyum malu, lalu menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Andrew yang kini telah menjadi suaminya. Perjalanan kisah cinta selama lima tahun, sejak lulus SMU berakhir di hari ini. Walau pernikahan mereka dibumbui dengan drama, tak disetujui oleh keluarga Andrew, yang adalah tetangga Ayu di desa. Sebab siapa yang tak mengetahui Ayu, yang hanyalah putri petani biasa. Bisa datang ke kota Jakarta melanjutkan kuliah, atas beasiswa seorang donatur dari luar negri.


Andrew dan Ayu berasal dari desa yang sama. Kini mereka sedang merantau di kota Jakarta. Dimana setelah lulus kuliah Andrew mendapatkan pekerjaan sebagai manager keuangan di salah satu perusahaan terbesar di kota ini.


Andrew memeluk tubuh mungil istrinya dan sekali gerakan, tubuh Ayu sudah berada di dalam gendongannya. Andrew membawa tubuh istrinya ke atas ranjang lalu membaringkan istrinya itu dengan perlahan.


Andrew menatap dalam wajah istrinya, lalu mengecup bibirnya.


Kecupan lembut dan semakin mendalam hingga akhirnya menjadi saling mencumbu. Penantian selama lima tahun kini berbuah manis. Selama menjalin kasih Andrew sangat menghormati kesucian Ayu. Hingga dia selalu berusaha menahan hasratnya. Dan kini malam ini, Andrew dengan bebas melakukan apa saja seperti keinginan dan imajinasinya.


Sentuhan dan belaian lembut tangannya berhasil membuat Ayu mengeluarkan suara yang begitu menggoda. Menambah hasrat Andrew semakin menggebu, mencari titik lemah sang istri yang bisa membuatnya tak berhenti menggeliat dan terus bersuara merdu, hingga sebuah lenguhan kenikmatan itu keluar dari bibir istrinya. Andrew menatap wajah istrinya dengan puas.


"Bagaimana sayang, apa kau siap?" Tanya Andrew memastikan.


Ayu mengangguk lemah dan pasrah membiarkan suaminya melakukan kewajibannya.


"Akkhh sakit," jerit Ayu membuat darah Andrew semakin mendidih.


"Sabar sayang, bertahanlah. Aku akan melakukannya dengan perlahan," ucap Andrew pelan, nyaris berbisik.


Wajah Ayu yang merona menambah dorongannya.


Ini memang menjadi yang pertama kali bagi Andrew dan Ayu. Cintanya yang begitu besar pada Ayu, membuat dirinya tak ingin menyentuh Ayu selama ini. Dan malam ini setelah penantiannya selama lima tahun, dia berhasil melakukannya.


"Sa--kit, Drew."


Rintihan Ayu saat Andrew mulai memainkan perannya sebagi suami. Perlahan dan sangat hati-hati, menghujamkan gairahnya berulang kali.


Langit malam semakin gelap pekat. Rinai hujan mulai menampakkan rintik kecilnya. Hingga suara hujan dan petir di luar bertalu-talu berpacu dengan suara Ayu, yang berpadu menjadi satu menjadi sebuah melodi senandung malam yang akan tak terlupakan. Semakin dingin udara malam, panas gairah di atas ranjang pengantin semakin menggelora.


Sang suami yang memacu permainan terus menampakkan keperkasaan miliknya.

__ADS_1


Penantian selama lima tahun kini tiba di puncaknya, dengan suara khas kenikmatan bercampur perihnya di lembah panas milik istrinya.


Akhirnya setelah beberapa waktu, Andrew tumbang di atas tubuh istrinya. Kenikmatan yang begitu sangat sempurna.


"Terima kasih sayang," ucap Andrew mengecup kening istrinya.


Tak terasa air mata mengalir di pipi Ayu. Andrew mengusapnya lembut.


"Terima kasih sudah menjaga milikmu hingga akhir, hingga aku boleh menikmati kesempurnaan ini."


Ayu menganggukkan kepala. Entah kenapa melihat wajah Ayu membuat Andrew kembali memulai. Bermain dan bercumbu di bawah bunyi guyuran air hujan deras di malam hari. Saling bersahutan dengan suara petir yang menggelegar. Beberapa kali mereka menikmati, malam penuh gairah mereka. Hingga keduanya pun lelah dan tertidur lelap, dengan ranjang yang berantakan.


🌄🌄🌄🌄🌄


Sinar mentari pagi memenuhi ruang kamar milik pengantin baru. Rasanya enggan sekali untuk membuka mata. Ayu berniat untuk turun dari atas ranjang, tiba -tiba dengan cepat kedua tangan Andrew melingkari pinggang ramping miliknya dari belakang.


Tak hentinya Andrew terus menciumi aroma tubuh Ayu.


"Selamat pagi sayang. Apa semalam kau menikmati malam kita?"


Tanya Andrew membuat Ayu tersipu.


Sifat Ayu yang pemalu dan tak banyak bicara sudah sangat dikenal oleh Andrew.


Kedua tangan nakal milik Andrew kembali menyentuh tubuh istrinya yang masih polos. Sejak semalam mereka tertidur tanpa sehelai benang pun. Membuat kini dia lebih leluasa melancarkan aksinya. Apa lagi cahaya matahari yang menerobos kaca jendela, membuat dia bisa melihat keindahan tubuh istrinya yang sangat sempurna. Semalam lampu temeraman yang meredupkan penglihatan Andrew, namun tidak untuk pagi ini. Dia semakin bersemangat melakukan aksinya.


Keduanya kembali larut dalam gulungan ombak gairah. Namun Ayu yang masih baru melakukannya, dia hanya bisa pasrah menerima serangan dari suaminya.


Hingga jarum jam menunjukkan pukul 12.00 siang, keduanya kini berbaring kelelahan sambil berpelukkan.


Perlahan Ayu turun dari atas ranjang saat melihat mata suaminya kini terpejam.


"Akh," rintih Ayu.


Bagian tubuh sensitifnya masih terasa sakit. Entah kenapa rasa sakit itu malah membuat hati Ayu bahagia. Dia berjalan perlahan menuju ke kamar mandi. Segera membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian, kemudian menuju ke dapur. Dia ingin memasak makan siang buat suaminya. Kebetulan hari ini suaminya mendapatkan cuti kerja, katanya selama tiga hari.


Andrew membuka matanya, dia tersenyum sendiri membayangkan gairah cinta mereka semalam tak terlupakan. Saat akan bangun dari ranjang, mata Andrew melihat ke arah sprei. Ada bercak noda merah di sana. Hati Andrew semakin berbunga, jika malam tadi adalah persembahan terindah dari istrinya. Membuat dia semakin bertekad agar bisa menjadi suami yang akan membahagiakan Ayu selamanya, itu janjinya dalam hati.


"Wanginya enak sekali, membuat perutku semakin keroncongan," ucap Andrew. Lalu bergegas masuk ke kamar mandi membersihkan diri.

__ADS_1


Aroma masakan Ayu masuk hingga ke dalam kamar, membuat bunyi cacing di perut Andrew meronta ingin diisi.


Dia keluar menuju ke dapur, menghampiri istrinya perlahan. Lalu merangkulnya dari belakang.


"Istriku, apa sudah siap?"


"Ayo kita makan, sudah beres semuanya."


Ayu menghidangkan makanan di atas meja. Keduanya lalu makan bersama.


"Andrew," panggil Ayu sambil menyuapkan makanan di mulutnya.


"Iya sayang."


"Bagaimana jika mama Dewi akan marah tentang pernikahan kita?"


Tanya Ayu ragu, dia khawatir. Apa lagi mereka menggelar pernikahan tanpa persetujuan mama Dewi, ibu kandung Andrew dan keluarga besar Andrew.


"Tenanglah sayang, aku akan mengurusnya nanti."


Ayu menghela napas panjang. Sejak menjalin hubungan dengan Andrew, mama Dewi sangat menentang hubungannya dengan Andrew.


"Ayo lanjutkan makannya sayang, masakan kamu enak sekali."


Andre memuji makanan yang dibuat oleh Ayu, membuat Ayu kembali tersipu.


Ting nong ting nong


"Lihat siapa yang bertamu di jam seperti ini? Apa mereka nggak tahu tuan rumah sedang menikmati bulan madunya?" Tanya Andrew menggelengkan kepalanya. Sepertinya tamu itu sedang mengganggu kesenangan pengantin baru mereka.


"Biar aku bukakan," ucap Ayu sambil berdiri menuju pintu depan.


Ceklek


Pintu depan terbuka, mata Ayu membulat terkejut melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Kenapa dia datang ke rumah ini. Wajahnya langsung berubah pucat pasi.


Diikuti oleh Andrew dari belakang.


"Sayang, siapa yang da--"

__ADS_1


Andrew langsung menutup mulutnya, saat melihat siapa yang sedang bersama istrinya di depan pintu.


__ADS_2